
"kenapa kamu bisa ada disini?"
Aku mematung menatap kehadiran Erick. Bibir ku ikut kelu untuk menjawab pertanyaannya, hanya terdiam memandangi penampilannya malam ini dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Erick begitu gagah dengan satu set jas berwarna hitam membuat ku menelan saliva.
"kamu disini sama siapa? Dari jauh aku lihat kamu duduk sendirian dari tadi,"
"kamu datang kesini sama Arshaka?" tambahnya lagi.
Aku celingak-celinguk canggung sambil menggigit bibir ku. Lalu aku mengangguk pelan sebagai jawaban.
"lalu ada dimana dia?"
Aku gagap menjawab, "a-aku, ti-tidak tahu,"
"tidak tahu," gumamnya padaku dengan dahi berkerut. Matanya bergerak melirik ke kiri dan ke kanan, seakan mencari seseorang namun tak terlihat olehnya.
Pasti terlihat lucu bagi Erick. Bilangnya datang sama Arshaka namun aku hanya terlihat duduk seorang diri disini.
Rasanya miris membayangkan jadi diriku sendiri.
"daripada kamu sendirian, mau ikut ke Balkon sama aku? Tadi aku sempat kesana dan udaranya lagi segar, ku pikir akan lebih nyaman jika kita berdiri santai disana,"
Aku tak mengangguk ataupun menggeleng, tapi aku mengikuti langkah Erick dibelakangnya menuju Balkon. Sampai di Balkon aku langsung disuguhi udara segar disini. Walau udaranya dingin namun berhasil menenangkan pikiran ku.
"ku dengar kamu sudah berpacaran sama Arshaka?" Erick kembali membuka obrolan tanpa menatap ku, pandangannya tertuju menatap langit gelap yang dihiasi ribuan Bintang dan sinar Rembulan diatas sana.
"ti-tidak. Aku sama dia tidak berpacaran." kilah ku berkata gugup.
Aneh, biasanya aku sangat cepat dan tanggap mengucapkan kata tidak jika ada orang yang menanyakan hubungan ku dengan Arshaka.
"benarkah? Bagus dong, berarti aku masih punya peluang kalau begitu,"
"ma-maksudmu?" tanya ku memperhatikan ekspresinya yang terlihat santai dan tersenyum.
"peluang untuk kembali padamu. Kalau kamu masih mau menerima aku,"
Beberapa saat aku terdiam, mencerna perkataan Erick.
"kenapa? Memangnya hubungan kamu sama Jeanne-"
"katakan saja aku sudah mendapatkan karma setelah memutuskan kamu. Hubungan ku dengan Jeanne tidak berjalan baik." sela nya terdengar senduh.
"kalian..putus?" tanya ku lagi dengan ekspresi tak percaya.
Erick kembali tersenyum dan memandangi ku lekat.
"kalau jika diijinkan, akankah aku bisa kembali padamu Bianca?
Perlahan Erick berjalan mendekati ku, mengikis jarak diantara kami.
Namun kaki ku refleks melangkah mundur menjauhinya.
Erick menyadari atas sikap ku.
"apa aku buat kamu nggak nyaman? Maaf Bianca. Aku cuma ingin..menyampaikan apa yang aku rasakan saja,"
"aku ingin memiliki mu lagi," ucapnya tanpa henti menatap ku.
Detak jantung ku berdebar kencang, namun bukan karena aku bahagia mendengar Erick ingin kembali padaku.
Melainkan apa yang dikatakan Erick terasa datar dan hambar bagiku.
Yang ada kegelisahan ku mulai menyeruak, membayangkan bagaimana jadinya jika Arshaka menangkap ku sedang bersama Erick disini.
Kenapa aku malah memikirkan itu?
"benar dugaan ku. Rupanya kamu mulai menyukai Arshaka?"
Erick terkekeh dan aku melotot tak suka.
"aku tidak suka sama Arshaka,"
"nggak usah menyangkal Bi. Jika kamu terus melakukan itu, yang ada kamu bakal beneran suka sama dia." jelasnya lagi. Erick menghela nafasnya lalu memasukan kedua tangan dibalik saku celananya.
"tapi aku sarankan agar kamu tidak menyukainya semakin dalam. Dia bukan laki-laki yang seperti kamu pikirkan,"
Aku berpikir sejenak, kembali mencerna setiap ucapan Erick soal Arshaka.
Peringatan Erick bisa dibilang sama dengan Leo. Tapi aku bingung, sejauh mana Erick bisa mengenal Arshaka.
Terakhir aku memang sempat melihat mereka berhadapan dan telihat mengobrol saat aku berada di arena balap liar bersama Karin tempo lalu.
Memangnya ada apa dengan Arshaka? Peringatan mereka padaku malah memancing ku untuk lebih mengetahui dan mengenal tentang Arshaka.
"aku suka sama Arshaka ataupun tidak itu bukan urusan mu lagi Erick," balas ku akhirnya.
"dan membahas soal hubungan kita, itu sudah lama berakhir. Dan perasaan ku padamu juga sudah terkikis oleh waktu. So, aku harap kamu bisa menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari ku dan juga Jeanne."
Aku berlalu meninggalkan Erick yang terdiam disana. Kembali ke tempat ku dan menemukan Arshaka.
Wajahnya terlihat panik dan nafasnya naik turun. Sepertinya Arshaka sehabis berlari.
"kamu dari mana saja? Aku mencari mu,"
"aku hanya bosan menunggu mu disini selama 2 jam lebih," balas ku datar tanpa menatapnya. Aku memeriksa ponsel ku didalam clutch, melihat waktu sudah pukul 11 malam.
"maaf Bee, aku-"
"aku pamit pulang,"
Aku membalikkan badan dan ingin melangkah pergi, namun Arshaka berhasil menarik tangan ku.
"aku anterin kamu pulang,"
"nggak usah." elak ku, "aku bisa pulang sendiri,"
"nggak Bee, aku anterin kamu."
"tolong Arshaka. Aku hanya mau pulang sendirian,"
Aku langsung melenggang pergi, membiarkan Arshaka yang masih bergeming kaku, seakan sedang menahan amarah padaku.
Tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin pergi dari sini dan mencari sosok Reymond untuk berpamitan terlebih dahulu.
Setelah berhasil pamit aku segera memesan taksi online menuju rumah ku.
Memasuki rumah, aku langsung menuju kamar dan segera membersihkan diri. Untung saja Ayah dan Leo sudah tidur duluan, jika tidak aku akan dilayangkan pertanyaan macam-macam ketika mereka melihat ku memakai gaun saat ini.
Langsung bergegas mandi dan berganti pakaian. Saat aku ingin merebahkan tubuh ku diatas tempat tidur, ponsel ku terus berdering oleh panggilan telepon.
Sekilas aku melirik layar ponsel, melihat nama Arshaka disana. Namun aku tak berminat mengangkat teleponnya, aku hanya ingin tidur dan terlelap kedalam mimpi yang indah.
**********************************
Terdengar bel lonceng pintu berbunyi dan segera aku menyapa pelanggan yang barus aja masuk dan menghampiri ku di meja kasir.
Seperti biasa aku menanyakan pesanannya dan menunggu seorang gadis remaja yang bingung memilih pesanan.
"menu best seller nya apa aja kak?" tanya padaku.
"ada es kopi dengan gula aren, es kopi susu, juga es susu pakai kopi jelly."
Tampak gadis itu berpikir lagi.
"kalau es kopi dengan Rum itu apa kak?" tanya nya lagi sambil menunjuk salah satu menu dilayar.
"es kopi pakai syrup Rum kak. Aromanya wangi dan rasanya manis,"
"kalau gitu aku pesan itu saja," ujarnya.
"baik, atas nama siapa kak?"
"Milly," balasnya.
"baik kak Milly, ditunggu pesanannya ya. Diambil dibagian pick up disebelah sana, terima kasih."
Segera aku memberikan cup kepada Tio dan langsung ia buatkan pesanan pelanggan.
"gadis itu cantik ya," bisik Tio padaku sambil melirik kearah pelanggan yang aku ingat bernama Milly. Gadis itu duduk sendirian di sudut kafe sembari menikmati minumannya dan memandangi pemandangan luar dibalik jendela kaca.
Aku melambaikan tangan ku didepan wajah Tio karena kegiatan memandangi gadis itu terlihat mencolok.
"hati-hati kesambet,"
"apaan sih kak? Siang-siang nggak ada hantu kali, ganggu aja." sungutnya kesal.
"aku nggak bilang siang-siang ada hantu," kilah ku lalu mengendikkan bahu.
Terdengar bel lonceng berbunyi lagi. Spontan aku melihat kearah pintu dan aku langsung membuang nafas kasar.
"Bee, aku bawain kamu makan siang."
Arshaka datang dengan ekspresi senang sembari menenteng plastik besar serta setangkai Bunga Mawar putih, lalu ia letakkan diatas etalase penyimpanan kue disamping meja kasir.
"terima kasih, harusnya kamu nggak perlu datang membawakan makanan dan Bunga."
Aku pikir memasang wajah sedatar mungkin Arshaka akan mengerti bahwa aku sedang malas berurusan dengannya.
Tapi sebaliknya, ia malah tersenyum hangat padaku.
"aku nggak mau kamu hanya memakan roti panggang lagi. Aku yakin kalau tadi pagi kamu belum sempat sarapan, semalam kamu juga belum makan saat di pesta. Aku nggak mau kamu jatuh sakit,"
Aku tak menanggapi perkataannya, namun aku tetap mengambil kantong plastik darinya dan aku letakkan di pantry.
Lalu kembali melayani pelanggan.
"aku akan menunggu mu disana,"
Aku memperhatikan Arshaka berjalan dan duduk di meja bersama seorang gadis yang sedari tadi duduk sendirian.
Gadis yang bernama Milly.
Selama melayani pesanan pelanggan mata ku terus melirik kearah Arshaka yang sedang mengobrol dengan gadis cantik itu. Sepertinya mereka saling mengenal.
"hati-hati kesambet kak,"
Aku mengalihkan perhatian ku pada Tio yang mesem-mesem padaku.
"kesambet?"
"iya, tapi bukan kesambet hantu. Tapi kesambet sama cintanya Arshaka."
Begitu senang Tio membalas dan mengejek ku hingga terkekeh geli, aku memukul lengannya karena kesal.
"aku nggak suka sama dia,"
"jangan menyangkal gitu. Kalau suka mah bilang suka aja kak. Nggak bilang juga nggak apa-apa sih, kelihatan kok kalau kakak suka sama Arshaka."
"jangan kayak dukun deh, sok tahu!" elak ku dan kembali berdiri di meja kasir.
"jangan ngelak lagi kak. Kalau Arshaka pergi pas kakak udah sadar kalau punya perasaan sama dia, nanti nyesel loh!"
Tiba-tiba ada perasaan tidak terima setelah Tio mengatakan kalau Arshaka akan pergi. Membayangkan itu debaran ku berdebar keras, merasa tak nyaman dan aku terganggu.
Aku kembali memperhatikan Arshaka yang masih asik mengobrol dengan Milly. Melihat mereka terhanyut akan obrolan mereka sendiri, aku mulai merasa takut. Melihat mereka begitu akrab dada ku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang tak kasat mata meremas dada ku hingga aku sulit bernafas.
Iya, selama ini aku bersikeras untuk menyangkal perasaan ini. Karena bagiku perasaan ini hanya mulai merasa nyaman akan kehadiran Arshaka.
Tapi nyatanya aku salah dan kata orang-orang memang benar. Semakin aku sangkal dengan perasaan yang tak ku inginkan diawal justru kian tumbuh dan kian berbentuk pada Arshaka.
Apakah aku harus menerima perasaan ini bahwa aku benar menyukai Arshaka?
*********************************