ARSHAKA

ARSHAKA
TIGA PULUH EMPAT



Sambil memilin jemari mungil dipangkuanku, aku terduduk diam dan kedua mata ku mengamati beberapa orang sedang sibuk sendiri dengan kegiatan mereka. Ada yang tengah berbincang ria, ada juga yang sibuk dengan ponselnya.


Saat ini aku sedang menghadiri farewell party yang sengaja diselenggarakan oleh pihak A.P. Coal Corp untuk aku dan rekan Diamond Burke, mengingat hari ini adalah hari terakhir kami bekerja di Bali. Sebelum datang kesini Pak Tommy mengatakan jika pihaknya telah membuat acara makan malam sederhana untuk perpisahan kami, beliau menunjuk sebuah Restoran yang terletak diatas bukit terlihat cukup mewah.


Acara ini dihadiri oleh kami sebagai rekan kerja Diamond Burke dan beberapa karyawan A.P. Coal tertentu.


Namun yang ku lihat acara ini jauh dari kata sederhana. Acara ini didekor cukup meriah sampai ada hiasan pajangan yang tertulis 'Farewell Party'.


Seperti biasa aku duduk disamping Muri. Aku hanya diam dan menyimak pembicaraan Muri dengan beberapa Kepala Divisi. Disisi ku lainnya ada Mbak Enni yang sedang mengobrol ria dengan rekan A.P. Coal lainnya. Sedangkan Mas Sigit mangkir ke Toilet.


Meski terkesan ramai namun acara tersebut terasa hangat bagiku. Tapi,


"Pak Arshaka beneran nggak bisa datang ya Pak Tommy?" salah satu karyawan A.P. Coal bertanya pada Pak Tommy perihak kehadiran Arshaka.


Suasana mendadak senyap saat setelah mendengar nama Arshaka. Ibarat mantra yang mampu meredupkan suasana, tanpa kehadiran Arshaka seakan acara tidak bisa berjalan sesuai perencanaan mereka.


"Kayaknya tidak bisa, sebab jadwal keberangkatan beliau sekitar pukul saat ini. Nggak akan keburu jika beliau mau datang kesini,"


Aku bisa melihat ekspresi wajah beberapa karyawan wanita yang berubah asam layaknya potongan buah Mangga muda.


Lalu aku juga mendengar gelak tawa tertahan Muri menatap para wanita itu. Lalu ia melihatku dan kembali cekikikan sendiri ketika aku melihatnya sambil menaikan alis sebelah.


Menunggu acara yang akan dimulai, ponselku berdering tanda sebuah pesan masuk. Aku membaca pesan dari Arshaka yang menanyakan acara ini.


Arshaka: 


Aku berangkat sayang, Acara disana sudah dimulai belum?


Bianca:


Sebentar lagi mau dimulai. Hati-hati dijalan ya!


Aku langsung meredupkan ponselku ketika Pak Tommy memulai membuka acara.


Tak banyak rangkaian kata sambutan dikumandangkan. Hanya mengucapkan apresiasi mereka atas dedikasi kami selama bekerja sama dengan pihak A.P. Coal. Tak lupa diakhiri dengan doa dan harapan agar kerja sama ini selalu terjalin dengan baik, dan saling mendoakan untuk kesuksesan bersama.


Muri ikut andil memberikan sambutannya, setelah selesai memberikan sambutan acara makan-makan segera berlangsung.


Saat beberapa waiters bergantian datang menyajikan makanan, tiba-tiba Arshaka datang dengan beberapa orang lainnya termasuk Reymond.


Serempak kami bangkit dari kursi dengan memasang wajah terkejut kami dan kami segera menyambut kehadiran merekap. Hadirnya Arshaka di acara membuat mood para wanita itu kembali berubah bahagia, seakan mendapat bonus tahunan.


Aku mulai jengah menatap ekspresi mereka.


Kami kembali duduk disaat Arshaka dan Reymond mulai menduduki tempat duduk mereka. Sesaat aku menatap Arshaka yang juga tengah menatapku disebrang sana, sebuah senyuman manis melayang kearahku membuat mereka yang memperhatikan Arshaka kini juga menatap kearahku.


Aku langsung mengalihkan pandanganku kearah lain.


Rasanya hatiku mencelos mendadak ditatap oleh mereka seperti itu.


"Ya, mari kita nikmati hidangan makanannya." Sahutan Pak Tommy berhasil mengalihkan mata memandang mereka kearah hidangan diatas meja.


Saat aku kembali memperhatikan Arshaka, laki-laki itu sedang dilayani oleh Sekretaris yang terkenal cantik dan modis, biasa dipanggil Mbak Julia--jika kalian lupa.


Aku memperhatikan wanita itu menanyakan menu makanan yang akan hendak Arshaka makan. Lalu tangan jenjangnya mengarah tepat ke menu Ayam Bakar Kecap dengan selada segar diletakan diatas piring Arshaka.


"Cepat diambil makanannya, takut kehabisan." Bisik Muri tepat di telingaku. Ia tahu jika aku sedang panas memperhatikan Mbak Julia begitu telaten menyiapkan makanan keats piring Arshaka.


Aku hanya memgangguk dan langsung menyendok Ikan Gurame Asam Manis. Susah payah aku melahap makananku meski aku mendadak tidak nafsu.


Kedua mataku kembali melirik kearah Arshaka yang tengah menatapku lagi sekarang. Namun perhatiannya kembali teralih saat Mbak Julia mengajaknya berbicara.


Baik, aku sudah mulai tidak beres. Mereka hanya saling berbicara namun hatiku dan mataku mulai terasa terbakar dan perih.


"Bi, kamu nggak apa-apa? Kok dari tadi kamu diam terus?" Tanya Mbak Enni disampingku. Tatapannya mengarah ke Arshaka dan Mbak Julia yang masih sibuk mengobrol. Ucapan Mbak Enni masih belum kutanggapi.


"Mending kamu cobain pudding mangganya deh. Kayaknya enak tuh Bi," tawar Mbak Enni sambil menunjuk kearah pudding yang ia maksud. Aku paham jika Mbak Enni ingin mengalihkan perhatianku agar aku tak terlalu memperhatikan kegiatan mereka yang terlihat lengket kayak lem korea.


For your information--Mbak Enni dan Mas Sigit tahu tentang hubunganku dengan Arshaka. Jadi aku tidak sungkan menunjukan mood burukku didepan Mbak Enni.


Lalu aku segera menggeleng sopan, kemudian aku bangkit dan mangkir dari kerumunan orang-orang menuju pekarangan halaman Restoran yang tersedia disini.


Pekarangan yang memperlihatkan suasana malam Bali yang indah dan menyejukan. Dari sini aku bisa lihat gemerlap lampu Kota berhasil mencuci mataku. Sembari aku mendudukan diri diatas pagar kayu kokoh yang sengaja dibuat sebagai tempat duduk, aku membiarkan diriku menikmati deru angin malam yang dingin. Tapi aku menyukainya.


Terlalu asik memandangi lautan lampu dibawah sana, aku tak sadar jika sudah ada seseorang berdiri dibelakangku. Ia buka jas kerjanya lalu disematkan di bahuku untuk menyelimuti badanku supaya aku tidak kedinginan.


Reflek aku menoleh, mendapati Arshaka-lah yang memelukku dari belakang.


"Disini dingin sayang. Nanti kamu sakit,"


"Panas dalam hal apa nih?" Godanya dibalik leherku membuatku mendengus.


"Didalam memang panas."


Terdengar Arshaka mendengus remeh, lalu ia memutar menghadapku.


"Panas karena melihatku tengah mengobrol sama Julia?"


"Nggak kok," aku segera mengalihkan pandanganku agar kilahku tidak ketahuan.


"Kami hanya mengobrol tentang pekerjaan Bee, hanya itu,"


"Ya aku tahu kalian mengobrol tadi. Kata siapa kalian lagi jungkir balik di atas meja?"


Arshaka tak kuasa menahan gelaknya, "Calonku cemburu rupanya. Gemes deh," ucapnya sambil mencubit pipiku gemas.


"Iiihhh lepas. Sana ke dalam nanti kamu dicariin," regekku sambil menepis tangannya.


"Siapa yang nyariin aku?"


"Karyawanmu yang ada didalam sana. Nanti ketahuan kalau kamu ada disini sama aku,"


"Memangnya kenapa kalau aku ketahuan sedang sama kamu disini?" Ekspresi Arshaka langsung berubah masam mendengar kalimatku barusan.


"Apa salahnya jika aku ingin berduaan sama kamu disini? Ada larangan kayak gitu?"


Aku jadi kikuk melihat Arshaka mulai tersulut, "Nggak enak saja kalau karyawanmu lihat kita ada disini. Yang ada malah jadi omongan,"


"Aku nggak peduli. Itu bukan urusanku dan harusnya itu bukan urusan mereka juga."


"Ya sudah jangan marah-marah begitu. Nggak enak kedengeran orang," ucapku sambil melirik sekitar. Untungnya beberapa orang yang juga berada di pekarangan tak mendengar perdebatan kami.


"Aku nggak suka sama kalimatmu itu," deliknya menghunusku membuatku membeku ditempat.


"Ya sudah jangan ngambek!" kataku lagi.


"Aku nggak ngambek,"


Aku meraih satu tangannya dan kugenggam dengan lembut. Lalu kutambahkan wajah imut dengan puppy-eyes yang kata orang akan terlihat lucu dan biasanya selalu berhasil meluluhkan pasangan yang sedang ngambek kayak gini.


"Maafin aku Bee," ucapku sambil memandanginya dengan sungguh-sungguh.


Arshaka terdiam sesaat menatapku, lalu ia menghela nafas, "Baiklah."


Sesuai ekspektasi, usahaku tidak sia-sia memasang wajah diimut-imutkan. Berhasil meluluhkannya aku tersenyum sumringah.


"Makasih udah mau maafin aku,"


Aku kembali tersenyum. Namun secara tiba-tiba Arshaka meraih daguku, lalu ia menelengkan kepalanya dan mencium bibirku.


Kecupan kecil yang datang bertubi-tubi memanjakan bibirku hingga kuterlena. Tanpa sadar kedua tanganku telah mengalung ke lehernya dan Arshaka harus sedikit mengangkat tubuh ku supaya aku bisa menyamai permainannya.


Hawa dingin yang menusuk kulit berubah menjadi semilir panas yang menjalar bebas di sekujur tubuh akibat ciuman kami, dan mampu mengeluarkan buliran peluh keringat membasahi sisi dahiku.


Mulai butuh oksigen lebih, akhirnya Arshaka melepaskan bibirku yang sudah bengkak olehnya. Begitu intens ia menatapku dan ibu jarinya mulai menyapu sudut bibirku.


"Aku sangat merindukanmu, peluk guling kamu nggak cukup menguras rinduku."


"Jadi kamu beneran tidur di kamarku selama disana?" tanyaku dengan seulas senyuman geli memandangi Arshaka.


Arshaka mengangguk sambil merengkuh pinggangku, "Aku sempat ingin membawa gulingmu ke Kantorku, tapi sama Leo dilarang."


"Iyalah. Untuk apa juga kamu bawa guling aku ke Kantor kamu?!" aku terkekeh. Kemudian tanganku mulai bergerak bebas mengelus surai rambut hitamnya yang mulai memanjang.


"Setelah aku selesaikan urusaanku disini, aku akan segera menyusulmu ke Jakarta. Aku akan datang lagi bersama Reymond untuk bertemu dengan Ayah secara resmi. Sebelum akhir tahun kita menikah ya,"


Aku terdiam memandangi wajahnya yang bersemu malu. Binaran mata yang tersorot tulus dan mantap ketika Arshaka membicarakan rencana pernikahan kami.


Tanpa perlu berpikir panjang tentunya aku membalas dengan ekspresi yang sama. Bahkan buliran air mataku turut serta mewarnai perasaan euforia kami.


Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu Arshaka datang menemui Ayah lagi dan menyambut hari kebahagiaan kami nanti.


...*****...


*****sebentar lagi tamat ya :)