
Arshaka
Bianca.
Banyak yang bilang jika perempuan berambut panjang itu berbeda dengan perempuan lain.
Cuek dan terkesan dingin. Sedikit tomboy dan Introvert. Terlihat berantakan dan kurang aware dalam berpenampilan. Tapi ia akan terlihat berbeda ketika penampilannya dirombak.
Cantik dan anggun.
Itulah Bianca.
Pada dasarnya Bianca tetaplah seorang perempuan biasa. Wajahnya memang terkesan judes dan jutek, namun hatinya mudah luluh dan juga rapuh.
Sama halnya dengan perempuan lain yang suka ku permainkan.
Hanya dengan kalimat manis, pujian, sedikit gombalan dan sentuhan hangat mulai meruntuhkan lapisan dinding egonya.
Hanya saja Bianca masih berusaha keras mengendalikan diri agar tidak terlihat terpancing. Tapi percuma saja, dengan cara apapun akan aku rubuhkan pertahanan Bianca.
Aku terduduk sendirian di sofa panjang, membayangkan wajah Bianca yang memerah padam dan menjalar di kedua telinganya saat terakhir kali aku menatapnya di kamar ku. Bagaikan kepiting rebus yang siap untuk disantap.
Lalu aku tersenyum. Perlahan dan sebentar lagi, perempuan tsundere itu akan aku dapatkan.
Terjerat kesepakatan brengsek bersama teman-teman ku tempo lalu membuat aku harus menyita semua waktu dan perhatian ku hanya untuk memperlakukan Bianca layaknya seorang permaisuri kerajaan.
Mengirimnya Bunga setiap hari, antar jemput, harus selalu mengabarinya melalui telepon ataupun kirim pesan, dan terpaksa juga aku harus mengumbar kalimat gombalan yang tak pernah aku lakukan seumur hidup dengan perempuan lain.
Ku lakukan hanya untuk perempuan itu.
Seorang Bianca.
Cih! Menggelikan.
Membayangkan aku telah melakukan segala hal pada Bianca, rasanya aku kayak orang kesakitan. Seakan aku adalah laki-laki yang haus akan cinta.
Cinta? Tidak, aku tidak akan seperti itu. Kata yang memiliki makna khusus dan sakral tak membuat ku terpukau atau mendamba sekalipun, melainkan membuat tubuh ku menggigil.
Namun lucunya, hanya dengan kata dan rangkaian kalimat cinta aku dapat menjerat mereka yang berharap lebih padaku.
Bagaikan sebuah kata mantra ajaib, cukup dengan mengatakan "I love you" saja aku pun mudah membuat mereka tunduk padaku.
Dan hal itu ku lakukan juga terhadap Bianca, ibarat upik abu yang berubah layaknya permaisuri.
Saat setelah Bianca benar jatuh hati padaku, saat itu juga akan aku jatuhkan kedalam dasar kepedihan yang kelam.
Rasanya aku sudah tak sabar.
Membayangkan perempuan itu akan menangis dan memohon padaku agar aku kembali padanya.
Sudah pasti acara drama yang ku lakoni dengan apik akan menjadi tontonan segar dan menarik.
"jangan kebanyakan bengong! Nanti kesambet," lamunan ku terganggu berkat Romeo yang datang menyapa ku dan duduk disamping ku, sembari ia memberikan minuman kaleng bir padaku.
Aku tak menanggapi omongan Romeo, aku lebih memilih untuk membuka minuman kaleng dan langsung meneguk minuman itu hingga setengah. Didalam kepala ku tak henti memikirkan rencana untuk menaklukan ego Bianca.
Sudah berjalan lebih dari 1 Bulan, pendekatan ku dengan Bianca terbilang tersendat. Bahkan menurut ku tidak terlihat berkembang sama sekali.
Kemudian beberapa teman kumpul ku ikut menimbrung mendekati posisi duduk ku, menanyakan diri ku mengenai kedekatan ku dengan Bianca.
"gimana hubungan lo sama Bianca? Belum jadian juga?" tanya salah satu teman ku bernama Ronald sambil merangkul perempuan disampingnya.
Aku hanya menggeleng singkat dan kembali meneguk minuman ku.
"roman-romannya gue cium bau hangus kekalahan nih," sahut salah satu teman kumpul ku yang lain. Lalu mereka tertawa memandangi wajah ku yang berubah masam.
Untuk pertama kalinya permainan yang aku jalani tak semulus biasanya. Aku menyanggupi permainan yang ditawarkan oleh teman kumpul ku dimana aku harus menjadikan Bianca sebagai pacarku. Jika aku berhasil, maka aku akan dihadiahi berupa uang tunai oleh mereka.
Setiap permainan yang mereka berikan padaku, tentunya aku akan selalu berhasil dengan mudah. Bukan karena aku gila dengan hadiah yang mereka berikan, namun harga diri ku dan nama baik ku dipertaruhkan disini.
Uang sepuluh juta tidak terlalu berarti untuk ku.
"kemarin Bianca ada jenguk lo di rumah kan? Berarti tuh cewek udah mulai ada rasa dong sama lo," tambah Romeo setelah menyesap minumannya.
Lalu aku tersenyum hambar, "benar. Sudah semakin terlihat kalau dia mulai menyukai gue,"
"kenapa nggak langsung tembak aja kayak biasanya? Sudah pasti Bianca bakal ngejar lo Ar," sahut salah satu teman kumpul ku yang lain.
"gimana mau ditembak, Arshaka nggak demen papan triplek kayak Bianca,"
Ucapan Ronald memancing kekehan teman teman ku, tapi tak membuat ku ikut terkekeh.
Justru aku geli mendengar ucapannya.
Tembak yang mereka maksud adalah meniduri Bianca. Bukan tembak dalam arti mengatakan kata cinta.
Itu adalah cara cepat yang licik namun nikmat bagi ku, jika perempuan yang ku dekati sok-sok'an jaim tapi pengen juga.
Terkecuali Bianca, aku sendiri tidak berminat untuk menidurinya. Memikirkannya saja tidak terlintas didalam kepala ku.
Dekat sama Bianca malah nafsu sama perempuan lain.
Namun aku sempat terlena setelah aku mencium pipi Bianca saat ia menjenguk ku kemarin. Wangi tubuhnya dan bibir merah ranum Bianca memancing ku untuk ******* bibirnya.
Bisa ku bayangkan rasa bibir Bianca yang lembut dan kenyal ketika ku kulum dengan bibir ku. Dan aku yakin rasanya akan manis jika aku menyesap bibirnya dengan dalam.
Sial, kenapa tiba-tiba aku ingin mencium Bianca lagi, yang sama sekali tak berminat ku sentuh?
"jadi gimana dengan taruhannya? Mau disudahi saja?" Ronald memecahkan lamunan ku sambil meletakkan kaleng minuman diatas meja. Sebelum aku membuka suara, seseorang lebih dulu memotong pembicaraan kami.
"kalau taruhannya berakhir, biar gue yang maju buat deketin Bianca."
Semua orang menoleh termasuk aku, mendapati sosok Erick yang baru tiba di markas kami. Lalu kehadirannya disambut oleh beberapa teman ku.
Wajah maskulin yang disukai para perempuan di kampusnya terlihat kaku dengan tatapannya yang mendelik pada ku seakan ingin menantang ku.
Erick hanya mengendikkan bahu tak acuh.
"gue hanya mau balikan sama Bianca,"
Semua orang di markas bersiul menggoda dan bersorak mendengar keinginan Erick.
"mending lo deketin perempuan lain saja. Biar Bianca sama gue," tambah Erick yang membuat aku berdecih tak suka.
"gue belum kalah ya," balas ku singkat.
"disini gue nggak bahas soal taruhan lo. Disini gue ingin lo lepasin Bianca,"
"gue bilang gue belum kalah atau nyerah sekalipun. Sebelum Bianca jadi milik gue, gue bakalan tetap deketin perempuan itu." ucap ku yang mulai bernada tinggi.
"lebih baik lo pergi dan menghilang aja dari Bianca. Toh lo juga nggak punya perasaan apapun sama dia,"
"jadi lo nggak perlu buang-buang waktu lagi,"
Aku menatap Erick nyalang, merasa harga diri ku diinjak-injak olehnya.
Bagiku, kalah atau menyerah bukanlah diriku sebagai Arshaka Danu Prabusudibyo.
Siapapun harus takluk padaku.
Jika tidak, akan aku buat dia benar-benar takluk dan tunduk padaku.
Termasuk Bianca.
Tanpa terkecuali.
"gimana kalau lo ikut dalam taruhan ini,"
Aku mulai bangkit dan berjalan untuk berhadapan dengan Erick. Mengajaknya untuk ikut dalam permainan ku.
"siapa yang bisa mendapatkan Bianca dialah pemenangnya,"
Baik aku dan Erick terdiam kaku, namun teman teman ku sibuk beriuh ria mendukung ajakan ku pada Erick.
Mengajaknya untuk memperebutkan hati Bianca sepertinya akan terlihat seru.
Merasa tertantang dan permainan ini tidak akan terasa garing seperti biasanya.
"kalau gitu kita tambahin uang nominal buat mereka,"
Ronald, orang pertama yang mengeluarkan uang gepokan seratus ribu diatas meja. Disusul beberapa teman lain memberikan beberapa uang lembaran seratus dan lima puluh ribu diatas meja.
"sebelum satu bulan harus bisa berpacaran dengan Bianca," tambah ku lagi sambil menjulurkan satu tangan ku pada Erick.
Sejenak pria itu masih terdiam melihat tangan ku yang masih menggantung di udara.
"gimana, deal?"
Tak lama Erick menaikkan pandangannya, menatap ku lalu ia membalas jabat tangan ku dengan erat.
"deal."
**********************************
Bianca
Tiada hari tanpa tugas, praktek dan bekerja.
Tenaga dan waktu ku sungguh terkuras, hingga Karin iba melihatku dengan tatapan prihatin karena aku mulai terlihat seperti Mummy.
Kurus dan tak terawat.
Namun aku tidak memikirkan hal itu. Bisa menyelesaikan semua tugas kampus ku dan masih bisa bekerja di Kafe dengan baik itu sudah dikatakan cukup.
Kembali dengan diriku yang tengah sibuk membawa tumpukan buku yang barusan ku pinjam di Perpustakaan. Ditambah modul tebal yang telah aku cetak di Warnet sebelum ke Perpustakaan.
Sekuat tenaga aku membawa buku berat tersebut menuju parkiran mobil. Syukurnya aku membawa mobil Ayah hari ini, sebab Ayah sering mengeluh akan macetnya Ibukota yang semakin hari semakin tak terkontrol.
Hingga akhirnya Ayah membeli motor matic baru untuk ia pergi bekerja.
Aku membuka pintu mobil dan meletakkan semua barang bawaan ku di kursi belakang, setelah itu aku beralih ke kursi depan dan mulai menyetir mobil.
Tujuan ku sebelum pulang ke rumah adalah mengunjungi Kafe terlebih dahulu. Berencana untuk memberikan titipan untuk Tio yang sempat ia minta tolong padaku kemarin.
Sebenarnya Tio merasa tidak enak hati padaku, mengingat hari ini aku mendapatkan jatah libur dan aku harus ke Kafe hanya untuk mengantarkan sepatu Pantopel Leo yang akan dipakai Tio untuk ia pakai di sebuah acara.
Saat aku keluar dari mobil dan berjalan memasuki Kafe, aku menampaki mobil Arshaka terparkir tak jauh dari posisi parkir mobil ku.
Aku teringat akan jadwal Arshaka hari ini, sekarang pukul 2 siang, dimana harusnya Arshaka masih berada di sekolah untuk mengisi kelas tambahan karena sebentar lagi ia akan menghadapi Ujian Nasional.
Aku tahu karena Leo pun satu kelas dengan Arshaka.
Aku kembali berjalan sambil berpikir praduga kenapa Arshaka bisa berada di Kafe, apa mungkin ia bolos?
Sebelum aku berhasil mendorong pintu, di kejauhan aku melihat Arshaka duduk di salah satu kursi pengunjung membelakangi pintu masuk.
Terlihat ia duduk dan mengobrol berduaan bersama Jeanne.
Dari kejauhan aku bisa lihat kalau Jeanne begitu intens menatap Arshaka disana. Gerak geriknya terlihat gemulai seakan sedang menggoda Arshaka.
Mendadak kedua mata ku panas melihat Jeanne yang mulai menyentuh tangan Arshaka, ditambah gerakan menggigit bibirnya yang membuat ku merinding geli.
Terlalu lama aku terdiam berdiri didepan pintu, Tio memanggil ku dan melangkah menghampiri ku.
Hingga Arshaka membalikkan badan dan melihat ku tengah berdiri sambil menatapnya dengan tatapan gamang.
***********************************