ARSHAKA

ARSHAKA
TUJUH BELAS



***Author notes


hai, apa kabar kalian semua?


semoga kalian dalam keadaan sehat selalu ya.


Berbagai banyak pertimbangan, akhirnya aku akan kembali melanjutkan cerita ini sampai tamat.


Jadi kalian gak perlu pindah lapak untuk membaca cerita dedek gemesh ku.


Happy reading


*****


Warning 18+


.


.


.


Manik ku tak henti melihat figura foto Arshaka yang berjejer rapih di dinding kamarnya. Sama seperti Reymond, ternyata Arshaka suka memajang foto-fotonya sambil memegang Piala atau sertifikat yang telah ia raih.


Juga terdapat Lemari Kaca cukup besar disudut ruangan kamar yang dipenuhi Piala berwarna emas disana. Ku perkirakan mungkin ada puluhan Piala disana, juga terdapat kalung Medali yang hanya tergantung di tuas Lemari.


Harusnya aku tidak berada di kamar Arshaka saat ini, namun mengingat waktu masih sore dan aku memang tidak memberitahukan Ayah dan Leo kalau aku membolos kuliah, jadinya aku ikut pulang ke rumah Arshaka dan aku menunggunya disini selagi ia sedang membersihkan diri di kamar mandi di luar.


Sebelumnya aku juga ditawarkan untuk mandi di kamar mandi yang lain, namun aku menolak. Merasa sungkan mandi di sebuah rumah besar seorang konglomerat.


Lebih baik dan lebih nyaman jika aku mandi di rumah ku saja.


Pandangan ku beralih ke tumpukan buku yang berjejer rapih di rak dinding. Aku sedikit takjub membayangkan Arshaka membaca buku sebanyak ini.


Bukan buku pelajaran dan fiksi saja, buku Biografi dan Sejarah juga ada disini. Dan rata-rata buku tersebut memiliki ketebalan yang membuat ku eneg saat membayangkan Arshaka membaca buku-buku tersebut.


Tapi untuk seorang laki-laki seperti Arshaka cukup terdengar aneh jika ia gemar membaca buku tebal.


Namun aku salut. Sebab dijaman sekarang laki-laki yang suka membaca buku sudah jarang terlihat, selain karena adanya tuntutan.


"kamu beneran nggak mau mandi dulu disini?"


Aku membalikkan badan, mendapati Arshaka yang sudah memasuki kamar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


Tenang. Dia sudah memakai pakaian lengkap kok. Jangan berpikir aneh-aneh.


"terima kasih. Aku mandi di rumah saja." tolak ku lagi. Kembali aku beralih melihat tumpukan buku. Satu persatu aku membaca judul di punggung buku, lalu manik ku menangkap sebuah kayu yang terlihat seperti figura.


Refleks aku menarik figura tersebut. Aku melebarkan mata ku saat melihat figura itu menampilkan seorang anak kecil yang memiliki poni rambut yang terlihat lucu. Ku perkirakan umurnya kurang lebih 5 tahun.


Sudah pasti foto anak kecil ini adalah Arshaka.


Aku mengamati Arshaka kecil dengan seksama, wajahnya memancar seakan sedang tertekan. Mata yang besar itu menampilkan sorot yang terlihat sendu, berkaca-kaca.


Dan di setiap sisi foto tersebut terlihat sengaja dipotong. Bisa ku lihat di bahu kanan Arshaka menampilkan sebuah tangan seseorang yang sedang merengkuhnya.


"kamu lagi lihat apa?"


Aku langsung menoleh ketika Arshaka tepat berdiri di sebelah ku. Dan aku menyaksikan dengan kedua mata ku sendiri, wajah Arshaka langsung berubah seketika saat aku memegang figura foto tersebut.


Dengan cepat Arshaka merampas figura foto itu lalu ia menuju ke Lemari dan melemparnya secara kasar kedalam Lemari.


Aku membelalak terpaku melihat ekspresi wajah Arshaka berubah kaku dan gelap. 


Dan tak lama ekspresi wajah Arshaka berubah kembali. Masih terlihat kaku namun ia masih bisa menyunggingkan senyuman tipis.


Aku cukup tercengang melihat perubahan Arshaka dalam waktu sekejap.


Ketika Arshaka mulai melangkah mendekati ku, justru aku bergerak mundur menjauhinya.


"Bee.."


Hingga langkah ku terhenti saat punggung ku mengenai sisi meja belajar.


Saat ini aku seakan sedang berhadapan dengan seseorang asing yang ingin menerkam ku.


Kini aku dan Arshaka berdiri saling berhadapan. Berusaha aku bergerak serileks mungkin, walau detak jantung ku bertalu kuat.


Pikiran ku juga terus berputar mengarah ke beberapa pertanyaan perihal potongan foto tersebut.


Apakah Arshaka memiliki sesuatu hal yang tak bisa ia jelaskan?


Apa makna dibalik foto tersebut?


Apa foto itu berkaitan dengan kematian kedua orang tuanya?


Ingin sekali aku bertanya namun aku langsung menguburkan niat ku. Aku merasa tidak pantas menanyakan hal itu padanya. Terlalu pribadi dan mungkin Arshaka akan merasa terusik jika aku menanyakan itu.


"I'm so sorry Bee. Aku nggak bermaksud buat bikin kamu takut kayak tadi. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi."


Sejenak aku terdiam dan tak lama aku mengangguk cepat. Arshaka menyunggingkan senyuman lagi, namun kini terlihat tulus. Lalu ia mengecup kening ku cukup lama.


Kecupannya membuat jantung ku kembali bertalu kencang, hingga kedua tangan ku terasa panas dingin digenggamannya.


Setelah ia puas mengecup, ia dekatkan keningnya di kening ku. Bertautan. Bersamaan dengan tatapan kami yang bertemu saat ini. 


Kemudian tatapan Arshaka turun kearah bibir ku.


Mendadak perasaan ku kembali tidak enak.


Pikiran ku mulai meminta untuk segera menjauh dari Arshaka dan beranjak keluar kamarnya.


Tapi terlambat.


Bibir Arshaka sudah menempel di bibir ku.


Lalu ia memagut bibir ku dan menyesapnya dengan dalam.


Seketika tubuh ku membeku dan nafas ku menjadi tersendat.


Juga aku tak bisa berpikir bagaimana caranya agar aku segera melepaskan ciuman ini.


Dan rasa manis itu berubah menjadi terasa panas dan liar.


Pikiran ku membeku, hasrat ku sudah berhasil mendominasi.


Aku mulai mencoba membalas pagutan bibir Arshaka, lembut nan dalam, lalu kami bertukar saliva dan memainkan lidah kami didalam sana.


Tak hanya di bibir saja, aku juga bisa merasakan rasa panas yang menjalar di tubuh ku ketika Arshaka meraba punggung ku perlahan. Lalu satu tangannya mulai merambat masuk dibalik kaos ku, disusul satu tangannya lagi, dengan lembut mengelus punggung dan perut ku dengan gerakan yang membuat ku terasa melayang.


"Bee, lanjut di kasur saja ya." bisiknya di telinga ku dengan suara berat. Aku tidak mengiyakan tapi tidak juga menolak. Namun aku mengikuti langkahnya saat ia menarik ku lalu ia merebahkan ku ke tempat tidur.


Mengukung ku dan kembali melanjutkan ciuman panas kami.


Meski aku terbuai dengan ciuman kami yang semakin dalam, aku masih bisa merasakan jika kedua tangan Arshaka mulai merangkak naik dan berhasil menangkup kedua dada ku dibalik bra.


Refleks aku memegangi kedua tangan Arshaka untuk mencegahnya.


"rileks sayang, aku tak akan membuat mu sakit." bisik Arshaka lagi bernada berat. Lalu ia memainkan puncak dada ku, membuat ku menggelinjang dan memanggil namanya berat.


Aku melenguh ketika Arshaka mulai menarik kaos dan bra ku keatas lalu ia hisap salah satu dada ku dan memainkan ujungnya dengan liukkan lidahnya.


"Arshaka..."


Lenguh ku terhenti saat Arshaka melepaskan hisapannya dan mendongak mendongak menatap ku lekat. Segera ia membenarkan pakaian ku lagi, membangunkan ku lalu ia memeluk ku dengan erat.


"maaf Bee. Aku kelepasan. Maaf."


Aku yang masih setengah sadar hanya terdiam didalam pelukannya. Setidaknya aku sedikit merasa lega karena kami tidak sampai kebablasan.


Kemudian Arshaka melepaskan pelukan kami. Lalu ia menanyakan letak ponsel ku dan segera ia mencarinya didalam tas ransel ku yang aku letakkan diatas meja belajarnya.


Aku beranjak mendekati Arshaka yang sedang memainkan ponsel ku. Memang aku tak memakai keylock khusus, jadi semua orang mudah mengakses ponsel ku.


Tapi aku menyesal setelah ia berkata padaku,


"aku telah memasang GPS lagi di ponsel mu. Semua riwayat chatting dan panggilan telepon mu mudah ku lacak di ponsel ini, juga aku akan mengetahui dimanapun kamu berada. Jadi aku akan tahu jika kamu lagi berbuat macam-macam." ucapnya enteng sambil menggoyangkan ponsel ku di tangan nya.


"loh kok kamu gitu sih?" aku memekik tidak terima dan merungut tidak suka.


"dan jika ada laki-laki yang coba-coba dekati kamu ataupun sebaliknya, kamu akan mendapatkan hukuman Bee."


"kamu nggak bisa memperlakukan aku kayak gitu, Ar." desis ku tak suka dan ia mendengus sinis.


"aku bisa, karena kamu pacar aku."


"nggak Arsha. Kita nggak pacaran. Suka sama kamu aja nggak." elak ku lagi.


"kalau kamu nggak suka sama aku, harusnya saat aku mencium mu, kamu mendorong ku, menampar ku, atau melawan ku. Tapi nyatanya nggak, baik aku dan kamu, kita sama-sama nikmatin."


Aku hanya bisa menganga tak percaya memandangi Arshaka. 


Ingin marah tapi hanya bisa ku tahan dalam-dalam.


Karena apa yang dikatakan Arshaka memang benar. Aku turut menikmati ciuman itu.


Aku segera merebut ponsel ku dan hendak untuk meninggalkannya. Aku nggak kuat menahan rasa amarah dan malu ku didepan dia.


"kamu mau kemana sayang?" tanya Arshaka ketika ia menarik tangan ku.


"pulang!" ketus ku cepat, menghindari tatapannya.


"aku antarin kamu pulang."


"nggak. Nggak usah! Aku mau pulang sendirian dan nggak mau diantar sama kamu." tolak ku lagi sambil menepis tangannya.


Kembali ingin melangkah, namun badan ku terangkat keatas karena Arshaka menggendong ku dan ditumpu ke salah satu bahunya.


"Arshaka turunin aku!"


Aku memohon padanya supaya aku diturunkan, tapi ia tidak mengindahkan. Dan sekarang rasa malu semakin mencuat karena Arshaka nekat membopong ku keluar kamarnya dan dilihat oleh beberapa pekerja rumahnya.


Termasuk Reymond yang sedang asik membaca koran di ruang tengah.


Kembali aku merengek padanya untuk segera menurunkan ku. Bahkan aku sengaja menjambak rambutnya.


"Arshaka, turunkan Bianca!"


Titah Reymond kemudian setelah ia beranjak dari kursi dan Arshaka langsung menurutinya. Aku segera membenarkan pakaian ku dan berdiri kaku ketika Reymond menatap ku datar.


Dan Arshaka bergeming sembari memasang senyum jahilnya.


Rasanya aku ingin menjambaknya lagi sampai rambutnya rontok.


Pandangan Reymond menghunus tajam, dari Arshaka lalu menatap ku, lalu berpindah lagi pada Arshaka.


Lalu ia menghela nafasnya lelah.


"kenapa Bian diperlakukan seperti itu?" tanya Reymond pada Arshaka. Arshaka menjawab jika ia terpaksa menggendong ku karena aku nggak mau diantar pulang olehnya.


"Bianca mau pulang?" kini Reymond beralih padaku dan spontan aku menundukkan kepala. Kepergok digendong Arshaka seperti sebelumnya rasanya aku nggak sanggup menunjukkan wajah ku kepada pria tua didepan ku ini. 


"iya Kek. Bian mau pulang."


"kalau gitu makan malam dulu disini ya. Sebentar lagi makanan akan segera siap."


Perlahan aku melirik jam tangan ku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Bian makan di rumah saja Kek. Bian nggak mau merepotkan." jawab ku dengan nada sungkan. Sungguh aku tidak ingin merepotkan penghuni rumah mewah ini.


Sekali lagi Reymond mencoba membujuk ku lagi untuk ikut makan malam bersama mereka. Bahkan beliau akan menghubungi Ayah agar aku bisa makan malam bersama mereka.


Mau tidak mau aku mengangguk, mengiyakan ajakannya.


Daripada Reymond menelepon Ayah hanya untuk meminta ijin agar aku bisa bergabung untuk makan malam disini.


Aku kembali melirik kearah Arshaka yang sedang senyum-senyum melirik ku tidak jelas.


Nggak kakek nggak cucu sama-sama bikin aku terpaksa pasrah.


*****