
Semburat senja tampak malu-malu menghiasi langit, menunjukan waktu sudah sore.
Biasanya aku sedang sibuk menyelesaikan laporan harianku, namun aku masih berdiri di lorong koridor, memandangi pemandangan area luar kantor melalui dinding kaca.
Pemandangan terlihat sangat luas dan indah jika dipandangi seperti saat ini. Dengan suasana hati yang terasa ringan membuatku betah berlama-lama.
Padahal lembaran kertas sudah menumpuk diatas meja kerjaku. Dan mengingat aku keluar ruangan karena aku ingin mengunjungi kedai kopi untuk membelikan beberapa cup kopi, melainkan aku berdiri disini bersama Arshaka.
Laki-laki itu berada disampingku, begitu asik mengamati area luar kantor yang tampak mulai padat oleh kerumunan penduduk Bali. Entah mereka sudah sibuk untuk berpergian atau segera pulang ke rumah masing-masing.
"Sebelum ketemu aku disini, niatnya kamu mau pergi kemana?"
Aku melirik pada Arshaka yang masih sibuk mengamati area luar.
"Mau beli kopi. Tadi teman kantorku bawa makanan, jadinya aku menawarkan diri untuk membelikan kopi dibawah."
"Lalu kenapa kamu nggak ke bawah buat beli?" tanyanya dengan wajah polos.
Kayaknya Arshaka hilang ingatan deh. Belum ada satu jam kami berdiri disini sehabis menangis ria bersama, tanpa bersalah dan berdosa dia bertanya kenapa aku tidak jadi ke bawah untuk beli kopi.
"Kalau tadi nggak ada kamu, mungkin aku sudah ada di ruanganku, menyelesaikan laporan harianku sambil menikmati kopi panas dan kue ku."
Pandangan Arshaka beralih padaku dengan dahi berkerut.
"Jadi kamu salahin aku karena aku datang temui kamu jadinya kamu nggak bsia kerja dan nikmati kopi dan kue?"
"Aku tidak mengatakan itu," selaku.
Arshaka mencibirku. Lalu ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Kamu ngapain?" tanyaku sambil memperhatikannya mengetik ponsel.
"Pesan kopi untuk teman kerjamu," jelasnya.
"Untuk apa? Sebentar lagi jam pulang kantor."
"Sudah kupesan,"
Aku menatapnya sesaat.
Lalu aku menghela napas.
"Lebih baik aku ke ruangan kerjaku sekarang. Sudah sore. Aku takut teman-temanku mencariku dan menemukan kita disini."
Aku membalikan badan, namun Arshaka menghalangi jalanku.
"Bisakah kita disini dulu beberapa menit lagi?"
Aku bertanya, "Ada apa?"
"Aku masih merindukanmu. Sangat," jawabnya.
"Nanti aku akan meneleponmu. Sekarang aku harus ke ruanganku."
Hendak ingin melangkah, tanganku ditarik Arshaka hingga badanku berbenturan dengan dadanya.
Dan Arshaka memelukku.
"Aku masih ingin bersamamu,"
Aku sedikit gelagapan dipelukannya. Aku takut jika ada orang melihat kami.
"Arsha, lepas!"
Bukannya lepas, justru Arshaka mengeratkan pelukannya.
"Sebentar saja seperti ini,"
Aku tidak bergerak menjauh, melainkan aku menaru kepalaku untuk bersandar di bahu tegapnya, dan aku diam menikmati hangatnya pelukan kami.
Dan Arshaka ikut menaru kepalanya dibahuku.
Sebenarnya aku juga tidak ingin melepaskan Arshaka.
Aku masih ingin berlama-lamma dengannya.
Rasanya nyaman dipelukan Arshaka seperti ini.
Hingga aku mulai melupakan posisi kami yang sedang berpelukan di koridor kantor.
Namun aku harus kembali ke ruanganku.
"Aku harus kembali ke ruanganku," ucapku sambil menguraikkan pelukan.
"Aku janji, setelah ini aku akan meneleponmu."
"Kamu nggak bohongkan?" ia bertanya dengan wajah sedih nan manja.
"Janji kalau kamu beneran akan meneleponku setelah ini,"
Setelah aku mengangguk, ia tersenyum senang.
"Mau aku antar ke ruanganmu?"
Aku meggeleng.
"Tidak perlu. Lebih baik kamu balik ke ruanganmu juga,"
"Aku kan kesini cuma ingin menemuimu, bukan untuk pergi bekerja." jelasnya dengan wajah cemberut membuatku tercenung beberapa saat.
"Ah aku lupa kalau kamu Komisaris Utama disini."
"Bukan begitu," selanya.
"Baiklah aku nggak akan menghalangi kamu lagi. Jangan lupa sama janjimu!"
Sebelum aku pergi Arshaka menangkup pipiku dan mengecup pipiku. Lalu ia pergi dengan wajah bersemu merah.
Mungkin saat ini wajahku juga tampak malu-malu bersemu merah seperti udang digoreng.
...***** ...
Aku keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Segera aku membuka lemari dan memakai pakaian tidurku.
Setelah itu aku mendekati meja nakas untuk meraih ponselku lalu segera merebahkan diri ke tempat tidur.
Aku mengecek notifikasi mengenai alarm notesku, sengaja aku aktifkan supaya aku tidak lupa mengenai pekerjaan yang telah aku selesaikan hari ini.
Melihat catatan kecil yang sengaja aku buat sebagai pengingatku, aku segera mendial nomor Arshaka.
"Halo,"
"Ha-halo," balasku gagu.
Entah kenapa jantungku jadi berdetak kencang mendengar suara serak Arshaka.
"Kenapa kamu baru meneleponku di jam segini?"
"Aku baru selesai mandi," jawabku.
"Kenapa baru selesai mandi jam sembilan malam? Kamu ngapain aja daritadi?"
"Emang nggak bisa dikerjakan besok?"
"Kalau bisa aku akan lebih cepat meneleponmu,"
"Tapi kamu bisa mengabariku sebelumnya,"
"Aku repot Arshaka. Tadi saja aku buru-buru menyelesaikan pekerjaanku karena Muri menunggu hasil laporanku yang harusnya selesai sore hari,"
"Jadi kamu nyalahin aku karena tadi sore aku menemuimu?"
Aku memejamkan mata sesaat, aku malas beradu argumen dengannya.
"Kenapa kamu diam? Kamu marah?"
"Aku ngantuk," balasku singkat.
Kini Arshaka yang diam.
"Ya sudah kalau gitu,"
Terdengar sambungan terputus dari Arshaka dan aku langsung melempar ponselku kesal.
Padahal kami baru saja berbalikan kenapa harus diawali dengan keributan receh begini?
Aku memutuskan untuk keluar kamar, berjalan mendekati lemari es yang berada di dapur dan menuangkan minuman kedalam gelas.
Mungkin air soda dingin mampu meredamkan kekesalan di kepalaku.
Aku meneguknya hingga tandas, lalu menuangkan lagi dan meminumnya.
"Bi,"
Aku membalikan badan, menatap Muri yang memanggilku sambil menepuk bahuku.
"Ada Pak Arshaka diluar, nyariin kamu."
Reflek aku tersedak dengan minumanku hingga terbatuk-batuk. Muri membantuku dengan memberikan beberapa helai tisu dan menepuk punggungku.
Hidung dan tenggorokanku jadi sakit karena menelan air soda.
"Sakit ya?"
Aku hanya mengangguk pasrah dan masih terbatuk-batuk. Hingga air mataku turun keluar.
Melihat batukku sudah mendingan, Muri pamit.
"Dia duduk di ruang tamu. Gue tinggal ya,"
Muri pergi ke kamarnya dan aku masih berdiri di dapur. Masih bingung apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya.
Kenapa dia mendadak datang kesini?
Dan bagaimana dia bisa tahu aku tinggal disini?
Aku segera menemuinya. Dan aku cukup tercengang melihat kehadiran Arshaka di Homestay-ku.
Arshaka bangkit saat ia melihatku.
"Kamu kenapa nangis?"
Arshaka mendekatiku dan mengamatiku wajahku.
"Aku tersedak minumanku. Sakit. Jadinya nangis." jelasku.
"Kok bisa?"
"Karena aku dengar kamu datang kesini."
"Aku salah lagi?"
Oh Tuhan aku malas kalau ada drama lagi.
"Tidak."
Aku menarik tangannya mendekati sofa dan kami duduk bersama disana.
"Kamu kok kesini?" kini aku yang berbalik bertanya.
"Kamu tahu dari mana aku tinggal disini?"
"Pak Tommy yang memberitahuku."
"Malam-malam kamu menghubungi beliau hanya untuk menanyakan Homestay-ku?"
"Tidak. Dari awal kantormu memberitahu kantorku dimana alamat Homestay-mu."
Ah.. Lagi-lagi aku lupa.
Aku manggut-manggut mengerti.
"Katamu kamu mau tidur?"
"Aku memang mau tidur,"
"Kenapa belum tidur?"
"Aku tadi ke dapur dulu, mau ngambil minum. Taunya Muri bilang kamu ada disini. Nggak mungkin aku tinggalin kamu tidur kan?"
Mendengar jawabanku Arshaka tersenyum.
"Maaf kalau sikapku udah buat kamu jengkel. Aku hanya masih merindukanmu, masih ingin melihatmu."
Lalu Arshaka meraih tanganku, menyuruhku untuk mengelus kepalanya dengan lembut, dan Arshaka menyenderkan dirinya di senderan sofa sambil memandangiku.
"Sebentar kayak gini boleh ya?"
"Tapi kalau kamu ngantuk bilang ya! Aku akan pulang,"
Aku mengangguk singkat.
Masih mengelus kepalanya, aku ikut menyender ke sofa dan kami saling berpandangan satu sama lain.
Hingga aku sendiri tidak sadar jika mimpi melelapkanku secara perlahan dan samar-samar aku mendengar bisikan lembut yang membuat tidurku semakin lelap.
"Night, Bee."
...***** ...
hai semuanya..
maaf aku baru upload hari ini, semoga kamu masih setia menunggu hehe
jaga kesehatan untuk kalian semua.
see you
octaviandri23