
Setelah mengantarkan Cia dan berkeliling seraya berbincang, Zara kembali keruang pemimpinan Pesantren, ternyata didalam ruangan terdapat beberapa Dewan Pesantren yang tengah rapat.
"Eh? Yaampun, maaf, silakan lanjut aku keluar aja".
" Ra".panggil Arshaka.
"Iya? '.
"Masuk".
" Engga, Mas, aku gak mau ganggu, aku kelu--".
Arshaka bangkit dan menuju Zara membawanya masuk ke dalam dan kembali duduk sedangkan Zara hanya menurut duduk disebelah Arshaka.
"Kalau suamimu minta disini, ya disini aja, Ra".
Membuat Zara tersenyum kikuk pada mereka.
" Ning Zara selamat ya atas kehamilannya ".
"Terimakasih, ustadzah, panggilannya Zara aja seperti biasanya".
" Giman ya Ning, kami menghormati Gus Arsha, jadi sekarang kami memanggilnya Ning Zara dengan sebutan Ning ".
Zara melirik Arshaka yang tengah menatapnya dengan senyuman.
Mereka melanjutkan rapat, Zara hanya menyimak Dewan Pesantren setelah satu jam Dewan Pesantren keluar dari ruangan Arshaka menyisakan Arshaka dan Zara.
"Tadi kemana aja, sama Cia? ".
" Ehmm.. ke koperasi terus keliling Pesantren sambil berbincang-bincang, biasalah perempuan".
"Kamu jangan kecapean, sayang".
" Ah.. cuma keliling aja, Mas, kalau dibandingkan semalem capekan semalem, kamu lebih bikin aku capek ".
" Tapi kamu suka kan? Sama-sama suka gak boleh ngambek, Ra".
"Janji ya seminggu sekali? ".
" Gak janji".
"Ihhh.. nyebelin".
" Iya-iya kamu jangan terlalu cantik dan wangi kalau malam, kamu taukan imanku gak sekuat Abba".
"Diam-diam menghanyutkan, dulu kamu sok cool banget ternyata sekarang keliatan aslinya, Hm ".
" Menghanyutnya kan sama kamu istri sendiri, jadi gapapa lah".
Zara mengangguk saja, memejamkan mata ketika sentuhan Arshaka mengusap wajahnya.
"Ya rabb, Zara, aku berusaha nahan diri untuk tidak mencium kamu, tapi kenapa susah banget".
Zara terkekeh kembali membuka matanya, Arshaka yang terlihat menatap mata Arshaka yang terlihat sangat teguh, tanpa disangka Zara mencium bibir Arshaka secepat kilat.
" Hey? ".
" Katanya gak tahan untuk gak cium aku? Yaudah itu aku kasih cium".
"Cium apa'an seperti ini? itu gak bisa dihitung sebagai cium, aku mau beneran ayo ulang".
" Tukan kamu dikasih jantung maunya hati? ".
Arshaka terkekeh mencium Zara desa lembut Zara hanya bisa pasrah mengikuti kemauannya.
Hingga Arshaka hendak membuka khimar Zara suara ketukkan pintu menyadarkan mereka.
" Mas itu siapa? ".
Arshaka menggeleng" kamu... ka. u sembunyi dulu".ucap Arshaka saat melihat penampilan Zara yang sudah kacau balau.
"Sembunyi dimana?
Zara segera bersembunyi ketika mendengar suara pintu ruangan Arshaka terbuka, ia benar-benar bersembunyi di bawah kolong meja yang berhadapan dengan kaki Arshaka.
" Ustaz Faruk? ".
" Maaf Gus ada dokumen saya ketinggalan ".
" Oh, silahkan ambil".
Ustaz faruk mengambilnya namun dokumen lainnya ikut terjatuh membuat Arshaka seketika panik"Ustaz ".panggil Arshaka, Ustaz faruk kembali berdiri yang hendak berjongkok.
"Hmm.saya lupa kalau pak Dodi malam ini menemani Mba Sari ke pasar belanja bahan-bahan masakan, besok mulai masak-masak untuk acara tasyakuran lusa".
" Biar sya sampaikan pada Pak Dodi, Gus".
Arshaka mengangguk "terimakasih Ustaz, biar saya saja yang mengambil dokumen itu".
" Yasudah kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum, Gus".
"Walaikumsal".
Namun Ustaz Faruk mengedarkan pandangan nya ke penjuru arah namun enggan menemukan Zara, Lau keman Zara? tadi dia disini? Apakah sudah keluar ruangan? batin Ustaz Faruk.
Setelah Ustaz faruk sudah benar-benar keluar, Arshaka segera menguncinya" sayang udah aman".
Kepala Zara muncul, tetapi terpentok ujung meja.
"Aws".ringis Zara.
"Yaampun sayang hati-hati".
" Kamu sih! ".
Arshaka menghela napas " iya deh, aku minta maaf ".
Karena hari ini Arshaka tengah sibuk menjadi Zara tak enak untuk menggangunya Zara membantu warga Pesantren.
" Assalamu'alaikum ".
" Walaikumsalam ".
" Yaampun Ning, kenapa kesini? ".
" Kenapa? ".
" Disini banyak asep Ning, gak baik buat bumil".
Zara tersenyum dirinya masih diambang pintu masuk"saya mau ikutan bantu masak, boleh ya? ".
"Tapi Ning".
" Ustadzah gas mana yang ingin dipasang? ".tanya seseorang yang tiba-tiba datang.
" Yang 2 ini Ustaz faruk".
"Saya ikut bantu masak ya".ucap Zara hendak masuk ke dalam dapur.
" Ning hati-hati, licin".
Benar saja Zara hampir terpleset dan Ustaz faruk yang berada disamping nya dengan reflek menahan bahu kedua Zara sehingga Zara tak jadi jatuh.
"Astaghfirullah, Ning".
Ustaz Faruk segera membantu nya kembali berdiri setelah itu menjauhkan tangannya dari Zara.
" Maaf, Ning".
"Tidak apa-apa terimakasih".
Ustadz Faruk berlalu menuju depan kompor untuk menggantikan tabung gas yang sudah habis, sedangkan Zara masih diam ditempat sampai Ustazah Mila mendekatinya membantu Zara untuk masuk ke dapur.