ARSHAKA

ARSHAKA
SEMBILAN



Aku menghela nafas lelah. Melihat kerumunan para perempuan yang berebut pakaian berlabel diskon membuat kepala ku pening.


Saat ini aku sedang berdiri di pintu masuk salah satu outlet pakaian yang berada di Mall ternama. Aku memilih berdiri dengan menyilakan kedua tangan didepan dadaku, dari kejauhan aku menyaksikan Karin yang sibuk mengubek-ngubek pakaian di keranjang khusus berlabel diskon 50%.


Hari Sabtu ini aku mendapat jatah libur bekerja, walau sebenarnya aku lebih memilih untuk bekerja di hari weekend.


Setelah Karin mendapat pakaian yang ia mau, kami beralih ke sebuah restoran Suki. Karena aku sudah menemani Karin seharian, semua makanan yang ku pesan ditraktir olehnya.


Selama menikmati makanan kami, kami sibuk mengobrol ria tentang apapun yang bisa kami bahas.


"Bi, Arshaka chat aku nih nanyain kamu lagi sama aku atau nggak,"


Kalau yang ini aku malas membicarakannya pada Karin.


Kian hari aku semakin kewalahan menangani sikap laki-laki itu. Setiap hari Arshaka akan selalu menghampiri ku baik di Kampus maupun di Kafe. Sesuai dengan janjinya tempo lalu, Arshaka selalu menjemput ku di Kafe lalu mengantar ku pulang sampai rumah.


Bukan hanya itu saja. Setiap Arshaka memesan minuman ia ingin dipanggil pacarnya Bianca, berkat itu pelanggan Kafe yang mayoritas adalah teman-teman Kampus ku mulai beranggapan bahwa aku adalah pacarnya Arshaka.


Arshaka bagaikan sosok makhluk tak kasat mata yang terus menghantui ku, tidak cukup seharian ia menemui ku, ia pun masing sering mengirim ku Bunga Mawar putih, juga mengirimkan pesan padaku disetiap pagi, siang dan malam. Jika aku belum kunjung membalas pesannya, Karin dan Samuel lah yang akan dihubungi untuk menanyakan keadaan ku.


Terkadang Leo pun juga mendapat pesan darinya, menanyakan apakah aku ada di rumah atau tidak.


"bilang saja aku lagi nggak sama kamu," pinta ku pada Karin untuk berkata bohong. Segera Karin membalas pesan untuk Arshaka.


Tak lama kemudian Karin mengatakan sesuatu lagi padaku setelah ponselnya kembali bergetar.


"Arshaka minta kirimin share lokasi dimana aku sekarang,"


Aku segera mencegah Karin untuk membalas pesannya, perasaan ku tidak enak mendengar Arshaka memintanya share lokasi, "nggak usah dibales. Biarin aja!"


Jangan sampai Arshaka tahu kalau aku memang sedang bersama Karin.


Aku memang sengaja dan berusaha keras untuk menghindar darinya. Aku hanya tidak mau perasaan ku untuknya benar-benar akan tumbuh.


Walau terlihat ragu namun Karin mengangguk patuh, kemudian ia memasukkan ponselnya kedalam tasnya.


Segera aku dan Karin bangkit dari posisi duduk kami dan kembali mengelilingi Mall. Kali ini aku ingin mengunjungi sebuah outlet yang menjual cookies terenak disini.


"Bianca,"


Aku tersentak kaget ketika melihat Arshaka sudah berada disamping ku.


"ka-kamu..." aku berkata gagap dan menatapnya tidak percaya. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku ada disini?


"kamu ikut pulang sama aku." titahnya lalu mengamit tangan ku dan ia genggam, namun segera ku tepis.


"apaan sih kamu?!" kilah setelah aku berhasil melepaskan genggamannya.


"kamu pulang sama aku, Bianca." paksanya sembari mengambil tangan ku lagi.


Tanpa persetujuan ku, Arshaka menarik tangan ku paksa untuk mengikutinya meninggalkan Karin yang masih melongo menatap kami pergi.


Aku bergerak meronta untuk minta dilepaskan, tapi Arshaka tidak juga melonggarkan pegangannya padaku. Bahkan aku berteriak memanggilnya pun Arshaka tidak menggubris seolah ia tak mendengar ku.


Tibalah kami di parkiran mobil dan Arshaka membukakan pintu mobil supaya aku bisa segera masuk kedalam mobil nya.


Mobil Arshaka keluar dari gedung Mall dan melalui area sepanjang jalan dengan kecepatan tinggi, aku gelagapan panik karena Arshaka tak kira-kira mendahului pengendara lain hingga suara klakson melayang bertubi-tubi.


Aku berteriak pada Arshaka untuk segera menghentikan mobilnya. Namun ia tak kunjung berhenti melainkan lajuannya semakin kencang. Wajah Arshaka juga berubah kaku menahan rasa amarah. Pandangannya tajam menatap kearah depan tanpa sekalipun ia menoleh kearah ku.


Tak kuasa aku mulai menjatuhkan air mata ku. Aku takut. Aku takut melihat Arshaka seperti ini. Pikiran buruk ku mulai mencuat kemana-mana.


Sampai dimana mobil Arshaka berhenti dipinggir jalan. Aku segera membuang wajah sembab ku ketika Arshaka mulai menatap ku.


"kenapa menangis?"


Bulu kuduk ku seketika merinding ketakutan mendengar suara serak Arshaka yang tertahan seakan menahan gejolak amarah.


Harusnya aku yang marah karena dia memaksa ku ikut pulang bersamanya.


Harusnya aku berani menatapnya dengan tatapan amarah.


Harusnya aku bisa memakinya saat ini.


Harusnya aku tidak menangis.


Dan harusnya aku menepis tangannya ketika ia menangkup pipiku, mengusap wajah ku dan kedua mata ku lembut dengan kedua ibu jarinya.


"jawab aku Bee, kenapa kamu menangis?"


Sekarang suara Arshaka berubah melemah, namun hal itu tak mengubah perasaan ku menjadi luluh. Aku mendorongnya kuat untuk menjauhi ku.


"menjauh. Tolong buka pintunya, aku mau pulang sendiri." bentak ku sambil membuka pintu mobil, namun tak terbuka karena terkunci.


Arshaka hanya memandangi kegiatan ku yang terus berusaha membuka pintu, walau aku tahu Arshaka tidak akan membukakan pintunya.


"Bee, tolong diam."


"nggak!" sela ku berteriak kencang.


"kamu sudah keterlaluan Arshaka. Kamu pikir kita akan baik-baik saja kalau kamu ngebut kayak tadi? Kamu mikir nggak sih kalau nanti kita kecelakaan bagaimana? Kamu mikir nggak kalau nanti banyak orang yang menjadi korban akibat ulah mu kebut-kebutan? Ini bukan arena balap yang biasa kamu lakukan, ini jalanan umum." amuk ku panjang lebar.


"tolong jangan kayak tadi lagi, aku takut Arsha,"


Aku kembali menjatuhkan air mataku.


Sekujur tubuhku ikut merinding ketika membayangkan orang-orang terkapar dengan darah.


Aku memiliki kenangan yang tidak mengenakan, dimana aku menyaksikan sendiri ada sebuah mobil kecelakaan antara mini bus dan mobil pribadi di jalan raya dan semua penumpang di mobil pribadi meninggal dunia ditempat.


Bisa dikatakan aku memiliki trauma, namun untungnya trauma ku tidak terlalu menganggu keseharian ku.


Namun aku akan menghindar jika melihat ada korban kecelakaan di berita televisi. Atau mendengar dari cerita orang lain perihal ada sebuah kecelakaan.


"maaf Bee,"


Arshaka merangkul ku dan memeluk ku dengan erat. Pelukannya membuat ku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak tenang.


Satu tangannya mengelus punggungku yang masih bergemetar, namun perlahan aku mulai merasa tenang.


"maaf Bee. Tadi aku nggak bisa berpikir jernih, aku emosi karena kamu terus menghindari ku. Maafin aku,"


Arshaka melepaskan pelukannya, lalu ia menangkup wajah ku lagi dan menatap mata sembab ku dengan tatapan dalam.


"aku harap kamu nggak lagi menghindar dari ku Bee," mohonnya padaku dengan nada lirih.


Tapi aku menyesal, seharusnya aku tidak melayangkan pertanyaan itu barusan. 


"karena aku nggak mau kamu menjauhi aku Bee,"


"i love you, Bianca."


Jawaban yang ia berikan membuat debaran jantung ku kian berdetak kencang.


**********************************


Aku merenung menatap langit gelap yang dihiasi kelipan Bintang dan sinar Rembulan.


Sejenak aku memijit pangkal hidungku, berkat ucapan Arshaka yang terus terngiang didalam kepala ku.


"i love you, Bianca."


Apakah seorang laki-laki memang mudah jatuh hati ldan mudah mengatakan kata cinta terhadap seorang perempuan yang belum lama ia kenal?


Arshaka, laki-laki yang belum genap berusia 18 tahun begitu mantap mengatakan kata cinta kepada perempuan yang lebih tua 3 tahun darinya.


Aku tidak mengerti bagaimana cara pemikirannya tentang arti kata cinta. Aku juga masih belum mengerti kenapa ia harus menyukai ku. Dan aku belum mengerti kenapa ia rela membuang waktu, uang dan tenaganya untuk mengejar ku.


Aku masih belum bisa percaya dengan semua ini.


Tapi aku akui, kesungguhannya padaku memang terlihat tidak main-main. Salah satunya dengan melacak keberadaan ku melalui ponselnya, bagiku hal tersebut adalah hasil usahanya.


Walau kupikir tindakannya cukup mengerikan.


Aku melirik ponsel ku, melihat Arshaka melakukan panggilan video.


Dering pertama belum aku respon. Namun aku penasaran.


Jika aku mendapatkan dering ketiga dari Arshaka. Aku akan mengangkat panggilannya.


Dering kedua masih belum ku tanggapi. Namun jantung ku sudah berdebar menunggu deringan ketiga.


Tak lama ponsel ku kembali berdering, aku langsung mengangkat panggilan video dari Arshaka.


"habis ngapain? Kenapa baru diangkat?" aku langsung mendapati pertanyaan protesnya. Aku bisa melihat Arshaka sedang duduk santai sambil bersender di Sofa.


"dari toilet," alibi ku. Melihat Arshaka terlihat nyaman bersender disana, aku ikut bersender ditempat tidur.


"kamu mau tidur?" tanyanya ketika ia melihat ku membenarkan selimut.


"belum," sahut ku.


"kamu mau tidur?" tanya ku balik.


"belum. Aku masih mau lihat kamu, masih kangen."


Aku mengalihkan pandangan ku kearah lain, lebih tepatnya supaya aku tidak terlalu menunjukan wajah tersipu ku. Tapi kayaknya aku mengalihkan, sebab ia tersenyum geli melihat ku bergerak canggung.


"Bee,"


Aku kembali menatapnya dilayar ponsel.


"setelah balik dari Kafe, besok temani aku ya?"


"kemana?" tanya ku.


"ke Mall sebentar. Aku mau beli sesuatu."


"beli apa?" tanya ku lagi. Sebelum menjawab, Arshaka membenarkan posisi duduknya sesaat.


"mau beliin kado untuk Kakek. Sebentar lagi beliau ulang tahun,"


Sesaat aku tercenung lalu aku mengganguk.


Baru kali ini aku mendengar tentang sisi lain dari Arshaka.


"kamu masih punya Kakek?" tanya aku penasaran.


"iya," Arshaka mengangguk.


"nanti akan aku kenalkan kamu sama Kakek ku."


Aku hanya mengangguk dan kembali kami membahas hal-hal umum yang cukup pas untuk kami jadikan topik pembicaraan.


Topik pembicaraan kami memang tidak terlalu penting-penting banget, namun aku cukup puas mengobrol dengannya.


Selama membahas setiap topik pembicaraan, kami sama-sama nyambung. Aku pun juga cukup appreciate dengan wawasan luas yang Arshaka miliki.


Juga ia menanyakan tentang diriku, salah satunya tentang kejadian tadi siang yang dimana aku menangis karena Arshaka kebut-kebutan.


Aku menceritakannya, tidak terlalu terperinci namun ia menangkap penjelasan ku.


"sudah malam, tidur gih!"


Aku melirik kearah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 11 malam. 


"besok sore aku jemput kamu di Kafe,"


Aku mengangguk sembari menutup mulut ku karena menguap.


"night Bee,"


"night too,"


Sejenak Arshaka terdiam, lalu ia tersenyum lebar. Mungkin ia terkejut karena baru kali ini aku membalas ucapan selamat malam darinya.


Segera aku mematikan panggilan video sepihak dan meletakkan ponsel diatas meja nakas.


Lalu aku menyentuh dada ku yang berdebar cukup kencang sedari tadi. Merasakan debaran demi debaran yang kian hari kian menjadi.


Semakin lama aku selalu menepis praduga ku, justru praduga ku semakin terlihat kuat dan jelas.


Percuma saja aku terus menghindar dan menjauhinya, karena aku pun akan kalah dengan kegigihannya.


Dan kegigihannya juga membuat ku kalah dengan perasaan ku sendiri.


Aku mulai menyukai Arshaka.


**********************************