ARSHAKA

ARSHAKA
DUA PULUH SATU



Waktu pukul sepuluh malam.


Aku menaru dua koper ku disisi tempat tidur lalu segera aku hempaskan diriku yang sudah sangat lelah ke tempat tidur yang sangat empuk dan lembut.


Baru saja aku tiba di sebuah Homestay di Seminyak dan tak lupa aku menghubungi Ayah dan Leo, mengabari mereka jika aku sudah sampai di Bali. Setelah itu aku segera membersihkan diri dan berganti pakaian karena tubuhku merengek minta diistirahatkan.


Sesudah aku bersiap untuk tidur, aku langsung memejamkan mata karena besok pagi aku harus menghadiri meeting penting.


*****


Aku mencatat semua pembahasan yang dilontarkan oleh Pak Tommy, selaku CEO A.P. Coal Corp memberikan perencanaan progres dan materi yang sedang ditayangkan menggunakan Proyektor. Satu tangan ku sibuk menulis di buku catatan khusus Notulen, tak lupa aku juga merekam pembicaraan menggunakan ponsel, supaya hal-hal kecil namun bersifat penting tak ada yang terlewatkan olehku.


Mengadakan pertemuan di ruang meeting Gedung A.P. Coal Corp seakan aku bukan berada di sebuah gedung perkantoran. Biasanya gedung kantoran pertambangan terkesan dingin dan kaku, namun ini sebaliknya.


Sebelumnya aku disuguhkan dengan nuansa dan ukiran corak Bali yang kental di sepanjang sisi beranda gedung. Memiliki 2 pilar besar saat memasuki gedung dengan warna krim dan coklat yang mendominasi. Terlihat megah.


Ketika memasuki ruang meeting, seketika aku tercengang kagum. Ruangan yang dikelilingi dinding kaca menyuguhkan pemandangan rambatan pohon.


Serasa meeting didalam Hutan. Adem aja lihat pemandangan begini.


Selama meeting berlangsung, aku juga dimanja dengan pelayanan disini. Selalu disediakan air mineral jika air didalam botolku tandas.


Ditambah cemilan manis yang membuat ku terus menguyah. Untung ruangan lagi gelap selama Pak Tommy melakukan presentasi.


Setelah Pak Tommy mengakhiri pembicaraan, lalu Muri bangkit dan memggantikan posisi Pak Tommy untuk memimpin meeting. Pembawaannya yang santai namun lugas, Muri dapat membawa kami yang duduk tertuju memandanginya dan fokus mendengarkan penyampaiannya.


Tak heran jika ia dijabat sebagai Direktur Pemasaran.


Sudah memasuki jam makan siang, pertemuan segera diakhiri dan kami berencana untuk makan siang di Kantin yang tersedia di belakang Gedung perusahaan ini.


Saat aku mendatangi Kantin tersebut, aku kembali tercenangang karena Kantin perusahaan ini bukan terlihat seperti Kantin. Terlihat seperti Restoran terbuka.


Makanan yang tersedia disini juga terlihat cukup mewah. Dari makanan Lokal sampai Western tersedia. Hampir semua menu minuman pun juga ada disini.


Mataku mulai mencari nama menu di buku menu, lalu segera memesan makanan kepada waiters. Aku memesan menu Lokal saja. Biar cepat tersaji. Lalu aku memberikan buku menu kepada rekan kerjaku sesama Diamond Burke.


Walau kami sudah berpindah tempat, pembicaraan antara Muri dan Pak Tommy masih membahas perihal bagaimana jalannya projek kami nanti. Sebab aku duduk sebelah Muri, sehingga aku bisa mendengarkan pembicaraan mereka.


Bisa aku lihat ekspresi Pak Tommy begitu antusias selama membahas hal tersebut pada Muri. Beliau juga mengatakan bahwa kerja sama kami akan membuahkan hasil.


Pak Tommy juga mengingatkan kami perihal agenda kerja besok, yang dimana kami akan ke daerah tambang di perbatasan Badung. Beliau memberitahu kami untuk berkumpul di Kantor paling lambat jam sembilan pagi.


Iya, jadwal kami untuk mensurvei lokasi dipercepat. Mengingat Atasan Pak Tommy ingin mengajak kami makan siang bersama, untuk itu kami harus berada di A.P. Coal Corp tepat waktu.


Tentu saja Muri mengiyakan ucapan Pak Tommy. Diajak makan siang bersama Petinggi A.P. Coal tidak boleh terlewatkan sedikitpun.


Setelah makan siang, Pak Tommy membawa kami ke sebuah ruangan kerja cukup luas, dimana ruangan tersebut akan menjadi ruangan kerja kami selama menjalani projek ini.


Segera aku menempati ruang kerja ku setelah melihat ada plakat namaku terpajang diatas meja. Aku tersenyum senang, merasa dihargai disini, mereka begitu niat menyiapkan ruangan ini dengan apik dan hingga menyiapkan plakat nama kami disetiap meja kerja. Diberi ruangan yang nyaman saja itu sudah lebih dari cukup.


Ruangan kami juga tersedia fasilitas minibar yang lengkap untuk membuat minuman seperti teh dan kopi. Kulkas mini yang terpajang disisi meja minibar juga terisi penuh oleh makanan dan minuman kemasan.


Tanpa perlu menunggu lama lagi, aku dan rekan ku mulai bekerja hingga larut malam.


******


Menempuh perjalanan hampir dua jam lamanya, kami tiba di tempat bongkahan Batu Bara.


Turun dari mini bus, aku segera mengenakan perlengkapan pengaman kerja lapangan seperti Helm berwarna kuning, masker dan gloove.


Berjalan beriringan dengan Muri sembari mencatat beberapa hal penting mengenai pembahasan antara Muri dan Pak Tommy. Tak lama aku melihat kerumuman pekerja, disana ada beberapa orang yang tampak lebih bersahaja.


Sudah aku pastikan mereka adalah petinggi A.P. Coal Corp, sebelumnya Pak Tommy mengatakan jika atasannya telah sampai disini terlebih dahulu.


Kami segera berjabat tangan, memperkenalkan diri kami.


Kami kembali mengamati kegiatan para pekerja lapangan. Sinar matahari yang semakin terik mengakhiri kegiatan kami.


Kemudian Pak Tommy membawa kami ke sebuah tempat dimana kami akan makan siang bersama.


Tak jauh dari lokasi pertambangan, ada gedung Kantor dengan bangunan dua lantai. Kami segera masuk dan menuju ke Mini Ballroom.


Meja persegi panjang dan kursi di sepanjang sisi tersusun rapih. Peralatan makan juga telah dipersiapkan diatas meja.


"Aku pikir kita diajak makan di Restoran," bisik Muri tepat disampingku, spontan aku menyikut lengannya dan ia mengadu sakit.


"Jangan ngomong gitu. Bersyukurlah kita dikasih makan." tukas ku lalu mengatur posisi ku ke sedia kala.


Para petinggi A.P. Coal Corp mulai duduk di kursi mereka masing-masing. Sambil menunggu waiters mengantar makanan, kami kembali membahas mengenai projek.


Ada juga membahas hal-hal diluar pekerjaan: seperti membahas pengalaman Muri selama bekerja dibidang pertambangan Minyak, bagaimana keadaan Ibukota Jakarta sekarang ini, hingga membahas Politik.


Akhirnya waiters datang sembari membawakan makanan dan diletakkan diatas meja.


Bersamaan dengan itu ada beberapa orang datang memasuki ruangan, para petinggi A.P. Coal beranjak berdiri saat orang tersebut masuk menghampiri kami.


Muri, aku dan rekanku yang lain spontan ikut berdiri. Melihat mereka menyapa ke arah pintu ruangan kami sama-sama menoleh, mencari tahu siapakah orang tersebut. Sebab posisi kami membelakangi pintu ruangan.


"Selamat siang Tuan," sapa para petinggi itu, lalu dibalas oleh orang tersebut.


"Selamat siang. Maaf, saya terlambat datang."


Seseorang datang bersama beberapa orang mengikutinya dari belakang, penampilannya yang sangat rapih mengenakan satu set jas lengkap, menyapa kami dengan hangat.


"Pak Muri, perkenalkan beliau adalah Komisaris Utama A.P. Coal Corp. Beliau lah yang mengundang untuk makan siang bersama disini."


Nafasku mendadak tercekat, memandang tak percaya di tempat ketika hampir semua orang sibuk menyapa dan menyambut kehadirannya.


Satu persatu pandangannya mengitari orang di sekitarnya, lalu berakhir menatapku.


Beberapa saat pandangan kami bertabrakan, aku teringat kembali saat dimana dia berhasil membuatku menangis sesegukan, berhasil mematahkan hatiku, menangisinya beberapa malam menjelang.


Seseorang yang telah lama tak pernah aku jumpai lagi selama empat tahun terakhir. Dan kini kami bertemu lagi.


"Arshaka Danu Prabusudibyo."


Aku berpikir, mungkin Tuhan sengaja mempertemukan kami kembali.


Bukan mungkin lagi, tapi mungkin inilah garis yang Tuhan takdirkan untukku.


Tak akan hanya bertemu saja, sudah dipastikan bahwa aku akan kembali berinteraksi dengannya dalam kegiatan projek ini.


Mendadak aku berharap dalam hati supaya projek ini cepat terselesaikan dan aku bisa segera pulang ke Jakarta.


******