ARSHAKA

ARSHAKA
SEPULUH



Aku melirik jam arloji dipergelangan tangan ku, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Sudah beberapa menit lamanya aku menunggu Arshaka untuk menjemput ku di Kafe. Kedua mata ku tak henti melirik kearah pintu, menunggu Arshaka yang tak kunjung tiba.


Sesekali aku juga melirik ke layar ponsel, menunggu pesan masuk atau telepon darinya.


Dari awal kedekatan ku dengannya aku belum pernah ada mencoba untuk menghubunginya duluan. Selalu Arshaka duluan yang terus menghubungi ku.


Sehingga dalam posisi ku saat ini aku terus menahan diri supaya aku tidak ada menghubunginya duluan. Rasa gengsi ku benar-benar cukup tinggi walau hanya menanyakan kabar dimana dia sekarang.


Tapi tak lama aku bernafas lega sebab Arshaka lebih dulu menelepon ku, mengatakan bahwa ia sudah menunggu ku di parkiran mobil.


Aku pamit pada rekan kerja ku dan bergegas menuju ke mobilnya.


Setelah aku sudah masuk kedalam mobil, tanpa menunggu lama lagi Arshaka segera mengendarai mobilnya. Selama diperjalanan Arshaka membuka obrolan umum menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, bagaimana pekerjaan ku hari ini, dan sebagainya.


"leher kamu kenapa?" tanya ku setelah aku menampaki ada bekas ruam merah keunguan di lehernya.


Aku delik pada ruam tersebut dengan seksama membuat Arshaka bergerak canggung ditempat.


Beberapa saat aku juga menangkap ekspresinya kikuk, namun tak lama ia tersenyum lembut padaku.


"oh ini," sahutnya sambil menyentuh lehernya.


"ini hanya efek kelelahan. Kalau aku lelah suka nimbul ruam gitu,"


Aku mengangguk paham. Memang sih garis wajahnya terlihat lelah. Aku juga pernah mengalami hal tersebut, jika aku merasa kelelahan suka ada ruam merah di sekujur kedua kaki ku.


"kalau kamu lelah kenapa nggak bilang? Harusnya kamu nggak perlu jemput aku. Masih ada hari lain buat cari kado Kakek mu kan," terang ku dan dibalas langsung oleh gelengan kepala Arshaka.


"nggak apa-apa kok. Kalau jalan sama kamu lelah ku langsung hilang" gombalnya sambil terkekeh. 


"tapi aku senang deh akhirnya kamu mulai sedikit perhatian sama aku,"


Aku mengerjap beberapa kali dan mengalihkan pandangan ku kearah samping sambil berdeham singkat. Aku baru menyadari jika ucapan ku  memang terdengar perhatian.


"ya, aku nggak mau dibilang merepotkan. Apalagi sampai bikin anak orang sakit."


Kurasakan sentuhan lembut di puncak kepala ku, membuat ku kembali memandanginya.


"jangan khawatir. Kamu itu ibaratkan obat, lihat kamu aja aku merasa baik."


Tak tahu lagi bagaimana cara ku agar mengalihkan rasa tersipu ku dan detak jantung ku yang mulai bertalu kencang.


Sampailah kami di Mall ternama di pusat kota. Selama memasuki gedung Mall, Arshaka mengamit tangan ku dan menggenggamnya erat. Dan tak sedikitpun Arshaka melonggarkan atau melepaskan genggamannya dari tangan ku.


Kami mengunjungi sebuah outlet yang menjual arloji mewah di lantai 5. Sejenak darah missqueen ku mendidih melihat koleksi arloji yang berjejer rapih dan terlihat mewah, melihat itu aku membayangkan berapa digit angka untuk membeli sebuah arloji di outlet ini.


Aku berdiri disamping Arshaka, memperhatikannya sedang melihat dan meneliti beberapa arloji yang dikeluarkan dan dijejerkan oleh karyawan outlet.


"saya ambil yang ini saja,"


Aku menilai pilihan Arshaka, arloji berbentuk bulat penuh dengan rantai emas terlihat sangat gagah. Sudah bisa aku bayangkan bagaimana jika arloji tersebut dipakai oleh Kakeknya. Akan terlihat berkelas dan bersahaja.


Aku memutuskan untuk menunggu Arshaka diluar outlet sambil melihat-lihat akan ramainya pengunjung Mall yang memadati gedung ini.


Tak butuh waktu lama Arshaka menghampiri ku lalu mengajak ku untuk berkeliling.


"ada yang mau kamu beli?" tanya nya ketika kami berada di eskalator menuju lantai 3.


"tidak ada," sahutku sambil mengendikkan bahu.


"kalau gitu kita ke Butik langganan ku ya. Aku mau beli gaun buat kamu dulu,"


"kamu? Gaun? Maksudnya?" tanya ku dengan dahi berkerut.


"iya. Setelah beli gaun aku bawa kamu ke Salon. Nanti langsung didandanin disana sekalian ganti pakaian kamu,"


Aku langsung menatap horor padanya.


"untuk apa?"


"ke pesta ulang tahun Kakek ku,"


Aku tercengang sesaat.


"loh, kamu cuma bilang minta ditemani buat beli kado Kakek, bukan-"


"iya aku sengaja nggak bilang sama kamu kemarin," sela nya langsung.


"kalau aku bilang sekalian ke pesta Kakek pasti kamu bakal menolak ajakan ku. Makanya aku hanya bilang minta ditemani beli kado aja,"


Aku hanya bisa melongo, menatapnya tak percaya.


"memangnya acara dimulai jam berapa? Dimana?" tanya ku kemudian, Arshaka melirik arlojinya.


"satu jam lagi di Ballroom The Ritz-Carlton. Cukuplah ya buat kita siap-siap dulu,


***********************************


Arshaka memandangi ku dari atas sampai bawah lalu kembali menatap riasan ku, hingga kedua matanya tak terlihat berkedip beberapa saat.


Saat ini aku sudah berganti pakaian dengan gaun yang Arshaka belikan tadi. Serta wajah ku sudah dirias habis. Aku akui riasan mbak-mbak karyawan Salon disini membuat wajah ku terlihat berbeda, make up yang dibuat simpel dan natural namun berhasil memanglingkan ku, bahkan sampai saat ini aku masih tidak percaya kalau ini adalah aku.


Riasan ku terlihat cocok dengan gaun yang ku kenakan. Gaun memanjang menyeret lantai berwarna krim coklat lembut, dengan potongan yang memperlihatkan area pundak dan punggung ku.


Sebelumnya aku meminta mbak Salon untuk menggerai rambut panjang ku supaya menutup punggung yang bagi ku terlalu terbuka. Namun ia hanya mengikat rambut ku sederhana ditambah sentuhan headband.


"lebih bagus terlihat seperti ini kak, kakak jauh terlihat cantik dan anggun. Karena gaun yang kakak pakai memang teruntuk memperlihatkan punggung."


Dengan terpaksa aku mengiyakan ucapannya saja.


Beberapa saat Arshaka terdiam menatap ku, membuat ku sedikit risih. Sebab untuk pertama kalinya Arshaka menatap ku begitu lekat dan dalam. Aku terlihat seperti umpan makanan untuk seekor hewan buas yang kelaparan.


"cantik," pujinya singkat ketika kami sudah berhadapan, menatap ku begitu intens.


Rasanya penampilan ku terlihat heboh sendiri. Berbeda dengan Arshaka, hanya mengenakan satu set jas semi formal berwarna biru gelap. Namun penampilannya malam ini tidak terlihat terlihat seperti anak remaja berusia 17 tahun.


"ayo kita berangkat."


Tertatih aku berjalan beriringan dengan Arshaka karena panjangnya gaun serta sepatu stiletto yang membuatku sulit berjalan. Untungnya Arshaka memperlambat langkahnya supaya langkah kami bersejajar, aku merasakan satu tangannya mendaratk di area pinggang ku, lalu membantu memperhatikan langkah ku supaya tidak terjatuh.


Ya, aku memang bodoh memakai sepatu high heels. Bully saja aku, aku memang tidak terlalu suka memakai sepatu yang suka dipakai perempuan pada umumnya.


Selama diperjalanan menuju lokasi, baik aku dan Arshaka belum ada satupun yang mulai membuka obrolan. Aku hanya terpaku memandangi keadaan jalan raya yang padat oleh kendaraan umum.


Tapi aku merasakan jika Arshaka terus melirik kearah ku. Seakan ia ingin membuka obrolan namun ia ragu.


Sampailah kami di sebuah Hotel terkenal di Jakarta. Kami berjalan bersisian dan saling bergandengan tangan. Sebenarnya aku risih Arshaka terus menggandeng tangan ku, apalagi saat Arshaka merangkul pinggang ku.


Aku hanya tidak ingin hatiku semakin terbuai dengan sikapnya.


Tibalah kami di sebuah Ballroom luas nan mewah. Bisa ku lihat para tamu yang hadir adalah orang kalangan atas, pakaian yang mereka kenakan bukan sembarangan, terlihat berkelas dan sudah ku pastikan mereka adalah orang-orang penting di Ibukota ini.


Bukan hanya seorang pengusaha, pejabat dan para anggota pemerintah juga hadir di acara ini. Aku penasaran, bagaimana dan seperti apa sosok Kakek Arshaka itu?


"itu Kakek ku." ucap Arshaka sembari menunjuk kearah salah satu kerumunan didekat podium aula. Aku tercengang melihat sosok yang dipanggil Kakek oleh Arshaka.


Kakek Arshaka adalah seorang Pengusaha Batu Bara yang terkenal se-Asia Tenggara. Reymond Prabusudibyo.


Mendadak aku insecure.


Arshaka membawa ku untuk bertemu dengan Kakeknya.


"Kakek,"


Panggil Arshaka, kemudian Reymond tersenyum melihat kehadiran kami.


"selamat ulang tahun, Kek." ucap Arshaka lalu langsung memperkenalkan ku dengan Reymond.


"namanya Bianca," Arshaka menyebut nama ku didepan Kakeknya.


Aku mengamit tangan Reymond untuk ku cium sebagai tanda salam ku. Kemudian aku turut mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


"terima kasih." balasnya tulus dengan senyum hangatnya.


"ayo langsung pilih makanan yang kamu suka. Jangan malu-malu," tawarnya hangat padaku, aku hanya mengangguk canggung.


Setelah bertemu dengan Reymond, Arshaka membawa ku ke sebuah meja kosong yang tak jauh dari panggung. Lalu kami memesan makanan melalui waiters dan menikmati alunan lagu yang memenuhi seisi Ballroom.


"Bee, aku pergi sebentar." Arshaka berbisik padaku dan langsung pergi sebelum aku mengiyakan. Aku hanya menatap punggung tegap Arshaka, lalu menghilang ditelan kerumunan orang.


Aku duduk terdiam di kursi ku. Masih menikmati alunan lagu yang dibawakan hingga makanan ku sudah dihidangkan oleh waiters.


Beef Steak dan Chicken Steak dengan Mashed Potato terlihat menggugah selera. Namun aku belum menyentuh makanan ku karena aku menunggu Arshaka tiba.


Beberapa menit aku menunggu, mataku tak henti mengitari Ballroom, berharap Arshaka mulai menampakkan dirinya.


Dari beberapa menit, selang setengah jam, dan sudah hampir 2 jam lamanya aku hanya menunggu Arshaka. Menunggunya seakan aku adalah anak Ayam yang kehilangan Induknya, berharap bahwa aku akan segera ditemukan.


Mendadak aku melow, ingin menangis, aku tidak tahu aku harus melakukan apa disini selain duduk dan menatap makanan ku yang sudah terlihat dingin. Kedua mata ku mulai berkaca-kaca, ingin rasanya ku tumpahkan namun berusaha keras ku tahan.


Lebih baik aku pergi saja dari sini, ketimbang aku disini sendirian seperti orang tersesat.


"Bianca,"


Aku mendongak ketika aku baru bangkit dari kursi ku. Beberapa saat aku tercengang menatap seseorang yang sedang berdiri dihadapan ku saat ini.


"Erick."


**********************************