
Hari yang paling begitu melelahkan disaat aku mau bersiap untuk pulang ke rumah, melihat semburat senja menghiasi langit dan waktu menunjukkan pukul lima sore, namun seorang Staf Keuangan yang biasa ku panggil Mbak Fira mendatangi ku dan memberikan laporan pengeluaran perjalanan dinas yang dilakukan oleh Direktur Pemasaran yang telah aku buat sebelumnya untuk direvisi sedikit. Dan aku harus menyelesaikan laporan tersebut dan memberikannya lagi hari ini juga.
Mau tidak mau, aku menghela nafas pasrah dan segera merevisi laporan yang ia minta.
Bekerja sebagai Personal Assistant (PA) seorang Direktur Pemasaran di perusahan asing terkemuka di Jakarta bernama Diamond Burke Corp adalah hal yang tak pernah ku duga seumur hidup ku. Apalagi bisa bertahan selama dua tahun lebih.
Sebelumnya aku bekerja sebagai Staf Admin biasa di salah satu anak perusahaan terkemuka dibidang pertambangan. Buruknya kinerja Menejemen saat itu membuat perusahan mengalami colapse hingga perusahaan mengumumkan gulung tikar.
Beruntungnya aku memiliki networking yang cukup luas, sehingga aku dilirik dan ditarik oleh rekan bisnis ku untuk bekerja di Diamond Burke Corp. Awal mula aku melamar dan bekerja di posisi Staf Personalia selama satu tahun, dinilai kinerja ku berkembang baik dan pekerjaan ku tertata rapih aku pindah posisi sebagai Personal Assistant.
Aku bekerja dibawah pimpinan bernama Dwimuri Laksana, seorang Direktur Pemasaran dan beliaulah yang menarik ku untuk bekerja di perusahaan ini.
Seminar yang diselenggarakan di daerah Pluit adalah awal pertemuan kami, aku yang datang ke sana sebagai Visitor diperkenalkan oleh rekan kerja ditempat kerja ku dulu dengan Muri. Saat itu ia datang sebagai tamu VIP dalam seminar tersebut.
Terkenal berkompeten dalam bekerja dan berdedikasi tinggi, membuat nama dan posisinya melambung tinggi diumurnya yang terbilang masih muda --tiga puluh tahun.
Tak hanya itu saja, memiliki wajah rupawan dan selalu menjaga penampilannya terlihat bugar merupakan nilai tambah.
Inilah beban ku sebagai PA-nya, bukan beban dalam tekanan pekerjaan saja, digunjing dan dilirik sinis oleh beberapa Karyawan wanita di Kantor menjadi konsumsi ku sehari-hari. Apalagi doi masih berstatus lajang.
Meski demikian, aku bersyukur bisa bekerja disini. Wawasan ku menjadi luas dibidang pemberdayaan sumber daya Bumi berupa pertambangan Minyak.
Kini perusahaan mulai berencana untuk merambah ke Batu Bara.
Perusahaan yang baru saja berdiri selama sepuluh tahun ini mulai sibuk mencari relasi dan donatur baru kepada perusahaan maju yang bergerak dibidang Batu Bara khusus.
Bolak-balik Muri selalu disibukkan dengan perjalanan dinas antar Pulau; dari Denpasar, Sulawesi, lalu Kalimantan hingga ke Papua. Syukurlah usahanya tidak mengkhianati hasil.
Muri berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan sebuah perusahaan yang terbilang baru merambah Batu Bara --A.P. Coal Corp. Meski demikian perusahaan tersebut terkenal sukses selama sepuluh tahun ini. Hampir sama dengan usia Diamond Burke.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi Muri karena berhasil mendapatkan projek baru dengan A.P. Coal Corp, perusahaan yang berpusat di daerah Bali.
Sehingga Muri, aku dan staf pendukung lain harus bertolak ke Bali demi mempersiapkan projek tersebut. Kemungkinan aku akan berada disana selama satu Bulan, bahkan bisa lebih. Tergantung situasi dan kondisi.
Setelah aku menyelesaikan laporan ku dan telah memberikannya pada Mbak Fira, aku bergegas pulang ke rumah dan mulai menyicil mengemas barang-barang ku. Mengingat aku akan berangkat seminggu lagi.
Masih lama memang. Tapi setidaknya aku tidak akan kerepotan saat menjelang hari keberangkatan.
Jauh-jauh hari aku juga sudah memberitahukan hal ini pada Ayah. Sebenarnya aku masih berat meninggalkannya seorang diri di Rumah, dimana beliau sudah pensiun dan hanya disibukkan dengan kegiatan ringan di Rumah. Sedangkan Leo sedang menetap di Bandung untuk menempuh pendidikan Jurusan Teknik Sipil di ITB sembari ia bekerja di sebuah perusahaan terkemuka disana.
Setelah selesai mengepakkan pakaian ku, aku segera menuju tempat tidur dan mulai memejamkan mata hingga terlelap oleh mimpi.
*****
"Jadi menurut kamu mending aku sama Davin atau Yanuar?" tanya Karin sambil mengaduk-aduk es krim yang sudah setengah meleleh didalam cup.
Aku diam menimbang pertanyaan Karin sembari membayangkan ia lagi bersanding dengan dua pria yang sedang dekat dengannya.
Aku dan Karin sengaja bertemu untuk makan siang bersama di sebuah Restoran cepat saji dibilangan Mall di Bekasi. Selain membicarakan aku yang akan ke Bali untuk bekerja, kini gantian Karin yang tengah membicarakan status hubungannya yang menggantung.
Membicarakan dua sosok pria yang Karin sebutkan --Davin dan Yanuar adalah rekan kerja di tempat perusahaan Karin bekerja dibidang Asuransi dan terkemuka di Jakarta.
Sudah cukup lama Karin tengah dekat dengan dua pria itu. Namun sampai saat ini belum ada satu pun dari mereka mengajak Karin ke hubungan yang lebih serius. Dan anehnya Karin masih nyaman menjalani hubungan tersebut.
Padahal Karin pernah mengatakan bahwa ia kapok menjalani hubungan nggak jelas setelah ia pernah dipermainkan oleh Romeo.
Membicarakan tentang Romeo, aku jadi teringat akan momen di masa lalu.
Teringat akan peristiwa yang begitu menyesakkan dada itu, kurang lebih empat tahun yang lalu, setelah malam itu esoknya aku menemui Samuel di Kafe dan mengembalikan semua atribut kerja ku padanya. Juga memberikan surat pengunduran diri sebagai formalitas. Samuel menerima itu dengan ekspresi tidak enak hati. Sempat juga ia melontarkan maaf padaku, aku hanya mengangguk menerima maafnya. Namun setelah itu baik dia ataupun aku hanya dekat sebatas teman satu jurusan, juga aku sengaja menjaga jarak dengannya.
Perihal Karin dan Romeo. Mengetahui laki-laki itu hanya mempermainkannya, tanpa berpikir dua kali Karin langsung menjauhinya. Sedangkan Romeo hanya bersikap biasa saja seolah tak ada yang terjadi antara mereka berdua.
Tanpa beban sedikit pun, saat Romeo terlihat bergonta-ganti mendekati perempuan lain.
Untungnya Karin tak terlalu lama bersedih. Hanya beberapa hari saja kemudian ia sudah merasa biasa saja.
Baguslah. Untuk apa juga Karin berlarut sedih dan bertahan dengan laki-laki laknat kayak gitu.
Lalu satu orang lagi --Arshaka. Sejak malam itu aku sudah tidak lagi menampakki sosoknya. Dia tidak mengejar ataupun datang menemui ku untuk memberikan penjelasan, meski aku tak ingin mendengar penjelasannya.
Menghilangnya dia cukup menyita perhatian Ayah dan Leo. Ayah pernah menanyakan kenapa Arshaka tidak lagi berkunjung ke Rumah, dan Leo menanyakan kelanjutan hubungan ku.
Terakhir Leo mengatakan setelah ujian ia tak lagi menampakki sosok Arshaka di Sekolah. Hingga hari dimana ia juga tak muncul saat diminta melakukan cap tiga jari dan melakukan foto tahunan.
Aku berkata pada mereka bahwa hubungan ku dengan Arshaka sudah berakhir.
Namun aku tidak menceritakan kejadian malam itu pada mereka.
Sebab ku pikir tidak ada yang perlu aku ceritakan lagi. Cukup mereka tahu seperti itu saja.
Perihal ponsel. Kalian pasti bilang sayang banget kan kenapa aku harus membuang ponsel itu? Untung ini khayalan, bukan beneran.
Aku terpaksa berbohong, mengatakan bahwa aku kehilangan ponsel ku saat menaiki Mikrolet. Mengingat dimana ponsel ku terpasang GPS oleh Arshaka, maka dari itu aku membuangnya. Aku tidak ingin keberadaan ku dilacak olehnya lalu ia nekat menemui ku pada saat malam itu.
Tapi nyatanya dia tak menemui ku sama sekali, entah di hari esok dan seterusnya.
Mengingat itu aku tertawa hambar. Sampai sekarang aku masih tidak percaya atas kebenaran yang ku dapati, dimana ia begitu berusaha keras ingin mengambil hati ku dan ingin menjadikan ku sebagai pacarnya hanya untuk mendapatkan lembaran uang.
Setelah aku mengetahui semuanya, niat buruknya, dengan mudahnya ia menghilang bagaikan ditelan Bumi.
Sebegitu rendahnya kah aku dipandangannya sampai ia rela menipu ku demi uang itu?
Tak segan memohon perhatian dan mengemis cinta padaku.
Mudah mengucapkannya namun tak ada seutas makna yang berarti.
Mengingat itu hati ku yang mulai sembuh akan luka mulai terasa perih lagi.
"Bi, kamu melamun lagi." Karin melambai tangan tepat didepan wajah ku sehingga aku buru-buru mengerjap dan tersadar.
"Kamu mikirin apa sih? Kerjaan? Yaelah ini weekend, santai sedikit lah." sungut Karin kesal melihat ku bergerak canggung sembari menyunggingkan senyum tipis.
Aku menghela nafas, mau beribu macam pertanyaan yang bermunculan didalam benak ku mengenainya, sampai kapanpun dia tidak akan pernah menganggap ku.
Baginya, aku hanyalah mainan yang bisa dibuang sesuka hati jika ia sudah merasa bosan.
Kapanpun ia mau.
***********************************
Nasi kotak dengan lauk Telur Bulat Balado, Labu Siam, Sambal Ati Ampela ditambah Kerupuk Udang dan Buah Pisang menjadi menu makan siang ku hari ini.
Setiap Karyawan mendapat jatah makan siang, bisa diambil di Kantin Kantor. Namun Karyawan juga bisa membeli makanan di Kantin yang tersedia atau bisa makan di luar.
Jabatan memang sebagai Personal Assistant, namun aku lebih suka memilih memanfaatkan fasilitas Kantor sebaik mungkin.
Gaji ku selama sebulan memang cukup untuk membeli makanan di Restoran, bahkan jika diperhitungkan dalam satu Bulan penuh aku sanggup membeli makan siang dan malam di Restoran menengah-atas.
Tapi itu boros, dan aku bersyukur mendapat didikan keluarga yang sebisa mungkin menghindari sikap buruk tersebut. Lebih baik uangnya disimpan untuk membeli keperluan lain atau dijadikan tabungan di masa depan ku.
Begitu lahap aku mengunyah dan menambah suapan baru, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu ku membuat ku tersedak oleh makanan ku sendiri.
"Lahap banget ya Bi sampai aku tepuk langsung keselek begitu?"
Segera aku meneguk air minum ku, membersihkan mulut ku dengan tisu sambil menatap sinis kepada sang Direktur Pemasaran yang sedang cekikikan melihat ku tersedak.
Ia duduk didepan ku dengan satu tangannya memegang Nasi kotak. Aku tercenung memperhatikannya ingin memakan makanan yang telah disediakan oleh Kantor.
Biasanya Muri akan makan di luar bersama rekannya sesama profesi, atau makan bersama Client-nya.
"Aku lagi malas ke luar." ujarnya seakan ia tahu apa yang aku pikirkan tentangnya saat ini.
Aku masih belum melanjutkan makan siang ku lagi, sejenak aku memperhatikan kegiatannya terhadap Nasi kotak tersebut: ia membuka tutupan Nasi kotak itu, mengeluarkan sendok stainless yang selalu ia bawa kemanapun lalu dibersihkan dahulu menggunakan tisu, satu tangannya sigap mengeluarkan Kerupuk dan Buah Pisang, lalu ia mengambil sendok mulai sibuk menyingkirkan tumisan Udang diantara beberapa Buncis. Lalu ia mulai menyuapi satu sendok nasi penuh disusul suwiran Ayam yang telah ia iris.
Sambal di Telur Balado ia sisihkan terlebih dahulu dipinggir kotak, setelah itu ia sendoki sambal itu lagi sedikit demi sedikit kedalam mulutnya saat ia mulai mengunyah suapan baru.
Melihat kebiasaan Muri saat ini tak jauh beda dengan Leo: pemilih makanan. Tapi Muri memiliki kebiasaan unik. Salah satunya seperti yang aku jelaskan belum lama.
Tapi lucunya ia tidak akan memakan makanan dengan cara seperti itu jika ia sedang makan bersama orang lain. Apapun makanan didepannya akan ia makan dengan lahap didepan orang tersebut.
Hanya beberapa orang saja yang tahu tentang kebiasaannya. Salah satunya aku.
Aku saja sampai suka bingung sendiri kenapa Muri bisa begitu.
"Kamu sudah packing barang Bi?" tanya Muri menaikkan pandangannya padaku. Aku juga menaikkan pandangan ku setelah memasukan suapan baru kedalam mulut.
Aku mengangguk sekilas, "Sudah, Pak. Tinggal beli peralatan mandi saja," ucap ku setelah kunyahan ku tandas masuk kedalam tenggorokan.
Muri Menganggut.
"Bawa berapa koper?"
"Hanya dua," balas ku.
"Dua?? Serius Bi? Cukup buat kamu sehari-hari selama tinggal di Bali? Kita pergi satu Bulan loh!" kedua matanya melotot menatap ku, ia nggak percaya dengan ucapan ku.
"Kata siapa kita tinggal disana selamanya Pak? Nggak ada kan?" balas ku ketus dan kembali melahap sesuap nasi.
Masih tak percaya ia memandangi ku. Tapi ia kembali menganggut.
"Setelah makan, nanti kita diskusi lagi perihal sekilas perencanaan pekerjaan kita di Bali nanti. Dan nanti kamu tambahkan Agenda kerja di tanggal 15 jam 11 siang, dimana kita akan datang dan survei tempat bongkahan Batu Bara bersama jajaran petinggi A.P. Coal. Jangan lupa ya Bi,"
"Jajaran petinggi A.P. Coal, maksudnya orang-orang diatas Pak Tommy sebagai CEO disana. Kok mereka mau ikut survei sama kita?" kening ku berkerut memandangi Muri.
Muri menjawab setelah menelan makanan didalam mulutnya, "Kebetulan para petinggi itu selalu menjadwalkan diri untuk mengunjungi TKP, dan kebetulan tanggal 15 adalah jadwal mereka untuk mengecek lokasi. Apalagi kita akan mulai bekerja sama dengan mereka, dan status kita terbilang awam dalam projek ini. Seharusnya sih tidak akan bermasalah jika kita sama-sama mengecek lokasi disana bersama mereka."
Kali ini aku menganggut mengerti. Meski tetap terdengar aneh bagiku.
Setelah kami selesai makan, aku langsung balik ke ruangan kerja ku dan segera ke ruangannya untuk langsung membicarakan planning kami selama bekerja disana.
Selama diskusi bersama Muri di ruangannya, aku mendengarkan dengan seksama dan mencatat poin penting dalam pembicaraan kami, sembari membayangkan kegiatan kami selama disana akan begitu padat.
Ku harap projek kami akan berjalan dengan baik.
...*****...
*****Notes
Hai kalian, nggak nyangka kalo Arshaka disukai banyak org. Cuma bisa bilang makasih banget. hehe
Yang udah baca dilapak sebelah dan masih antusias baca cerita ini lagi disini, makasih juga karena kamu rela pindah dan kembali kesini utk baca ulang hehehe
Cerita ini aku publish sampai tamat, tenang saja.
Sekali lagi terima kasih.