
"jadi kakak beneran pacaran sama Arshaka?"
"....."
"kak,"
"....."
"kak Bian,"
"kak, jawab pertanyaan Leo!"
Aku menghela nafas setelah meneguk air dingin untuk melepas dahaga yang sedari tadi menggerogoti tenggorokan.
Tak hanya tenggorokan, aku juga ingin meredamkan rasa panas yang menjalar disekujur tubuh ku.
Dan naik ke ubun-ubun.
Sejak di kamar, ruang tengah dan kini aku berada di dapur, Leo terus mengekori langkah ku agar aku segera menjawab pertanyaan yang malas aku jawab.
Namun kalau kalian menanyakan perasaan ku pada Arshaka, aku tegaskan.
Ya, aku menyukai Arshaka.
Meski aku masih nggak nyangka kalau aku dan dia beneran berpacaran.
Dan sekarang didalam pikiran ku tertuju pada sebuah potongan foto yang aku temukan di kamar Arshaka kemarin.
Sampai sekarang aku masih belum berani bertanya dan belum mengetahui kenapa ekspresi Arshaka berubah ketika aku mendapati figura foto tersebut. Bahkan ia sendiri pun tidak berinisiatif menjelaskan sesuatu hal padaku tentang foto itu, tentang dirinya di masa lalu.
Jika memang aku dianggap sebagai pacarnya, harusnya ia menceritakan padaku.
Bukannya menyembunyikannya dari ku.
"iya Yo," balas ku singkat menjawab pertanyaan Leo.
Dengan gontai aku melangkah menuju ruang tengah kembali, duduk dan merebahkan diri ke sofa kemudian aku mulai menekan remot TV untuk menyalakannya dan mengganti siaran.
Sedangkan Leo masih bertahan berdiri di dapur dan memandangi ku tak percaya dari kejauhan, aku yakin Leo sedang mengumpulkan dan memilah kata dan kalimat yang pas untuk membahas hubungan ku dan Arshaka.
"jadi kakak udah suka beneran sama Arshaka?" tanya Leo lagi ketika ia sudah duduk disebelah ku persis.
Aku hanya mengangguk singkat, dengan pandangan ku masih tertuju pada layar televisi.
Sejenak kami berdua menyaksikan siaran ulang talkshow yang dibawakan oleh Vincent dan Desta.
"ya sudah kalau begitu."
Leo berdiri dan meninggalkan ku yang masih duduk dan tengah mengganti siaran lain.
Kegiatan ku disela oleh ponsel ku yang bergetar dibalik saku celana ku. Saat aku merogohnya, nama Arshaka tertera di layar ponsel.
Membuang nafas secara kasar, aku mulai menjawab panggilan teleponnya.
"iya halo,"
"kenapa telepon ku baru diangkat?" tanya Arshaka disana.
"aku sibuk ngerjain tugas, tugas ku numpuk." alibi ku. Padahal sedari tadi aku hanya bersantai ria di rumah dan ponsel sengaja aku buat mode getar.
Namun oleh sebab itulah Arshaka menghubungi Leo untuk menanyakan aku. Dan dari situlah juga Leo mengekori ku hanya untuk memastikan status ku dengan Arshaka, karena laki-laki itu mengatakan bahwa sekarang kami sudah berpacaran pada Leo.
"aku tahu kamu bohongin aku, sebenarnya kamu nggak ada ngerjain tugas hari ini."
Dia cenayang kali ya bisa tahu aku lagi bohong. Tapi aku tak ingin memusingkan sikapnya yang mulai over padaku.
"ya sudah kalau kamu nggak percaya."
Aku mematikan ponsel ku ketika Arshaka terus mengoceh. Aku nggak peduli, lebih baik aku pergi ke Minimarket dan beli jajanan disana.
*****
Setelah aku memeriksa kembali struk belanjaan ku, aku mulai melangkah keluar dari Minimarket dengan menenteng kantong belanjaan.
Membeli beberapa snack seperti ciki kentang, biskuit coklat dan juga permen kapas. Juga aku membelikan titipan Leo dan Ayah berupa minuman soda berkaleng dan susu kental manis. Rencananya Ayah dan Leo ingin membuat minuman Soda Gembira buatan mereka sendiri.
Hendak aku ingin meninggalkan Minimarket, langkah ku terhenti ketika manik ku menampakkan sosok yang sangat aku kenali.
Arshaka. Aku melihatnya berada di sebrang jalan, sedang asik mengobrol dengan seorang perempuan berambut panjang sebahu. Gadis itu memiliki wajah yang manis, bertubuh mungil menambah kesan lucu dan imut saat memandanginya.
Dari sini aku juga tahu bahwa mereka terlihat saling mengenal satu sama lain, begitu asik mengobrol di sisi bahu jalan dan mereka berdua tak sungkan saling melempar senyum disana.
Melihat mereka trngah asik berduaan rasanya nggak adil bagi ku. Dari kemarin Arshaka selalu mengingatkan ku untuk tidak terlalu dekat dengan laki-laki selain dia.
Tapi sekarang apa? Dia melarang ku tapi dia sendiri bisa bebas dekat dengan perempuan lain. Jangankan mengobrol, Arshaka membiarkan perempuan itu merangkul bahunya hingga mereka terlihat bertukar nomor ponsel.
Dasar Buaya darat.
Dengan perasaan gondok aku kembali melangkah selebar dan secepat mungkin agar aku segera sampai menuju rumah ku. Aku jengah melihatnya.
"Bee,"
Langkah ku terhenti dan menoleh mendengar panggilan dari Arshaka. Bukan menunggunya berjalan mendekati ku, aku kembali berjalan dengan cepat, menjauhinya dan menghiraukan panggilannya.
"Bianca, stop!"
Arshaka berhasil menarik tangan ku, cengkramannya cukup kuat walau tak terasa sakit.
"apaan sih?" ketus ku dengan wajah sejudes mungkin.
"aku manggil kamu kenapa makin menjauh?"
"aku mau pulang." ketus ku lagi.
"aku kan memanggil mu Bee,"
"untuk apa kamu manggil aku?"
"aku kesini buat menyusul kamu tadi,"
"untuk apa? Bukannya tadi kamu lagi asik ngobrol sama cewek lain?" sungut ku dengan bibir menekuk.
"nggak usah ngeles. Anggap aja aku nggak lihat kalian berduaan tadi. Balik lagi aja sama cewek kamu itu."
Aku kembali melangkah gusar, namun Arshaka kembali menarik tangan ku.
"kamu cemburu ya Bee?"
Aku terkekeh sinis mendengarnya, "cemburu, untuk apa aku cemburu? Nggak ada gunanya aku bersikap menye-menye kayak yang kamu bilang."
"kalau nggak cemburu, kamu nggak bakalan marah kayak gini."
"aku nggak marah dan aku nggak cemburu. Tenang aja, aku memberimu kebebasan buat deketin siapapun. Mau deketin cewek tadi atau ibu-ibu komplek aku nggak peduli."
Ya suka-suka dia saja. Mau aku ladenin sampai mulut berbusa pun yang ada aku akan kalah dengan cowok seegois Arshaka.
"Bee, ikut aku ke mobil sekarang." titahnya lembut namun cengkramannya di tangan ku mulai dieratkan. Sehingga aku kesulitan untuk menepisnya.
"aku mau jalan kaki aja." ucap ku cepat.
Tapi Arshaka kembali menarik tangan ku, dan aku mulai mengeluh sakit.
Mau nggak mau aku harus menuruti permintaannya untuk ikut dengannya.
Saat kami sudah di mobil dan Arshaka menjalankan mobilnya, kami hanya terdiam sampai mobil berhenti didepan halaman rumah ku.
"maaf kalau aku bersikap egois sama kamu."
Melihatnya menatap ku serius dan senduh karena merasa bersalah, amarah ku berhasil menyusut.
Sampai saat ini aku masih nggak percaya saja jika aku beneran berpacaran sama dia.
Rasa suka ku begitu meluap padanya. Kalau aku nggak memiliki rasa gengsi yang tinggi, sudah pasti aku akan langsung memaafkannya dan memeluknya erat.
Sebelum aku berubah pikiran, aku pamit dan keluar dari mobil. Hampir meraih pintu, ternyata Arshaka mengikuti ku lalu menarik tangan ku hingga kami saling berhadapan.
Sekejap Arshaka mengecup bibir ku, meski sebentar decak kecupannya cukup nyaring. Sampai aku mengerjap cepat dan melirik pintu takut Ayah dan Leo dengar.
Sementara Arshaka hanya senyum-senyum sendiri melihat ku gelagapan.
"aku akan menelepon mu setelah aku tiba di rumah."
******
Pintu terbuka, menampilkan Arshaka yang memasuki kamar pribadinya. Harusnya ia berjalan menuju kamar mandi, namun ia memilih untuk merebahkan diri diatas tempat tidur dahulu.
Sambil mengatur nafas dan merasa detak jantung yang bergemuruh kencang, pikirannya teringat pada wajah Bianca yang bersemu merah saat ia telah mengecup bibirnya.
Kini kecupan di bibir Bianca bukan hanya sekedar kecup lalu Arshaka tinggal sesuka hati --seperti biasa lakukan kepada perempuan lain, bagi Arshaka mengecup Bianca adalah sebuah keharusan, sebab rasa manis di bibir gadis itu membuat Arshaka mulai kecanduan.
Kalau bisa Arshaka ingin membawa dan mengurung Bianca didalam kamar, agar ia bisa leluasa mencium Bianca kapanpun.
Tak hanya itu, ada rasa senang tak karuan ketika Bianca mulai menunjukkan sikap cemburu padanya saat ia tak sengaja bertemu dengan teman SMP saat menyebrangi jalan.
Melihat Bianca pergi ke Minimarket didekat rumah melalui GPS yang telah ia pasang di ponsel Bianca, Arshaka segera menyusulnya dan berniat untuk mengajaknya pergi jalan ke Taman Kota.
Mengingat terakhir Bianca begitu senang berkeliling ke Taman tak ada salahnya jika Arshaka mengajaknya lagi, lalu membelikannya permen Gulali yang besar kesukaan Bianca.
Melihat Bianca senang juga merupakan sebuah kepuasan tersendiri bagi Arshaka.
Namun karena hal itu, tak sengaja berpapasan dengan teman lama Arshaka harus melakoni drama yang cukup menyita otak dan menguras emosi.
Namun tak apa baginya. Melihat Bianca cemburu Arshaka yakin bahwa perasaan Bianca padanya memang ada untuknya.
Bukan berarti Arshaka akan sering membuat Bianca cemburu. Setidaknya Arshaka tahu bahwa ia telah berhasil menyeruak hati Bianca.
Arshaka menyunggingkan senyum, lalu ia teringat akan suatu hal.
Ia bangkit dan berjalan menuju Lemari pakaiannya.
Membuka pintu Lemari dan mengambil sebuah figura kayu yang ia simpan, menampilkan sosok anak kecil sehabis menangis.
Iya, foto anak kecil itu adalah Arshaka berumur 5 tahun.
Ia usap foto tersebut, menatap dirinya sendiri dengan sorot pandang yang gelap dan kosong.
Arshaka kembali menyunggingkan senyuman tipis. Mengajak bicara pada foto tersebut.
"jangan takut. Tidak perlu merasa khawatir lagi,"
"sekarang dia sudah berada disisi ku. Kita nggak akan lagi merasa kesepian,"
"aku pastikan dia nggak akan bisa ninggalin kita seperti Nita dan Bowo,"
"asalkan Bianca tidak pernah tahu. Kita akan terus bisa bersamanya bukan,"
"dan aku pastikan juga tidak ada yang bisa menjauhkan kita dari Bianca."
Figura tersebut Arshaka peluk dan dekap di dadanya dengan erat.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar, munculah Reymond bersama seorang wanita muda yang merupakan pekerja rumah sembari membawa nampan yang terisi air mineral dan botol kecil yang berisi butiran obat.
Wanita itu meletakkan nampan diatas meja nakas, lalu meninggalkan Reymond dan Arshaka disana.
"diminum dulu obatnya,"
Tanpa berlama-lama Arshaka mendekati posisi Reymond, mengambil botol obat dan mengeluarkan 2 butir obat di telapak tangan dan langsung ia minum tanpa dibantu dengan air.
"bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Reymond memperhatikan Arshaka yang mengangguk cepat padanya.
"yes, I'm very well,"
Arshaka kembali menyunggingkan senyuman ria didepan Reymond, dan kembali ia pandang dirinya di figura foto tersebut dengan perasaan senang.
"sebentar lagi aku tidak akan meminum obat-obatan itu, Reymond."
Reymond hanya mengangguk singkat sebagai jawabannya.
Membiarkan Arshaka senyum sendirian memandangi foto kecilnya.
******