ARSHAKA

ARSHAKA
TIGA PULUH LIMA - END



Aku tertegun menatap diriku sendiri di pantulan cermin besar yang menampilkan seluruh diriku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Tak hanya aku yang tertegun, Karin juga tertegun dan tak henti melebarkan bibir karena kagum dengan kedua matanya terus bergerak naik turun menatapku.


"Fix kamu cantik banget pakai gaun pilihan aku. Lihat mahkota itu dan--ih cantik banget! Gemes! Jadi pengen nikah juga,"


Aku hanya terkekeh melihat Karin yang merengek karena gemas menatapku dengan tatapan tulus akan kekagumannya.


Akupun demikian, aku juga tidak menyangka jika gaun pengantin pilihan Karin akan sangat cocok aku kenakan.


Gaun pengantin berbahan sheath satin yang mengikuti bentuk badan dengan bagian belakang bawah tubuh yang memeluk pinggul, serta bagian punggung yang menggunakan lace dengan bentukan ilusi cut-out, serta lengan yang penuh.


Gaun yang kuidamkan juga disaat setelah menonton film Breaking Dawn kesukaanku.


Lalu Karin juga menambahkan sebuah asesoris di kepalaku. Sebuah mahkota kecil tanpa embel-embel kain panjang dikait ke mahkotaku yang akan menyeret tanah ketika aku berjalan.


Jangan lupa buket bunga untuk kugenggam sebagai pemanis seorang pengantin wanita pada umumnya.


Sudah lebih dulu aku bersiap, kini aku duduk di ruang rias masih bersama Karin sambil menunggu kedatangan Arshaka dan pihak keluarga mempelai pria. Konsep pernikahanku diselenggarakan di sebuah Taman yang ditata indah di Bali yang sengaja Arshaka sewa untuk acara sakral kami. Ayah dan Leo sudah lebih dulu bersiap dan menunggu Arshaka disana.


"Apa kamu gugup Bi?" Karin memperhatikan aku yang bungkam sedari tadi, namun kakiku tak henti bergerak naik-turun.


Iya, aku gugup bercampur gelisah. Entah kenapa pikiranku mencuat bebas didalam kepalaku. Terlintas berbagai macam praduga buruk yang akan terjadi; apakah acara pernikahan ini akan berjalan lancar, apakah nanti ada yang menghalangi pernikahanku seperti didalam drama yang sempat aku tonton, atau mungkin Arshaka tidak akan datang untuk mengucapkan sumpah pernikahan kami dan para tamu akan kecewa.


Namun segera kusingkirkan prasangka buruk itu, semakin gugup dan gelisah cara kerja pikiranku semakin tidak beres.


"Jangan cemas! Hilangkan gugupmu dengan menarik napas dengan perlahan, lalu kamu hembuskan juga dengan perlahan." Karin menuntunku untuk menarik napas dan membuangnya agar gugupku berkurang.


Aku menuruti arahannya, cukup berhasil, namun tetap saja rasa gugupku jauh lebih meluap.


"Aku tidak sabar melihatmu menyandang sebagai Nyonya Prabusudibyo. Aku yakin Arshaka tak akan bisa berkedip melihat penampilanmu saat ini." Aku hanya tersenyum melihat Karin masih gemas melihatku.


"Please kamu jangan nangis! Nanti make-upmu luntur. Aku akan kesulitan memperbaikinya lagi."


Aku kembali terkekeh, lucu melihat Karin sendirilah yang bersusah payah menahan air matanya hingga wajahnya memerah merona. Karin segera meraih tisu di meja rias dan segera menyeka air matanya yang hendak ingin tumpah.


Tak lama aku dan Karin samar-samar mendengar sesuatu yang menunjukan jika pihak pengantin pria sudah tiba. Degup jantungku semakin bertalu kencang ketika penyambut acara memulai membuka acara dan mengumumkan nama Arshaka yang sudah melangkah mendekati Altar.


Setelah penyambut acara memberikan narasinya beberapa menit, kini acara intinya akan segera dilaksanakan.


Ayah memasuki ruangan dimana aku sedang menunggu, Ayah langsung mengajakku keluar dan aku bangkit dan mulai melangkah perlahan disamping Ayah dengan merangkul satu tangannya.


Mencoba menenangkan diri di setiap aku melangkah menapaki jalan setapak menuju Taman, aku kembali teringat akan potongan momen bagaimana aku bisa mengenal sosok bernama Arshaka Danu Prabusudibyo hingga akhirnya hubungan kami berlanjut sampai disini.


Ingatan itu terus melompat memenuhi isi kepalaku, sampai sekarang aku masih tidak percaya saja jika aku akan menikah dengan Arshaka.


Sekilas aku terkekeh pelan, bagaimana nantinya aku menceritakan pada penerusku jika mereka menanyakan bagaimana aku bisa bertemu dengan sesosok pria yang sudah berdiri menungguku disana, dengan gagahnya ia memakai Tuxedo lengkap dan menatapku lekat dengan sebuah senyuman takjub melihat kedatanganku bersama Ayah.


Aku jadi tidak sabar untuk menceritakan semuanya kepada mereka nanti.


Kegugupanku yang sempat terkikis kembali menguap ketika langkahku semakin dekat dengan posisi Arshaka. Tak hanya gagah, aku juga takjub melihat Arshaka bagaikan bak Pangeran tokoh kartun kerajaan yang pernah kutonton.


Kenapa pria ini bisa setampan itu?


Kami telah sampai didepan Altar. Ayah langsung menyerahkan aku kepada Arshaka dan menepuk bahu Arshaka sebanyak dua kali sebelum Ayah pergi ke tempat singgah sananya.


Kini aku dan Arshaka berdiri berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Kegugupan masih menguasai kami namun aku dan Arshaka masih sanggup menyimak setiap kalimat sang penghulu membacakan ikrar pernikahan yang akan kami lontarkan ulang.


"Bianca Delvain, aku menjadikanmu sebagai seorang istri untukku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."


Aku tertegun sekaligus haru mendengar ikrar Arshaka yang begitu lantang dan mantap sembari menatapku penuh damba dan bahagia.


"Arshaka Danu Prasudibyo, aku menjadikanmu sebagai seorang suami untukku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."


Begitupun juga denganku, aku pun juga mengucapkan ikrarku dengan lantang. Tak lupa aku turut menanamkan doa setelah penghulu meresmikan kami menjadi sepasang suami dan istri.


Berada dipelukan Arshaka lalu kami saling berciuman dihadapan para tamu yang memberikan tepuk tangan yang meriah untuk hubungan baru kami, aku berdoa agar perjalanan hidup kami akan selalu dipenuhi kebahagiaan.


Tak hanya kami saja, semua orang yang berada disini dan diluar sana juga harus mendapatkan kebahagiaannya pula.


Aku harap demikian.


...*****...


Aku menoleh disaat ada seseorang yang menghampiriku dan Arshaka saat setelah menyapa tamu lain. Aku tertegun sejenak melihat kedatangan Samuel bersama seorang gadis cantik yang tidak aku kenali.


Sejak sedari tadi aku menyapa para tamu, aku baru menampaki teman Arshaka saat semasa remaja.


Lebih tepatnya Samuel itu bukan teman sekolah Arshaka, justru Samuel teman seangkatanku semasa Kuliah. For your information.


Arshaka hanya mengundang kerabat yang memang ia kenal dekat saja. Rata-rata tamu yang diundang kebayakan relasi dan rekan kerja A.P. Coal. Sesaat aku terkejut jika Arshaka memgundang Samuel kesini.


"Terima kasih," Arshaka membalas jabat tangan Samuel dan ia tersenyum sekilas menyapa gadis yang bersama Samuel.


"Jujur gue masih speechless pas denger cerita dari lo dan lihat undangan pernikahan kalian. Beneran nggak nyangka kalau kalian balikan lagi," Samuel menggeleng kepala tak menyangka dan tersenyum simpul saat menceritakan itu.


Arshaka kembali tersenyum sebagai tanggapan dari penjelasan Samuel.


"Thanks udah datang ke acara gue, Muel."


Aku terkekeh pelan mendengar panggilan Arshaka yang masih sama memanggil Samuel dengan "Muel".


Samuel mengendikan kepala sebagai tanda balasan.


Cukup lama kami mengobrol dengan Samuel, aku menampaki rekan kerjaku di Diamond Burke. Aku melihat Muri, Mas Sigit, Mbak Enni sedang berjalan menghampiriku.


Aku kembali mendapat ucapan selamat dari mereka. Mbak Enni memelukku erat dengan raut bahagia, lalu aku membalas jabat tangan Mas Sigit dan terakhir Muri.


"Selamat Bi! Semoga langgeng dan bahagia selalu," Muri mengucapkan selamat padaku lalu ia memelukku sesaat.


"Terima kasih sudah hadir,"


Setelah Muri memelukku, aku agak gelagapan saat Arshaka menarik pinggangku dan melilitkan satu tangannya di pinggangku.


"Happy wedding, Pak Arshaka!" sapa Muri sembari tersenyum dan ia mengulurkan tangan ke Arshaka yang sudah memasang wajah kecut.


"Terima kasih," Arshaka membalas jabat tangan Muri.


Tak lama Muri DKK pergi dan Arshaka beralih mengunjungi Reymond bersama relasinya yang sedang menikmati hidangan yang tersaji.


Aku mengamati wajah para tamu yang tampak bahagia. Ada yang asik menikmati hidangan, ada yang tak sungkan memberikan beberapa lagu untuk aku dan Arshaka, dan ada juga yang tampak mengobrol dan mengamati jalannya acara yang dipenuhi gelak tawa bahagia.


Aku terharu, tentu saja.


"Kenapa melamun disini?" Aku tersentak saat Arshaka datang memelukku dari belakang, ia sudah tidak sungkan menciumku didepan umum.


"Aku tidak melamun. Aku lagi melihat para tamu sangat senang menikmati acara disini, aku jadi ikut senang." Aku mengelus lilitan tangan Arshaka di pinggangku.


"Are you happy now Mrs. Prabusudibyo?" bisik Arshaka tepat disebelah telingaku.


"Yes, I am," aku terkekeh sembari melirik kearah Arshaka. Terdengar lucu saat Arshaka memanggilku seperti itu.


Tapi aku suka dengan panggilan itu.


...***** TAMAT *****...


Alhamdulillah aku menyelesaikan Arshaka versi terbaru, walau update-nya lama hehe..


Aku sangat berterima kasih untuk kalian yang telah merelakan waktunya untuk membaca cerita ini, suka sama setiap tokohnya dan mendukungku dengan komentar positif kalian.


Maaf jika semua komentar kalian jarang kurespon. Maaf jika mungkin aku terkesan cuek dan aku tidak bisa seperti rekan penulis lainnya yang begitu ramah menyapa kalian. Akan aku usahakan utk sering menyapa kalian hehe..


Aku tak henti mendoakan kalian, segenap hatiku yang paling dalam semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan keberkahan di setiap aktifitas.


Aku juga berterima kasih kepada chokky yang mau bersusah payah menulis untukku saat aku butuh recovery dan tak sungkan menghibur para pembaca. You're the best partner who i have 💜


Yang bertanya kenapa di wp cerita ini ku unpub, sebab ya aku ingin unpub aja dan aku memilih platform ini utk publish Arshaka versi terbaru.


Demikian cuap-cuap dariku takut kalian bosan bacanya wkwk. But aku akan nambahin beberapa ekstra chapter, so ditunggu aja ya!


Sincerely,


Octaviandri23