
Sedari tadi ku tatap layar ponsel ku. Jemari ku menggeser layar dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah. Berkali-kali mengecek notifikasi dibagian atas ponsel, hanya ada notifikasi sosial media yang tak minat ku buka sedari tadi.
Lalu ku buka Whatsapp ku lagi, membuka chat dari Arshaka. Sekilas aku membaca pesan terakhirnya, pesan yang ia kirim beberapa hari yang lalu.
Arshaka menghilang entah kemana. Tanpa ada kabar, dan tanpa terlihat dari peredaraan ku.
Harusnya aku senang karena Arshaka tidak mengganggu ku lagi. Harusnya aku senang karena Arshaka tidak muncul lagi dihadapan ku.
Namun aku merasakan sebaliknya: aku gelisah, tidak tenang, selama ia tak menampakkan batang hidungnya justru aku memikirkannya.
Kini pikiran ku bercabang, apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Apa ia dalam keadaan baik-baik saja?
Atau mungkin Arshaka sudah menyerah padaku, untuk itu ia menghilang?
Kalau memang benar, harusnya ia memberi ku kabar. Beritahu aku supaya aku tidak memikirkannya.
Tidak. Untuk apa juga ia memberi kabar jika memang ia sudah menyerah padaku?
Memang harusnya seperti ini.
Bahkan seharusnya sejak dari dulu seperti ini.
Iya benar.
Harusnya aku lega Arshaka menghilang.
Harusnya.
"cieee diliatin mulu chat nya. Kalau kangen chat duluan aja lah!"
Aku terkejut dan segera mengunci layar ponsel ketika Karin sudah berbaring disamping ku dan mengintip kegiatan ku yang sedang membuka chat Arshaka.
Saat ini aku sedang mengunjungi rumah Karin dan rebahan di tempat tidurnya.
Niat awalnya aku ingin me time di rumah dengan menonton film seharian.
Tapi aku malah tiduran disini. Sendirian di rumah karena Ayah dan Leo sedang pergi memancing justru membuat ku terus memikirkan Arshaka.
Tapi percuma juga. Di rumah Karin pun perhatian ku hanya memikirkan laki-laki itu.
"coba saja kamu chat duluan Bi. Setidaknya kamu tahu kenapa dia menghilang begitu saja. Biar kamu juga tahu bagaimana kelanjutan hubungan mu dengannya. Biar nggak digantungin kayak jemuran,"
Aku memandangi Karin yang tulus memberiku sebuah saran. Setelah bercerita kalau Arshaka menghilang, Karin tak henti menyuruh ku mengirim pesan duluan ke Arshaka.
Jujur saja, dilubuk hati ku tersentil untuk mengikuti saran Karin. Tapi nalar ku mengatakan kalau aku tidak perlu melakukan hal tersebut.
Namun ego ku mengoyak nalar ku. Beradu kuat hingga kepala ku pening. Rasanya mau pecah.
"coba saja Bi. Nggak ada salahnya kok kalau kamu chat duluan. Jika Arshaka tidak balas pesan mu, ya sudah kamu bisa ambil keputusan sendiri."
Karin benar. Dan ego ku menang.
Saat Karin keluar dari kamar, aku mulai mengetik pesan dan langsung ku kirim pada Arshaka.
To Arshaka:
Kamu dimana?
Sstelah kirim pesan tersebut, tangan ku tak lepas memegang ponsel dan terus membuka pesan Arshaka.
Mata ku hanya memperhatikan 2 centang yang belum berwarna biru.
Beberapa menit aku hanya menunggu balasan dari Arshaka. Dari Karin keluar untuk memasak makanan untuk kami makan hingga Karin balik lagi. Aku hanya terpaku menatap ponsel, namun notifikasi balasan dari Arshaka belum juga masuk.
Beginikah rasanya yang dinamakan kehilangan?
Kehilangan? Lucu. Dari awal aku terus menolak kehadirannya, dan saat ia menghilang aku mulai merasa kehilangan.
Sial!
"sudah coba tanya Samuel belum? Samuel sama Arshaka kan teman dekat,"
Karin datang ke kamar lagi dan membawa sebuah ide yang langsung menggerakan jari ku untuk segera menghubungi Samuel.
Aku langsung memberikan pesan singkat pada Samuel apa ia tahu tentang Arshaka.
Beberapa saat aku menunggu balasan Samuel, namun ia belum ada membaca pesan ku. Padahal statusnya lagi online.
"Bi, aku ke bawah dulu ya. Ada Romeo. Sebentar,"
Karin berlalu dan aku masih terpaku menatap pesan ku yang belum dibaca juga oleh Samuel.
Namun nalar ku langsung nyambung mengingat Romeo.
Aku buru-buru bangkit dan keluar menghampiri Karin dan Romeo.
"Romeo!"
Aku memanggil Romeo ketika pria berjaket denim hitam itu hendak berlalu. Aku bisa melihat ekspresi Romeo yang sedikit terkejut dan bingung setelah aku memanggilnya.
"Romeo, kamu teman dekat dengan Arshaka kan?" tanya ku to the point. Sejenak Romeo mengangkat kedua alisnya -bingung- namun tak lama ia membalas.
"kenapa memangnya?"
"kamu tahu dia ada dimana sekarang?"
Romeo kembali terkejut menatap ku.
"kenapa nanyain Arshaka sama aku? Kenapa kamu nggak tanya sendiri saja?"
"kalau aku tahu, aku nggak perlu buru-buru turun kebawah buat nanya sama kamu sekarang." balas ku sedikit ketus. Romeo menyeringai sinis.
Melihat ekspresinya kayak gitu, rasanya aku ingin menjambak rambut gondrongnya.
"kalau aku tahu Arshaka dimana, apa urusan kamu?"
Aku terdiam, memikirkan jawaban yang tepat.
"bukannya kamu nggak suka Arshaka deketin kamu? Harusnya bagus dong kalau Arshaka nggak deketin kamu lagi,"
Benar. Seandainya Romeo tahu jika hal itulah yang pikiran ku diawal saat berpikir Arshaka menghilang.
Tapi statement tersebut malah tertelan didalam mulut ku sendiri.
"aku tuh cuma tanya sama kamu Arshaka lagi ada dimana dan aku ingin kamu langsung jawab pertanyaan ku. Bukan bahas ke hal yang lain," dalih ku keki. Namun melihat tatapan delik Romeo yang menikai ku aku jadi merinding.
Ya Tuhan. Aku terlihat seperti perempuan bodoh.
Kemudian Romeo meminta ku mengetik sesuatu di notes. Sebuah alamat rumah di Pondok Indah.
"datang saja ke alamat itu. Dan jangan lupa bawain Bunga Mawar putih,"
"Bunga Mawar??" tanya ku memastikan ulang.
"iya. Setangkai saja, nggak usah banyak-banyak."
"untuk apa?"
Romeo menyeringai lagi, "nanti kamu juga tahu. Sudah ya, aku cabut dulu."
Romeo pergi begitu saja, membiarkan ku dan Karin berdiri diambang pintu dengan pemikiran masing-masing.
*********************************
Aku memperhatikan sebuah rumah besar dan mewah, sampai aku harus sedikit mendongak ke atas.
Rumah besar yang memiliki pagar besi dipadu kayu kokoh menjulang tinggi. Menutupi keadaan area dalam rumah.
Melihat ada penjaga rumah yang baru keluar dan masuk ke sebuah pos kecil di sudut pagar, aku menghampirinya dan menanyakan keberadaan Arshaka.
Penjaga rumah tersebut menatap ku dan menilai penampilan ku dari atas sampai bawah. Juga ia melihat ku yang membawa sebuket Bunga Mawar putih.
Penjaga yang bernama Joko --aku tahu namanya dari nametag yang tertera di saku bajunya-- menelepon seseorang, sesaat ia menanyakan nama ku dan menyebut nama ku kepada seseorang yang ia telepon.
"mbak Bianca. Saya antarkan kedalam ya,"
Joko membuka pagar untuk ku, dan aku mengikuti langkahnya dari belakang.
Butuh beberapa langkah menuju pintu utama. Memiliki pekarangan halaman luas sungguh menyusahkan ku sebagai seorang tamu tanpa menggunakan kendaraan.
Setelah aku memasuki rumah, aku disuguhkan dengan koleksi guci, lukisan serta pernak-pernik keramik yang menempel di dinding. Melihat ini aku baru sadar, aku sedang memasuki rumah seorang pengusaha Batu Bara sukses.
Juga berhubungan dengan cucunya.
Hubungan? Hubungan apa? Ya Tuhan, aku mulai ngaco.
"ditunggu sebentar ya mbak Bianca,"
Joko pamit undur diri setelah menawari ku duduk di ruang tamu. Sebelum duduk di sofa mewah yang terlihat empuk dan mahal, aku tertarik untuk melihat berbagai koleksi ruang tamu si sang pemilik rumah.
Dari lukisan hingga bingkai foto pemilik rumah. Foto-foto yang terpajang disini hanya kegiatan Reymond Prabusudibyo.
Tidak ada satupun foto Arshaka yang terpajang.
"Bianca,"
Aku membalikkan badan, mendapati Reymond berdiri dibelakang ku.
Segera aku menyalaminya dengan mencium tangan Reymond.
"kamu yang pernah datang ke pesta saya waktu itu kan?"
Aku mengangguk sebagai jawaban ku.
"ada keperluan apa kamu datang kesini?"
Aku berpikir sejenak. Rasanya aku sungkan menjelaskan kedatangan ku untuk menemui Arshaka.
"Bian,"
Aku mengalihkan pandangan ku dibalik punggung Reymond. Melihat sosok Arshaka menuruni anak tangga dengan kaos putih oblong kebesaran dan celana training berwarna abu-abu.
Rambut ikalnya berantakan dan wajahnya terlihat pucat.
"Arsha,"
"Bee, ke kamar aja yuk?"
Aku membulatkan mata ku sempurna mendengar Arshaka mengajak ku ke kamarnya.
"aku nggak kuat Bee. Ayo ikut aku ke kamar,"
Arshaka berjalan mendekati ku dan menarik lengan ku untuk mengikuti langkahnya menuju sebuah kamar.
Aku sempat berontak agar ia tak menarik tangan ku untuk mengikuti langkahnya. Apalagi dilihat oleh Reymond.
Ya Tuhan mau ditaru mana wajah ku dihadapan Reymond. Dan anehnya Arshaka tak merasa terusik ketika didelik oleh Reymond dengan tatapan tajam.
Hingga lengan ku terlepas saat Arshaka berhasil membawa ku memasuki ke kamarnya. Lalu ia langsung merebahkan dirinya diatas tempat tidur.
Melihat Arshaka memejamkan matanya dan lemas disana, niat ku ingin memakinya jadi terurung.
"kamu..kenapa?"
Tak ada jawaban dari Arshaka. Laki-laki itu masih memejamkan matanya dengan nafas yang teratur.
Ku pikir dia tertidur, namun aku melihat satu tangannya bergerak menepuk sisi kasur.
"sini,"
Arshaka menyuruh ku mendekatinya, tanpa ia membuka mata sedikitpun.
Aku mendekatinya lalu duduk disisi tepi tempat tidur, disamping Arshaka terbaring.
Rasa cemasnya menguar ketika aku melihat secara dekat bahwa Arshaka terlihat pucat dengan bibir yang mengering.
Perlahan aku menyentuh tangannya, panas. Kenapa aku baru sadar kalau suhu tubuh Arshaka bisa sepanas ini?
"kamu sakit,"
Lirih ku yang ku pikir tak akan terdengar olehnya justru membuatnya membuka mata perlahan. Arshaka memperhatikan ku yang kini terlihat cemas melihat kondisinya.
"aku pikir Romeo berbohong padaku. Taunya kamu beneran datang,"
Aku bingung ingin menjawab bagaimana, sampai aku terbata-bata berbicara pada Arshaka.
"i-iya. Kamu.. Gi-mana keadaan kamu?"
"kamu nggak usah khawatir. Aku sudah mulai membaik," sahutnya dengan nada pelan.
"kenapa kamu nggak kasih tau aku kalau kamu lagi sakit?" tanya ku lagi dengan kepala sedikit menunduk.
"aku nggak mau bikin kamu khawatir," balasnya.
"justru kamu bikin aku khawatir,"
Arshaka tercenung dengan perkataan ku barusan.
Jangankan dia, aku juga ikut tercenung sendiri.
Tak lama Arshaka tersenyum, "benarkah? Berarti aku sering sering sakit saja ya biar kamu khawatir sama aku.. Au.. Au.. Sakit Bi!"
Aku menepuk lengannya kesal.
"jangan ngomong kayak gitu! Itu sama saja kamu mendoakan diri sendiri supaya sakit,"
"nggak apa-apa. Biar kamu sering datang ke rumah dan cemasin aku kayak sekarang," godanya sambil terkekeh. Aku langsung memutarkan manik mata ku.
Tak lama Arshaka menggenggam tangan ku.
"maaf sudah bikin kamu khawatir. Aku nggak ada bermaksud seperti itu. Aku kira cuma demam biasa, taunya aku demam tifoid. Maaf juga karena aku tidak memberikan kabar padamu, tapi kamu jangan khawatir. Aku nggak akan menghilang begitu saja,"
Tangan ku mulai digenggam kuat olehnya, lalu ia tarik dan ia kecup singkat di punggung tangan ku. Membuat debaran jantung ku berdebar tidak karuan.
Berusaha keras aku mengalihkan pandangan ku, tapi kayaknya percuma. Sebab Arshaka senyum-senyum sendiri melihat ku gelagapan dengan sikapnya.
"terima kasih karena kamu sudah mau datang ke sini, melihat keadaan ku dan membawakan ku Bunga Mawar,"
"juga aku ingin memberitahu sesuatu hal padamu,"
Aku tersentak ketika Arshaka berusaha bangkit dan duduk menatap ku dengan lekat. Meski terlihat pucat, aku masih bisa melihat keseriusannya dibalik wajahnya.
Aku kembali menunduk karena tidak kuat ditatap seperti itu.
"Bi, beruntungnya aku bisa bertemu dengan mengenal mu lebih jauh. Ibarat Bunga Mawar yang dipenuhi dengan duri sebagai pelindung. Namun kini aku tidak ingin menjadi duri lagi, sebab jika kamu layu dan kelopak mu gugur aku masih akan tetap menjadi duri dan itu tak ada gunanya lagi,"
"jadi...?"
Tanya ku sembari memahami maksud ucapan Arshaka padaku, lalu ia tersenyum lagi.
"aku akan tetap menjadi seorang Arshaka, yang mampu memberikan mu apa saja bahkan aku sanggup memberikan mu seribu tangkai Bunga Mawar setiap hari. Atau lebih dari sekedar beberapa tangkai Bunga Mawar. Aku tahu ucapan ku terdengar membual, tapi aku serius."
"I want you to be my girl, Bee..."
Tubuhku mematung setelah mendengar bualan manis yang Arshaka lontarkan.
Juga kecupan singkat namun hangat yang ia berikan di pipi ku.
***********************************