
"kak,"
Panggil Leo saat ia telah duduk disebelah ku. Walau aku hanya mendengar suaranya saja, tapi aku tahu kalau Leo dalam keadaan lelah sehabis jogging sore diluar.
Kami melanjutkan obrolan meski aku masih berkutat menyelesaikan tugas kuliah ku yang menumpuk.
"apa?"
"aku mau nanya,"
"nanya apa?"
"hubungan kakak sama Arshaka sekarang sudah sejauh mana?"
"sejauh Sabang sampai Merauke," jawab ku spontan.
Lalu aku mendengar Leo berdecak, "aku lagi nggak pengen bercanda kak,"
"aku lagi nggak bercanda kok." balas ku lagi.
"hubungan kakak sama Arshaka sudah sejauh mana?"
"hubungan ku dengannya tidak dikatakan jauh ataupun lebih,"
"nggak mungkin Arshaka dekati kakak dan sering kirim Bunga kalau kalian nggak memiliki hubungan lebih," balas Leo lagi.
"Arshaka bukan tipe orang yang mendekati perempuan duluan,"
"kecuali kalau dia punya tujuan khusus sama kakak."
Aku mulai mengangkat wajah ku ke arah Leo dengan kening berkerut. Sambil menerawang ucapannya.
"maksudnya?"
"aku cukup tahu tentang lingkungan pergaulan dan kebiasaannya. Arshaka bukan laki-laki yang suka mengejar perempuan, apalagi sampai kirim Bunga ke rumah seorang perempuan."
Aku meletakkan bulpoint ku diatas meja lalu memandanginya dengan tatapan penuh tanya. Aku tidak mengerti kenapa Leo tidak to the point saja, kenapa ngomongnya harus muter-muter tidak jelas?
"kamu tuh sebenarnya mau ngomong apa sih?"
Leo berdecak lagi.
"aku harap Arshaka dekati kakak tidak memiliki maksud dan tujuan tertentu,"
Aku menatapnya kembali sebelum Leo melanjutkan pembicaraan.
"kenali Arshaka dengan baik kak sebelum kakak sampai jatuh hati padanya,"
"aku nggak akan jatuh hati sama dia." kilah ku. Kembali menatap buku tugas ku dan kembali menulis.
"aku harap demikian." ucapnya sambil mengendikkan bahu.
Tak lama Leo berdiri lalu meninggalkan ku di ruang tengah.
Kini aku mencerna setiap kalimat yang Leo katakan, seakan mengandung kata arti yang terselubung.
Mendengar ponsel ku bergetar diatas meja, aku melirik notifikasi masuk, baru saja Arshaka mengirim sebuah pesan padaku.
Aku belum berniat membuka pesannya, yang ada pikiran ku melalang buana memikirkan tentang Arshaka. Mempelajari dan memahami setiap sikap yang Arshaka tunjukan padaku selama ini.
Dia cukup tampan untuk umuran 17 tahun, tipikal orang yang memiliki daya tarik yang kuat sehingga banyak perempuan yang ingin dekat dengannya.
Namun sebuah pertanyaan besar selalu bersarang di kepala ku, kenapa dia begitu gencar mendekati ku walau sudah ku tolak berkali-kali?
Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, tipikal Arshaka mudah merangkul perempuan cantik dan menarik melebihi aku.
Apa benar dia mendekati ku karena memang ada tujuan khusus?
Yang dikatakan Leo benar. Aku harus mengetahui seluk beluk seorang Arshaka.
Sebelum hal yang tidak ku inginkan terjadi padaku.
**********************************
Kepulan asap rokok keluar dari bibir Arshaka. Membiarkan asap itu terkikis dengan sendirinya.
Jemarinya sibuk mengetik pesan di ponsel, setelah ia mendapatkan notif pesan whatsapp dari kurir jika Bunga Mawar Putih yang ia kirim sudah diterima oleh Bianca. Kurir tersebut juga memberika sebuah foto dimana Bianca menerima Bunga itu sambil tersenyum.
Walau senyuman Bianca terlihat terpaksa, Arshaka cukup senang sebab Bianca mulai menerima dirinya.
Arshaka tersenyum.
Segera ia membalas pesan dari kurir lalu beralih memberikan pesan pada Bianca.
Arshaka:
Have a nice day, Bee.
Setelah Arshaka meletakkan ponselnya diatas meja nakas, ada seseorang memeluknya dari belakang.
Seorang perempuan yang hanya dibalut selimut putih baru saja terbangun, menyapa Arshaka dengan suara serak terdengar menggoda hasratnya.
"pagi."
Arshaka menoleh ke belakang, sosok perempuan yang baru bangun dari tidur memang terlihat seksi di matanya.
"pagi." singkatnya sambil mengecup dalam bibir perempuan itu.
Getar ponsel Arshaka mengalihkan kegiatannya, segera ia melihat notif tersebut dan langsung tersenyum melihat balasan Bianca.
Bee:
Jangan sering-sering kirim Bunga ke rumah ku terus!
Arshaka langsung membalas pesan Bianca.
Arshaka:
I love you too...
"kamu lagi chatinggan sama siapa?" perempuan itu bertanya sambil melirik kearah ponsel Arshaka. Penasaran.
"wow.. Masih gencar dekati dia rupanya. Aku salut sama keniatan mu,"
Arshaka bangkit, ia memungut semua pakaiannya lalu memakainya dengan gerakan cepat.
"jadi bagaimana progresnya? Apa dia mulai luluh sama kamu?" tanya perempuan itu. Posisinya berganti jadi duduk bersila menghadap Arshaka, lalu memakai kamisolnya yang berasa di sisi tempat tempat tidur.
"terakhir aku melihat Bianca begitu terpukul melihat Erick memutuskan hubungan mereka. Aku penasaran bagaimana reaksi Bianca jika dia tahu kalau Erick bukanlah seorang pangeran tampan yang ia idam-idamkan? Lalu terjebak dengan malaikat maut seperti mu,"
Arshaka menoleh dan mendelik, lalu tersenyum sinis.
"aku pergi."
Sebelum Arshaka melangkah mendekati pintu, perempuan itu memeluk Arshaka lagi dari belakang, menghalanginya pergi.
"kenapa buru-buru banget sih? Tunggu dulu disini, aku akan buatkan sarapan untuk mu,"
Mencoba merayu Arshaka, tidak ada salahnya mereka menghabiskan waktu mereka untuk makan bersama.
Namun ia lupa akan suatu hal.
Baik perempuan tersebut maupun teman ONS lainnya, Arshaka tidak akan membiarkan mereka mencoba menyeruak masuk ke area teritorinya.
Jangan harap Arshaka akan mau terbuka meski mereka telah menghabiskan satu malam bersama.
"lepasin tangan mu sendiri atau aku paksa tangan ini agar segera terlepas, Jeanne."
Tanpa berpikir panjang Jeanne menarik dirinya menjauhi Arshaka, lalu Arshaka kembali berjalan dan menarik tuas pintu. Meninggalkan Jeanne yang masih bertahan berdiri memandangi punggung Arshaka yang sudah menghilang dari pandangannya.
**********************************
Aku menatap sepiring Batagor yang masih penuh dengan pikiran bercabang.
Semester 4 benar-benar menguras waktuku, pikiranku serta uang saku ku.
Semua tugas dan praktek yang Dosen berikan membuatku berpikir keras bagaimana caranya supaya aku tak membebani Ayah.
Sebenarnya tidak akan jadi masalah jika aku menceritakan pada Ayah kalau aku memerlukan uang saku tambahan untuk keseharian ku selama semester ini. Namun hatiku berat meminta pada Ayah.
Bersamaan juga dengan biaya sekolah Leo menjelang kelulusan. Berusaha keras aku ingin pengeluaran bulanan bisa aku atur sedemikian mungkin.
Mengingat itu aku ingin mencoba untuk mandiri.
Bekerja paruh waktu adalah ide ku saat ini. Buat nambah uang saku ku.
"habisin makanannya Bi," Karin mendelik pada makanan ku karena tak kunjung habis. Hanya aku aduk-aduk saja.
"Rin," sahut ku lalu dibalas oleh Karin.
"dimana aku bisa cari pekerjaan paruh waktu?"
"kamu mau kerja?" tanya Karin dengan kedua mata yang membulat sempurna.
"kenapa Bi? Ayah kamu lagi ada masalah di kantor sampai kamu nyari kerja?"
Aku menggeleng sekilas, "nggak ada masalah. Aku hanya nggak mau nambah beban Ayah karena memikirkan tambahan uang saku ku." jelas ku pada Karin.
Aku dan Karin terdiam, sibuk berpikir masing-masing.
"mau kerja di tempat Bunda?" tawarnya tulus, tapi aku langsung tolak. Sesaat aku berpikir bekerja di Butik mamanya Karin, namun aku urungkan.
Lebih baik aku bekerja di tempat lain saja, daripada aku ragu bekerja disana dan akan membuat masalah.
Yang ada malah namban beban ku.
"mau coba tanya ke Samuel? Dengar-dengar Samuel suka buka pekerjaan paruh waktu di kafe nya,"
Ide Karin membuka harapan buntu ku. Aku memiliki teman sejurusan, namanya Samuel. Dia memiliki coffee shop disamping gedung kampus.
Tempat yang biasa aku dan Karin duduk nongkrong disana.
Aku mencari ponsel ku dan menghubungi Samuel. Saat ini Samuel lagi di kafe, kebetulan banget.
Akhirnya aku mengunjungi kafe untuk bertemu dengan Samuel, ditemani oleh Karin.
Sesampainya disana, aku melihat Samuel sedang bercengkrama dengan beberapa staf barista dibalik meja kasir. Langsung saja aku menemui Samuel dan ia meminta ku untuk menunggunya di tempat duduk yang masih kosong.
Saat menunggu Samuel, dan aku Karin memperhatikan ramainya pengunjung di kafe ini, dimana pengunjung kafe adalah anak sekolah maupun anak kampus. Beberapa orang seperti pegawai kantoran juga terlihat disini.
"ada apa Bi?" Samuel datang dan duduk didepan ku dan Karin.
Langsung saja aku menanyakan apakah kafenya masih menerima staf untuk bekerja paruh waktu. Aku benar-benar menceritakan bahwa aku butuh pekerjaan tersebut, dan menjanjikan padanya kalau aku akan bekerja sebaik mungkin tanpa menganggu jam kuliah dan bekerja tentunya.
Aku memandangi dan memperhatikan Samuel yang tampak berpikir tenang. Rambut ikal yang sengaja gondrong sangat cocok untuk nya. Sebenarnya ia memiliki sisi kalem, tapi karena ia memiliki tindikan di alis, hidung dan satu telinganya membuat ia terlihat badboy.
Tapi memang badboy sih.
"aku memang lagi nyari karyawan baru, tapi aku lagi butuh tenaga pria buat delivery order. Nggak mungkin aku kasih kerjaan berat kayak gitu ke kamu, kamu perempuan Bi lebih cocok kerja didepan komputer," kata Samuel dengan wajah terlihat memelas, tak enak hati dengan ku.
"aku mau kok, Sam. Aku nggak masalah buat antar pesanan, aku juga bisa bawa kendaraan, kamu nggak perlu khawatir. Aku benar-benar butuh pekerjaan ini Sam,"
"but sorry Bi. Aku nggak bisa kasih. Kerjaannya terlalu berat buat kamu. Kalau ada lowongan baru yang cocok dikerjakan oleh perempuan, aku akan tawari kamu duluan Bi."
Pada akhirnya aku mengangguk pasrah atas keputusan Samuel. Lalu aku dan Karin bangkit untuk pamit.
Karena aku tidak terlalu fokus saat melangkah, tak sengaja aku menabrak seseorang dan reflek mengucap maaf padanya.
"Bee..."
Aku terpaku sejenak melihat kehadiran Arshaka di kafe Samuel.
Lalu saat pandangan ku menyebar ke sekeliling, hampir semua pengunjung menatap ke arah posisi kami.
"ikut aku."
Sebelum aku menolaknya, Arshaka lebih dulu berhasil menarik tangan ku melangkah keluar dari kafe Samuel.
**********************************