ARSHAKA

ARSHAKA
TIGA PULUH SATU



"Semalam kenapa pulang sampai larut malam?"


Aku mendongak dari Laptop untuk menatap Muri. Pria berumur tiga puluh tahun itu memperhatikanku dengan satu tangannya memainkan bulpoin dan satu tangannya lagi menopang dagu.


Sorot matanya menuntutku untuk menjawab pertanyaannya saat ini juga.


"Kepo!" sahutku singkat lalu kembali mengetik Laptop. Sekilas aku mendengar dengusan Muri.


"Jangan salahkan aku jika Leo sampai tahu kalau semalam kamu baru pulang jam 1 pagi!"


Sponatn aku melotot menatap Muri.


"Mulai ngancam deh bawa bawa Leo!"


"Aku nggak ngancam. Kamu tahu kan jika Ayah dan Leo minta aku buat jagain kamu selama kita disini. Jika mereka tahu kamu pulang malam dan aku tidak menceritakan hal ini sama mereka, habis aku sama Leo."


Mendadak tenggorokanku terasa kering.


Begini jadinya kalau Muri terlalu dekat dengan Leo dan Ayah.


Sebenarnya tidak akan jadi masalah jika aku menjelaskan kenapa aku bisa pulang malam.


Aku hanya malu saja.


Tapi aku harus menjelaskan pada Muri sebelum pikirannya terlalu jauh melalang buana.


"Aku mampir ke Vila karena--"


"Vila siapa?" sela Muri semakin menatapku tajam.


"Vila Arshaka. Semalam jalanannya macet jadi--"


"Ya sudah, aku nggak perlu tahu jawabannya."


Kami terdiam saat tiba-tiba OB masuk ke ruangan dan membawa minuman yang sempat Muri pesan.


"Btw nanti sore mau temani aku jalan nggak?" tanya Muri setelah OB pergi dari ruangan.


"Mau kemana?"


"Ke Pantai mau? Aku bosan,"


"Kesana naik apa? Sama siapa?" tanyaku lagi.


"Ya sama anak-anak lah naik mobil,"


Aku menimbang ajakan Muri. Boleh juga.


"Boleh deh, tapi aku--"


Ucapanku terhenti ketika ponselku bergetar ada telepon masuk dari Arshaka. Tanpa berlama-lama aku meraih ponselku lalu menjawab teleponnya.


Kebetulan aku mau menghubunginya tentang rencana kami ke Pantai.


"Halo,"


"Aku akan jemput kamu nanti sore," sahut Arshaka langsung padaku tanpa basa basi.


"Nggak usah Ar, aku sama anak-anak mau pergi."


"Anak? Perasaan semalam kita belum jadi buat,"


Seketika aku berdesis malu lalu menatap Muri yang sedang menatapku dan mendengar pembicaraanku.


Ya Tuhan, kuharap Muri tidak menangkap gurauan Arshaka.


"Aku mau pergi sama teman-temanku, Arsha." aku mengulangi kalimatku dengan nada ketus, lalu ia terkekeh.


"Baiklah. Kamu mau pergi kemana?"


"Pantai," balasku.


"Dengan Muri?"


Sebelum menjawab pandanganku kembali menatap Muri, dan Muri menyadari tatapanku.


"Iya,"


"Kamu pergi nggak berduaan sama dia kan?" tanya Arshaka lagi dan seketika aku mengangguk meski Arshaka tidak melihat itu.


"Iya," ulangku lagi.


"Baiklah. Hubungi aku jika kamu sudah tiba di Homestay!"


Sambungan telepon terputus setelah aku mengatakan "Iya,"


Aku kembali menjelaskan pada Muri kalau kami akan pergi setelah jam pulang Kantor. Segera Muri menghampiri teman-teman dan mengajak mereka untuk pergi.


...***** ...


Pantai Kuta itu Indah.


Hanya itu yang bisa kukatakan, sulit untuk aku deskripsikan secara terperinci.


Semburat senja dibalik awan putih itu memanjakan kedua mataku, aroma pantai dan desiran angin mendayu melewati kulitku mampu mengurangi rasa penatku sehabis bekerja.


Tak jauh dari bibir Pantai, Mbak Enni dan Mas Sigit sibuk saling memotret satu sama lain. Sesekali mereka tampak menikmati ombak air pantai yang menghampiri mereka.


Sedangkan Muri tengah berdiri di bibir Pantai--dekat dengan posisi Mbak Enni dan Mas Sigit. Hanya saja pria itu lebih memilih berdiam diri menikmati alunan ombak air. Melihat dari punggungnya saja ia terlihat dimanjakan oleh Alam, ia tidak mau menyia-nyiakan hal ini.


Aku meneguk habis air Kelapaku lalu kuletakan lagi di meja Pantai tepat disampingku.


"Kelapaku yang mana Bi?" Muri datang menghampiriku dan menanyakan Kelapanya. Aku langsung menunjukan Kelapanya yang berada didekat Kelapa Mas Sigit. Lalu Muri mengambilnya.


"Airnya enak, segar." puji Muri setelah ia meneguk air Kelapa itu.


Aku hanya mengangguk menyetujui pujiannya.


"Kamu nggak mau main kesana?" tanya Muri lagi sambil menunjuk bibir Pantai.


"Tidak. Aku mau duduk disini saja," tolakku.


Kemudian Muri duduk dibangku yang kududuki. Spontan aku menarik kakiku agar ia bisa duduk.


Padahal bangku disebelahku kosong, tapi aku tidak merasa aneh saat Muri memilih duduk didekatku.


"Foto bareng yuk!" Tiba-tiba Muri mengajakku foto bareng dan mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja.


Aku agak kaget.


"Tumben ngajakin foto bareng,"


"Leo minta. Tadi aku kasih tahu kalau kita lagi di Pantai,"


Tanpa berpikir lama-lama aku mencondongkan badanku mendekati Muri yang sudah siap membidik gambar kami berdua. Setelah itu ia benar mengirimkan foto kami ke whatsapp Leo.


"Duh gawat!" Tiba-tiba Muri memekik membuatku tersentak.


"Kenapa?" tanyaku melihat wajahnya panik.


"Duh, kebaca lagi!" pekiknya lagi membuatku semakin penasaran.


"Bi, i'm so sorry. Aku salah kirim foto,"


"Maksud kamu?" tanyaku menatapnya tak mengerti.


"Aku malah kirim foto ke Arshaka, bukan ke Leo."


Spontan aku menarik ponsel Muri dan melihat riwayat whatsapp-nya. Wajahku menegang saat Arshaka telah melihat foto itu dan ponselku tiba-tiba berdering.


Arshaka's calling.


M*mpus gue!


Aku segera mengangkat telepon Arshaka sebelum nada deringnya berhenti.


Sebisa mungkin aku harus tenang.


"Halo,"


"Dimana?"


Aku memejamkan mata sesaat mendengar nada bicaranya yang sudah ketus, asem dan susah kuprediksikan.


"Pantai,"


"Dimana posisi kamu sekarang?"


"Ya aku di Pantai," ulangku sedikit gugup.


"Aku tahu kamu di Pantai. Kamu lagi dimananya?"


"Aku di Pantai Kuta," jawabku lagi.


"Bukan itu maksudku--"


Aku mengerutkan dahi mendengar ucapannya.


"Kamu di--ah i got you!"


Aku semakin tidak mengerti apa maksud ucapannya barusan.


"Bi,"


Aku menoleh kesamping saat Muri menyenggol lenganku, lalu Muri mengarahkanku untuk membalikan badan.


Seketika aku menegang saat aku menangkap sosok Arshaka yang sudah berdiri tak jauh dari posisi kami dengan wajah yang tak mau kutatap lama-lama.


Gawat!


"Pulang sama aku, sekarang!"


Arshaka langsung menarik tanganku untuk pergi dari sana. Muri dan teman-temanku hanya bisa menatap kepergianku dengan tatapan penuh tanda tanya besar.


Berasa Deja-vu, sudah kedua kalinya aku seperti kepergok selingkuh sama Arshaka.


Kenapa aku harus mengalami seperti ini?


...***** ...