
Shirly memasuki rumah besar itu dan disambut oleh Latifa yang tersenyum sumringah.
"Hai sayang....!!" Suara Latifa menyapa wanita muda didepannya.
"Tante..." Shirly dan Latifa bercipika-cipiki.
"Tan, sehat kan?" Tanya Shirly.
"Sehat dong! Sekarang tante senang sekali, semenjak gadis itu tak tinggal disini lagi!" Jawab Latifa semangat. Senyumnya terus terkembang dari bibirnya.
"Aku turut senang seperti Tante!" Ujar Shirly kemudian.
Mereka berjalan menuju teras berlakang untuk melanjutkan pembicaraan mereka mengenai Kinan.
Ammar yang baru pulang bekerja sore itu, tak merasa heran dengan kedatangan Shirly. Karena semenjak Ia menikah dengan Kinan, dan terlebih setelah Kinan sakit, Shirly semakin sering datang kerumahnya. Ammar berpikir, biarlah Shirly datang untuk menemani mamanya yang kadang tak memiliki kawan untuk sekedar berbagi cerita.
Anak-anak tampak sibuk dengan mainan mereka. Arshaka sibuk bermain mobil-mobilan dengan remote control di jalanan setapak yang ber-paving block, masih didalam pekarangan rumah.
Sedangkan Alesha, sedang sibuk memainkan gadget-nya. Akhir-akhir ini Alesha suka menonton k-pop idolanya dari channel yout*be.
Setelah memastikan keluarganya dalam keadaan baik, Ammar menghembuskan nafas perlahan. Ia mengendurkan dasi yang masih rapi dikerah bajunya, lalu membuka dua kancing atas kemeja yang ia kenakan. Berjalan gontai menuju kamar pribadinya dan memutuskan untuk mandi.
Selepas mandi dan membersihkan diri, Ammar duduk dipinggiran ranjang, ia memijat pelan pelipisnya sendiri. Mendadak ia memikirkan Wina, rasanya ia amat merindukan mendiang istrinya itu.
Ammar menengadah menatap langit-langit kamar, kedua tangannya dibelakang tubuh, menahan posisi duduknya.
"Kinan..." Entah kenapa nama Kinan yang ia sebut.
Ammar berdiri dan mengambil handphonenya. Ia menelepon seseorang.
"Hallo, Selamat Sore!"
"Sore Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Bagaimana soal rumah itu? sudah kau tangani?"
"Sudah pak, rumah itu sudah atas nama bapak, karena bapak sudah resmi membelinya!"
"Baiklah, temui aku besok dan serahkan kuncinya padaku!"
"Apa bapak berniat untuk segera menempatinya?"
"Mungkin. Kenapa?"
"Saya ingin mengusulkan agar rumah itu sedikit direnovasi dan dibersihkan agar nyaman!"
"Baiklah, kalau begitu atur saja. Jika sudah siap kabarkan segera padaku!"
"Baik pak!"
Panggilan berakhir, Ammar beranjak dari kamar. Ia ingin melihat kamar Kinan dibelakang. Entah kenapa Ammar melakukannya.
Ammar membuka pintu kamar Kinan, ia takjub kamar itu selalu rapi dan aroma sang pemilik terasa masih tertinggal disana.
Ammar mengangguk-angguk sekilas melihat kumpulan buku-buku yang tersusun rapi, sebagian adalah buku dan jurnal sewaktu Kinan berkuliah.
Ammar tersenyum melihat foto Kinan yang terpajang difigura foto. Figura itu tak cuma satu, ada beberapa. Foto pertama adalah Foto Kinan menggunakan seragam SMA waktu pertama kali datang kerumah Ammar, terlihat rumahnyalah sebagai background-nya. Beberapa foto adalah foto Kinan bersama teman-teman kuliahnya, sepertinya sewaktu KKN disebuah Desa.
Yang terakhir adalah foto Kinan waktu memakai toga dan diwisuda. Tanpa disadari, Ammar mengelus foto Kinan itu. Tersenyum kearah foto yang juga tersenyum simpul.
"Kinan, kenapa kamu sekarang mendominasi pikiranku? apa aku salah telah menjaga jarak denganmu?" Tanya Ammar pada dirinya sendiri.
Ammar melihat buku kecil, seperti buku harian milik Kinan. Ia membuka buku itu. Penasaran. Ia membaca satu persatu tulisan yang Kinan goreskan di buku itu, tentang keshariannya dan jadwal mata kuliahnya. Tak ada persoalan dia dekat dengan lelaki manapun atau tentang perasaan terpendam seperti kebanyakan orang menulis buku diary. ada beberapa Foto pula yang Kinan tempelkan.
"Dia adalah Desi, teman karibku" Tulisan Kinan disertai Foto gadis yang bernama Desi. Dan dibawah foto itu tertera alamat serta nomor telepon Desi.
"Desi?" Ammar mengerutkan kening, mencoba berfikir. Ia mengangguk dan seperti mengerti akan sesuatu.
Samar-samar suara Latifa dan Shirly terdengar di indera pendengaran Ammar. Ya, dari kamar Kinan ini Ammar bisa mendengar percakapan kedua wanita itu walau tak begitu jelas. Karena letak kamar Kinan memang berdekatan dengan teras belakang.
Ammar sedikit mendekat ke jendela karena ia sekilas mendengar nama Kinan disebut-sebut. Ammar tak berniat menguping, tapi ia penasaran karena dua wanita itu membicarakan Kinan dengan tertawa-tawa.
"Bukankah mereka tahu Kinan sedang sakit? lalu kenapa mereka tertawa begitu senang?" Batin Ammar.
"Kalian membicarakan apa?" Sergah Ammar.
Shirly dan Latifa saling memandang seolah memberi kode satu sama lain agar menjawab lebih dulu.
"Ah tidak, ka-kami sedang bicara soal..." Latifa tergagu menjawab pertanyaan Ammar.
"Soal apa? kelihatannya seru sekali!" Sindir Ammar kemudian.
"emmm soal pernikahan kita, Ammar!" Ucap Shirly tiba-tiba.
Sontak saja ucapan itu mendapat tatapan Syok dari Ammar, tak terkecuali Latifa yang juga ikut terkejut.
"Mama kamu meminta Aku menjadi menantunya!" Ucap Shirly tertunduk seolah malu-malu.
"Apa?" Wajah Ammar memerah. Ia seolah marah dengan krputusan mamanya. Sedangkan Latifa, ia sendiri tak tahu kenapa malah Shirly menjawab seperti itu seolah Latifa yang memintanya untuk menjadi menantunya. Mereka belum menyepakati ini.
"I-iya Ammar, mama pikir ada baiknya kamu menikah dengan Shirly saja!" Jawab Latifa pada akhirnya, mendukung jawaban yang sudah Shirly lontarkan. Toh ia memang ingin Shirly jadi menantunya selama ini. Ia menyukai wanita itu karena selain cantik, kaya, dan juga pintar. Terutama cocok dengan Latifa.
"Ma!!" Ammar memandang wajah Latifa yang mulai tampak pias ketika menyadari bahwa anaknya ini sedang marah.
"Apa mama tak minta pendapatku untuk hal itu? Aku jelas-jelas masih punya istri dan pernikahan kami masih terbilang baru, Ma!" Protes Ammar berapi-api.
"Bukan begitu Ammar, Mama--" Latifa serasa tercekat melihat kemarahan anaknya.
"Ammar, kamu tenang dulu. Mungkin maksud mama itu baik. Lagi pula, apa yang kamu harapkan dari Kinan? dia sakit dan juga dia tidak ada disini untuk mengurusmu! Kau seperti tak punya seorang istri, Ammar!" Ujar Shirly.
Ammar diam seolah memikirkan sesuatu.
"Kalian sudah gila!" Ucap Ammar akhirnya.
Ammar hendak pergi dan beranjak. Namun langkahnya terhenti ketika Latifa berbicara kembali.
"Istrimu Kinan itu yang gila, Ammar! sadarlah! tinggalkan dia! toh kau juga tak mencintainya kan?" Ketus Latifa, rasa tak sukanya pada Kinan menyeruak lewat ucapannya barusan.
Ammar menoleh. Ia mengangguk dan tersenyum miring.
"Tapi Kinan itu sedang hamil!' Tegas Ammar seolah memperingatkan mamanya yang mungkin lupa perihal hal itu.
Shirly yang tak tahu menahu perihal kehamilan Kinan menatap Latifa dengan tatapan menuntut jawaban. Sesekali ia memandangi wajah tampan didepannya yang sedang marah. Ia tertunduk kembali.
"Ammar, Apa kau memang sudah menyentuhnya sejauh itu? bisa saja itu bukan anakmu!" cecar Latifa.
"Stop, Ma!"
"Tapi Ammar!"
"Tentu saja aku sudah menyentuhnya, Ma! dia istriku! Dan urusan rumah tanggaku tidak perlu dicampuri, apalagi urusan ranjangku!" Ucap Ammar ketus lalu pergi meninggalkan kedua wanita dengan wajah pias dan pucat pasi melihat kemarahan Ammar.
Ammar menyambar kunci mobil diatas meja, ia berjalan tergesa menuju mobilnya. Pergi, entah menuju kemana. Amarah menguasai dirinya. Terlebih lagi dengan ucapan mamanya yang sebenarnya adalah benar bahwa Kinan bukan mengandung anaknya.
.
.
.
.
Bersambung...
Tolong tinggalkan Koment, Like dan jangan lupa di Vote ya. Hadiah dan Bintang 5 nya juga diberikan dongπ
Author sedikit kecewa karena tulisan ini ternyata gagal kontrak π padahal cerita ini sudah menguras emosi Author ketika menulisnya.
Makasih ya buat yang udah baca dan dukung karya ini. Aku bakalan tamatin ceritanya kalau memang banyak peminatnya yah..
πππ
Yang masih penasaran, tolong tinggalkan jejak ya biar tau endingnyaππ