
"oh itu kan yang namanya Bianca..."
"oh yang itu ya..."
"itu beneran dia cewek yang di foto Instagram Arshaka, masa sih?"
"ah, dia nggak cantik-cantik amat kok..."
"iya, dia nggak terlihat menarik."
"iya. Kok Arshaka mau sih sama dia?"
"tua-an dia loh ketimbang Arshaka,"
"ih kok Arshaka mau sih sama kakak Mahasiswi itu?"
Cuitan beberapa pengunjung Kafe yang notabene adalah gadis berbau kencur yang masih duduk di bangku SMA membuat telinga ku terasa panas. Dengan tatapan delik mereka yang menilai ku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Rasanya aku ingin sekali mencolok mata mereka lalu membalas ucapan mereka.
Tapi tidak bisa, kalimat amarah ku hanya bisa berputar didalam kepala, hingga kepala ku pening.
Ini semua karena Arshaka telah meng-upload foto ku yang sedang tersenyum di tengah kolam renang di Instagram-nya, sampai aku tiba di Kafe hingga saat ini aku merasa kegiatan ku sedang diawasi kayak lagi ujian nasional.
Ku pikir itu hanya perasaan ku saja, hingga aku mulai mendengar bisikan dari beberapa pengunjung lalu mereka mulai terang-terangan membicarakan ku dan dikaitkan dengan Arshaka.
Hal ini pun juga berkat dari Mela, rekan kerja ku sebagai Kasir Kafe yang memberitahukan ku perihal sebuah foto diriku telah di-upload ke Instagram Arshaka.
Mau tidak mau aku hanya bisa menahan diri untuk tidak meluapkan kekesalan ku disaat melihat mereka begitu asik memandangi ku dengan pandangan sinis.
Elus dada nggak cukup.
"sudah nggak usah dipikirin."
Aku menutup wajah ku dibalik kedua lengan ku diatas meja lalu mendengus lelah setelah mendengar Karin yang meminta ku untuk tidak memikirkan itu.
Gimana caranya agar aku tidak memikirkannya? Padahal mereka sendiri sedang terang-terangan membicarakan ku sambil melirik ku dengan tatapan selidik.
Hingga sampai saat ini.
Aku terduduk lesu didepan Karin di sudut Kafe. aku telah bergantian shift dengan rekan part time yang baru dan aku langsung mendatangi posisi duduk Karin yang sengaja ia datang mengunjungi ku.
Tentu aku tahu pasti Karin mempunyai alasan lain kenapa ia rela datang ke Kafe di hari Minggu, dimana ia lebih suka berdiam diri di rumah ketimbang keluar rumah.
"jadi ceritakan ke aku. Gimana acara berenang kalian kemarin? Pasti seru banget ya, sampai Arshaka upload foto kamu pakai caption love."
Tuh kan bener dugaan ku.
Ini juga gara-gara Arshaka karena upload foto ku pakai emoticon love.
Apa coba maksudnya?
"jadi hubungan kalian sudah bisa dikatakan berkembang nih?"
Aku mendongak kesal melihat Karin sedang memasang senyum ala-ala padaku. Menggoda ku.
Itu bibir pengen banget ditarik biar nggak berbentuk lagi.
"nggak usah mandangin aku sinis gitu. Nggak ada salahnya kok kalau kalian berdua memiliki perasaan satu sama lain. Dunia nggak bakal kiamat kalau kalian berpacaran,"
Aku masih tak menanggapi ucapan Karin. Pandangan ku kini beralih menatap kearah dinding kaca Kafe, menampaki sebuah mobil Xpander sport hitam terparkir di parkiran.
Dan keluarlah Arshaka di mobil tersebut. Mengenakan kaos putih polos terbalut jaket denim biru, juga dengan celana ripped jeans berwarna biru.
Aku segera beranjak dari kursi dan ingin balik ke meja Barista. Namun aku menabrak seseorang dan menumpahkan minumannya, mengenai kaos hingga celana jeans-nya.
"ma-maaf.."
Aku gelagapan dan tercengang, ternyata aku tak sengaja menabrak Erick dan menumpahkan minuman yang baru saja ia ambil di tempat pick up.
"nggak apa-apa Bi. Woles," balas Erick segera dengan senyuman simpul. Berkali-kali aku mengucapkan permohonan maaf, lalu aku meminta Tio untuk memberikan ku kain bersih supaya aku bisa membersihkan minuman yang tumpah di pakaiannya.
"maaf Erick. Aku nggak sengaja," mohon ku lagi dengan wajah menekuk. Aku siap jika Erick meminta ganti rugi padaku: mengganti kopinya lagi, atau harus mencuci pakaian kotornya.
"nggak apa-apa Bi. Cuma ketumpahan kopi kok,"
"akan aku buatkan kopi lagi buat kamu ya," tawar ku langsung dan segera balik ke meja Barista, namun Erick menarik tangan ku sembari menggeleng kepala.
"nggak usah Bi. thank you,"
Segera aku menimpal, "nggak apa-apa Rick. Ini kecerobohan ku dan aku harus bertanggung jawab,"
Niat ku ingin kembali melangkah, Arshaka datang menghalangi jalan ku.
"ada apa Bee?" tanya Arshaka menatap ku, lalu berpindah menatap Erick yang sedang memegangi kaosnya yang basah.
Aku menjelaskan pada Arshaka bahwa aku tak sengaja menabrak Erick dan menumpahkan minumannya ke pakaian Erick. Jadi aku ingin membuatkan kopi baru lagi untuknya.
"nggak usah kok Bi. Beneran," balas Erick lagi setelah aku menjelaskan kecerobohan ku.
"tapi aku ingin mengajak mu jalan-jalan setelah kamu pulang bekerja. Bisa kan Bi?"
Aku melongo menatap Erick yang baru saja mengajak ku jalan setelah pulang bekerja. Begitu juga dengan Karin, bergantian menatap ku, lalu ke Erick dan juga Arshaka. Berbeda dengan Arshaka, pandangannya sinis menatap Erick seorang.
"nggak bisa. Bianca mau pergi sama gue," tukas Arshaka.
"loh bukannya lo mau pergi sama Audrey buat nemenin dia ke pesta ulang tahun sepupunya?"
Spontan aku menoleh kearah Arshaka yang masih membisu.
"Audrey, siapa dia?" tanya dengan tatapan penuh tanya pada Arshaka.
"Audrey itu salah satu teman kami di perkumpulan Bi. Sering jalan bareng juga,"
Mendengar itu dada ku merasa sesak. Seakan ada yang mengganjal dan rasanya sangat tidak enak.
"oh gitu."
Aku berpikir untuk menimbang ajakan Erick sembari memandangi Arshaka yang tak henti menatap Erick penuh arti.
Mendengar Arshaka yang akan pergi dengan seseorang bernama Audrey, kepala ku langsung mengangguk untuk menerima ajakannya.
Harusnya tidak akan masalah jika aku jalan dengan Erick. Lagipula Arshaka juga bukan siapa-siapa aku.
Dia pun juga punya janji dengan perempuan lain, kenapa aku harus repot memikirkannya?
"aku balik dulu buat ganti baju sebentar, nanti aku kesini lagi buat jemput kamu."
Erick melenggang pergi dan aku ingin melangkah untuk memasuki ruangan.
Namun Arshaka kembali menghalangi ku.
"kenapa kamu malah pergi sama Erick?"
"kenapa? Nggak ada yang salah kan kalau aku pergi sama Erick?" balas ku cepat lalu kembali melangkah.
"aku sudah bilang kalau kita akan pergi." balasnya lagi.
Aku segera memasuki ruangan khusus pegawai tanpa menghiraukan panggilan Arshaka sedikit pun.
Lebih baik aku mempersiapkan diri agar Erick tak terlalu lama menunggu ku nanti.
***********************************
Summarecon Mall Bekasi begitu padat dipenuhi oleh pengunjung. Setiap outlet serta gerai restoran terlihat sibuk dan ramai, ditambah live music bergenre lagu 90's mengisi di halaman terbuka Mall tersebut.
Melihat kepadatan seperti pasar tradisional membuat ku pusing. Kemudian kami duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari live music, lalu Erick pergi sebentar dan tak lama kembali tiba sambil membawa satu kantung besar permen gulali berwarna hijau dan biru.
Tentu saja aku terhibur berkat permen gulali yang telah Erick belikan padaku.
Ya, jangan heran jika aku begitu menyukai permen gulali. Bakalan anteng kayak bocah berumur 5 tahun.
Tapi melihat permen gulali ini aku malah teringat oleh Arshaka yang juga pernah membelikan permen ini padaku.
Tepatnya di beberapa minggu yang lalu, dimana dia juga langsung meminta ku sebagai pacarnya.
Jika diingat-ingat, dulu dengan mudahnya Arshaka sering meminta ku sebagai pacarnya, namun akhir-akhir ini ia tak terlihat menggebu-gebu mengejar ku lagi.
Namun mengingat itu dadanya jadi berdenyut nyeri. Apalagi ketika aku tahu jika malam ini Arshaka sedang jalan dengan perempuan lain.
Mungkin dia baru sadar dan sudah lelah mengejar ku yang tak pernah aku tanggapi selama ini.
"Bi, kamu melamun?"
Seketika aku tersadar dan menoleh kearah Erick.
"kenapa Rick?" tanya ku lalu Erick menghela nafas.
"kamu nggak dengerin daritadi aku lagi cerita sama kamu ya?"
Eh...
"ya Tuhan, maaf Rick. Aku nggak bermaksud-"
"lagi mikirin Arshaka?"
Mendadak ekspresi Erick berubah dingin setelah ia menyebut nama Arshaka. Aku pun juga berubah kikuk dan menundukkan kepala.
Ya Tuhan, kenapa rasanya jadi begini? Dulu aku akan selalu happy jika jalan berdua dengan Erick. Tapi sekarang, saat aku kembali jalan berdua dengannya yang ada aku malah mikirin orang lain yang lagi jalan sama perempuan lain.
"boleh aku menceritakan sesuatu sama kamu?"
Aku menaikkan pandangan ku, melihat ekspresi Erick yang berubah menjadi serius.
"asal kamu tahu Bi. Arshaka bukanlah laki-laki yang selama ini kamu pikirkan."
"apa maksud mu?"
Erick menambahkan, "dia sama sekali nggak pantas untuk kamu pikirkan. Sedikitpun. Karena sebenarnya Arshaka pun juga tidak pernah memikirkan mu. Sedikitpun. Aku harap kamu jangan berharap lebih dengannya,"
Otak ku berusaha keras untuk mencerna semua ucapan Erick. Tapi tak ada satupun ucapan Erick yang aku mengerti.
Lalu aku berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Erick yang kebingungan dengan sikap ku yang mendadak.
Aku nggak tahu. Rasanya aku kesal jika Erick membicarakan Arshaka seperti itu. Hanya karena aku melamun tiba-tiba Erick menyudutkan Arshaka begitu saja.
Walau Erick berkata benar jika aku melamunkan dia.
Tapi tetap saja aku merasa kesal dan tidak suka. Dan aku memilih untuk pulang tanpa dia dan langsung memesan taksi online menuju rumah ku.
Semua pesan dan telepon Erick sama sekali tak aku respon saat diperjalanan. Kembali aku melamun, memikirkan sedang apa Arshaka saat ini.
Apa dia sedang memikirkan aku seperti aku memikirkannya sekarang?
Tidak. Dia sedang bersama seseorang bernama Audrey. Sudah pasti perhatiannya sedang tertuju pada sosok gadis itu. Gadis yang mungkin saja jauh lebih menarik ketimbang aku.
Tiba didepan rumah, aku segera turun dari mobil dan langkah ku terhenti ketika aku mendapati Arshaka yang sedang berdiri menyender di mobilnya. Wajahnya tampak lelah namun aku masih bisa melihat garis bibirnya yang melengkung membentuk senyuman ketika dia melihat ku tengah berdiri yang tak jauh dari hadapannya.
Sedari tadi perasaan ku terus bercampur aduk: kesal, marah, jengkel, dan kini ada sesuatu kelegaan yang merambat memasuki hati ku saat aku melihatnya disini.
"aku senang kamu sudah pulang." ucapnya sembari tersenyum simpul.
"kenapa kamu disini?" tanya ku.
"aku nungguin kamu,"
"untuk apa?"
Sebelum menjawab, aku memperhatikan Arshaka yang sempat terdiam sejenak. Sekilas ia menghela nafas.
"aku kepikiran kamu. Jadinya aku datang kesini,"
Sekilas aku menaikkan alis mata ku.
"kenapa? Bukannya kamu lagi jalan sama siapa tuh? Audrey kalau nggak salah,"
Ku pikir Arshaka akan kembali tersenyum dan melayangkan gombalan receh andalannya.
Seperti yang biasa ia lakukan.
Namun justru aku salah. Dia berjalan mendekati ku dengan memasang wajah kakunya.
"berjanjilah padaku kalau kamu tidak akan lagi jalan berdua dengan Erick, ataupun dengan Erick lainnya. Siapapun mereka yang mengajak mu pergi, kamu harus mengatakannya padaku. Meski dia Karin sekalipun,"
Belum lama aku dibuat jengah oleh Erick, sekarang Arshaka pun juga membuat ku jengah. Mengatur ku seakan aku adalah anak kecil yang masih membutuhkan perhatian khusus.
"mau aku pergi sama Karin atau sama siapapun, itu terserah aku. Itu hak aku dan kamu nggak bisa atur aku kayak gitu."
"bisa." timpal Arshaka langsung.
"kamu milik ku Bianca."
"jangan kumat Arsha! Aku capek nanganin kumat kamu-"
"aku lagi nggak mau bercanda Bianca."
Sejenak aku terkejut dengan nada penekanannya. Namun aku masih berusaha untuk membalasnya.
Arshaka tidak bisa memperlakukan ku seenaknya.
Tapi sebelum aku kembali menyela, Arshaka semakin melangkah mendekati ku lalu,
"Bianca Delvain. Kali ini aku tak akan lagi bermain-main dengan mu."
Satu tangannya menangkup leher ku bersamaan dengan wajahnya yang mendekat kearah wajah ku.
Aku mendadak membeku tak bisa bergerak.
Ketika bibir Arshaka berhasil mengecup dan ******* bibir ku dengan dalam.
***********************************