
Hari ini adalah hari pertama ku mulai bekerja di Kafe Samuel. Setelah di-training selama 3 hari langsung dengan Samuel, akhirnya aku mulai bisa bekerja tanpa pengawasan.
Hatiku sangat senang. Apalagi Ayah dan Leo mendukung ku setelah aku menceritakan bahwa aku akan mulai bekerja hari ini.
Kegiatan awal ku dimulai dengan membuat minuman untuk para pelanggan. Aku ditemani dengan teman Barista ku bernama Tio, ia tak sungkan membantu ku ketika aku terlihat kewalahan. Dan selalu mengingatkan ku dengan beberapa bahan racikan minuman ketika aku masih bertanya dan bingung saat membuat pesanan.
"eh, ini Bianca?"
Aku mendongak ketika salah satu pelanggan Kafe memanggilku. Rupanya ada Jeanne disini.
"kamu kerja disini?"
Aku mengangguk pelan, "iya."
"wah keren." pujinya sambil tersenyum.
Teman Barista ku memanggil nama Jeanne di tempat pick up. Jeanne langsung menghampiri dan mengambil pesanannya.
"aku duluan ya Bi."
Aku mengangguk sabil tersenyum. Namun senyuman ku pudar ketika aku melihat Jeanne duduk didekat jendela kaca bersama Erick.
Aku melupakan sesuatu, selain aku dan Karin, Erick dan Jeanne pun juga suka nongkrong disini.
Aku menghela nafas berat.
Kembali aku memfokuskan diri dengan bekerja. Walau aku sibuk berlalu lalang membuatkan pesanan, sesekali pandangan ku terus melirik kearah Erick yang sedang tertawa dengan Jeanne, dan hal itu membuat hatiku meringis.
Ternyata perasaan ku masih ada untuknya.
Aku kembali menyibukkan diri dengan mengisi es batu baru ke tempat penyimpan es, lalu aku melihat Arshaka datang memasuki Kafe.
Buru-buru aku membalikkan badanku dan terpaku ditempat.
"selamat datang kak, mau pesan apa?" aku mendengar sapaan teman Barista ku bernama Mela. Aku yakin kalau dia sedang melayani Arshaka.
"mbak, saya mau dilayani sama mbak-mbak yang berdiri disitu."
Aku mengernyit bingung mendengar permintaan Arshaka, lalu aku merasakan sebuah tepukan lembut dari belakang.
"kak Bian, pelanggan itu maunya dilayani sama kakak tuh,"
Aku menoleh dan berbalik memandangi Arshaka yang sedang melambaikan tangan sambil tersenyum padaku.
Tiba-tiba perasaan ku jadi tidak enak melihatnya ada disini.
Mau tidak mau sebagai karyawan baru di hari pertama ku, aku harus melayaninya dengan baik.
"selamat sore kak, mau pesan apa?" sapa ku sambil tersenyum, terpaksa. Lalu Arshaka melihat daftar menu didepan layar, ia berdeham panjang dan terlihat bingung dan tampak berpikir keras.
Aku tahu dia hanya berpura-pura seperti itu. Sengaja dilama-lamain.
Sampai semenit dan 2 menit pun Arshaka belum juga menyebutkan pesanannya hingga antrian mulai terlihat memanjang.
"maaf kak bisa dipercepat pesanannya? Dibelakang kakak sudah banyak yang mengantri,"
Arshaka menaikan pandangannya lalu tersenyum, "ah maaf, aku bingung mau pesan minuman apa. Bisa kasih rekomendasi minuman yang sering orang beli disini?"
Hatiku memaki kesal, berlaga sok polos padahal dia sering pesan minuman disini.
"minuman yang paling sering dipesan yaitu es kopi gula aren, es kopi-"
"aku mau es kopi pakai Rum aja," putusnya kemudian. Segera aku mengetuk pesanannya dilayar.
"baik kak. Satu minuman aja kak? Ada lagi?"
"itu saja,"
Aku langsung mengambil gelas kosong dan spidol, "baik. Atas nama siapa kak?"
"wah ternyata kamu modus, bilang aja mau ngajakin aku kenalan. Nggak usah beralibi gitu,"
Aku menahan geram sekaligus malu melihat Arshaka dan pengunjung lain cekikikan setelah mendengar celotehan Arshaka.
"saya menanyakan nama kakak buat saya cantumin di gelas ini, supaya nama kakak bisa dipanggil ketika pesanan kakak sudah jadi," jelasku sedikit ketus.
"nggak sekalian nomor ponsel ku?"
"saya hanya butuh nama kakak saja," balas ku mempertegas keinginanku.
"baiklah, tolong ditulis pacarnya Bianca."
Ya Tuhan, ini baru hari pertama ku bekerja kenapa cobaannya begini sih?
"oh iya, kak Arshaka."
"bukan," cegah Arshaka ketika aku ingin menulis namanya, "tulis pacarnya Bianca. Aku mau kamu tulis kayak gitu disitu. Kalau nggak, aku nggak mau membayar minuman ku." ucapnya sambil menunjuk gelas ditangan ku.
Aku menyerah, aku menuruti keinginannya walau hatiku sungguh sangat berat.
Aku kembali menyebutkan pesanan Arshaka serta nominal yang harus dibayarkan, lalu Arshaka memberikan lembaran uang padaku. Setelah itu aku langsung membuatkan kopi yang ia minta karena tadi ia juga minta aku yang membuatkannya. Kasir kembali dialihkan kepada Mela.
Setelah aku membuatkan kopinya, aku berikan langsung kepada Tio.
"atas nama-- pacarnya-- Bianca!"
Tio segera melirik kearah ku kaget dan bingung, namun aku hanya bergeming menghiraukan tatapan terkejutnya.
"tadi mas manggil?" tanya Arshaka di tempat pick up.
"kakak, pa-pacarnya Bianca?!"
"boleh panggil lagi yang keras mas?" pinta Arshaka. Mendengar itu dan melihat reaksi pengunjung yang memperhatikan posisi kami, aku hanya bisa mengelus dada.
"pacarnya Bianca?!"
"lagi mas, yang kencang." pintanya lagi.
"pacarnya Bianca!"
"ya, itu saya." ucapnya tersenyum lalu ia mengambil minumannya.
"terima kasih." lanjutnya sambil tersenyum.
Arshaka berlalu, sebelum ia keluar dari Kafe sempat-sempatnya ia memberikan kedipan mata padaku.
***********************************
Hari sudah malam, aku dan teman Barista lainnya saling berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Langkah ku terhenti ketika aku melihat Arshaka duduk diluar bersama Samuel. Mendapati aku memandanginya, Arshaka mematikan rokoknya dan ia berjalan menghampiriku.
Aku baru tahu kalau Arshaka memang dekat dengan Samuel, ku pikir mereka hanya kenal begitu saja saat terakhir aku melihat mereka di pesta ultah Jeanne.
"udah pulang?" tanya Arshaka yang sudah berhadapan dengan ku. Pakaiannya masih sama seperti tadi sore, mengenakan kaos biru polos dengan ripped jeans hitam.
"anterin Ar, udah malam. Nggak baik kalau Bian pulang sendiri." Samuel datang dengan tawaran yang membuat ku langsung menggeleng kepala.
"nggak usah, aku bisa naik taksi online."
Baru mulai aku melangkah pergi, Arshaka menarik tangan ku.
"nggak ada naik taksi online, aku anterin kamu pulang,"
"mau aja lah Bi, udah larut malam juga. Kan Arshaka pacarnya Bianca," melihat Samuel cekikikan membuat ku ingin mencekiknya segera.
Karena aku sangat lelah hari ini, aku mulai mengikuti langkah Arshaka dan segera masuk kedalam mobil.
"capek ya?" Arshaka mengelus rambut ku, melirik keadaan ku yang memang terlihat lelah dan kucel. Aku ingin segera di rumah supaya bisa mandi dan bisa langsung tidur.
Selama diperjalanan beberapa kali Arshaka menawari ku makanan yang terlihat dipinggir jalan, namun aku menggeleng. Aku sudah makan di pantry sebelum pulang.
"aku kenyang,"
"cuma makan roti panggang apa kenyangnya sih? Aku beliin Nasi Goreng ya, makan ditempat."
Aku terkejut sesaat karena Arshaka tahu aku hanya memakan roti, "aku beneran masih kenyang kok. Anterin pulang aja, aku capek banget," keluh ku dengan wajah cemberut.
"aku tetap beliin kamu Nasi Goreng, kamu makan di mobil aja kalau gitu."
Mendapati ada gerobak Nasi Goreng, Arshaka memakirkan mobilnya ditepi jalan.
"pulang aja. Nanti mobil kamu bau kalau aku makan disini." kilah ku.
"lebih baik mobil ku bau daripada kamu sakit."
Aku tercenung menatap Arshaka yang keluar dari mobil. Sesekali aku mengerjap memandangi Arshaka yang sibuk memesan dan menunggu Nasi Goreng ku selesai dibuat.
Pandangan ku mulai buyar ketika Arshaka sudah kembali memasuki mobil.
"makan sekarang, dan habisin. Kalau nggak habis aku nggak anterin kamu sampai depan rumah."
Aku langsung membuka kotak makanan ku dan melahap Nasi Goreng sampai habis.
Selama diperjalanan Arshaka memutar kemudinya, mengelilingi komplek rumah ku dan berhenti tepat didepan rumah ketika Nasi Goreng ku sudah habis.
"besok kamu kuliah?"
Aku mengangguk, "iya,"
"dari jam berapa sampai jam berapa?"
"jam 10 dan jam 1."
"habis itu kamu kerja?"
"iya,"
"besok aku jemput kamu ya,"
Aku mengernyit, "emang besok kamu nggak sekolah?"
"sekolah," balasnya.
"ngapain jemput? Aku bisa berangkat ke kampus sendiri,"
Arshaka terdiam sesaat, terlihat mencerna ucapan ku, namun tak lama ia tersenyum.
"maksudku pas kamu pulang kerja aku baru bisa jemput."
Aku mengerjap perlahan dan segera keluar dari mobil dengan langkah lebar.
Malu banget woy!
"Bee,"
Aku berhenti dan menoleh kebelakang, malu ku makin menjadi melihat Arshaka tersenyum geli.
"kenapa lagi? Aku mau masuk, capek!" ketus ku. Sebelum aku membuka pintu, Arshaka menarik tangan ku lagi.
"maaf ya aku belum bisa anterin kamu berangkat ke kampus. Tapi aku janji buat adain waktu buat jemput kamu sehabis pulang kerja," ucapnya sembari mengelus rambut ku lagi. Namun aku mendadak mundur satu langkah.
Aku merasakan detak jantungku semakin berdebar kencang.
Gawat, jangan sampai aku baper sama anak ini.
"nggak usah, nggak usah anter atau jemput aku. Kamu kan bukan supir,"
"iya, tapi aku calon yang sebentar lagi jadi pacar kamu." balasnya sembari kembali tersenyum.
Aku makin bergerak salah tingkah.
"pulang sana! Sudah malam. Terima kasih dan hati-hati dijalan."
Aku segera masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rapat. Beberapa saat aku masih berdiri didepan pintu, belum ada mendengar deru suara mobil aku mencoba mengintip dari balik gorden Jendela.
Aku melihat Arshaka mengetik ponselnya, tak lama ponselku berdering dan segera aku mengecek ponselku.
Arshaka:
Night Bee, i love you...
Aku kembali mengintip di Jendela dan mendapati Arshaka yang masih berdiri disana dan dia melihat ku mengintip disini.
Buru-buru aku menutup kain gorden Jendela ku dan bergegas masuk ke dalam kamar.
***********************************