
"Rey, dia...dia membawa kabur istri saya!" Ucap Ammar ragu pada awalnya. Namun ucapan itu membuat Mama Rey terperangah.
"Ma-maksud anda Rey anak saya?" wanita itu masih ingin memastikan hal yang sudah jelas-jelas ia dengar, ia berharap bukan Rey-anaknya-yang dimaksud oleh lelaki dihadapannya ini.
Ammar mengangguk dengan mantap. Namun disaat bersamaan, Papa Rey turun sambil menatap Ammar dan istrinya dengan heran.
"Ada apa sayang?" Tanya lelaki itu pada istrinya. Ia masih berjalan santai menuruni tangga.
Mama Rey menggeleng lemah, ia tak tahu harus berkata apa. Tapi, ia berfikir sekilas apa ini alasan suaminya mengusir Rey dari rumah.
Ammar masih mematung diposisinya, menunggu lelaki sang pemilik rumah untuk berbicara lebih awal. Tatapan Papa Rey mengarah tajam dan menyelidik ke arahnya.
"Bisakah kita bicarakan dulu apa permasalahannya disini?" Tanya Papa Rey dengan sikap terkesan dingin.
Ammar mengusap tengkuknya gusar.
"Jika anda bersedia membantu agar urusan ini lebih mudah, saya akan menceritakan detailnya!" Ucap Ammar kemudian.
"Baik. Silahkan duduk!" Ujar lelaki yang rambutnya mulai nampak memutih itu.
Papa Rey kemudian menuntun istrinya yang masih nampak terkejut untuk ikut duduk bersama disampingnya, sambil menatap Ammar yang selanjutnya menceritakan kronologi hilangnya Kinan dari Rumah Sakit.
"Baik, saya sudah mengerti maksud anda dan tujuan anda. Lebih baik anda tenang dan biar ini menjadi urusan saya!" Ucap lelaki setengah baya itu dengan santainya. Istrinya sampai menatapnya heran. Bagaimana bisa suaminya bersikap santai sementara masalah ini benar-benar membuat jiwa ke-ibu-an-nya terguncang. Anak semata wayangnya melarikan istri orang lain. Bahkan wanita itu adalah pasien dari rumah sakit jiwa. Ini membuat Mama Rey tak habis pikir dengan tindakan anaknya itu. Tapi kenapa suaminya tampak tenang dan seolah tak terkejut lagi.
"Papa pasti sudah tau mengenai hal ini!" Batin Mama Rey.
"Jadi, maksud Anda saya harus diam setelah anda mengatakan ini menjadi urusan anda?" Ammar sedikit protes dan tak terima.
"Saya tidak bisa tenang, Tuan! Yang dibawa anak anda adalah istri saya!" Sambung Ammar lagi, suaranya mulai meninggi.
"Baiklah jika anda mau ikut mencarinya!" Ujar Papa Rey.
Papa Rey mengambil ponselnya dari dalam saku celana, setelah beberapa saat ia sepertinya menghubungi seseorang. Dalam hitungan detik, panggilan itu langsung tersambung.
"......."
"Ya selamat siang, apa aku bisa bicara dengan anakmu?"
"......."
"Iya Harun. Tentu saja anak lelakimu yang bernama Kevin. Dimana dia?"
"......."
"Baiklah, bisa sambungkan panggilanku kepadanya?"
"......."
"No! Aku akan bicara langsung kepadanya, Harun."
"....."
"Oke, suruh dia hubungi aku sekarang juga!"
Panggilan itu berakhir. Mama Rey masih bingung hal apa yang akan dilakukan suaminya. Terlebih, pikiran wanita itu hanya dipenuhi dengan Rey, anaknya.
******
Sehabis makan siang, Rey sibuk menyusun rencana untuk membuka usaha. Sepertinya ia akan membuka bengkel mobil saja. Rey mulai mencari tempat yang cocok dan sesuai untuk ia gunakan sebagai tempat usahanya itu melalui internet. Selesai dengan hal itu, Rey teringat kejadian kemarin dimana Kinan tengah melamun dan kemudian histerianya kambuh.
Seketika itu juga Rey kalut, apalagi mengingat pagi tadi Kinan muntah-muntah bahkan sebelum mengisi makanan apapun ke dalam perutnya.
Ketika makan siang juga Rey makan sendirian, wanita itu tertidur pulas setelah tak henti-hentinya memuntahkan isi perutnya. Melihat Kinan pulas, akhirnya Rey memutuskan berkutat dengan ide usahanya. Ia tak mau membangunkan Kinan.
Kini, ia khawatir kembali. Teringat Kinan belum mengisi perutnya dengan makanan. Rey menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar dengan perlahan. Setelah mendengar Kinan menyahut, Rey membuka knop pintu dan masuk.
"Kau sudah bangun?"
Kinan mengangguk. Ternyata ia tengah duduk menyisir rambutnya didepan meja rias. Tampaknya ia baru selesai mandi di siang hari.
"Sudah makan?" Rey bertanya sambil memperhatikan Kinan yang tak menghentikan aktifitasnya, ia sibuk dengan rambutnya itu.
"Belum. Aku tidak berselera." Jawab Kinan datar. Rey berdecak, tak suka dengan jawaban Kinan. Ia menghampiri Kinan dan mengambil sisir itu dari tangan Kinan. Rey sudah berdiri dibelakang bdan Kinan. Kinan sedikit terkejut, apalagi ketika Rey melanjutkan menyisir rambut Kinan. Kinan menatap Rey dari pantulan cermin didepannya. Tampak lelaki itu dengan telaten menyisiri rambutnya. Sebuah senyuman terbit dari bibirnya.
"Makanlah dulu, kau harus ingat kalau kau sedang mengandung!" Ucap Rey dengan sangat lembut dipendengaran Kinan.
Kinan menatap Rey yang masih menyisiri rambutnya walau rambut itu sudah rapi. Tampaknya Rey senang melakukan hal itu.
"Paling tidak, akan ada yang kau muntahkan nanti. kalau kau tidak makan, kau akan kehabisan cairan tubuh!"
"Baiklah, aku akan makan setelah kau selesai dengan rambutku!" Rey tertawa renyah dan spontan melepaskan tangannya yang menyisiri rambut Kinan. Karena sedari tadi, ia ternyata melupakan sisirnya dan menyisir rambut itu dengan jari-jarinya sendiri.
Kinan membalik badannya untuk menatap Rey secara langsung, tak melalui bayangan cermin lagi.
"Mas, aku--" Kinan mendongak melihat Rey yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa?" Tanya Rey. Kinan hendak menjawab namun percakapan mereka harus terhenti akibat suara ponsel Rey yang berdering. Rey mengucapkan kata tunggu tanpa suara pada Kinan. Kinan mengangguk tanda mengerti.
"Kenapa, Nyet?" Rey menjawab telponnya yang ternyata dari Kevin.
"Bokap lo menuju Villa, Nyuk! Sorry bro, gue nggak bisa bohong lagi, dia bawa-bawa bokap gue!"
Rey menelan salivanya dengan susah payah.
"Oke, gue ngerti!" Jawab Rey.
"Nyuk, gue saranin lo pergi dari sana sekarang! gue udah telpon Doni, lo bisa ke mansionnya! Keluarganya lagi nyusul dia ke London, jadi mansionnya cuma ada pelayan!"
"Makasih, Nyet! Gue udah tau harus apa sekarang!"
"Lo mau apa, Nyuk? jangan gila lo! Gue rasa itu si Ammar lakinya Kinan udah ketemu sama bokap lo!"
Rey mendesah pelan.
"Lo tenang aja, gue nggak mungkin terus menghindar."
"Nyuk? lo yakin?"
"Makasih banyak ya, Nyet!" Rey menutup panggilan itu secara sepihak walaupun Kevin terus memanggil namanya untuk meminta penjelasan, hal apa yang akan Rey lakukan selanjutnya.
Rey terdiam dan memejamkan mata sejenak, ia berfikir cepat.
"Ada apa, Mas?" Suara sendu itu terdengar khawatir dan bertanya pada Rey.
Rey mencoba tersenyum ke arah Kinan dan berjalan mendekat. Rey berjongkok dihadapan Kinan yang masih duduk di kursi meja rias. Rey menggenggam kedua tangan Kinan dan menatapnya intens.
"Kinan, apa kau percaya padaku?"
Kinan mengangguk berulang sebagai tanda keyakinan.
"Baiklah, aku akan memesankan Taxi online untukmu. Nanti, Taxi itu akan membawa kamu ke suatu tempat. Kamu tunggu aku disana. Aku pasti akan kesana menjemputmu!" Kinan mengangguk namun wajah bingungnya tak bisa ia tutupi.
Sesaat kemudian, Rey memanggil Mbok Nah dan memintanya membungkuskan makanan untuk Kinan bawa, karena sebelumnya ia menyuruh Kinan untuk makan. Tak lupa, ia meminta wanita itu untuk mengemasi pakaian milik Keyra untuk dibawa pergi oleh Kinan. Biarlah itu nanti menjadi urusannya dengan Kevin.
Selesai dengan itu, Rey memesan Taxi online lalu Rey bergegas mengambil sesuatu dari dalam saku ranselnya. Rey pun menulis sesuatu di selembar kertas.
"Ini alamat Apartmenku! Lebih tepatnya milik orangtuaku" Rey menyerahkan selembar kertas seraya berdecak karena malas menyebutkan perihal apartment itu. Ia tiba-tiba menyesal karena terlalu tergantung pada orangtuanya selama ini.
Rey terlihat gusar dan terburu-buru. Ia lalu membingkai wajah Kinan.
"Aku sudah menulis semua disini! sandi, lantai dan nomor apartemenku. Kalau kamu nanti bingung, setelah sampai disana kamu bisa temui penjaga gedung atau minta bantuan satpam!"
"Mas, kenapa tiba-tiba begini aku harus pergi?" Lirih suara Kinan membuat Rey memijat pangkal hidungnya. Rey jelas mengerti kebingungan Kinan saat ini. Rey hanya tak mau Kinan bertemu dengan Papanya, karena Rey takut Papanya akan berbuat sesuatu pada Kinan nanti. Terutama Rey takut Kinan akan bertemu Ammar. Sedikitpun Rey tidak rela jika nanti ia harus melihat Ammar membawa Kinan bersamanya. Walau Rey tahu kenyataan bahwa Ammar adalah suami Kinan. Mendadak Rey merasa ketakutan.
"Kinan, semua sudah siap dan Taxi nya juga sudah menunggu didepan. Pergilah!" Rey mengabaikan pertanyaan Kinan dan malah meminta Kinan untuk segera pergi meninggalkan Villa ini. Rey memberikan Kinan beberapa lembar uang cash untuk berjaga-jaga.
Kinan menatap Rey dengan bingung, setelah ia menyimpan uang itu, ia pun melangkah juga dan masuk kedalam Taxi yang pintunya sudah dibukakan oleh Rey. Kemudian barang-barang yang akan dibawa oleh Kinan, ikut Rey masukkan kedalam taxi.
"Dengar aku, sampai disana kamu harus makan! Aku akan segera menyusulmu begitu urusan disini selesai!" Rey menatap Kinan dari luar jendela mobil yang terbuka. Kinan mengangguk paham.
Setelah Rey berbicara pada supir entah perihal apa, Taxi itu pun perlahan bergerak dan mulai berjalan meninggalkan Villa. Rey melambaikan tangan sebagai tanda melepas kepergian Kinan. Hatinya sebenarnya tak tenang dan gelisah, mengingat kondisi Kinan yang lemah. Tapi, mau tak mau ia harus melakukan ini.
Rey meminta Kinan untuk ke Apartment itu sendiri, karena jika ia ikut bersama Kinan sudah pasti orang-orang suruhan Papanya telah memantaunya dari jauh. Lagi pula, Rey sudah bertekat akan menghadapi lelaki yang menjadi rivalnya yaitu Ammar. Ia tak mau menghindar lagi, Tapi untuk menunjukkan wajah Kinan didepan Ammar, Rey merasa tak sanggup. Dan Rey pun yakin Kinan juga akan luluh jika nanti Ammar memintanya kembali, karena status mereka yang masih pasangan suami-istri.
.
.
.
.
Bersambung...