
...*****Collab with chokky******...
.......
.......
.......
.......
Aku menatap pemandangan sisi jalan kota Bali yang penuh dengan berbagai macam toko yang berjejer di pinggir jalan, terlihat padat karena banyaknya pengunjung mampir ke toko tersebut.
Ada juga orang-orang yang sibuk berlalu lalang menuju ke suatu tempat yang mereka tuju.
Melihat mereka leluasa berjalan kaki disana rasanya aku juga ingin berada di kerumunan itu ketimbang aku duduk melamun didalam mobil dan tidak bisa keluar sebab mobil dikerubungi kendaraan umum akibat macet.
Sudah hampir satu jam lamanya aku duduk didalam mobil tanpa melakukan apapun, beberapa kali musik berputar di radiopun tak mampu menghiburku.
Sedangkan seseorang disampingku duduk anteng sembari sibuk mengetik keyboard laptopnya.
Aku tidak tahu apa yang Arshaka kerjakan saat ini. Tapi aku tahu pekerjaan yang dia lakukan sekarang begitu penting.
Mungkin dia lupa jika adaa aku disampingnya sangking ia begitu sibuk seorang diri.
Tak hanya mengetik, beberapa kali dia juga sibuk memainkan ponselnya, dari menerima telepon hingga tak berhenti membalas pesan masuk. Saat dia menerima telepon, aku menangkap pembicaraannya mengenai progres tambang batu bara yang berada di Badung.
Aku juga menangkap percakapan Arshaka yang membahas laporan masuk mengenai kontrak kerja sama antara perusahaanya dan perusahaan Diamond Burke.
Sangking sibuknya aku memilih untuk diam menikmati rasa bosanku menatap pemandangan jalan raya. Tapi aku sudah tidak tahan lagi, terjebak disini membuatku pusing dan juga aku sudah sangat lapar.
Seandainya aku bisa terbang.
"Kamu lapar Bee?" Pandangan Arshaka mulai teralihkan kearahku. Ternyata dia tahu kalau aku kelaparan.
"Iya," cicitku.
Sekilas Arshaka melihat arlojinya, lalu mendongak menatap padatnya kendaraan yang masih stuck.
"Kayaknya aku nggak bisa antar kamu ke Homestay,"
"Kenapa bisa gitu?" selaku dengan wajah terkejut.
Bukannya dia menjawab pertanyaanku, Arshaka meminta sang sopir untuk mengarahkan laju mobil yang berlawanan dengan arah Homestay-ku.
"Kita mau kemana?" tanyaku ketika mobil mulai berjalan tak sesuai dengan keinginanku. Daerah yang dilewati tampak asing bagiku.
"Tenang aja, aku tidak akan membawamu kabur lagi." jelasnya dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dan hal itu tak akan kubiarkan.
Dengan cepat aku langsung menutup laptopnya.
Dan aku langsung dihadiahi tatapan tajam darinya.
"Kamu mau aku hukum, Bee?" desisnya tak membuatku ciut.
"Jelaskan padaku kamu mau bawa aku kemana Arsha? Ini jauh dari kota dan Homestay-ku. Dan aku nggak kenal dengan daerah ini!" aku memakinya hingga Arshaka tersentak dengan ucapanku.
"Aku mau pulang Arsha!" teriakku lagi.
"Iya ini aku mau bawa kamu pulang." balas Arshaka.
"Jangan bohong! Ini bukan arah jalan ke Homestay-ku."
"Memang bukan,"
Jawaban Arshaka membuat kekesalanku semakin memuncak.
"Kamu--"
"Duduk diam dan tenanglah Bee!"
Mulutku sudah bersiap untuk memakinya lagi namun aku melongo saat mobil memasuki gate.
Aku melihat sebuah rumah pondok asri yang kunilai seperti Vila pribadi. Memasuki gate, aku disuguhkan dengan pemandangan tanaaman hijau yang berjejer rapih hingga mobil berhenti di depan pondok tersebut.
"Ayo keluar!" Arshaka merapihkan laptopnya dan bersiap unyuk keluar dari mobil.
Beberapa saat kemudian setelah aku tersadar dari lamunan kagumku aku segera menyusul Arshaka.
"Kita di Vila ya?"
Arshaka mengangguk singkat.
"Ini Vila siapa?" tanyaku dan kembali memperhatikan area sekelilingku dengan lamat.
Bali memang terkenal dengan bangunan Vila yang asri dan kental dengan kultur adat serta alam.
"Masuklah!"
Langkahku terhenti ketika Arshaka menyuruhku masuk. Pintu Vila sudah dibuka olehnya dan aku mulai melangkah masuk.
Hijau mint menjadi nuansa utama didalam Vilaa ini. Warna tersebut menghiasi seluruh dinding Vila, serta sentuhan warna krim dan merah di beberapa perabotan rumah tangga menambah kesan lembut dan mewah.
"Ini Vila siapa?" aku menoleh dan melihat Arshaka membuang dasinya ke sofa dan ia duduk disana.
"Menurutmu?" Arshaka bertanya balik.
Lalu aku berpikir sejenak.
"Ini Vila kamu?"
Arshaka hanya menyeringai simpul dan merebahkan dirinya ke sofa.
Aku kembali mengamati seisi Apartemen dengan seksama. Kesan Vila ini tak sesuai dengan imaji Arshaka yang aku kenal.
Menurutku Arshaka lebih cocok dengan warna nuansa monokrom.
Melihat ada pintu balkon kaki mulai melangkah kesana. Perlahan aku menggeser pintu tersebut dan aku disuguhkan lagi dengan sebuah kolam renang dan gazebo yang dikelilingi rambatan tanaman.
"Masuk! Diluar dingin,"
Aku membalikan badan saat Arshaka memanggilku, lalu kembali masuk ke dalam Vila dan melihat Arshaka memasuki sebuah ruangan yang kuduga adalah kamar.
"Apa kamu sering datang kesini?" tanyaku ketika aku berada dibelakang Arshaka. Namun Arshaka tidak menanggapi pertanyaanku dan dia memilih untuk kembali merebahkan dirinya ke tempat tidur.
Aku tidak mau mengganggunya sehingga aku keluar dan pergi menuju dapur. Aku terkejut karena area dapur terisi perabotan dapur yang cukup lengkap.
Sepertinya Vila ini sering dikunjungi sang pemilik.
Aku bergerak mencari alat untuk memasak air. Aku menemukaan termos listrik di laci dan segera aku pergunakan. Kemudian aku mencari cangkir dan mulai menyiapkan teh dan gula ke dalam cangkir tersebut.
"Kamu ngapain?"
Aku kembali terkejut melihat Arshaka sudah berdiri dibelakangku dan memelukku.
"Mau seduh teh. Kamu mau kan?"
Arshaka hanya mengangguk dibalik bahuku. Aku kembali melanjutkan aktifitasku meski aku sedikit terganggu dengan pelukan Arshaka yang semakin erat.
"Dingin," keluh Arshaka saat aku menuangkan air panas kedalam cangkir.
"Minum tehnya nih! Habis itu kamu mandi pakai air hangat!" Aku mencoba menarik tangannya untuk melepaskan pelukan.
Tapi yang ada Arshaka membalikan badanku dan mengangkatku hingga aku terduduk diatas meja kitchen set.
"Arshaka apaan sih!"
Aku mencoba mendorongnya supaya aku bisa turun dari sana tapi tak bisa. Tenagaku tidak cukup kuat.
"Arshaka turunkan aku!"
Percuma aku terus mendorongnya, lalu aku langsung menyerah.
Disitulah alarm naluriku mulai memberi tanda padaku disaat aku menangkap manik matanya yang berubah menggelap.
"Boleh aku mencicipimu Bee?"
Seketika tubuhku merinding mendengar bisikan serak Arshaka.
Lalu tubuhku mematung disaat wajah Arshaka menempel kulit leher. Bisa kurasakan hembusan napas yang terasa hangat menerpa kulitku secara langsung, membuatku merasa lemah tak berdaya.
Seketika aku tersentak dan menegang disaat ia mengecup dan menghisap leherku.
"Kamu sangat manis. Aku suka," tuturnya setelah ia menghisap leherku.
Didalam benakku menyuruhku untuk mendorong Arshaka lagi, segera menjauhinyaa karena situasi sudah menandakan dalam bahaya.
Tapi pikiran kotorku mengunci semua saraf tubuhku untuk tetap terdiam diposisiku.
Tak ada sikap penolakan dariku membuat Arshaka menggunakan kesempatan ini.
Arshaka kembali mengecup leherku, lalu ia berpindah mengecup pipiku, dan bibir hangat Arshaka ******* bibirku dengan dalam.
Bodohnya aku hanya diam menikmati semua perlakuan Arshaka padaku, hanya kedua tanganku yang bergerak dan mencengkram kerah kemeja Arshaka.
Oh Tuhan, ciuman Arshaka meredupkan logikaku.
Disela ciuman kami yang tengah memanas, Arshaka menggendongku kembali dan membawaku ke tempat tidur. Perlahan ia merebahkanku dan kami kembali melanjutkan ciuman yang sempat terputus.
Seperti apa yang aku katakan tadi, ciuman Arshaka begitu memabukanku. Hingga aku tak sadar jika kancing pakaianku sudah terlepas satu persatu dan aku menggelinjang lemah ketika Arshaka kembali menghisap leherku.
Kini aku merasakan ciuman Arshaka mulai berpindah ke dadaku yang sudah terbuka bebas.
Hisapan Arshaka membuatku melolong secara tidak sadar, dan seketika aku menyesal karena lolonganku memancingnya untuk melakukan hal yang lebih gila.
Namun hal itu membuatku terbuai.
...*****...