
Tertidur lelap, aku memandangi wajah pulas Arshaka didepanku. Arshaka tampak tenang, mimpi indah berhasil melelapkannya.
Meski begitu satu tanganku Arshaka genggam erat, seakan ia sedang terjaga supaya aku tidak pergi.
Semakin lama aku melihat Arshaka tertidur, aku juga mulai merasa ngantuk. Kejadian tadi siang cukup menguras tenaga, mungkin karena itu juga Arshaka tertidur.
Namun beberapa pertanyaan mencuat dan terus berputar mengenai kejadian ini. Aku harus menemui Reymond, hanya dialah kunci untuk menjawab semua pertanyaanku.
Perlahan aku bangkit, mengamati Arshaka secara lamat dan dengan hati-hati aku menarik tanganku agar tidak mengganggu tidur Arshaka.
Berhasil lepas, aku buru-buru berlari jinjit untuk keluar dari kamar tanpa suara sedikitpun. Membuka pintu lalu menutupnya lagi dan segera turun ke ruang tengah.
Sepertinya aku tidak perlu repot mencari Reymond, karena ia sudah duduk santai di kursi kebesaran di ruang temgah sembari membaca koran harian.
Lalu ia menaikan pandangannya, menatap kehadiranku lalu ia menaru koran tersebut ke sisinya.
"Silahkan duduk Bianca!" Reymond menggerakan tangannya untuk mempersilahkanku duduk disampingnya.
Aku menuruti permintaannya, aku berjalan lalu menaru diriku untuk duduk di sofa panjang tepat disampingnya.
Wajah pria paruh baya itu terlihat santai, ia memandangiku seakan ia tahu pikiranku jika aku akan menemuinya.
"Maafkan perilaku Arshaka padamu. Aku lengah mengawasi Arshaka." keluarlah permohonan maaf Reymond tentang Arshaka.
"Jangan khawatir! Aku pastikan Arshaka tidak akan mengulanginya lagi,"
Aku tak menanggapi ucapan Reymond. Bahkan aku tidak mempermasalahkan sikap Arshaka padaku, justru aku ingin banyak bertanya padanya.
"Sebenarnya Arshaka kenapa?"
Aku memilin jemariku yang terasa dingin. Entah kenapa aku merasa takut untuk mendengarkan penjelasan Reymond atas pertanyaanku.
"Arshaka sakit,"
"Arshaka sakit karena aku?" tanyaku lagi.
"Bukan karena kamu Bianca," tukas Reymond.
"Arshaka sakit sebelum dia bertemu denganmu," lanjutnya lagi.
Sebelum Reymond berbicara lagi, ia meraih gelas yang terisi teh lalu ia sesap sedikit demi sedikit.
"Arshaka ada gangguan mental, Bianca." ucapnya sembari meletakan gelasnya ditempat semula. Aku tercengang tak percaya memandangi Reymond.
Reymond kembali menjelaskan padaku.
"Arshaka harus mengalami gangguan psikis ketika orang tuanya meninggal dunia. Kurang lebih saat dia berusia 5. Gangguan psikis itu bukan karena ia kehilangan orang tuanya, melainkan ia mengetahui bahwa kehadiran Arshaka disini bukanlah keinginan kedua orang tuanya."
Aku hanya bisa diam tercengang memandangi Reymond.
"Arshaka hadir karena kecelakaan, dan saat ibu Arshaka mengatakan pada anakku jika ia hamil anakku meminta ibu Arshaka menggugurkannya. Namun niat jahat mereka berdua untuk meleyapkan Arshaka selalu gagal hingga Arshaka berhasil lahir ke bumi."
"Saat aku mengetahui Arshaka berada diperut ibunya, dimana aku juga tidak menyukai ibu Arshaka karena statusnya bukanlah dari kalangan keluarga baik, juga aku mempercayai ucapan anakku yang mengatakan jika ia merasa dijebak supaya anakku mau menikahi ibunya Arshaka, aku mengirim beberapa orang untuk membawa ibunya Arshaka pergi jauh dan mengancamnya untuk tidak kembali."
"Saat itu Ibunya Arshaka benar tidak kembali. Hingga beberapa tahun kemudian ibu Arshaka datang menemuiku, menanyakan dimana anakku dan dia datang bersama Arshaka kecil."
"Pertama kali aku bertemu Arshaka, penampilan anak itu jauh dari kata terawat. Mengenakan baju belel dan kotor, rambut memanjang yang mungkin tidak pernah dipangkas rapih."
Sekilas Reymond tampak menyungging senyum sinis, "Lucunya saat itu Arshaka tidak diberi nama apapun. Aku terkejut saat ibu Arshaka memanggilnya 'bocah kecil' didepanku. Melihat Arshaka kecil begitu penurut dan terus menunduk tak tahu apa-apa, seketika dadaku terasa sesak."
"Namun disitu hati nuraniku masih terasaa gelap. Disitu aku masih belum membiarkan wanita itu menemui anakku. Hingga hari itu terjadi,"
"Aku dikabarkan oleh orang suruhanku yang sedang bersama anakku untuk bergegas mendatangi posisi anakku berada. Aku dikabarkan jika anakku sudah meninggal dunia bersama wanita itu. Aku langsung menyuruh orang ku untuk memanggil Ambulance dan akuoun juga bergegas ke tempat perkara."
"Sampai disana, tubuhku lemas melihat anakku sudah bersimbah darah bersama wanita itu. Lalu aku melihat Arshaka duduk diam memandangi dua mayat tanpa ekspresi."
"Arshaka tidak menangis, tidak panik, dan tidak ketakutan. Tapi dia tersenyum."
"Aku langsung menariknya, memaksanya untuk menjelaskana apa yang sebenarnya terjadi."
"Tanpa memikirkan Arshaka yang rupanya jiwanya sudah terguncang."
"Aku membawa Arshaka ke Rumah Sakit, dan rupanya dugaanku benar. Arshaka mengalami gangguan psikis, dan saat dicek fisikpun Arshaka juga mengalami kekerasan seperti luka lebam di beberapa titik tubuhnya."
"Setelah kejadian itu aku mulai fokus merawat Arshaka. Aku kerahkan tenaga media untuk membantu Arshaka sembuh, lalu aku memberinya nama Arshaka Danu Prabusudibyo, dan aku juga melakukan pendekatan dan belajar untuk memahaminya."
"Tapi itu tidaklah cukup untuk membuatnya merasa dihargai. Arshaka masih menganggap dirinya bukanlah seseorang yang diinginkan. Maka dari itu, ia melakukan segala cara supaya orang lain mengetahui bahwa Arshaka hidup di dunia ini."
"Sampai dimana aku mengetahui jika Arshaka sedang dekat denganmu. Disitu aku hanya berpikir jika kedekatan kalian tidak akan mengubah apapun."
"Tapi aku merasa aneh saat Arshaka membawamu ke Rumah di Jakarta. Senakalnya Arshaka, ia tidak akan pernah membawa 'mainannya' ke Rumah."
"Dan disitu perubahan sikap Arshaka terlihat olehku. Salah satunya Arshaka suka melewati jadwal minum obatnya, namun tanpa meminum obat Arshaka bisa mengendalikan emosinya."
"Tak hanya itu. Aku menemukan lembaran fotomu yang tersimpan di laci meja Arshaka."
"Arshaka menganggapmu sebagai bagian dari hidupnya. Bagian penting yang memang hanya untuknya."
"Sampai dimana Arshaka kembali terguncang, dia menangis dan berteriak histeris memanggil namamu dan mengatakan kata-kata penyesalan dan mengutuk dirinya. Lalu Arshaka bercerita padaku jika kamu meninggalkannya, kamu membencinya karena Arshaka telah mempermainkanmu."
"Ditambah adikmu menghubungi Arshaka, mengatakan jika Arshaka memang pantas untuk dibenci sama kamu. Sehingga terpaksa aku membawa Arshaka ke Bali untuk kembali melakukan perawatan intensif."
"Kepergianmu kembali membuka luka yang sudah mengering di hati Arshaka."
"Dan tak kusangka kalian bertemu lagi. Aku laangsung mencari tahu perihal kedatanganmu ke Bali. Rupanya Arshaka sengaja menandatangani kontrak kerja sama antara perusahaan dimana kamu bekerja dan A.P. Coal Corp."
"Dan beginilah akhirnya. Kita bertemu lagi dalam keadaan rumit seperti ini."
"Karena kamu tahu bagaimana keadaan Arshaka yang sebenarnya, kamu harus menentukan sikap. Mau kembali dengan Arshaka tapi kamu akan kembali merasakan sakit hati, atau kamu pergi dari Arshaka tapi kamu akan bahagia."
Aku menunduk dan merenung ucapan Reymond. Dalam keadaan begini justru aku bingung sendiri.
Dalam hati sudah pasti aku ingin bahagia. Aku tidak mau lagi dipermainkan. Mengingat masa lalu, rasa sakit itu masih membekas.
Tapi hatiku goyah. Bertemu dengan Arshaka lagi membuat hatiku kembali berdetak nggak karuan, aku masih mengingatnya dengan jelas dan degupan ini sama persis saat dimana aku menaru hati untuk Arshaka.
Aku sadar perasaanku masih ada untuk Arshaka, tapi bersamaan dengan itu hatiku juga memohon untuk tidak kembali terluka.
"Aku harap kamu bisa memilih dengan bijak Bi. Aku nggak bermaksud menghasutmu, tapi aku juga ingin mendengar kamu bahagia. Aku tidak mau kamu menyesal dan kembali merasa dirugikan. Kamu masih muda, cantik, pasti banyak laki-laki baik diluar sana yang sedang menunggumu, memperlakukan kamu secara baik dan mampu menuntunmu secara dewasa."
"Jangan merasa terbebani karena keadaan Arshaka! Aku yakin Arshaka akan menemukan kebahagiannya meski kamu bukan jodohnya."
"Kalian berhak bahagia, meski tidak saling bersama."
Ucapan Reymond membuatku semakin terguncang. Mulutku seolah kesulitan berbicara.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Yang bisa kulakukan hanya berdiri dan pamit pulang, lalu aku langsung melangkah pergi sejauh mungkin meninggalkan rumah mewah itu.
Menikmati kesendirianku didalam mobil taksi, kini hati dan pikiranku beradu untuk menentukan pilihan.
Apakah aku harus mengikuti hatiku atau logikaku?
...*****...
hai, ini aku octa.
alhamdulillah aku bisa kembali menulis lagi hehe
khusus platform ini, aku akan merombak setiap chapter sampai cerita ini tamat. alurnya sama seperti di platform sebelah cuma ada yg aku ubah dikit.
dan yg di platform sebelah cerita ini sudah kuhapus, jadi kalian gak perlu capek2 nengok ke sebelah. karena cerita ini pun akan kuedit.
ditunggu aja ya, aku gak bisa update cepet tp aku gak bakalan kabur kok hehe
see you,
octaviandri23