How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Sambutan



Kedatangan Rey dan Kinan disambut hangat oleh Nyonya Zehra. Ibunda Rey memeluk lama anak semata wayangnya itu kemudian beralih pada perempuan muda yang sedari tadi ikut bersama sang putra menuju kediamannya. Para pelayan dirumah itu pun mulai membantu merapikan dan membawa barang-barang milik Rey dan Kinan ke kamar.


"Kinanty, kamu sehat kan?" Tanya Nyonya Zehra seraya menatap Kinan yang sedari tadi menunduk sungkan.


"Saya sehat, Nyonya." Jawab Kinan lembut seraya menyalami tangan wanita setengah baya itu.


"Ah, bukankah Mama pernah meminta kamu memanggil dengan sebutan Mama?" Wanita itu mengelus sekilas rambut Kinan yang tergerai dan Kinan tersenyum sungkan.


"I-iya, Ma." Ucap Kinan ragu namun disambut hangat oleh Mama Rey. Wanita yang tak muda lagi itu memeluknya dengan penuh kasih sayang membuat tubuh Kinan sedikit bergetar karena sanking lamanya tidak pernah merasakan pelukan seoarang ibu. Tanpa sengaja Kinan menitikkan airmata haru.


"Mulai sekarang, kamu anggaplah Mama seperti ibu kandung kamu sendiri." Ucap Nyonya Zehra disela-sela pelukan mereka. Tangannya mengelus pelan punggung Kinan dan ia merasakan Kinan mengangguk dalam pelukan itu. Rey menyunggingkan senyum, entah kenapa pemandangan ini begitu membuatnya bahagia. Dua wanita yang ia cintai saling memeluk satu sama lain.


"Udah belum, Ma? Kinan capek abis perjalanan jauh dari London." Rey mengingatkan sang Ibu agar melepas pelukannya dan sontak saja Nyonya Zehra melepas pelukan itu dan melihat Kinan yang dalam kondisi mata memerah akibat tangisnya beberapa saat tadi.


"Mama terlalu kuat memeluk Kinan, Ma! Lihat Kinan jadi menangis!" Protes Rey. Lelaki itu berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Ah, maafkan Mama, Kinan. Apa pelukan mama terlalu erat?" Nyonya Zehra memegang pundak Kinan dan memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki seperti baru saja melakukan kesalahan besar.


"Ti-tidak Ma, aku hanya terharu karena mengingat mendiang ibu." Ucap Kinan sambil mengelus pelan punggung tangan wanita cantik itu. Kinan lalu menatap Rey dengan tatapan tajam seolah memperingatkannya karena telah menggoda Mamanya sendiri. Rey hanya mengelus tengkuknya sendiri sambil nyengir kuda.


"Ya sudah, kalian istirahat ya! Ini sudah cukup larut." Ucap Nyonya Zehra. Rey dan Kinan mengangguk, kemudian Rey menarik jemari Kinan untuk ikut bersamanya menaiki tangga yang melingkar.


"Eh, mau kemana?" Mama Rey menatap Rey yang hendak beranjak sementara Kinan masih terdiam dengan posisi tangan yang sudah ditarik lelaki itu.


"Mau istirahat lah, Ma.. Kan Mama tadi yang suruh!" Ucap Rey kemudian.


Wanita itu berdecak lidah kemudian melepas tangan Rey yang tertaut pada jemari Kinan. "Kamu di kamarmu Rey! Dan Kinan, biar dibawah di kamar tamu!" Jawab Mama Rey seraya mencelos meninggalkan Rey sambil menggandeng Kinan menuju kamar tamu. Rey terkekeh dengan ulahnya sendiri kemudian melangkah menuju kamarnya di lantai atas.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi teman sarapan Rey pagi ini. Nyonya Zehra sedang menuangkan teh ke dalam cangkir kaca sedangkan Kinan tengah mengoles roti dengan selai cokelat. Mereka mengobrol santai perihal kesehatan Kinan selama berobat jalan di London dan tentang kehamilannya.


Semuanya mendadak terdiam seketika saat seorang pria paruh baya memasuki ruang makan itu, kemudian pria itu duduk di kursi kebesarannya di meja makan. Ia berdehem sekali seraya menatap ketiga orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa bersuara lagi sejak kehadirannya.


"Kenapa semuanya diam? Ayo lanjutkan saja pembahasan kalian!" Ucapnya ramah.


Kinan melirik sekilas kearah Rey dan Rey hanya mengangkat bahu sebagai jawaban untuk Kinan, karena ia juga merasa aneh dengan sikap ramah sang Ayah. Nyonya Zehra memecah keheningan dengan menawarkan suaminya beberapa makanan yang mungkin hendak dimakan oleh pria itu.


"Bagaimana Rey? Apa sudah ada pembahasan tentang pernikahan kalian?" Tanya Tuan Yazid pada Rey, ia melihat Rey sekilas kemudian lanjut menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Belum, Pa." Jawab Rey singkat karena ia tak tahu mau memulai darimana perihal hal itu.


"Hmm.." Gumam pria tua itu. Kinan merasa gugup karena ia belum pernah bertemu dengan Tuan Yazid sebelumnya. Ia juga bingung mau menjelaskan perihal permasalahan yang masih menjeratnya.


"Bagaimana denganmu, Kinan?" Sapa Papa Rey. "Apa kau sudah bersedia menikah dengan Rey?" Pria tua itu sekarang melihat serius ke arah Kinan dan Kinan refleks menunduk karena sungkan.


"Se-sebenarnya saya masih ada kendala." Jawab Kinan ragu. Entah darimana ia akan memulai. Ia takut mengecewakan kedua orangtua Rey yang sudah membahas sampai sejauh ini.


"Kendala apa? Coba jelaskan saja sekarang supaya kita bisa menyelesaikannya!" Tuan Yazid berkata dengan enteng dengan aura dinginnya yang dipaksa bersikap ramah.


Rey meletakkan sendok dan garpunya. Ia sudah selesai dengan makanannya. "Mungkin yang dimaksudkan Kinan kendala adalah perjanjiannya dengan Om Ardi, Pa. Sebenarnya apa yang Papa dan Om Ardi rencanakan? Dan pekerjaan seperti apa yang akan Kinan lakukan seumur hidupnya di perjanjian itu?" Rey menatap serius pada sang Ayah. Sementara Kinan malah menatap Rey yang tak melihatnya sama sekali.


"Apa maksud Rey memanggil Tuan Ardi dengan sebutan Om? Dan rencana? Rencana yang dibuat Papanya dengan Om Ardi, maksudnya apa? Ah ada apa ini?" Batin Kinan mulai menerka-nerka. Keningnya mengernyit menunjukkan sikap kebingungan yang sangat akut.


Nyonya Zehra hanya menjadi pendengar dan ia akan menyela jika ada yang tidak beres antara anak dan suaminya. Sesungguhnya wanita setengah baya itu hanya menjadi penengah selama berada diantara kedua pria yang ia sayangi ini.


"Apa Kinan sudah tau hal ini?" Tanya Papa Rey pada sang putra tapi matanya menatap Kinan yang kebingungan. Ia menangkap wajah bingung itu sehingga ia ingin memperjelasnya disini agar Kinan tidak merasa bingung lagi.


"Belum." Ucap Rey datar. "Sebaiknya Papa saja yang menjelaskan karena itu awalnya adalah rencana Papa." Rey bersedekap dada dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Begini Kinan, Ardi itu adalah tangan kananku. Awalnya aku hanya berniat menguji perasaan kalian. Kau dan Rey harus aku pisahkan dalam jarak karena satu dan lain hal. Dan sekarang aku sudah memutuskan kalian sebaiknya menikah saja." Jelasnya enteng kemudian Pria itu menyeruput kopinya dengan perlahan.


"Jadi Tuan Ardi... em, a-apa itu artinya aku... apa aku tidak perlu menepati janjiku untuk bekerja seumur hidup?" Tanya Kinan ragu dan takut-takut. Ia meremass jemarinya sendiri yang bertautan dalam pangkuannya.


"Tentu saja kau harus menepati janjimu, Nak!" Jawab Tuan Yazid. Ia meletakkan cangkir kopinya di meja dan menatap serius pada Kinan.


Rey ingin membuka mulut untuk protes tapi belum ia berbicara, suara Papanya langsung mendominasi ruangan itu.


"Kau harus bekerja seumur hidupmu. Pekerjaanmu adalah menjadi menantuku dan menjadi istri yang baik untuk anakku Reyland!" Jelasnya seraya tersenyum pada sang istri yang ikut tersenyum lega.


Rey mendesahh lega sementara Kinan menatap wajah lega Rey itu dengan perasaan membuncah yang sulit diutarakan.


"Jadi..?"


"Ya jadi kalian tinggal bicarakan pernikahan kalian sekarang!" Sela Nyonya Zehra sambil menepuk pelan punggung tangan calon menantunya itu.


Kinan berbinar-binar kemudian menggenggam jemari Nyonya Zehra dengan tangan yang satunya. Ia ingin memekik sekarang sanking leganya. Selama ini ia tertahan untuk mengekspresikan perasaannya karena ia mengingat janji pada Tuan Ardi yang tak bisa ia hindari dan perjanjian itu serasa mengikatnya kuat.


"Terima kasih, Tuan." Ucap Kinan sopan pada Tuan Yazid yang duduk diujung meja.


"Hmm.. Aku tidak suka jika calon menantuku memanggilku Tuan!" Ucapnya seraya tergelak. Rey sampai terkejut melihat sang Ayah yang mendadak ramah.


"Pa..apa aku tidak salah dengar? Apa aku juga tidak salah lihat?" Tanya Rey. Ia menatap Papanya kemudian beralih ke sang Ibu yang mengulumm senyum.


"Papa mu akan terus begitu mulai sekarang!" Jawab Mama Rey seraya terkekeh diujung kalimatnya.


Rey melongo dan wajahnya menuntut jawaban dari mulut sang Ayah.


"Apa kau tidak senang jika Papa bersikap ramah? Kau tau, aku sebentar lagi akan menjadi kakek. Aku tidak mau di cap sebagai kakek tua yang sombong." Jelas Tuan Yazid yang membuat Rey makin melongo.


Kinan terkikik sendiri mendengar jawaban pria tua itu. Ia tidak sungkan lagi sekarang dan menganggap orangtua Rey sangat hangat karena bisa menerimanya dengan baik dirumah ini. Terutama ucapan terakhkr Tuan Yazid, membuat Kinan semakin merasa kehadiran anaknya pun kian ditunggu dirumah ini.


"Kalian dengar itu, jadi segeralah menikah!" Celetuk Nyonya Zehra dan keempatnya tertawa bahagia.


____


Mereka semua sudah selesai dengan sarapannya. Tuan Yazid ingin beranjak meninggalkan meja makan.


"Pa, ada yang ingin aku tanyakan!" Sela Rey saat sang Ayah hendak berdiri dari duduknya.


Tuan Yazid melihat ke arah Rey dengan serius. Ia meyakini ini bukan lagi tentang Kinan tapi ada sesuatu hal yang lain.


"Baiklah, Papa tunggu di ruang kerja sebelum Papa berangkat ke kantor!" Ucapnya dan Rey mengangguk setuju. Ia butuh privasi untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran dari kemarin.


.


.


.


Bersambung...


Next? Cerita ini bakalan tamat ya sebentar lagi. Mungkin 4 atau 5 Episode lagi. Tapi nanti aku kasi bonus chapter deh kalo vote nya banyak🤣🤣🤣


Yukkk goyangkan jempol utk like postingan ini. Kelanjutannya tergantung jempol kalian loh para readersssss.. I love you full❤️❤️ stay healthy🙏