
Jam kelas sudah berakhir.
Kedua tangan ku sibuk mengepakkan barang-barang kedalam tas ransel: buku binder, alat tulis, charger ponsel juga dua buku yang masih aku pinjam dari Perpustakaan tak lupa aku masukkan.
Sejenak aku menyalakan ponsel ku sebelum aku masukkan kedalam saku Fanel, belum ada notifikasi pesan masuk dari Arshaka.
Hari ini adalah hari terakhir Arshaka melaksanakan Ujian Nasional.
Sudah hampir 2 minggu aku dan Arshaka belum bertemu lagi. Selama kami tidak bertemu, kami menyempatkan waktu untuk saling melakukan panggilan video.
Sebenarnya tak ada yang melarang kami untuk bertemu. Baik aku dan Arshaka hanya berinisiatif saja, supaya Arshaka bisa lebih fokus menyiapkan diri untuk menghadapi ujian.
Setelah ujian berakhir, kami sudah memiliki rencana untuk menghabiskan waktu untuk pergi wisata kuliner ke Bandung.
Mengingat rencana itu, hati ku berdebar kencang. Tidak sabar menunggunya selesai ujian.
Jujur saja, mengetahui diriku yang sudah mulai bersikap menye-menye kayak gini tuh suka malu sendiri.
Dulu aku selalu menolak kehadiran Arshaka, berusaha untuk menjauhinya. Sekarang aku ingin dia cepat-cepat menyelesaikan ujian supaya kami bisa segera bertemu lagi lalu mewujudkan rencana kami.
Apakah ini yang disebut dengan Bucin?
Kalau iya jangan sampai Arshaka tahu. Pasti dia akan menertawakan ku.
Aku segera menuju Kafe bersama Karin. Lalu mengganti pakaian ku di ruangan khusus karyawan dan mulai bekerja disana.
Kebetulan Karin akan menemui Romeo di Kafe, untuk itu ia ikut bersama ku.
Sembari aku bekerja membuatkan minuman pelanggan, pandangan ku melihat Karin yang sudah bersama Romeo, duduk didekat Meja Bar yang tak jauh dari posisi ku. Lalu Karin pamit padaku dan keluar bersama Romeo.
Tak lama seorang perempuan datang, masuk ke Kafe dengan langkah gusar dan pandangannya bekerja mencari seseorang dipenjuru Kafe.
"Ada Samuel nggak?" tanya perempuan itu dengan wajah begitu kusut. Ia menanyakan Samuel kepada Mela.
Aku memperhatikan keadaan perempuan itu yang terlihat cukup mengesankan: pakaian seksi yang aku tahu pasti ber-branded, mengenakan anting dan kalung dari batu Mutiara, tas Hermes terkenal, dan jam tangan blink-blink.
Oh, ada juga kacamata yang bergantung disela baju bagian dada.
Heran, maksudnya apa coba ditaro disitu?
Mela mengatakan jika Samuel sedang ada keperluan diluar, mengingat Samuel pamit pada Mela jika ia akan menjemput bahan pokok Kopi disebuah tempat distributor didaerah Kelapa Gading.
"Kalau Arshaka ada?"
Spontan aku menaikkan pandangan ku memandanginya saat aku sedang menyeduh Kopi untuk pelanggan.
"Kak Arshaka tidak ada disini Kak," balas Mela setenang mungkin. Tapi aku tahu dia agak gelagapan, seakan sedang menutupi sesuatu.
"Atau aku boleh minta nomor telepon Arshaka? Aku harus menemuinya segera,"
Tampak Mela beralih memandangi ku bingung. Begitu juga perempuan itu memandangi kearah Mela dan padaku, terlihat bingung agak curiga juga.
"Gimana? Aku hanya ingin minta nomor telepon Bos mu. Aku ada urusan pribadi dengannya,"
Bos mu?
Apa maksudnya?
"Nggak mungkin kalau kalian nggak punya nomor Arshaka. Aku ada urusan penting dengannya, dan aku harus menemuinya segera," ucapnya mulai bernada tinggi.
Tak lama Mela mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu memberikan nomor Arshaka pada perempuan itu.
Aku masih diam terpaku memandangi perempuan itu yang sudah berlalu.
Melihat ku masih terpaku, Mela mendekati ku dan menanyakan diriku.
"Mel, maksud perempuan tadi itu apa? Kenapa dia bilang kalau Arshaka adalah Bos disini?"
Tampak Mela tergugu dan ragu untuk menjelaskan padaku. Akhirnya dia mengatakan sebuah fakta yang membuat ku menganga tak percaya.
"Sebenarnya Kak Arshaka itu adalah pemilik Kafe ini. Kak Arshaka mempercayakan Kak Samuel untuk memimpin Kafe,"
Okay, fakta baru yang membuat ku tercengang beberapa detik. Tanpa berpikir panjang aku langsung yakin jika aku bisa bekerja disini karena ulah Arshaka. Mengingat awalnya Samuel tak bisa memberi ku pekerjaan, taunya Samuel datang meminta ku langsung bekerja.
Melihat ia menggigit bibirnya kuat-kuat, aku yakin dia mengenal perempuan itu. Tapi takut menceritakannya padaku.
Akhirnya Mela menjelaskan, "Sebelumnya Kakak tadi sering datang ke Kafe buat bertemu Kak Arshaka. Tapi setelah Kak Bian masuk kerja, Kakak tadi sudah nggak muncul lagi. Apalagi ketika Kak Arshaka pernah memesan minuman dan ingin ditulis 'pacarnya Bianca'. Kami pikir kalian sudah berpacaran. Dan saat Kakak mulai bekerja disini, kami diminta untuk bekerja sama jika kami tidak mengenal Kak Arshaka sebelumnya."
Aku semakin menganga mendengar penjelasan dari Mela.
Merasa dibohongi, aku segera masuk kedalam ruangan karyawan. Sekuat tenaga aku menahan rasa kesal dan menahan air mata yang sudah bergenang di kedua mata ku.
Rasanya tidak enak dibohongi sama ssseorang yang bagiku sudah dianggap penting. Dan dia adalah Arshaka.
Aku merogoh saku celana ku, mencari ponsel dan menelepon Arshaka. Namun laki-laki itu tak kunjung menjawab telepon ku.
Waktu kian makin sore dan sudah sepuluh kali aku meneleponnya.
Telepon ku sama sekali tidak direspon olehnya, dan akhirnya sambungan ku terputus dan berhenti menelepon setelah mendengarkan nada operator jika nomor tidak aktif.
Aku mengepal tangan ku, rasa sakit ini muncul kembali merambat hati ku. Namun rasa sakit ini lebih menyakitkan ketimbang rasa sakit saat setelah aku diputusin Erick.
Untuk perempuan seperti ku, laki-laki yang berbohong adalah sesuatu hal yang sangat tercela.
Selain berbohong, melanggar janji, membentak perempuan sampai tidak menghargai perempuan adalah hal yang aku benci dari sisi negatif seorang laki-laki.
Lalu aku teringat dimana perempuan itu ingin bertemu dengan Arshaka dan menanyakan nomor ponselnya. Apa Arshaka memiliki hubungan khusus dengan perempuan itu?
Tanpa berpikir panjang, aku bersiap diri, meminta ijin untuk pulang cepat pada Mela.
Aku nggak peduli jika aku akan mendapatkan surat peringatan dari Samuel karena mangkir bekerja.
Aku butuh penjelasan segera dari Arshaka.
*****
Mobil Karin terhenti disebuah Rumah besar didaerah Jakarta Selatan.
Sebelumnya aku meminta Karin untuk menemani ku ke Rumah Arshaka. Saat aku menemui penjaga Rumah, ia bilang bahwa Arshaka baru saja pergi ke tempat perkumpulannya.
Aku langsung meminta alamat tempat kumpulnya dan disinilah kami berada.
"Ini kita masuk nih?" tanya Karin dengan pandangannya memperhatikan keadaan halaman Rumah layaknya Rumah berhantu.
Sembari aku menghirup nafas dan membuangnya kasar, meski aku takut namun rasa penasaran ku semakin kuat.
Jadi aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan melewati pekarangan Rumah tersebut.
Tidak ada satu pun orang sebagai penjaga pintu. Dibagian carport aku juga melihat jejeran mobil dan motor terparkir disana. Salah satunya aku melihat mobil Arshaka ada disana, dan disebelahnya ada mobil Romeo dan Samuel.
Berarti mereka bertiga sedang berkumpul disini.
Perlahan aku mulai memasuki Rumah dengan keadaan pintu yang sudah terbuka sedikit.
Perlahan dan mengusahakan supaya langkah ku dan Karin tak terdengar oleh penghuni Rumah, kami mengendap-mengendap layaknya pencuri.
Kami mulai berada di ruangan utama. Terlihat kosong. Tak ada satu pun barang disini. Hanya lampu yang menerangi kami.
Sampai aku mendengar suara membahana dari ruangan selanjutnya, aku dan Karin spontan menyembunyikan diri dibalik sekat dinding.
Karena Rumah ini besar, jadi aku dan Karin bisa menangkap percakapan mereka disana.
"Jadi taruhan ini dimenangkan oleh Arshaka ya."
Aku mendengar nama Arshaka disebut, lalu riuh tepuk tangan dan suara dentingan botol terdengar disana.
Semakin penasaran, aku mencoba mengintip dibalik dinding. Lalu Karin ikut mengintip diatas kepala ku.
Aku melihat beberapa orang berkerumunan disana, ada yang berdiri dan juga ada yang duduk di Sofa.
Orang pertama yang aku lihat adalah Romeo disana, tengah berdiri sambil merangkul pinggul seorang perempuan berpakaian seksi.
Melihat itu aku tak berani menatap kearah Karin. Sudah pasti hati Karin menangkap pemandangan itu.
Lalu pandangan ku beralih ke Samuel yang sedang duduk di Sofa dan tertawa bersama salah satu temannya, lalu aku menangkap sosok Arshaka yang juga duduk disana, sibuk menegak minuman didalam Botol yang aku tahu adalah Beer.
Aku terkejut melihat Arshaka meminum Beer disana. Begitu lancar ia teguk seakan ia sedang meminum air mineral biasa.
Dan aku juga melihat ada seorang perempuan duduk disamping Arshaka. Perempuan yang datang ke Kafe meminta nomor Arshaka tadi.
Perempuan itu memandangi Arshaka dengan lekat. Lalu tak segan perempuan itu memeluk Arshaka dengan mesra setelah menghabiskan minuman di Botol itu.
Namun Arshaka segera menepis pelukan perempuan itu dan menjauhkan dirinya. Meski begitu melihat mereka disana hati ku semakin sakit.
Lalu aku melihat seseorang mengeluarkan gepokan Uang diatas meja, lalu ia memberikan itu pada Arshaka.
"Hadiah kemenangan lo Ar."
Dari sini aku melihat Arshaka menyunggingkan senyuman tipis.
"Kalian pakai buat pesan makanan saja." ucap Arshaka datar lalu mereka bersorak gembira. Salah satu dari mereka mulai memesan makanan melalui Delivery Online.
"Jadi, kapan lo putusin Bianca?"
Aku membeku saat salah satu dari mereka menyebut nama ku. Dan mengatakan hal itu pada Arshaka.
"Nanti Samuel videoin saat Arshaka putusin Bianca. Pasti seru lihat Bianca yang cuek dan dingin menangisi seorang Arshaka."
Mereka tampak bersemangat membicarakan hal tersebut, "Bener banget. Gue setuju."
Salah satu dari mereka yang lain ikut menimpal dan tergelak sesaat, "Benar tuh. Apalagi kalau Bianca sampai tahu kalau Arshaka hanya memperalatnya supaya memenangkan taruhan."
"Bener. Bayangin Bianca nangis jadi merinding gue. Gimana ya ekspresi cewek itu pas dia tahu kalau Arshaka pacarin dia hanya karena taruhan? Pasti mewek banget tuh kayak drama FTV yang biasa nyokap gue tonton."
Seakan aku tersambar petir di malam hari, aku terpaku ditempat mendengar percakapan mereka dengan jelas disana.
Dan disana Arshaka hanya bergeming sembari membuka tutup botol minuman baru. Lalu ia teguk lagi sampai minuman itu habis.
Aku memandangi mereka tak percaya.
Jadi selama ini Arshaka mendekati ku karena aku adalah Objek yang harus ia dapatkan hanya untuk memenangkan permainan mereka?
Ia merayu, perhatian, sering mengirim Bunga, dan berulang kali ia menyebut kata cinta dengan mudahnya padaku dan ternyata itu hanyalah tipuan belaka?
Begitu aku berusaha menjauhinya namun ia pun berusaha mendekati ku dan ingin mengambil hati ku hanya untuk mendapatkan gepokan Uang diatas meja itu?
Aku mengepalkan kedua tangan ku kuat-kuat. Dengan segenap keberanian dan amarah yang terkumpul menjadi satu, aku nekat menghampiri mereka dan ruangan mendadak membisu saat aku sudah berdiri ditengah mereka, menatap tajam dan penuh amarah kearah Arshaka.
Arshaka langsung berdiri melihat ku, ia membelalak tak percaya bahwa aku berada disini dan berdiri dihadapannya.
Tak menunggu waktu lebih lama lagi, aku menampar pipi Arshaka dengan keras. Bisa ku lihat pipinya mulai memerah padam akibat perbuatan ku.
Dari lubuk hati aku ingin sekali menjambak rambutnya. Ingin membanting semua barang yang berada didekat ku. Dan aku sangat ingin menamparnya lagi.
Tapi aku berusaha keras untuk menahan diri, mengurungkan niat ku.
Aku masih sayang dengan diriku untuk menampar makhluk menjijikkan seperti Arshaka.
Lebih baik aku pergi dari sini.
Sebelumnya aku ingin menuntaskan apa yang ingin aku katakan pada laki-laki brengsek ini,
"Mulai saat ini juga aku tidak akan bekerja di Kafe mu lagi, dan aku pastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi."
"Dan kamu jangan khawatir. Aku akan menganggap bahwa kita tidak pernah saling mengenal atau bertemu satu sama lain."
"Selamat Arshaka. You're winner. Good job!" puji ku sinis sambil menepuk bahunya.
Segera aku langsung berbalik dan menarik tangan Karin untuk keluar dari Rumah sialan itu.
Aku terus melangkah gusar walau Arshaka terus memanggil nama ku. Dan aku nggak peduli. Aku ingin segera pergi dari sini dan tidak ingin melihat wajahnya lagi.
Karin langsung membawa mobilnya menjauhi tempat itu dan membawa ku berkeliling Ibukota.
Aku juga menonaktifkan ponsel ku yang sedari tadi ditelepon oleh Arshaka. Lalu aku membuang ponsel melalui jendela mobil, melemparnya sejauh mungkin supaya Arshaka tidak bisa melacak keberadaan ku lagi.
Aku mulai menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan rasa sakit ku melalui air mata yang terjun begitu deras.
Sudah selesai. Hubungan ku dengan Arshaka sudah berakhir.
*****