
Seperti mimpi.
Waktu seakan berhenti berdetak beberapa detik.
Aku mendadak kaku, nafas ku tersendat seakan kekurangan menghirup oksigen.
Tidak hanya itu saja, pikiran ku pun juga mendadak kosong.
Tidak bisa berpikir. Tidak bisa mencerna.
Yang bisa aku rasakan saat ini hanyalah sentuhan hangat di bibir ku.
Pandangan ku yang menggelap kini kembali berubah terang dan menyorot sosok Arshaka yang mulai menjauhkan wajahnya dari wajah ku.
Laki-laki itu tak henti menatap ku dengan dalam dan lekat, seakan ia mengunci ku, mengukung ku supaya aku tidak bisa pergi kemanapun.
Jarak wajah kami yang dekat, hanya sebatas beberapa senti dan dihalangi oleh udara saja. Bisa ku rasakan hembusan nafas hangatnya menjalar melewati pori-pori kulit wajah ku. Ku pun melihat maniknya yang terlihat menggelap terus menghunus manik hitam ku.
Sesekali maniknya bergerak kearah bibir ku. Dan kembali menatap manik hitam ku.
"aku anggap ciuman kita tadi adalah tanda awal hubungan kita ya Bee."
Masih terpaku, Arshaka mengecup bibir ku lagi kemudian ia mengurai dan mulai melangkah mundur.
"night."
Melihatnya berjalan mendekati mobil dan pergi, dan aku masih berdiri mematung dan bibir membisu. Pikiran ku masih belum berjalan cepat hingga mobil Arshaka mulai menghilang dari pandangan.
Akhirnya pikiran ku kembali bekerja, mencerna semua peristiwa di beberapa menit yang lalu. Mengingat dimana Arshaka datang menemui ku belum lama ini, lalu ia meminta ku untuk tidak berhubungan lagi dengan Erick. Juga aku harus selalu mengabarinya disaat aku ingin pergi dengan siapapun.
Lalu diakhiri dengan bibir kami yang berpagut.
Satu tangan ku menyentuh bibir ku, meraba. Masih bisa ku jelaskan dengan baik bagaimana rasanya: terasa kenyal dan lembut di bibir ku. Masih bisa ku bayangkan juga bagaimana Arshaka mengecup bibir ku, dengan dalam ia menyesapnya.
Terasa hangat, mengingat itu darah ku berdesir dan jantung ku tak berhenti berdebar kencang.
Tapi aku sadar. Ini salah, semua ini sangat salah. Tindakannya. Rasanya. Iya, ini salah.
Tadi dia bilang ciuman kami barusan adalah tanda awal hubungan kami?
Bagaimana bisa dia menyimpulkan begitu tanpa persetujuan ku?
Aku merogoh ponsel ku didalam tas ransel ku. Berniat untuk menghubungi Arshaka dan mengatakan padanya untuk menarik kata-katanya.
Melihat ponsel ku mati aku baru teringat jika terakhir baterai ponsel ku memang tinggal lima persen, aku berdecak kesal.
Melihat malam semakin gelap, aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah dan menuju kamar ku. Sambil membersihkan diri dan bersiap untuk tidur aku memikirkan segala cara untuk bertemu dan mengatakan semuanya dengan Arshaka.
Aku harus mengakhiri semua ini.
**********************************
Siang hari yang terik tak menghalangi kegiatan ku saat ini.
Pandangan ku mulai mengitari satu persatu antara ratusan atau ribuan gundukan batu nisan, berjejer rapih dan terlihat ada beberapa batu bisa yang memiliki warna yang mencolok mata.
Kini pandangan ku berhenti kearah sosok laki-laki yang tengah ku cari sedari tadi. Posisi yang jauh dari posisi ku saat ini.
Aku mulai melangkah perlahan di sebuah blok tanah kuburan, di setiap langkah bibir ku bergumam kata permisi, turut membaca doa hingga langkah ku hampir dekat dengan nya.
Tinggal lima baris lagi menuju posisi Arshaka saat ini. Dari kejauhan manik ku terus memperhatikan Arshaka yang hanya diam berdiri sambil memperhatikan batu nisan disana.
Sebelum aku menyusuli Arshaka di tempat pemakaman umum, aku sempat singgah ke rumah mewahnya. Lalu bertemu dengan penjaga rumah dan memberitahu padaku bahwa Arshaka sedang mengunjungi pemakaman orang tua nya yang tak jauh dari daerah Cilandak.
Rela meminta ijin setengah hari kepada Samuel dan membolos jam kuliah, dikarenakan Arshaka tak menanggapi semua pesan dan telepon ku sejak kemarin. Ku pikir dia menghilang karena dia sakit, sebab pengalaman terakhir Arshaka pernah seperti ini dan ternyata dia tipes.
Sempat juga menanyakan kabarnya kepada Samuel. Namun Samuel sendiri juga tidak tahu, pesan yang ia kirim untuk Arshaka juga belum dibalas olehnya. Juga aku bertanya pada Leo, ternyata Arshaka tidak masuk sekolah hari ini. Untuk itu aku memutuskan untuk mengunjungi ke rumahnya. Dan aku berakhir disini.
Aku pun memutuskan untuk menyusulnya karena terngiang dengan pesan Leo, yang dimana ia meminta aku untuk mencari tahu tentangnya.
Juga aku teringat dengan percakapan Leo dan Arshaka ketika kami makan malam bersama sebelumnya. Membicarakan kedua orang tua Arshaka yang meninggal dunia karena bunuh diri.
Untuk itulah aku rela datang kesini.
Mengingat itu tubuh ku mendadak merinding.
Aku masih memperhatikan Arshaka yang masih disana, terlihat dia hanya mematung berdiri dengan sebuket Bunga Mawar Putih digenggamannya. Namun ia tidak meletakkan Bunga tersebut diatas gundukan makam itu, masih terus ia genggam, dan tatapannya terlihat menghunus kearah dua batu nisan yang tertulis nama orang tua nya disana.
Disana Arshaka tidak sendirian, ada dua orang pria bertubuh tinggi yang aku duga mungkin adalah pengawal atau penjaganya. Aku sempat kaget melihat ada dua orang yang berdiri menjaga Arshaka disana. Namun aku langsung mengalihkan pikiran ku, seorang cucu Pebisnis Batu Bara sudah pasti akan kepikiran untuk memiliki seorang penjaga bukan?
Kedua kaki ku terus melangkah perlahan. Mendekati Arshaka tanpa ia sadari aku telah berdiri dibelakangnya. Hingga ia berbalik ketika pengawalnya menepuk bahunya dan memberitahukan jika ada aku disini.
Arshaka sempat terkejut melihat kehadiran ku, namun hanya beberapa detik saja, lalu ekspresinya langsung berubah menjadi datar dan dingin.
Tidak tersenyum, tidak seperti yang biasanya ia lakukan padaku ketika kami bertemu.
Aneh.
Beberapa saat kami terdiam, baik aku dan Arshaka belum membuka mulut untuk bersuara. Hanya melayangkan tatapan satu sama lain, bisa ku lihat ada kilatan luka, senduh dan amarah di manik coklat Arshaka.
Pasti Arshaka kesepian karena ditinggalkan begitu saja. Mengetahui jika orang tua nya meninggal dunia karena bunuh diri, hati ku ikut merasakan perih yang mendalam.
Ingin sekali aku menghiburnya. Tapi aku sendiri bingung, bagaimana aku harus mengawalinya?
Mengatakan kata sabar dan tabah itu tidaklah cukup. Jujur saja. Aku yang sudah kehilangan Ibu sejak berumur 16 tahun masih suka merasa sedih ketika mengingat ketika Ibu dipanggil oleh sang Maha Pencipta. Dimana Ibu terbujur kaku diatas tempat tidur, suhu tubuhnya menjadi dingin membeku, juga melihat Ibu yang terus memejamkan mata dan tak akan pernah kembali terbuka.
Sudah pasti rasa sakit yang Arshaka rasakan jauh lebih dalam ketimbang aku.
"kenapa kamu bisa ada disini?" akhirnya Arshaka membuka sebuah pertanyaan. Nada suaranya yang terdengar dingin membuat ku bergerak kikuk.
"aku menyusul mu," balas ku singkat tanpa mengindahkan pandangannya.
Tiba-tiba aku merasakan jika saat ini aura Arshaka begitu mengintimidasi ku. Membuat ku tak berani menatap wajahnya.
Kami kembali terdiam. Pandangan ku beralih kearah Bunga Mawar putih yang masih ia genggam.
"Bunga nya kenapa nggak ditaru?" aku mengendikkan dagu ku kearah Bunga tersebut. Lalu aku memberanikan diri untuk menatap wajah.
Sekilas Arshaka melihat Bunga digenggamannya, lalu ia kembali beralih padaku.
"buat kamu saja,"
Bunga itu dia arahkan padaku.
"loh kenapa? Bukannya kamu bawa buat papah sama mamah kamu?"
"tidak perlu."
Aku membelalak menatap Arshaka datar. Aku jadi bingung. Dia bawa Bunga tapi dia tidak meletakkan Bunganya di atas makam orang tuanya.
Satu tangannya kembali menjulur kearah ku, memberikan buket Bunga Mawar tersebut padaku. Dengan ragu aku mulai meraihnya.
Lalu pandangan ku kembali mengarah ke dua batu nisan berwarna hitam kelabu yang terukir nama orang tua Arshaka --Teuku Bowo Prabusudibyo dan Nita Amalia.
"boleh aku kasih Bunga ini untuk papah dan mamah kamu?"
Sejenak Arshaka terdiam, lalu ia menguraikan senyuman simpul.
"terserah kamu."
Aku mulai mendekati makam lalu duduk berjongkok, aku kembali membaca ukiran batu nisan satu persatu. Kemudian aku menarik sebatang Bunga Mawar dan aku letakkan diatas makam Ayahnya Arshaka. Juga sebatang Bunga lagi untuk Ibunya Arshaka.
"halo Om, Tante. Aku Bian. Salam kenal ya,"
Aku tersenyum dihadapan dua batu nisan itu, membayangkan jika aku sedang memandangi wajah kedua orang tua Arshaka yang juga tersenyum padaku.
Meski aku tidak tahu persis bagaimana bayangan wajah kedua orang tua Arshaka.
"disini Arshaka baik-baik saja kok Om, Tante. Kata Leo, Arshaka sangat pintar di sekolah. Tapi Arshaka bandel Om Tante, keras kepala, suka seenaknya sama Bian. Tapi Om dan Tante jangan khawatir, Arshaka cukup tangguh dan mandiri disini. Aku yakin Arshaka bakalan menjadi anak laki-laki yang sukses dikemudian hari."
Kemudian aku berpamitan dan berdiri menghadap Arshaka.
"masih mau disini atau kamu mau ikut aku?" tanya ku.
"kamu mau kemana?"
"aku mau bertemu seseorang." balas ku membuat Arshaka mengerutkan dahi.
"siapa? Laki-laki atau perempuan?"
"perempuan." balas ku lagi.
Kini Arshaka menatap ku lekat, seakan mencari cela apakah aku berbohong padanya atau sebaliknya.
"kalau kamu nggak percaya, kamu bisa ikut sama aku. Akan aku kenalkan,"
Perjalanan ku cukup jauh, terik matahari yang mulai meradang panas membuat ku mandi keringat. Tapi tak pedulikan, saat langkah kaki ku memasuki blok pemakaman lain, melewati tiga baris, berjalan sedikit melewati lima batu nisan dan terhenti di sebuah batu nisan berwarna hijau tua.
Aku mulai duduk berjongkok, tersenyum simpul memandangi nama batu nisan. Astri --ia adalah Ibu ku.
"Bu, Bian datang."
Satu tangan ku membersihkan batu nisan Ibu ku dari debu dan serpihan tanah. Lalu berpindah ke tepi gundukan tanah yang ditumbuhi rumput tinggi. Perlahan aku mencabut rumput itu satu persatu, membersihkannya supaya tak ada lagi rumput yang terlihat tinggi.
Lalu pandangan ku berpindah pada Arshaka. Ia masih berdiri disana, bergantian menatap ku dan menatap batu nisan Ibu ku.
Dalam keadaan saat ini, aku seperti menemukan sosok Arshaka yang lain. Dia tidak seceria biasanya, terlihat wajahnya kaku dan maniknya memancar gelap pekat.
Dan saat ini Arshaka menatap makam Ibu ku dengan tatapan kosong.
"Arshaka, ini Ibu ku." sahut ku memperkenalkan makam Ibu ku padanya.
Melihatnya beberapa saat hanya terdiam membisu, aku jadi takut.
Aku takut dia kesurupan.
"Arshaka, kamu baik-baik saja kan?" aku mulai bertanya karena Arshaka tak menanggapi pertanyaan ku.
Cemas, aku berdiri mendekatinya. Sedikit mengguncang bahunya dan memanggil namanya lagi hingga pandangan kami bertemu.
Lalu dia tersenyum.
Tapi aku merinding.
"Ar, kamu baik-baik saja kan?" ulang ku memastikannya. Lalu dia mengangguk dengan senyuman jahilnya.
Kayaknya nih anak lagi ngerjain aku.
Aku cubit saja lengannya hingga ia mengadu kesakitan.
"sakit sayang," adunya mengelus lengan sambil memasang wajah dimelas-melasin. Tapi hal itu tidak berpengaruh padaku.
"sakit? Sukurin!" desis ku sambil melirik kearah pengawal Arshaka yang memandangi kami dari kejauhan. Jadi risih.
Aku kembali mendekati makam Ibu ku, duduk berjongkok dan mengelus nama Ibu ku disana. Tak lama Arshaka menyusul ku, ia ikut duduk berjongkok disamping ku dan mulai menyapa Ibu ku.
"Tante, saya Arshaka. Pacarnya Bianca."
Aku memutarkan manik mata ku mendengar perkenalannya.
"anak Tante susah dibilangin. Keras kepala. Galak. Tapi Bianca baik kok Tante. Dia adalah gadis yang mandiri, sayang sama Leo dan Ayah."
Tak kuasa mendengar omongan Arshaka, aku tersenyum simpul. Bisa juga nih anak bikin hati ku tersentuh.
"saya janji sama Tante, nggak akan ada seorang pun yang bisa menyakiti Bianca. Saya akan buat Bianca senang, juga Leo dan Om. Saya janji."
Aku menoleh pada Arshaka yang juga memandangi ku kini. Berniat untuk menanyakan maksud atas janji yang ia lontarkan didepan makam Ibu ku, Arshaka lebih dulu mengatakan:
"saya telah jatuh cinta sama Bianca, Tante."
**********************************
Aku membuang stik bekas es krim ke tempat sampah didalam mobil Arshaka, lalu membersikan noda es krim di tangan ku dengan tisu basah.
Niat ku ingin membersihkan mulut ku dengan tisu yang sama, Arshaka menahan tangan ku.
"pakai tisu yang baru. Jorok."
Selanya terdengar sinis membuat bibir ku bergerak mencibir padanya.
"itu bibir minta dicium ya."
"apaan sih, jangan bertingkah aneh-aneh deh." sungut ku kesal.
"aku nggak aneh-aneh kok, sayang." elaknya santai.
Setelah mengunjungi makam Ibu, aku dan Arshaka meneduh didalam mobil karena terik mataharinya sempat membuat ku merasa pusing.
Arshaka menyuruh pengawalnya untuk pulang lebih dulu dengan mobil berbeda dan mobil kami terparkir didepan Minimarket untuk membeli minuman dingin dan es krim.
"kenapa kamu mendatangi ku ke pemakaman?" tanya Arshaka setelah dia menghabiskan es krim dan membersihkan mulutnya dengan tisu.
"tadi aku ke rumah kamu, kata penjaga rumah kamu ke makam. Jadi aku susulin kamu aja." jelas ku jujur.
"ngapain kamu ke rumah aku?"
"karena kamu nggak balas pesan Whatsapp ku dan telepon ku juga tidak kamu angkat. Aku pikir kamu sakit kayak waktu itu."
Arshaka memanggut mengerti.
"maaf. Aku nggak bermaksud kayak begitu." ucapnya dengan bernada bersalah.
"lalu, kenapa kamu nggak mengabari ku? Ada masalah serius sampai kamu harus menghilang?"
"aku nggak berniat menghilang Bee,"
"lalu kenapa kamu nggak balas pesan dan angkat telepon ku?"
"aku..." sejenak Arshaka terdiam, tampak berpikir.
Aku memandangi sisi wajahnya lesu yang sedang memandang kosong kearah roda stir.
Lalu ia menghela nafas dan beralih menatap ku serius.
"semua janji ku didepan makam Ibu mu bukan bualan ya Bee. Aku serius."
Mendadak aku bergerak keki mengingat semua perkataannya di makam Ibu.
"ke-kenapa jadi ngomongin itu sih? Aku kan--"
"aku serius, Bianca." ucaplah lagi dengan nada tegas.
"semua ucapan ku saat terakhir kita bertemu, meminta mu untuk menjaga jarak dengan Erick, apapun kegitan kamu dan dimana pun kamu berada aku harus tahu, dan janji ku hari ini."
"aku mengatakannya dengan penuh kesadaran, dan tanpa adanya paksaan apapun."
Aku mengerjap mata ku cepat, "kamu lagi kenapa sih?"
Arshaka mendengus senyuman.
"ku pikir selama ini aku akan terus terperangkap oleh bayangan semu. Kesedihan, amarah, ketakutan, semua itu berhasil memaksa ku untuk tidak mengharapkan sebuah cela kedamaian. Hingga aku bertemu dengan mu."
"ku pikir kamu hanyalah Cameo didalam hidup ku, selingan tokoh yang sesaat lewat lalu kamu akan menghilang dengan sendirinya. Tapi nyatanya kamu masih disini, menemani ku.
"jujur saja, aku bukanlah orang yang baik. Aku bukanlah sosok yang diagungkan seperti kata orang kebanyakan. Aku memiliki sisi gelap yang mungkin kamu akan menjauhi ku setelah mengetahuinya. Tapi bisakah aku bersikap egois? Setelah kamu tahu semua tentang ku bisakah aku berharap bahwa kamu akan beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri?"
"aku ingin bersama mu, Bianca."
Aku menelaah semua ucapan yang dilontarkan oleh Arshaka. Sambil mengamati wajahnya yang berubah menjadi serius saat memandangi ku.
"orang lain hanya tahu jika kehidupan kita terlihat sempurna disatu sisi, namun saat mereka tahu sisi keburukan kita pasti mereka akan langsung memandangi kita ke sisi negatif, sesuka hati mereka menilai kita dari sudut pandang mereka. Aku pun sama seperti mereka, nggak berbeda jauh. Tapi tanpa mereka atau aku sekalipun, kamu berhak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, Ar. Yang menjalani hidup kamu ya kamu sendiri, aku dan orang lain hanya bisa menilai mu, tinggal kamu menyaring penilaian kami dari segi positifnya saja, yang negatifnya kamu jadikan pacuan semangat agar kamu termotivasi untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik."
Aku sempat tercenung dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut ku sendiri.
Tapi memang begitu adanya. Meski orang lain pandai berkomentar ke sana dan sini, namun hanya kita yang bisa mengubah nasib kita sendiri.
Dan jangan lupa akan kehadiran Tuhan yang tak pernah meninggalkan umatnya baik dalam keadaan suka maupun duka.
Sejenak dia terdiam, tapi tak lama Arshaka mulai mengurai senyuman di wajahnya.
Sekarang aku bisa melihat sosok Arshaka yang biasanya, dan kini ia mengambil satu tangan ku, ia genggam dan ia kecup punggung tangan ku dengan lembut.
Dan hal itu membuat ku mengalihkan wajah ku supaya Arshaka tak menampak wajah ku yang sedang tersipu.
Awal niat aku mendatanginya terlupakan begitu saja. Tapi tak apa, setidaknya aku lega melihatnya tersenyum lagi.
**********************************
Hai, apa kabar kalian?
Semoga kalian dalam keadaan sehat selalu ya.
To the point aja, aku mau konfirmasi bahwa aku gak akan lanjutin chapter Arshaka sampai tamat diplatform ini.
Mohon maaf atas ketidak nyamannya.
See you on the next story from me..