ARSHAKA

ARSHAKA
Restu



"Ah, ya silakan, Apa yang dirasakan pak Arshaka? ".Ucap Vano berusaha untuk seformal mungkin, walaupun ia sudah mengetahui siapa yang dijalan nya saat ini.


"Maaf Pak Vano, bukan maksud saya untuk membohongi Pak Vano karena saya kesini bukan untuk periksa melainkan untuk bertemu Pak Vano".


"Pak Vano sudah mengenal saya? ".


" Ada keperluan apa kamu menemui saya? ".


" Saya ingin membicarakan tentang putri Pak Vano, Zara".


Vano mengernyit bingung "mengapa ingin membicarakan putri saya? ".


" Seperti yang sudah Bapak tau saya anak sulung Abiyan dan Zea. Saat ini saya adalah pemimpin pesantren Darussalam sedangkan Zara adalah santriwati yang mengabdi dipesantren milik saya".


"Awalnya memang Zara melanggar aturan sampai akhirnya dia memiliki prestasi dipesantren dan mendapatkan beasiswa di Universitas Darussalam".


" Zata berteman dengan adik-adik saya, Zyana dan Abizan. bahkan mereka nyaman berteman dengan Zara, adik bungsu saya merasa bahwa Zara mirip dengan Ibu saya, Zea".


"Saya tau Pak Vano adalah teman sekampus Ibu saya, seangkatan dan sefakultas, bahkan Pak Vano menyukai Ibu saya, dan saya juga tau dulu Bapak berusaha membalaskan dendam kepada Ayah saya karena kakak dari Pak Vano meninggal gara-gara Ayah saya, sedangkan Pak Vano memiliki anak perempuan dan memberikan nama yang mirip dengan Umma saya, Pak Vano berharap agar Zara kelak tumbuh menjadi gadis seperti Umma saya, sepertinya harapan Pak Vano terkabul tingkah laku Zara memang mirip Umma tapi menurut saya tidak banyak, karena Zara adalah Zara, dan Zea adalah Zea mereka tidak sama. Singkatnya, Zara berhasil membuat saya jatuh hati, itu karena ketulusan bukan karena dia mirip Umma saya. saya tidak merasa Zara sangat mirip dengan Umma karena Umma dan Zara memiliki ruang yang berbeda dihati saya".


"Saya bermaksud menemui Pak Vano karena Bapak adalah ayah kandung Zara, yang sudah seharusnya saya meminta restu dari Pak Vano untuk mengkhitbah putri Pak Vano. Zara".


Vano terdiam membisu mendengar penuturan Arshaka, ia menatap Arshaka dalam-dalam terlihat sorot mata Arshaka terlihat bersungguh-sungguh.


" Nak Arshaka, terimakasih karena sudah tulus dengan Zara tapi maaf saya tidak tau harus menjawab apa? karena Zara sendiri sangat membenci saya, Ayah kandung nya".


Vano teringat perkataan Zara tempo hari saat dirinya mencoba menemui Zara sepulang gadis itu kuliah.


"Dulu papa adalah cinta pertama Zara, tapi saat ini Zara tau semuanya, papa adalah pria pertama yang sangat Zara benci".


Kalimat itu masih terniang dipikiran Vano, Zara membencinya dan Vano adalah penyebab dari masalah ini, Rasanya sangat sakit ketika mendengar kalimat itu yang keluar dari bibir Zara serta wajah putrinya yang berderaian air mata. putrinya sendiri membencinya.


"Pak Vano saya akan coba berbicara dengan Zara agar Zara mau menemui Pak Vano dan memaafkan semu kesalahan Pak Vano di masa lalu".


"Saya merestui kamu untuk meminang putri saya, saya berharap kamu bisa membahagiakan Zara, menebus waktu yang terbuang sia-sia karena Ayah nya sendiri, sanggup bahagiakan Zara, Arshaka Atharazka Malik. Saya yakin".


Pak Vano tersenyum. menatap Arshaka dengan tatapan bahagia" Terimakasih Nak, kamu sangat mirip dengan ayah kamu, Tulus sekali".


Arshaka tersenyum mendengar nya dan mengangguk mantap "InsyaAllah saya, sanggup, Terimakasih Pak".


...----------------...


Ini lah yang kita tunggu-tunggu.


Taraaaaa makjreng.....


Diterima gak ya sama Zara?


Tunggu kelanjutan nya ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻🚦