
...-Collab with Chokky-...
Aku melangkah gontai memasuki kamar. Sembari menyeret tas jinjing kerjaku kemudian kulempar asal ke atas tempat tidur.
Aku menghela napas panjang, menyeret tubuhku duduk menyender sisi tempat tidur, lalu mendongakan kepala dan memejamkan mata sejenak.
Bayangan wajah tidur Arshaka begitu jelas dipikiranku. Wajah tampannya terlelap pulas dan tenang. Mimpi indah berhasil menenangkannya.
Kini pikiranku terlintas ucapan Reymond, bahkan suara Reymond seakan masih berdengung di kedua telingaku.
Kamu berhak bahagia meski kalian tidak berjodoh.
Kalimat itu membuatku menghela napas kasar. Dadaku terasa terhantam. Nyeri.
Namun nyeri itu meredam ketika aku kembali membayangkan wajah tenang Arshaka. Tapi tak lama aku mengingat tindakan kasar Arshaka kepadaku. Membuatku bingung.
Aku hanya menginginkan Bianca.
Apakah Arshaka sungguh-sungguh mengucapkan hal itu padaku?
Apa benar dia menginginkanku?
Apakah Arshaka sungguh menyukaiku?
Memikirkan hal ini, aku teringat lagi dengan ucapan Reymond. Pria itu bercerita jika Leo pernah menghubungi Arshaka mengenaiku.
Aku langsung bergerak meraih tasku dan mengambil ponsel. Segera aku menelepon Leo.
"Halo.." sapa Leo.
"Yo, aku mau nanya sesuatu."
Leo berdeham, "Mau nanya apa?"
"Aku ingin membahas perihal Arshaka,"
Aku mendengar helaan napas berat sebelum Leo menjawabku.
"Jadi dia beneran nemuin kakak?"
Aku tercengang sejenak.
"Kamu sama Arshaka masih kontekan?"
Leo menjawab, "Aku nggak mau bahas dia kak,"
"Kenapa Yo?" tanyaku lagi.
"Sejak aku tahu dia mempermainkan kakak, aku udah nggak mau lihat kakak sama dia lagi."
"Kapan terakhir kamu kontekan sama Arshaka?"
"Aku lupa, aku malas membahas hal ini sebenarnya," balasnya.
"Intinya aku menyuruhnya untuk menjauhi kakak.."
"..dan aku harap kakak juga jauhin dia. Dia bukan laki-laki yang baik."
Aku menggigit bibirku cemas.
"Boleh aku tahu kenapa kamu bilang dia bukan laki-laki yang baik?"
"Karena dia sudah mempermainkan kakak. Aku tahu kakak dijadikan bahan taruhan. Aku juga tahu kalau dibelakang kakak dia flirting sama perempuan lain. Aku tertawa ketika dia mengatakan ia cemburu melihat kakak didekati pria lain, tapi dia sendiri malah asik buang anak ke perempuan sana sini."
Aku tercengang menyimak penjelasan Leo.
"Lucunya dia begitu percaya diri meneleponku lagi dan mengatakan jika dia ingin balikan sama kakak. Ketemu di Bali karena proyek pekerjaan itu hanyalah alibi yang sengaja dia buat supaya kalian bisa ketemu lagi. Aku speechless mendengar kakak menanyakan Arshaka, rupanya dia niat banget.."
"Dia itu sakit. Dan aku nggak mau kakak berhubungan lagi sama orang sakit."
"Tapi Leo, kakak--"
"Secepatnya kakak jauhin dia. Bahkan aku juga pernah dengar kakeknya ikut menyuruh Arshaka untuk menjauhimu.."
"..kakak jauh lebih pantas bersama pria yang jauh lebih baik dari Arshaka."
Aku termenung mendengar nasehat Leo padaku. Bukannya merasa lega, rasanya aku merasa berat dan sesak seakan bersusah payah menahan pikulan beban.
Tuhan, apakah ini memang petunjuk untukku supaya aku harus menjauhinya?
...*****...
Aku memijit pelipis hidungku. Hampir seharian menyusun laporan, teh manis hangat dengan kepulan asap terlintas dipikiranku.
Sepertinya aku harus ke Pantry untuk menyeduh teh.
"Bi,"
Aku menoleh ketika hendak bangkit. Muri memanggilku sambil memberikan kotak kue.
"Makan nih!"
"Terima kasih."
Aku meraih kotak tersebut. Kue Sus dengan potongan buah diatasnya mampu mendorong tanganku untuk meraihnya.
"Masih sedih?"
Aku membelalak mendengar Muri. Muri sangat paham jika anak buahnya sedang sedih.
"Sepertinya masih." ucapku dengan seulas senyum tipis.
"Si pengirim bunga udah nggak lagi kirim bunga?"
Aku menggeleng sekilas, "Mungkin uangnya sudah habis buat beliin aku bunga."
"Mana mungkin Komisaris Utama kehabisan uang?"
Seketika aku tersedak makananku sendiri.
"Nggak usah mengelak. Aku tahu kalian berdua ada hubungan khusus. Tapi kayaknya kalian masih memiliki masalah yang belum selesai."
Aku kembali tersenyum tipis.
"Sorry kalau aku ikut campur, tapi selesaikanlah urusan kalian."
"Masalah kami sudah selesai."
"Kalau memang sudah selesai, fokus kerjamu nggak akan buyar."
Aku meringis tipis. Muri benar. Kerjaanku sedikit tersendat karena memikirkan Arshaka.
"Coba aja kamu telepon dia. Ajak ketemu."
"Begitu ya?"
Muri mengangguk.
"Nggak ada yang salah kok kalau kamu duluan yang menghubunginya."
Aku mengangguk paham. Mungkin apa yang dikatakan Muri bisa kupertimbangkan.
"Tapi kalau kamu belum berani, jangan dipaksa. Aku cuma mau kerjaanmu beres."
"Iya bos." Muri cengengesan melihat ku memutar mata. Lalu ia mengelus kepalaku.
"Gue tahu lu dewasa Bi. Lu pasti tahu harus bersikap apa."
Kalau dalam mode santai begini, Muri cukup bisa diandalkan.
"Oh ****."
Aku mengernyit bingung melihat Muri terkejut dan langsung menurunkan tangannya dari kepalaku. Aku mengikuti pandangan Muri ke arah pintu.
Aku ikut terkejut melihat ada Arshaka menatap Muri dengan tatapan menghunus tajam.
Tak hanya aku dan Muri, rekan kerjaku juga terkejut melihat Arshaka tengah berdiri di ambang pintu.
"Samperin Bi!"
Setelah berbisik Muri langsung bangkit dan kembali ke meja kerjanya. Aku menghela napas dan bangkit menghampiri Arshaka yang masih asik memandangi Muri.
Tatapan Arshaka langsung berpindah padaku. Menatapku yang tengah menghampirinya.
"Kita ngobrol diluar aja!"
"Aku nggak bilang kalau mau ngobrol disini." ucap Arshaka ketus.
Aku melangkah lebih dulu lalu disusul Arshaka. Aku membawanya ke lorong koridor yang tampak sepi. Kupikir ini tempat yang cocok untuk mengobrol dengannya.
Aku duduk di kursi panjang yang tersedia, lalu Arshaka duduk disebelahku.
Terdiam beberapa saat, akhirnya Arshaka membuka obrolan kami.
"Kamu deket banget sama Muri?"
Aku melirik Arshaka.
"Kami hanya rekan kerja biasa." balasku.
"Oh gitu.." Arshaka manggut-manggut.
"..aku baru tahu kalau rekan kerja bisa berdikap semanis itu."
Aaa.. Aku mengerti maksud Arshaka.
"Dia sudah menganggapku seperti adiknya sendiri."
"Adik yang sangat spesial."
Aku memutar mataku jengah. Tapi lucu juga mendengar celetuk Arshaka.
"Kenapa kamu ke ruanganku?" tanyaku mengalihkan topik.
"Untuk menemuimu. Mau apa lagi?"
Aku mengangguk.
"Kemarin kamu bicara apa aja sama Reymond?" Kini Arshaka bertanya padaku.
"Apa Reymond menyuruhmu untuk pergi dariku?"
Aku menatap Arshaka.
"Iya."
"Lalu.. apa kamu mau pergi?"
Aku terdiam.
Arshaka menarik napasnya, "Boleh aku egois Bee?"
Aku mengerjap, "Maksudnya?"
"Boleh aku bertindak sesuai keinginan hatiku? Karena aku nggak mau kamu pergi.."
"..tapi, kalau memang kamu benar ingin pergi, aku akan membiarkanmu pergi."
Arshaka tersenyum tipis padaku. Namun senyumannya membuat luka hatiku kembali terbuka.
"Aku ingin kamu memilih Bee. Jika kehadiranku tidak kamu inginkan lagi, aku akan mundur.."
"..aku mencoba untuk tidak bersikap egois. Meski sulit, tapi aku akan mencoba. Biar waktu yang akan mengikis perasaanku."
Kami terdiam dan saling memandang satu sama lain.
"Aku bersungguh-sungguh memohon maaf atas semua perbuatanku. Jika aku diberi kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.."
"..tapi keputusan ada ditanganmu Bee. Aku ingin mendengar apa isi hatimu padamu. Perasaanmu selama ini padaku. Aku sangat ingin tahu."
"Apapun yang kamu katakan, aku akan mencoba berlapang dada."
Bisa kulihat tatapan Arshaka begitu gamang menatapku. Ada cerca harapan namun senduh di kedua matanya. Ia ingin mendengar namun ada ketakutan disana.
Dan sekarang akupun juga merasakan hal yang sama. Aku juga takut akan keputusanku saat ini.
Tapi aku yakin, keputusanku akan membawakan kebahagiaan untuk kami.
Aku tersenyum.
"Aku ingin disisimu, Arsha.."
...*****...