
Deru mesin mobil terhenti di pekarangan halaman rumah ku, baik aku dan Arshaka masih duduk terdiam di posisi masing-masing, belum beranjak meninggalkan mobil. Kami hanya diam dan berpacu dengan pemikiran kami masing-masing.
Selama diperjalanan menuju rumah pun obrolan kami hanya sekedar hal-hal umum saja.
Namun baik aku maupun Arshaka belum ada yang memulai membahas tentang pertemuannya dengan Jeanne di Kafe. Entah kenapa rasanya aku ingin sekali bertanya tapi aku juga menahan diri untuk tidak mengetahui atau mendengarkan alasannya lebih lanjut.
Saat terakhir Arshaka mendapati ku melihatnya bersama Jeanne. Segera aku memberikan titipan Tio dan hendak untuk pergi.
Namun langkah ku terhenti sebab Arshaka berhasil menarik tangan ku hingga kami saling berhadapan, ia tak memberikan penjelasan apapun, langsung membawa ku ke mobil ku dan mengantar ku pulang.
Dan disinilah kami.
Berbagai macam pertanyaan terkumpul menjadi satu dan menganggu didalam pikiran ku; kenapa mereka bisa bertemu di Kafe, apakah mereka memiliki hubungan khusus, dan kenapa juga Jeanne harus menyentuh tangan Arshaka dengan gerakan yang membuat aku merinding geli.
"aku bertemu Jeanne karena dia adalah teman kumpul ku, aku ada urusan dengannya," sahut Arshaka akhirnya untuk menjawab pertanyaan yang terus bermunculan di kepala ku ini. Seakan Arshaka bisa menembus kepala ku dan membaca semua pertanyaan didalamnya.
Aku mendongak, memandangi wajahnya. Wajah dan sorot mata yang tenang, tak hanya itu tapi suara seraknya juga terdengar santai tanpa beban.
Sepertinya hanya aku saja yang terlihat canggung setelah melihat pertemuan mereka.
Aku mendengus sinis, merutuki diriku yang terlihat bodoh.
"oh gitu,"
Langsung saja aku segera mengucapkan terima kasih setelah ia mengantar ku pulang, lalu aku mulai beranjak keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu dengan wajah cemberut.
"Bee,"
Panggilan Arshaka tidak aku gubris, mood ku lagi malas untuk melihat wajah tenangnya agar hatiku segera mereda akan hawa panas yang menyeruak sedari tadi.
Sampai aku hendak ingin mendorong pintu untuk masuk kedalam rumah, pintu tersebut terbuka sendiri dan munculah Ayah diambang pintu.
"Ayah," panggil ku dengan wajah terkejut. Melihat kehadiran Ayah refleks aku melirik jam tangan yang menunjukan waktu pukul 4 sore.
"Bian, sudah pulang nak."
"kok Ayah sudah di rumah? Ayah sakit?" tanya ku sambil memastikan keadaan Ayah. Sangat jarang Ayah tiba di rumah saat sore hari. Kecuali kalau beliau ijin pulang karena sakit.
"nggak kok. Tadi Ayah habis ketemuan sama client diluar kantor, karena kerjaan Ayah sudah selesai jadinya Ayah pulang saja ke rumah,"
"kamu sama teman kamu?" tanya Ayah ketika pandangannya menatap posisi Arshaka yang masih berdiri disamping mobil ku. Sebelum aku menjelaskannya, Ayah sudah lebih dulu memanggilnya hingga Arshaka datang menghampiri kami.
"kamu yang pernah ajak Bianca jalan waktu itu bukan? teman sekolah Leo juga?" tanya Ayah pada Arshaka, Arshaka langsung mengangguk sambil tersenyum.
"iya Om,"
"siapa nama mu? Maaf Om mulai pikun orangnya," Ayah menyengir sungkan pada Arshaka.
"Arshaka, Om." balasnya sambil tersenyum.
Ayah hanya memanggut mengerti.
"ayo masuk nak. Sekalian kita makan malam bareng, mau?"
Aku dan Arshaka terkejut bersamaan. Aku yang mendadak kikuk tak senang sedangkan Arshaka sebaliknya.
"boleh Om," sahut Arshaka dengan senyum berbinar.
"kebetulan Om beliin makanan banyak sebelum pulang, nanti biar Bian yang panasin makanannya dulu. Ayo masuk,"
Ayah langsung merangkul bahu Arshaka tanpa sungkan seolah mereka sudah mengenal sejak lama dan mereka melangkah memasuki rumah.
Membiarkan ku tercenung sendirian diambang pintu.
***********************************
Ayam Bakar Kalasan, Cumi Saos Asam Manis serta sayuran Kangkung menjadi menu makanan malam kami.
Aku duduk bersisian dengan Leo, Ayah duduk di sisi ujung meja sedangkan Arshaka duduk didepan Leo.
Kegiatan makan kami cukup hikmat, sesekali ada selingan obrolan santai. Topik obrolan lebih mengarah kearah sosok Arshaka.
"maaf ya nak Shaka, Om beneran nggak tahu kalau kamu cucunya Reymond Prabusudibyo; pemilik Prabu Coal Corp." jelas Ayah setelah ia menyeka bibirnya dengan tisu setelah menghabiskan makanan didalam mulut.
Arshaka tersenyum.
"nggak apa-apa Om,"
"pak Reymond jarang memperkenalkan keluarganya pada khalayak umum," tambah Ayah kemudian.
"iya. Ini memang kemauan ku sendiri. Aku malas diliput media,"
"kenapa? kan enak kalau lo jadi terkenal? Nggak ada salahnya juga kan jika semua orang tahu kalau lo cucunya Reymond, pebisnis konglomerat se-Asia Tenggara," kini Leo memberikan pertanyaan pada Arshaka. Sepertinya Leo mulai tertarik untuk mengetahui alasan Arshaka setelah sedari tadi ia hanya mendengarkan saja.
Arshaka berdeham singkat.
"kalau aku terkenal, ruang lingkup ku tidak akan sebebas ini. Aku tidak suka diatur dan tidak ingin dikekang oleh komentar masyarakat, berpura-pura baik didepan orang bukanlah aku." jelasnya pada Ayah dan Leo.
Mereka kembali mengobrol tentang Arshaka lagi. Disini aku hanya mendengarkan saja, memilih untuk menghabiskan potongan Cumi sampai tak tersisa.
Cumi yang dibeli Ayah sangat enak.
Namun kegiatan mengunyah ku tersendat, ketika Leo menanyakan sesuatu hal pada Arshaka.
"sorry to say Arsha kalau gue nanya hal ini ke lo. Dari omongan beberapa orang yang gue dengar, apa benar orang tua lo meninggal dunia karena bunuh diri?"
Baik aku dan Ayah langsung memusatkan perhatian kepada Arshaka yang masih terdiam di kursinya. Terlihat reaksinya mulai memucat, pandangannya berubah dingin menatap Ayah, lalu berpindah ke Leo, dan terakhir beralih menatap ku.
Sepertinya bukan hanya aku saja yang kaget mendengar pertanyaan Leo. Reaksi Ayah pun juga terlihat sama seperti ku.
Mendengar pertanyaan Leo, mendadak aku tersadar. Dari acara ulang tahun Reymond Prabusudibyo, lalu saat aku singgah di rumah mewahnya, aku memang tak pernah bertemu dengan sosok Ayah dan Ibu Arshaka.
Duh kenapa aku baru sadar sekarang? Bodoh banget!
Melihat suasana yang mulai berubah canggung, segera aku menyenggol kaki Leo dan mengedipkan mata ku beberapa kali saat Leo menoleh. Menunjukkan reaksi protes ku supaya Leo tak membahasnya lagi dan mengalihkan pembicaraan.
Leo berdeham singkat, "Yah, besok kita jadi pergi kan?" Leo mengalihkan topik pembicaraan, bertanya pada Ayah tentang rencana kami.
Ayah mengangguk, "iya, jadi kok."
Kini Arshaka bertanya pada Leo, "mau kemana Yo?"
"besok mau berenang di Waterboom,"
"Waterboom di PIK?"
"bukan," Leo menggeleng, "di Lippo Cikarang,"
Arshaka memanggut mengerti.
"lo mau ikut Ar?"
Kembali aku membelalak mendengar Leo menawarkan Arshaka untuk ikut berenang, kegiatan ku yang sudah beralih di dapur terhenti sejenak hingga aku harus membalikkan badan ku.
Aku memperhatikan Arshaka, menunggu balasan Arshaka pada Leo.
"iya, nak Shaka ikut aja. Biar rame. Besok kita berangkat sorean sehabis jemput Bian bekerja di Kafe," Ayah menambahkan.
Arshaka menoleh padaku, melihat ku yang juga sedang memandanginya Arshaka tersenyum. Lalu pandangannya kembali beralih pada Leo dan Ayah.
"kalau diajak sih aku ikut,"
Leo dan Ayah tersenyum saat Arshaka memgiyakan ajakan Ayah dan Leo.
"ya sudah. Besok kamu ke rumah saja. Nanti kita jemput Bian ke Kafe dulu, baru kita berangkat." jelas Ayah, namun Arshaka menimpali ucapan Ayah.
"nanti biar aku saja yang jemput Bian di Kafe. Om sama Leo duluan saja,"
"oh gitu,"
"iya Om. Aku sudah biasa kok antar jemput Bian,"
Ayah kembali memanggut mengerti. Lalu beliau menoleh dan menatap ku ketika aku kembali duduk di meja makan dengan senyuman penuh arti.
"ya sudah kalau maunya nak Shaka begitu. Besok kamu dan Bian saling berkabar saja,"
Arshaka mengangguk, "iya Om."
Suasana kembali menghangat dengan obrolan ringan dan menggelitik.
Aku hanya kembali terdiam sambil mendengarkan obrolan mereka, sesekali aku memandangi Arshaka, senyum lebarnya tak henti menghiasi wajahnya saat Ayah menceritakan tentang hal lelucon.
Hari semakin gelap. Akhirnya Arshaka pamit pulang. Lalu Ayah langsung beranjak menuju kamarnya sedangkan aku mendekati Leo untuk memastikan ulang perihal pembicaraan saat di meja makan tadi.
"kamu bisa tahu dari mana tentang orang tua Arshaka, Yo?" delik ku menatap Leo yang sedang duduk di sofa sembari menonton tv. Satu tangannya ia gerakkan untuk memencet tombol remot untuk mengganti siaran.
"sejak kakak didekatin Arsha. Aku mulai mencari tahu tentang dia,"
"ke-kenapa gitu?" tanya ku kikuk. Lalu Leo memandangi ku dengan tatapan penuh arti.
"aku sudah pernah bilang sama kakak kalau kakak harus cari tahu tentang dia bukan. Bukan hanya kakak saja, tapi aku pun juga harus turun tangan mencari tahu tentangnya. Aku sudah pernah bilang sama kakak kalau dia bukan anak SMA biasa pada umumnya. Apalagi dia adalah cucu konglomerat, siapapun tahu dan kenal dengan Reymond Prabusudibyo,"
"aku juga baru tahu tentangnya akhir-akhir ini. Di sekolah Arshaka pernah mengatakan jika orang tua nya menetap di New York, jarang pulang ke Indonesia. Tapi aku sempat mendengar beberapa rahasia umum dari beberapa orang, salah satunya tentang hal ini: orang tua Arshaka telah meninggal dunia ketika Arshaka masih kecil."
Aku membelalak mendengar tambahan informasi baru tentang Arshaka.
Aku pikir Arshaka hidup dipenuhi kelimpahan kebahagiaan.
Justru sebenarnya dia kesepian.
"disini aku menangkap ada sesuatu hal yang janggal, dimana Reymond hampir tak pernah mem-publish sosok keluarganya. Yang ia kenalkan hanya prestasi dirinya didalam dunia bisnis. Tapi baik sosok orang tua dan sosok Arshaka sendiri sama sekali tidak ia tunjukan ke khalayak. Membicarakannya saja tidak. Pasti Reymond sedang berusaha keras untuk menutupi keadaan yang sebenarnya terjadi pada keluarganya. Tapi itu manusiawi, aku memaklumi, jika Arshaka tidak mengatakan yang sebenarnya tadi saat makan berlangsung itupun haknya dia. Kita juga nggak pantas untuk menuntut Arshaka menceritakan mengenai tentang kehidupan keluarganya."
Aku termenung mendengar penuturan Leo yang terbilang cukup masuk akal.
"dan sekali lagi aku tekankan sama kakak. Sebelum kakak jatuh hati sama dia, kenali sosok Arshaka baik-baik. Jangan sampai kakak menyesal dikemudian hari."
"tapi- bagaimana caranya?"
Leo segera mengubah posisi duduknya menjadi beehadapan dengan ku. Terlihat wajahnya begitu serius, siap memberikan ucapan wejangan untuk ku.
"ya, mau nggak mau, cobalah untuk mulai terbuka sama dia. Jika kakak seperti itu, tentunya Arshaka akan membuka dirinya juga pada kakak. Tetap bersikap biasa, ditambah untuk sedikit memperhatikannya. Jika memang dia serius sama kakak, tanpa dipaksa pun pasti Arshaka akan memperkenalkan dunianya pada kakak."
"iya. Tapi bagaimana caranya?"
"seperti biasa saja kak, bedanya kakak mulai membiasakan diri untuk menerima dia" timpal Leo membuka pikiran ku.
"make it slow. Nggak usah buru-buru. Jalani saja, aku yakin kakak pasti bisa."
Aku mengangguk paham sembari terus mencerna setiap perkataan Leo, mempelajari apa yang Leo arahkan padaku, dan berpikir bagaimana aku akan bersikap pada Arshaka.
Tak lama Leo bangkit berdiri, pamit padaku untuk pergi ke kamarnya. Aku hanya mengangguk dan masih duduk terdiam memikirkan semua ini.
Lucu. Teringat dimana aku belum pernah seperti ini, apalagi disaat aku menyukai Erick. Erick itu humble, semua orang tak ada yang tak mengetahuinya dan sering membicarakannya. Sehingga aku tak perlu bersusah payah mencari tahu bagaimanakah sosok Erick.
Tanpa harus aku menerka layaknya sedang menyusun kepingan puzzle.
Namun Arshaka berbeda.
Laki-laki yang selalu ingin ku hindari memiliki kehidupan yang dipenuhi akan tanda tanya besar.
Kini, waktu ku akan banyak tersita untuk memberikan semua perhatian ku padanya.
***********************************