
"Kamu berhutang cerita padaku,"
Aku menoleh melihat kehadiran Muri yang sudah membawa nampan makan siangnya lalu
duduk disamping ku.
Baru saja aku ingin melahap nasi goreng yang sudah ku beli di Kantin, tapi aku sudah
ditodong tatapan menuntut agar aku bercerita padanya padahal perut ku bergetar
minta diisi.
"Jadi kelanjutan kisah cinta kamu dengan bapak Komisaris bagaimana?" Bisiknya dengan pandangan mengitari
seisi Kantin, memastikan jika pembicaraannya hanya terdengar oleh ku.
"Tapi sepertinya berakhir baik." Muri manggut-manggut. Ia tampak berpikir mengingat kejadian dimana Arshaka datang ke Homestay.
"Iya. Begitulah." balasku sambil menyuapkan makan siangku. Aku sudah tidak bisa menahan kelaparanku.
"Tapi aku penasaran, bagaimana bisa kamu memiliki hubungan khusus dengannya? Setauku kalian nggak seumuran, bagaimana cara kalian bisa saling bertemu sebelumnya? Satu sekolah? Satu perguruan?"
"Dia teman satu sekolah Leo,"
Muri membelalak.
"Jadi Leo memperkenalkannya denganmu?"
"Tidak." balasku cepat.
"Lalu bagaimana bisa?"
Aku menghela nafas panjang.
"Ceritanya panjang,"
"Ceritakanlah! Aku siap menjadi pendengar yang baik," Muri membenarkan posisi duduknya lalu ia memandangiku dengan lamat.
Ya ampun tumben banget Muri se-kepo ini.
"Aku mengenalnya di pesta ulang tahun teman kampusku. Dia diundang."
"Lalu kalian kenalan disana?"
Aku menggeleng, "Tidak."
Dahi muri berkerut, terlihat bingung.
"Aku nggak sengaja minum alkohol. Lalu aku mabuk." lanjutku.
"Jadi kamu ditolong sama dia saat kamu mabuk?"
"Tidak." balasku lagi.
"Aku tak sengaja mencium bibirnya,"
Kali ini Muri melongo menatapku.
"Wah, benarkah kamu seperti itu? Aku nggak nyangka,"
"Aku juga," Aku menghela napas. Kalau diingat-ingat momen itu adalah momen yang paling memalukan.
"Lalu kelanjutannya gimana?"
"Dia mendekatiku. Hampir setiap hari dia mengirimku Bunga ke Rumah. Lalu kami pacaran,"
"Romantis juga dia," puji Muri setelah ia meneguk minumannya yang baru ia beli.
"Tapi tak lama kami putus."
"Kenapa?" tanya Muri.
"Dia memacariku karena dia taruhan dengan teman-temannya,"
Muri kembali melongo.
"Serius?"
Aku mengangguk.
"Habis itu putus?"
"Iya. Lalu kami saling menghilang. Dan kami baru bertemu lagi ketika kita makan siang di Badung kemarin."
"Dan dia mencoba mendekati kamu lagi?"
Aku mengangguk.
"Kenapa kamu mau sama dia lagi kalau dia hanya mempermainkanmu? Harusnya kamu marah dan enggan untuk kembali padanya,"
Aku tersenyum. Sudah kuduga jika aku akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Aku meletakan sendokku diatas piring kosong. Menyeka bibirku sekilas lalu meneguk air minumku hingga tandas.
"Aku sudah mendengar penjelasannya padaku. Dia juga sudah meminta maaf atas semua kesalahannya.."
"..awalnya aku juga berpikir untuk tidak kembali. Tapi ternyata hatiku masih bergetar saat aku menatapnya, hatiku teduh dan merekah saat aku sedang bersamanya, dan justru hatiku akan kembali terluka jika dia kembali pergi dariku.."
"..jadi aku kembali padanya."
Kenanganku dengan Arshaka memang cukup pahit, namun kalau tidak ada kejadian tersebut mungkin aku tidak akan bersamanya saat ini.
Tapi aku bersyukur atas akhir dari kenangan pahit itu.
"Kisah cintamu complicated juga ya,"
Aku hanya manggut-manggut sambil mengunyah potongan buah yang belum lama Muri beli di kedai.
Obrolanku beraalih membahas pekerjaan. Sambil menyimaak pembahasan dari Muri, aku sibuk mencatat poin-poin penting di buku kecilku yang selalu kubawa kemanapun aku pergi.
Disaat aku menulis, ponselku bergetar, menandakan ada sebuah pesan masuk.
Sekilas aku membaca pesan masuk yang rupanya itu dari Arshaka, menanyakan keberadaanku saat ini.
Namun tanganku tidak bergerak meraih ponsel melainkan kembali melanjutkan menulis di buku. Aku akan membalas pesan Arshaka setelah aku mencatat semua poin-poin dari Muri.
"Buat reminder ya Bi! Di hari ke 22 kita sudah harus mengirimkan hasil laporan ke kantor pusat. Lalu kita buatkan juga salinan laporan kita ke Paak Tommy."
Aku kembali mengangguk sembari menulis apa yang Muri minta.
"Ada lagi nggak?" aku bertanya dan mendongak menatap Muri. Aku memandangi Muri yang sedang terpaku memandangi sesuatu yang berada dibelakang.
Kemudian aku menoleh ke belakang, mengikuti arah pandang Muri.
Aku mengerjap melihat Arshaka sedang berdiri didekat ambang pintu Kantin, ia berdiri tegap disana dengan kedua tangan terselip dibalik saku celananya.
Dan Arshaka sedang menatapku dan Muri.
Seketika aku mengitari sekelilingku. Melihat hampir semua karyawan yang sedang beristirahat di Kantin tengah memandangi Arshaka yang masih berdiri disana, dan mereka mengikuti arah pandang Arshaka dan ikut menatap posisiku dengan Muri.
Seketika perasaanku mulai tidak karuan karena kehadirannya disini.
Kaki jenjang Arshaka melangkah lebar, berjalan lurus dan berhenti tepat disamping meja makanku.
Lalu ia bergerak mendekat kearahku, dan ia duduk disampingku.
Persis disampingku.
"Sedang apa?" Tanya Arshaka yang mengamati meja makanku. Ia melihat piring kosongku dan sebuah mika yang terisi potongan buah.
Kemudian pandangannya mendongak menatap Muri dengan tatapan tajam, lalu beralih melirikku.
Aku mendadak canggung, seakan kepergok selingkuh dengan Muri.
"Kami sedang membahas pekerjaan, Pak." Muri menjawab pertanyaan Arshaka dengan pembawaan yang begitu tenang.
Kami memang sehabis membahas pekerjaan.
Tapi entah kenapa suhu tubuhku berubah panas dingin.
Melihat situasi berubah kaku, Muri bangkit dan pamit untuk kembali ke ruang kerjanya.
"Saya duluan ya Pak,"
Kemudian Muri pergi, meninggalkan aku dan Arshaka berdua disini.
Namun perginya Muri membuat perasaanku semakin tak tenang, karena sekarang semua orang mengamatiku dan Arshaka saat ini.
"Kenapa pesanku nggak dibalas?"
Takut-takut aku melirik Arshaka. Namun aku berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
"Tadi saya habis meeting sama Pak Muri, Pak." balasku seformal mungkin. Jaga-jaga obrolanku kedengaran orang lain.
Namun ucapanku barusan memancing gelak sinis Arshaka.
"Kamu dekat dengan pria itu,"
Apa maksud ucapan Arshaka? Dia sedang bertanya atau memberikan pernyataan?
"Kami dekat karena kami satu tim, dan beliau atasan saya Pak." balasku lagi.
"Begitu rupanya," Arshaka manggut-manggut yang justru membuat dahiku berkerut bingung.
Kami terdiam beberapa saat. Entah apa yang Arshaka pikirkan saat ini.
"Kamu sudah makan?" tanyaku dengan suara seminimal mungkin. Takut terdengar orang-orang yang masih asik mengamati kami.
Namun pertanyaanku membuatku merasa semakin terpojok. Arshaka langsung bergerak menghadapku dan mengamatiku dengan lamat.
"Belum," jawabnya.
"Kenapa belum?" tanyaku lagi.
"Karena aku mau makan sama kamu. Tapi kamu sudah makan duluan sama pria itu,"
Ah aku mengerti alasannya menanyakan keberadaanku tadi.
"Kapan-kapan kita makan bareng ya,"
"Beneran?"
Aku mengangguk.
"Iya."
Arshaka tersenyum.
Dan aku membalas senyumnya.
Tak lama satu tangan Arshaka bergerak naik ke kepalaku. Perlahan ia mengelus rambutku dengan lembut.
"Sebenarnya tadi aku marah sama kamu karena pesanku tak kamu balas."
Aku tercenung mendengar penjelasan Arshaka.
"Apalagi aku melihatmu berduaan dengan pria itu. Aku jadi tidak suka melihat kedekatan kalian,"
"Dia hanya atasanku, Arsha." ucapku memperjelaskan posisiku dan Muri.
"Itu kan katamu. Kita nggak tahu apakah pria itu menganggapmu hanya sebagai seorang PA-nya saja.."
Disela pembicaraan ia tersenyum sinis.
"..kita kan nggak tahu apa yang dia pikirkan tentangmu."
Aku tak menanggapi ucapan Arshaka. Lebih tepatnya bibirku mendadak kelu.
Mood Arshaka sedang tidak bagus. Jangan sampai aku memancing sisi gelapnya seperti disaat dia mengurungku di Rumahnya.
"Ayo balik ke ruanganmu! Dan nanti sore tunggu aku didepan ruang kerja kamu ya sayang! Aku mau pulang bareng kamu,"
Aku tak perlu menanggapinya. Karena aku tahu Arshaka akan melakukan apapun yang dia mau.
...******...
Aku bangkit dan tersenyum simpul, menunggu giliran untuk berjabat tangan dengan beberapa relasi penting yang sedang aku dan Muri temui di sebuah coffee shop ternama, letaknya tak terlalu jauh dengan posisi Kantor A.P. Coal.
Awalnya Muri memiliki Agenda kerja bertemu dengan mereka dan akan pergi seorang diri.
Namun Muri memintaku untuk segera menyelesaikan pekerjaan ku di Kantor, setelah selesai ia memintaku untuk menemaninya.
Seperti biasa aku manut padanya. Aku ikut pergi dan bertemu dengan relasi kerja yang
kami temui adalah seorang Bussiness Woman bersama dua orang stafnya.
Yes i knew it who she is. Aku tahu beliau karena ia sempat bersinggah ke Kantor Diamond Burke di Jakarta. Kami bertemu lagi disini untuk membahas kerja sama kami antara perusahaannya dengan Diamond Burke.
Tapi takku sangka jika Muri menjadikanku sebagai tameng. Melihat sikapnya yang suka senyum-senyum memperhatikan Muri dengan kelingan mata nakal aku menilai jika wanita tersebut menyukai Muri.
Kehadiranku saja disini tak terlalu dianggap olehnya. Semua penjelasanku dianggap
sekelebat angin lalu dan ia meminta Muri menerangkan kembali apa yang telah kusampaikan.
Kalau tahu gitu buat apa aku datang kesini dan capek-capek jelasin ke wanita itu kalau ia hanya ingin mendengarkan Muri saja?
Mengingat itu aku hanya bisa mengelus dada sambil menahan geram sekuat mungkin karena ia masih berada tak jauh dari posisiku. Tak kunjung melangkah keluar meninggalkan Kafe, terlihat sangat jelas jika wanita itu masih betah berbincang dengan brondong tampannya.
Tapi lucu juga sih. Tidak menyangka ada tante girang menyukai Muri seperti itu.
Untung aku tidak begitu dengan Arshaka.
Membicarakan Arshaka, sedari tadi aku merasa jika tas jinjingku tak henti bergetar karena ada telepon masuk. Dari awal aku sampai di Kafe aku sengaja menyalakan mode getar di ponselku, khawatir lagi membicarakan hal penting jadi terpecah mendengar ada panggilan masuk.
Aku yakin ponselku bergetar terus didalam sana karena ada telepon dari Arshaka.
Sebelum kesini aku ingin memberitahu Arshaka melalui Line telepon jika
aku ingin bertemu dengan relasi diluar kantor bersama Muri. Aku takut jika pertemuan ini memakan waktu cukup lama, sehingga nantinya Arshaka tidak perlu
menungguku terlalu lama.
Rupanya saat aku meneleponnya, Sekretarisnya lah yang mengangkat telepon. Aku bisa mendengar nada datarnya membalas ucapanku saat menanyakan Arshaka, ia mengatakan jika Arshaka sedang menghadiri meeting dengan para pimpinan Divisi.
"Pak Arshaka sangat sibuk. Baru bisa dihubungi kembali sekitar 2 jam kemudian dari
sekarang."
Aku melebarkan mataku menatap gagang telepon saat nada telepon terputus sepihak dari sana.
Aku hanya bisa mengelus dadaku sambil bergumam kata sabar berkali-kali.
Menunggu Muri masih berbincang dengan wanita itu, aku merebahkan punggungku dan duduk santai sambil menikmati minuman kopi dengan campuran Rum yang begitu menenangkan penciuman dan pikiranku saat ini.
"Kita duduk disini dulu ya. Aku lelah banget," pinta Muri saat ia sudah tiba menghampiriku. Tentu saja aku mengangguk santai sebab jam kantor juga telah usai beberapa menit yang
lalu.
Sehingga kami bisa duduk bersantai sebentar menikmati suasana sore di tengah kota Bali.
"Kamu sudah hubungi Arshaka kalau kamu lagi disini sama aku?" Muri bertanya sambil
menyesap es kopinya. Wajahnya sedikit menekuk setelah mencoba kopi yang ia
pesan. Kayaknya Muri tidak suka dengan kopi pesanannya.
"Sudah kayaknya," balasku sekenanya.
"Kok kayaknya? Bukannya tadi kamu mau telepon dia?"
"Iya sudah tadi. Tapi yang angkat Sekretarisnya,"
Muri melotot padaku.
"Mbak Julia yang angkat? Kok dia bisa pegang ponsel Pak Arshaka?"
"Aku telepon Arshaka menggunakan line telepon kantor,"
"Hah? Kok bisa? Lo nggak bisa telepon ke nomor ponselnya saja?"
Aku menggeleng pelan sambil kembali menyesap kopiku menggunakan sedotan stainless.
Tentu aku sudah menyimpan nomor ponsel Arshaka. Namun karena teleponku tak diangkat untuk itu aku mencoba meneleponnya melalui line telepon kantor.
Tapi yang ada aku disembur kalimat judes sang Sekretaris Arshaka.
"Kalau tiba-tiba dia datang kesini bagaimana?"
Aku mengendikan bahu, "Dia nggak tahu kita disini. Aku saja belum mengatakan
apapun ke Mbak Julia, baru nanya keberadaan Arshaka langsung dijudesin lalu telelponku dimatikan. Ya sudah,"
Aku kembali menyesap minumanku. Tapi aku melihat wajah Muri berubah kaku.
Sama seperti saat ia melihat Arshaka di Kantin tadi siang.
"Benarkan apa yang gue bilang. Arshaka nyusul tuh,"
Spontan aku membalikkan badanku dan melihat Arshaka datang dengan langkah lebar.
Wajahnya terlihat tenang. Tapi maniknya berkilat gusar.
Melihat kedatangan Arshaka jantungku bertalu kencang. Seolah aku beneran kepergok selingkuh.
Yang membuatku heran kenapa dia bisa tahu aku berada disini?
Aku menangkap pandangan Arshaka kearah Muri, rahangnya terlihat kaku, tampak menahan diri untuk tidak meledak di tempat umum.
"Sudah sore. Ayo kita pulang,"
Arshaka mulai menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Biarkan Bianca pulang bersama saya, Pak Arshaka."
Aku dan Arshaka menoleh memandang Muri dengan ekspresi berbeda.
Berusaha keras aku memberikan kode mata agar Muri membiarkan aku pergi, sedangkan Arshaka masih berusaha untuk terlihat tenang.
"Tidak perlu repot-repot menjadi sopir kekasihku.."
Pandanganku langsung menunduk saat Arshaka menatapku.
"..take your time!"
Aku hanya bisa mengikuti langkah Arshaka dengan perasaan takut dan bersalah dengan Muri.
Semoga Muri tidak memakiku sesampainya kami di Homestay.
...*****...