
Bianca tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
Hanya bisa mondar mandir didekat jendela kamar, kuku jemarinya ia pilin dengan perasaan cemas yang terlalu melingkupinya. Beberapa kali ia menatap kearah luar jendela namun ia tidaak mendaaptkan apa yang ia mau.
Sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Bianca mendekati meja nakas lalu meraih ponsel. Ia ketik nama Arshaka disana dan langsung mendial nomornya. Terdengar nada tersambung namun Arshaka belum kunjung merespon.
Bianca semakin gelisah menatap ponselnya. Lalu ia kembali mondar mandir dan kembali mengintip jendela kamar. Sudah satu jam lamanya Arshaka pergi. Malam kian larut namun mobilnya yang kunjung memasuki halaman Rumah.
Apakah terjadi sesuatu menimpa Arshaka?
Bianca kian panik.
Ia mencoba menelepon Arshaka lagi. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali Bianca terus meneleponnya namun Bianca tidak berhasil mendapat kabar.
Terakhir kali Bianca mencoba menelepon, namun operator mengatakan nomor sedang dialihkan.
Bianca khawatir. Sebisa mungkin Bianca mengatur detak jantung yang kian berdebar. Rasanya jantung Bianca berteriak ingin melesak keluar. Mencoba untuk menenangkan diri dengan mengatur napas, membuang praduga buruk.
Rasa kantuk mulai menguasainya Bianca beranjak ke tempat tidur, membaringkan diri dan mencoba untuk tidak melawan keinginan naluri. Beberapa menit Bianca merenung menatap langit-langit, berharap ia akan segera tertidur. Tapi tidak berhasil. Ketakutannya mendominasi.
Bianca mencoba menelepon Arshaka lagi, namun kali ini operator mengatakan nomor Arshaka sedang tidak aktif.
Tidak biasanya Arshaka seperti ini. Jika Bianca sudah meneleponnya beberapa kali dan belum ditanggapi Arshaka, sesegera mungkin pria itu akan menelepon Bianca balik.
Tapi Arshaka tidak melakukan itu. Hari semakin malam dan Bianca belum mendapat kabar Arshaka dimana keberadaannya.
Kemudian Bianca bangkit, menghampiri lemari pakaian daan mengeluarkan sweater umtuk ia kenakan melapisi baju tidurnya, lalu Bianca melangkah keluar kamar. Dengan langkah perlahan Bianca menuruni anak tangga menuju pintu rumah.
Mencari Arshaka adalah gagasan terbaik yang terus terlintas di kepala Bianca dan akan ia lakukan saat ini.
Bianca berharap tidak ada terjadi sesuatu yang menimpa suaminya.
Melangkah mendekati pintu hendak meraih tuas, Bianca dikejutkan dengan pintu yang terbuka sendiri dan menampilkan sosok Arshaka yang juga terkejut melihat Bianca.
"Kamu mau--aduh Bee, kamu kenapa?"
Arshaka segera memeluk Bianca yang tiba-tiba memeluknya terlebih dahulu. Lalu Arshaka merasakan punggung Bianca yang gemetar dan Bianca sontak menangis.
"Kamu kemana saja? Aku tuh khawatir banget sama kamu!" Pekik Bianca sembari mengeratkan pelukannya.
"Loh aku kan--"
"Kenapa kamu nggak angkat telepon aku? Aku tuh sudah berkali-kali telepon kamu tapi nggak diangkat sama sekali. Bahkan kamu nggak telepon aku balik!" Bianca melepaskan pelukannya lalu memberi pukulan ringan ke dada Arshaka.
"Ponsel aku--"
"Aku tuh khawatir banget sama kamu tahu nggak?! Kepalaku mau pecah mikirin kamu ada dimana!" Bianca tak henti memukul dada Arshaka meski Arshaka tidak mengeluh.
"Bee.."
"Apa kamu memang sengaja bikin aku jantungan karena khawatirin kamu? Apa kamu juga sengaja bikin aku pusing karena mikirin keberadaan kamu?"
"Bee.."
"Apa susahnya sih telepon aku yang--"
"Enough sayang!"
Arshaka menangkup satu tangan Bianca dan seketika Bianca menghentikan kegiatannya. Ucapan Arshaka terdengar santai namun ada penekanan disana.
Bianca sontak gugup sekaligus takut meski sebenarnya Arshaka tidak marah padanya. Jadi Bianca menundukan wajahnya.
"Baterai ponselku habis, sudah satu persen dan aku nggak bisa angkat telepon kamu. Kabel charger ketinggalan di kamar dan nggak ada kabel cadangan atau powerbank di mobilku.."
Bianca masih terdiam mendengar penjelasan Arshaka.
"..kamu kan juga tahu aku keluar buat beli makanan kamu. Aku sudah mutar-mutar sampai aku keluar-masuk komplek lain karena aku sulit nyari tukang Nasi Goreng Tek-Tek lewat."
Kepala Bianca semakin tertunduk. Merasa bersalah.
"Maaf Bee.." lirih Bianca tanpa mendongak. Masih tidak berani menatap Arshaka. Lalu Arshaka menghela napas.
"Ya sudah ayo ke Dapur! Nanti Nasi Gorengnya dingin,"
Arshaka langsung menyodorkan bungkusan plastik ke Bianca.
"Ini."
Bianca meraih plastik tersebut dan tersenyum senang. Lalu ia memeluk suaminya dengan gerakan manja dan menggoda.
"Terima kasih sayang."
Bianca berhasil meluluhkan hati Arshaka. Pria itu membalas pelukannya lalu ia kecup singkat di kening Bianca.
Tak mau menunggu lama lagi Bianca segera menuju Dapur, menyiapkan alat makan lalu ia sajikan dua bungkus Nasi Goreng yang masih panas dengan kepulan asap keatas piring.
"Habiskan! Aku nggak mau dengar kamu dan anakku mengeluh kelaparan lagi."
"Tapi kalau nggak habis, kamu mau bantu aku habisin kan?"
Arshaka mengangguk dan Bianca tersenyum sembari mengunyah suapan pertamanya dengan lahap.
"Makan yang banyak!" Bianca mengangguk dan Arshaka hanya terdiam mengamati Bianca melahap Nasi Goreng tersebut.
Arshaka masih tidak menyangka jika Bianca bisa seperti ini karena efek kehamilannya sudah memasuki usia sepuluh minggu. Sampai saat ini memang belum terlihat ada perubahan fisik secara signifikan dari Bianca, namun Arshaka sedikit geregetan dengan perubahan sikap Bianca.
Wanita yang sibuk menghabiskan makanannya itu memiliki rasa kekhawatiran dan keinginan yang berlebihan. Kapanpun dan dimanapun Arshaka harus menghubungi Bianca, baik membalas pesan atau menelepon Bianca dengan segera. Jika tidak Bianca akan terus meneleponnya atau mengirim pesan terus menerus supaya Arshaka cepat merespon.
Namun hal itu tak mengubah perasaan Arshaka terhadap Bianca. Meski terkadang ia jengkel justru Arshaka merasa tertantang. Bagi Arshaka, setiap Bianca memerlukannya tandanya hanya Arshakalah yang dibutuh Bianca.
Arshaka sangat beruntung dan bersyukur akan kehamilan Bianca.
Arshaka akan melakukan apapun, berusaha sekeras mungkin menjadi seorang suami dan calon ayah yang siap siaga.
"Menurutmu apa dia perempuan, atau laki-laki, atau mungkin saja kembar?" tanya Arshaka disela makan Bianca.
"Apa kamu memiliki permintaan khusus?"
"Tidak," Arshaka menggeleng lalu satu tangannya memainkan ujung rambut Bianca yang terurai malu-malu disela telinga. "Perempuan atau laki-laki tidak akan masalah untukku. Apalagi kembar. Aku sangat siap menyambut mereka."
"Tapi aku ada keinginan lain." tambah Arshaka.
Bianca mengamati wajah suaminya dengan raut penasaran. "Keinginan apa?"
"Setelah dia lahir, bolehkah kita nambah lagi?"
Bianca membelalak, "Kamu serius?"
"Iya." Arshaka mengangguk. Lalu ia tersenyum sembari membayangkan sesuatu hal dipikirannya sebelum Arshaka kembali berucap.
"Bagaimana kalau lima?"
...*****...
Chokky is here.
Bagaimana ekstra chapnya? semoga kalian suka.
Ini ekstra chap yg terakhir. Sorry kalau nggak buat banyak, atau ceritanya terlalu klasik, biasa saja, nggak panjang seperti novel yg sering kalian baca di tempat lain.
Utk gue pribadi gue mau ngucapin terima kasih buat kalian dan doi. Bantu doi nulis disini dan disebelah merupakan sesuatu hal yg tak terduga buat gue. Plus minus. Tp gue lebih sering dpt plus-nya.
Gue memohon maaf jika ada penyampaian gue dan doi kurang berkenan. Kami bukan penulis hebat, tapi kami happy bisa baca komen dukungan kalian utk kami, khususnya dukung doi, suka sama karakter yg kami buat, pokoknya apapun itu kami mengucapkan terima kasih.
Semoga kalian sehat selalu. Dan tunggu kisah baru yg akan doi buat utk menghibur kalian lagi.
See you..
Salam hangat dari kami,
Octaviandri23
Chokky