
Hari berlalu dengan cepat. Rasanya belum lama aku baru lulus sekolah, dan sekarang aku tengah disibukkan dengan jadwal praktek dan tugas kuliah beberapa hari ini.
Kurang tidur dan pola makan ku makin berantakan, membuat ku terlihat tak terurus. Hanya mengenakan kaos polos dan skinny jeans setiap pergi ke kampus, rasanya aku juga tak mempunyai waktu untuk mengurus diriku sendiri.
Untungnya Ayah dan Leo tidak mengomentari penampilan ku yang terlihat seperti anak urakan.
Hanya Karin yang terus berkomentar padaku, mungkin Karin agak malu melihat ku kucel kayak pakaian belum disetrika. Lecek.
Tapi aku bersyukur memiliki sahabat seperti Karin. Melihat perhatiannya padaku mengingatkan ku pada sosok Ibu ku yang sudah tiada.
"Bi, makan dulu nih."
Karin datang sembari menenteng kantong makanan berlabel fastfood terkenal didekat kampus. Ia duduk disebelah ku lalu segera membuka makanannya.
Wangi aroma makanan berhasil membuat ku menoleh ketika aku tengah sibuk melihat lowongan pekerjaan paruh waktu di Laptop.
"sudah nemu lowongan yang cocok buat kamu?" tanya Karin dengan mulut dipenuhi gigitan Cheese Burger.
"belum," aku menggeleng, kemudian aku menggigit Chicken Burger ku dan segera menelannya dan kembali menggigit Burger karena aku sangat lapar.
Selain tugas kuliah, hari-hari ku juga ditumpuk dengan Koran mingguan. Jika aku belum menemukan lowongan yang cocok di internet, aku mencoba cari di Koran.
Beberapa lowongan Freelance juga aku list menggunakan stabilo lalu aku hubungi satu per satu, namun lowongan tersebut masih belum ada yang nyangkut dengan ku.
Memang pekerjaan Freelance bisa menentukan jam kerja ku sesuka hati, namun saat aku memikirkan target besar yang mereka tawarkan padaku membuatku mundur.
Aku juga sudah mencoba mendatangi beberapa stand yang biasa merekrut sales girl, ku berikan data diriku dan menunggu mereka memanggilku untuk interview. Aku dijanjikan akan dihubungi 2 minggu setelah aku menyerahkan CV ku.
Namun sudah 2 minggu lebih ini aku belum ada dihubungi. Mungkin rejeki ku bukan jadi sales girl.
"Bi,"
Aku dan Karin sama-sama menoleh kearah Samuel. Ia datang menghampiri kami yang sedang duduk dibawah pohon halaman kampus dan ikut duduk nimbrung bersama kami.
"Bi, kamu masih nyari pekerjaan?" tanya Samuel sembari meletakkan tas gendong dipangkuannya. Maniknya terlihat menyebar memandangiku yang dipenuhi Koran, buku tugas dan Laptop.
"masih Sam, kenapa?"
"kemarin salah satu Barista ku ada yang resign. Mau gantiin nggak?"
Seketika aku dan Karin menganga senang mendengar kabar Samuel.
"kamu serius? Nggak bohong kan?" tanya ku lagi dengan antusias.
"nggak kok, tapi jadi Barista nggak apa-apa ya?"
Spontan aku mengangguk semangat, "nggak apa-apa Samuel. Thank you so much Sam!" pekik ku senang. Rasanya mau peluk Samuel tapi aku tahan. Jadinya aku peluk Karin disebelah ku.
"besok datang ke kafe jam 3 sore ya. Bawa CV kamu sama pas foto, kalau besok kamu siap bisa langsung aku training."
Aku kembali mengangguk lalu Samuel bangkit dan pamit pergi.
Tak lama Samuel pergi Karin membereskan barang-barang ku dan mengajak ku pergi untuk mencari pakaian baru buat aku training besok. Dengan senang hati aku mengikuti kemauan Karin dengan hati gembira.
Sekarang kami sudah berada di pusat pembelanjaan, selama aku mengikuti langkah Karin dibelakangnya ponsel ku terus berdering, namun mataku jengah melihat nama Arshaka dilayar ponselku.
Sejak pertemuan ku yang terakhir dengan Arshaka, aku tidak menanggapi semua telepon dan semua pesannya.
Bunga yang ia terus kirim ke rumah langsung aku buang ke tempat sampah. Jika Arshaka menghampiri ku, aku segera melengos pergi. Kadang aku bersembunyi agar ia tidak menemukan ku.
Aku teringat dengan sikapnya padaku yang berhasil membuat ku tersinggung.
Flashback On
"kamu obrolin apa sama Muel?" tanya Arshaka setelah ia berhasil membawa ku keluar dari Kafe dan berakhir didepan mobilnya yang terparkir.
"nggak ada. Hanya ngobrol biasa," ketus ku.
"aku tadi dengar kamu meminta Muel buat bekerja di Kafe, buat apa?"
Aku melotot sejenak, ternyata dia mendengar percakapan ku dengan Samuel. Kalau ia tahu untuk apa bertanya lagi?
Tapi lucunya aku malah tertarik mendengarnya memanggil Samuel dengan Muel, bukan Sam atau Sammy seperti teman-teman ku memanggil Samuel.
"kamu lagi butuh uang, berapa?"
Arshaka merogoh sakunya dan mengeluarkan isi dompet. Ada pecahan uang lembaran merah dan biru memenuhi dompetnya. Aku memandangi penampakan itu dengan tatapan tak percaya.
"kalau kamu butuh uang katakan saja padaku. Kamu butuh berapa? Satu juta? Dua juta? Atau lima juta?"
"nggak!" aku langsung menggeleng keras.
"aku hanya mau mendapatkan uang dengan usaha ku sendiri."
"kamu butuh apa Bee, katakan padaku. Kalau kamu ingin bekerja karena ingin sesuatu kamu tinggal bilang, aku pasti kasih. Kamu mau tas, perhiasan, apapun yang kamu mau. Jadi kamu nggak usah capek capek nyari kerja yang nggak jelas."
Seketika amarah ku memuncak ke ubun-ubun. Namun berusaha aku menahan diri, karena aku masih berada di tempat umum. Dan tidak lucu jika berdebat dengan laki-laki yang berpikir pendek seperti dia.
"maaf ya Tuan Arshaka yang terhormat. Aku mencari pekerjaan bukan karena hal-hal yang kamu pikirkan saat ini tentang ku. Aku masih mampu beli barang kesukaan ku dengan uang ku sendiri, tanpa harus kenal kamu tentunya. Aku cari kerja demi tujuan ku secara pribadi, dan kamu nggak perlu ikut campur karena kamu bukan siapa-siapa aku. Bukan pacar ku, bukan suami ku, bukan keluarga ku. Kamu itu orang lain yang kebetulan dan tidak sengaja masuk kedalam kehidupan ku. Jadi jangan ganggu aku."
Aku hendak pergi, namun lengan ku dicengkram kuat oleh Arshaka. Cengkramannya tidak menimbulkan rasa sakit tapi tatapannya membuat ku mengerjap takut.
"jangankan barang branded atau perhiasan, kamu pun juga bisa aku beli."
Hatiku sakit mendengar ucapan Arshaka, seakan aku sama halnya dengan barang yang mudah ia beli dimanapun.
"jangan samakan aku dengan barang, dan jangan samakan aku dengan perempuan yang biasa kamu beli diluar sana. Lebih baik kamu pergi dan aku udah nggak mau lihat kamu lagi."
Aku berjalan cepat dengan deraian air mata membasahi pipiku.
Bodoh! Kenapa juga aku harus menangisinya seperti ini?
Flashback off
Mengingat kejadian itu hatiku kembali perih. Masih tidak percaya kalau Arshaka bisa mengatakan hal seperti itu padaku.
Namun segera aku menyingkirkan ingatanku tentangnya. Untuk apa aku memikirkan laki-laki yang menyamai ku dengan barang.
Menjauhinya adalah cara yang paling ampuh.
**********************************
Leo melahap Nasi Goreng di Kantin Sekolah. Sehabis pulang sekolah ia harus berkumpul di ruangan OSIS, sebentar lagi SMA Sawarna akan menyelenggarakan Pensi dalam rangka Hari Ulang Tahun Sekolah.
Selama 2 jam ia menahan diri dari rasa lapar, akhirnya cacing di perut Leo berhenti menggerogoti perutnya.
Tidak tanggung-tanggung, Leo membeli 2 porsi Nasi Goreng dan langsung habis beberapa menit kemudian.
"wah lapar banget bos,"
Leo menengok dan melihat Nathan datang menghampirinya. Leo mengendikan dagu ketika Nathan ingin duduk didepan Leo setelah memesan Nasi Ayam dan Es Teh di kedai Mbok Ijah.
Dan tak lama Leo melihat segerombolan murid duduk di pojokan Kantin dekat kedai Ketoprak dan Karedok, salah satunya ada Arshaka disana.
Melihat Leo memperhatikan sesuatu, Nathan ikut menengok ke belakang. Mereka sama-sama memperhatikan segerombolan murid yang terkenal bandel di Sekolah.
Nathan berbalik namun tidak ingin berkomentar apapun, ia membiarkan Leo sibuk dengan kegiatannya.
Setelah memperhatikan Arshaka, Leo mengajak Nathan mengobrol, membahas seputar Pensi yang akan digelar sebentar lagi. Disini Leo kedapatan dibagian Sponsor, ia meminta Nathan untuk memberikan saran bagaimana caranya membuat proposal ke Perusahaan yang ditunjuk Sekolah sebagai Sponsor Acara.
Sembari mendengar tahap tahap membuat proposal yang baik, pandangan Leo kembali beralih kearah gerombolan tersebut.
Saat ini Leo memperhatikan salah satu teman sekelasnya bernama Amel sedang berjalan mendekati Arshaka. Gadis itu memeluk leher Arshaka dari belakang sembari memainkan rambutnya.
Yang membuat Leo geram, Arshaka tidak melakukan apapun pada Amel, tidak menjauh tapi ia tidak menggubrisnya, ia membiarkan Amel memainkan rambutnya sesuka hati.
Mungkin hampir semua orang di SMA Sawarna tahu bagaimana sosok Arshaka. Walau banyak rumor buruk tentangnya, namun Leo mengakui cara kerja otaknya seencer air.
Tak heran kalau namanya berjejer di tempat penyimpanan Piala yang berada di koridor Beranda Sekolah.
Dan di SMA Sawarna, memiliki 2 murid terpopuler. Nathan yang duduk didepan Leo dikenal sebagai murid teladan di kelas IPS, lalu Arshaka dikenal sebagai murid bandel di kelas IPA.
"ada apa Yo?" tanya Nathan ketika melihat Leo yang tidak fokus mendengar penjelasannya.
Nathan menaikan alisnya ketika menengok ke belakang dan melihat Arshaka sedang dipeluk mesra oleh seorang gadis. Nathan tidak mengenal gadis itu tapi ia tahu kalau gadis itu salah satu murid jurusan IPA.
Belum lama ia terkejut melihat Arshaka, Nathan jadi makin bingung ketika Leo bangkit dan berjalan mendekati gerombolan.
Semua orang disana menatap kehadiran Leo, lalu beralih pandang ke Arshaka ketika Leo mengendikkan dagu kearah Arshaka.
"gue mau ngomong sama lo?"
Beberapa saat ia terdiam, kemudian Arshaka tersenyum.
Arshaka bangkit dan berdiri dihadapan Leo.
"ada apa?"
Sekilas Leo menatap tajam kearah Amel, lalu kembali menatap Arshaka yang menatapnya tenang.
"sebenarnya gue males ikut campur, tapi gue harus turun tangan. Mending lo jauhin kakak gue aja deh mulai sekarang!"
"memangnya kenapa?" tanya Arshaka tenang.
Leo tertawa sinis, "ya lo mikir ajalah. Sia-sia lo kirim Bunga Mawar setiap hari buat kakak gue, sia-sia juga lo dateng ke rumah gue buat ketemu kakak gue tapi lo gelayutan sama cewek lain,"
"ingat ya, kalau sampai gue kedapatan kakak gue nangis gegara lo, lo habis sama gue!"
Leo balik kembali ke tempat duduknya, buru-buru ia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Arshaka dan Nathan yang tercenung melihat Leo dipenuhi amarah.
Sampai Leo hilang dari pandangannya, Arshaka masih terpaku disana, setiap perkataan Leo berputar bebas didalam kepalanya.
Lalu Arshaka tersenyum mengingat ancaman Leo.
Arshaka pamit dan berjalan menuju parkiran motor. Sebelum ia menjalankan motornya, Arshaka mengecek ponselnya lalu menelepon seseorang.
"gimana? Lo udah ketemu Bian?"
"....."
"bagus. Ketemu ditempat biasa ya, gue kesana."
Setelah memasukkan ponselnya kedalam saku, Arshaka segera mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
***********************************