ARSHAKA

ARSHAKA
DUA PULUH TIGA



"Sudah cukup selama empat tahun aku membiarkanmu, dan sekarang tidak lagi kubiarkan kamu pergi begitu saja Bee."


Aku masih mencerna apa yang baru saja Arshaka katakan padaku, laki-laki itu langsung menarikku secara paksa untuk mengikuti arah langkahnya.


Aku berontak dan menahan kedua kakiku agar ia tidak berhasil membawaku pergi.


Mengetahui niatku ingin meloloskan diri, tanpa berpikir panjang Arshaka membungkuk untuk menggendongku secara paksa. Tanpa mempedulikan aku yang sudah berteriak meminta diturunkan. Bahkan ia tidak peduli jika kami sudah menjadi pusat perhatian, dan orang-orang hanya bisa menatap kami was-was.


Arshaka langsung membawaku ke mobil sedan hitam yang baru tiba menghampiri kami, lalu ada seseorang datang dari arah yang tak tahu dari mana sigap membukakan pintu untuk kami masuk.


Setelah kami masuk seorang supir yang sudah siap memegang kemudi langsung menyetir mobilnya dengan laju cepat, berpura-pura tuli dan tidak memperdulikan aku yang berusaha keras berteriak meminta tolong dan Arshaka masih setia mencengkram tanganku dan berdesis memintaku untuk diam.


"Bee, kumohon diamlah!"


Bisa kulihat Arshaka sedang berusaha keras menahan amarah dan tidak bertindak kasar padaku, namun hal itu tak mengurungkan niatku untuk kembali berontak dan memohon padanya dan pada sang supir supaya aku dilepaskan.


Akupun juga mengancamnya jika tindakannya padaku sudah termasuk tindakan kriminal; penculikan, pemaksaan dan aku kembali berteriak jika aku akan melaporkan hal ini kepada pihak berwajib.


"Laporkan saja! Aku tidak peduli." Ucap Arshaka enteng, tak lelah ia memandangiku lekat dengan manik menggelap itu. Tangannya masih bekerja mencengkram kedua tanganku supaya aku bisa diam. Hingga ia melilitkan tanganku agar aku terkunci dengan tanganku sendiri.


Mobil telah berhenti di sebuah Rumah besar berlantai dua yang memiliki halaman luas dan asri. Desain dan ukiran pahatan batu disepanjang batu pagar bernuansa khas Bali menjadi pemanis saat memasuki Rumah besar tersebut.


Kembali Arshaka menggendongku secara paksa memasuki Rumah tersebut dan kami disambut oleh dua orang pria yang kuduga adalah penjaga Rumah.


Melewati ruang tamu dan ruang tengah, aku dibawa menuju lantai atas dan memasuki sebuah kamar luas bernuansa serba putih. Saat Arshaka menuruniku ia segera meninggalkanku dan mengunci pintu dari luar. Aku berlari mendekati pintu, lalu menggedor dan memanggil namanya, masih berusaha keras untuk memohon padanya supaya aku dilepaskan.


Tak ada satupun sahutan dari Arshaka dari luar, pandanganku mulai mengitari seisi ruangan ini; hanya ada tempat tidur, lemari pakaian dan kamar mandi yang tersedia didalam kamar. Kamar yang apik bernuansa putih polos.


Namun pandanganku berhenti dibagian sudut kamar, melihat ada beberapa lembaran foto yang tertempel di dinding dan juga berhamburan di lantai.


Aku menatapnya dengan kedua mata terbuka lebar, foto-foto tersebut adalah foto-fotoku yang sudah dicoret-coret menggunakan spidol bertinta merah, dan hal itu membuatku merinding ketakutan.


Aku mulai was-was dengan berbagai macam praduga buruk berhasil mengelilingi kepalaku, lalu aku berbalik ketika mendengar tuas pintu terbuka dan melihat Arshaka kembali memasuki ruangan.


Buru-buru aku berlari mendekati pintu dan ingin meraih tuas, kembali berusaha keras untuk keluar dari sini, namun langkahku kembali dicegah, Arshaka merengkuh dan memeluk pinggangku dengan kencang, lalu ia menarikku paksa menjauhi pintu hingga gapaianku tak sampai ke tuas pintu.


Aku kembali berontak dan menarik tangannya untuk melepaskan pelukan kami.


"Please, jangan pergi!" bisiknya di telingaku.


Aku menggeleng keras, berusaha melepaskan pelukan Arshaka yang semakin lama membuat ku sulit bernafas.


"Please, Bee. Aku ingin bersamamu disini."


Aku masih meronta untuk minta dilepaskan, walau aku mulai luluh mendengar ia memanggilku dengan nada getir.


Disaat aku menoleh untuk melihatnya, aku menangkap maniknya menggelap dengan seulas senyuman sinis namun bergetar rendah membuat bulu kudukku menegang.


Kini aku sungguh takut dengan Arshaka saat ini. Aku melihatnya seperti seseorang yang tak terkontrol, aku takut jika Arshaka akan bertindak impulsif padaku.


Namun mengingat dimana ia pernah membohongiku, mengkhianatiku, apa mungkin Arshaka ingin kembali melakukan hal itu padaku? Apa dia pikir aku akan mudah kembali luluh lantak sama seperti dulu?


Aku tersenyum sinis, aku tidak ingin lagi dijadikan sebagai boneka yang selalu ia mainkan sesuka hati lalu dibuang begitu saja.


"Lepasin aku Arshaka! Aku akan berteriak jika kamu masih.."


"Teriaklah! Tak ada yang mendengarmu karena hanya ada kita berdua disini."


Aku kembali menarik tangannya agar menjauhiku. Pelukan yang semakin erat, dengan terpaksa aku menginjak kakinya dengan sepatu stiletto yang masih aku kenakan.


Segera kujauhkan dia dariku ketika ia mulai mengadu sakit dan perhatiannya teralihkan. Aku segera berlari dan meraih pintu kamar.


Aku menarik tuas namun tidak terbuka. Aku mencari anak kunci di tuas pintu namun tidak terlihat olehku. Sial, ada seseorang yang sengaja mengunci kami dari luar supaya aku gagal keluar.


"Mau kemana sayang?"


Aku berbalik dan mendapati Arshaka dengan ekspresi menakutkan, Arshaka tersenyum namun terkesan dingin dan wajahnya menggelap. Aku terpaku memandanginya hingga aku tak sadar jika kedua tangan Arshaka sudah bertengger bersisian mengukungku di pintu.


Berusaha keras aku menahan diri supaya aku bisa melawannya, dan menahan diri supaya air mataku tidak jatuh. Aku tidak mau terlihat ketakutan olehnya meski aku sudah mulai gemetaran.


Namun aku tidak berhasil. Air mataku berhasil jatuh dan Arshaka menyungging senyuman tipis.


"Jangan menangis! Aku nggak mau melihat kamu menangis. Aku nggak akan menyakitimu lagi, sayang."


Perlahan jemari dinginnya menyeka air mataku yang mulai turun membasahi pipiku secara perlahan. Namun air mataku kembali merintik, dan aku berjingit memejamkan mata ketika Arshaka menghapus air mataku dengan cara menjilat diantara pipiku.


Aku sudah tidak kuat lagi berada dikukungannya.


"Aku mengakui semua kesalahanku. Aku salah telah mempermainkanmu, mengkhianatimu, aku tidak memikirkan perasaanmu disaat kamu percaya padaku padahal aku sedang asik bersama perempuan lain."


"Aku memang brengsek Bianca. Aku mengakui diriku bukanlah laki-laki yang baik."


"Awalnya kupikir kedekatan kita akan berakhir sama seperti saat aku memperlakukan pada perempuan lain,dan akhirnya pihak perempuanlah yang selalu memohon padaku untuk kembali dengan alasan cinta."


"Iya. Itulah yang kukira diawal. Namun saat aku bersamamu, aku merasa jika aku benar-benar menjalani hidupku seperti orang lain. Yang kurasa hidupku hampa, aku merasa hidupku mulai berjalan lurus dan mempunyai arti. Dan itu aku rasakan hanya bersamamu."


"Lalu aku mulai tersadar akan sesuatu hal. Aku teringat dimana aku melihatmu bersama Erick di Pesta Reymond. Saat itu aku memang sengaja meninggalkanmu, aku flirting dengan perempuan lain, namun yang ada aku memikirkanmu dan entah kenapa aku memilih untuk balik. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak suka melihat mainanku didekati pria hidung belang seperti Erick. Aku tidak suka saat kamu bersamanya. Itu sangat lucu."


"Lalu ketika kamu mempergoki leherku yang memerah. Begitu polosnya kamu mempercayai omonganku jika aku digigit serangga. Haah! Aku lega sekaligus aneh dengan diriku sendiri. Seakan aku merasa bersalah padamu padahal kamu sudah percaya padaku."


"Hingga hatiku mencelos disaat kamu tahu niat awal aku mendekatimu. Ada sesuatu yang menyayatku saat kamu menatapku penuh amarah, dan dadaku terasa nyeri dan sakit ketika kamu bilang kamu membenciku. Rasanya duniaku runtuh."


"Aku terpaksa membiarkanmu pergi, dan sudah cukup aku memberi waktu selama empat tahun ini. Sudah cukup. Aku nggak akan biarkan kamu pergi lagi,"


"Apa aku harus berlutut padamu dan memohon padamu agar kamu kembali padaku? Katakan Bianca jika aku harus melakukan itu, maka akan aku lakukan."


"Dan berjanjilah padaku jika kita bisa bersama-sama lagi. Berjanjilah jika kamu nggak akan lagi ninggalin aku. Apapun aku lakukan, asalkan kamu kembali."


Aku tercenung melihat Arshaka yang sudah menangis dan tersenyum secara bersamaan. Tubuhku menggigil mendengar penuturannya dan memaksaku untuk berjanji padanya.


"Katakan Bianca! Katakan padaku apa yang harus kulakukan asalkan kamu kembali padaku!"


Tak lama aku mendengar suara bariton seseorang dari balik pintu, suara yang cukup familiar di telingaku memanggil nama Arshaka untuk membuka pintunya.


Dari luar ia mengancam jika pintu tidak dibuka maka ia akan membuka pintu secara paksa.


Arshaka segera menarikku agar posisi kami menjauhi pintu. Pelukan yang semakin erat menandakan bahwa Arshaka begitu defensif.


Lalu aku juga mendengar dari arah luar pintu yang dimana seseorang meminta orang lain untuk segera mencari duplikat anak kunci, dan tak lama terdengar mereka sedang memutar kunci lalu pintu terbuka dengan lebar.


Masih berada didalam pelukan Arshaka membelakangi pintu, aku mencari tahu si pemilik suara bariton tersebut dan melihat siapa mereka yang memasuki ruangan.


Ternyata Reymond-lah yang datang dengan beberapa orang pria yang ku duga penjaga Rumah. Lalu aku juga melihat ada tiga orang lainnya dengan perlengkapan masker di wajah, glooves di kedua tangan mereka terlihat layaknya tenaga medis.


"Arshaka, lepasin Bianca sekarang!" Pinta Reymond dengan tegas. Pandangan tajam Reymond pada Arshaka berubah cemas saat memandangiku. Begitupun dengan beberapa orang yang dibelakang Reymond. Mereka juga tampak khawatir padaku yang berada dipelukan Arshaka.


"Tidak akan!" Tolak Arshaka sambil menggelengkan kepalanya. Masih setia memelukku sembari memperhatikan orang-orang mulai berjalan lambat mendekati Arshaka. Perlahan Arshaka mundur saat mereka berjalan maju, akupun ikut mundur karena Arshaka belum juga mau melepaskanku.


Semakin lama pelukan Arshaka membuatku sesak napas. Dan keadaanku terbaca oleh mereka membuat keadaan semakin terlihat mengkhawatirkan.


Arshaka terus bergerak mundur sambil menggeleng kepala saat mereka terus berjalan sambil membujuk Arshaka.


Hingga langkah kami terhenti ketika aku merasakan ada sebuah benda tepat di leherku. Benda dingin dan terasa menusuk. Degup jantungku bertalu kuat saat aku tahu bahwa benda itu adalah sebilah pisau yang siap menancap leherku kapanpun.


Aku semakin gemetar ketakutan.


Tak hanya aku, Reymond dan yang lainnya ikut berhenti dan terkejut melihat Arshaka menaru pisau di leherku. Mereka langsung bergerak mundur dan meminta Arshaka untuk tidak bertindak nekat.


"Lepasin pisau itu Arshaka! Aku akan bertindak jika kamu melukai Bianca." Ucap Reymond penuh peringatan.


"Kalau begitu kalian pergi!" Titah Arshaka.


"Aku tidak akan pergi jika kamu belum melepaskan Bianca,"


"Kalau begitu pisau ini akan terus berada di leher Bianca."


Aku memejam mata kuat-kuat, berharap semoga Arshaka tak sungguh-sungguh melukaiku.


"Cukup Arshaka! Apa kamu sadar bahwa kamu sedang..."


"Tidak! Kau tahu jika aku hanya ingin Bianca, bukan obat-obatan. Kau tahu jika hanya kehadiran Bianca yang bisa menyembuhkanku, bukan para perawat."


"Arshaka, tenanglah! Kita bisa bicarakan baik-baik."


"Aku nggak mau dirawat lagi Reymond. Aku nggak mau minum obat-obat itu lagi. Aku nggak mau sendirian lagi dan aku nggak mau Bianca pergi lagi."


"Aku hanya mau Bianca, Reymond. Aku nggak mau apapun. Aku cuma mau Bianca. Bisakah kamu mengabulkan permintaanku ini?"


Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi atau memang ini sedang terjadi padaku? Kenapa drama hidupku bisa terjadi seperti ini?


Aku terdiam dengan perasaan campur aduk, masih terpaku dan tidak bisa melakukan apapun didekapan Arshaka. Aku kembali merasakan tubuhnya gemetar, bahkan tanpa sadar aku pun ikut memeluk hingga membopongnya karena aku merasa jika ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak rapuh dan jatuh.


Dengan lamat dan seksama aku mencerna semua kalimat yang diucapkan Arshaka. Suara serak tersirat akan perasaan putus asa.


"Katamu aku berhak bahagia bukan? Maka aku ingin mendapatkan hakku. Aku ingin Bianca di hidupku, Reymond. Bukan obat-obatan itu yang dapat menyembuhkanku, bukan juga perawat yang menjagaku setiap hari. Sekali lagi aku mau Bianca, Reymond."


Mendapati kejadian seperti ini rasanya masih tidak percaya. Speechless. Pikiran ku flashback ketika aku bertemu Arshaka untuk pertama kalinya; aku mengenalinya sebagai laki-laki ceria dan mudah tersenyum, suka tebar pesona dan pintar merangkai kalimat gombalan nan receh.


Laki-laki petakilan dan berhasil mematahkan hatiku saat aku sadar bahwa aku sudah jatuh hati padanya, dan saat ini ia sedang tidak berdaya. Arshaka kembali menangis dipelukanku.


Tak terasa lagi ada benda dingin menusuk leherku, mungkin Arshaka sudah melepaskan pisau tersebut. Aku memberanikan diri untuk mengurai pelukan dan menatap wajahnya yang sudah berantakan dan basah oleh air mata. Wajah yang sembab dan lelah itu menatapku kalut, pelukannya masih ia eratkan diantara pinggangku, ia sungguh tidak membiarkanku menjauh darinya sedikitpun.


Lalu aku menoleh ke belakang, memandangi Reymond yang juga memandangiku cemas.


"Pak Reymond, ijinkan saya bicara berdua dengan Arshaka."


Aku mengamati Reymond yang tak membalas permohonanku. Namun ia membalikkan badan dan berjalan keluar, diikuti oleh orang-orangnya dan pintu kembali tertutup dari luar.


Kini hanya ada aku dan Arshaka, terdiam dan saling memandangi satu sama lain.


Lalu aku merengkuh Arshaka, memeluknya dengan erat. Begitupun Arshaka membalas pelukanku, kembali memelukku dengan erat.


Kukira tak hanya Arshaka saja yang membutuhkan pelukan ini. Nyatanya aku pun juga membutuhkannya.


Peluk hangat Arshaka mampu meluapkan perasaanku, hingga aku tak sadar jika aku sudah merintikan air mata.


...*****...