ARSHAKA

ARSHAKA
TIGA PULUH TIGA



Pukul tiga sore.


Arshaka melangkah lebar setelah keluar dari pintu Bandara. Tampak beberapa pria berpakaian rapih memandangi kehadiran Arshaka sambil menggerek koper hitamnya.


Salah satu pria itu menyapa hangat Arshaka dan langsung menggantikan Arshaka untuk menarik koper tanpa Arshaka minta. Arshaka membiarkan mereka mengikuti langkahnya menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sudah terparkir untuk Arshaka naiki.


"Mau langsung ke Rumah Non Bianca atau maampir ke Kantor dulu, Tuan?" tanya sang sopir mobil setelah menyapa Arshaka yang sudah duduk dibelakang.


"Langsung ke Rumah Bianca saja!"


Titah Arshaka segera dituruti oleh sang sopir. Mobil segera melaju keluar dari area Bandara bersama beberapa mobil hitam lainnya yang juga mengikuti laju mobil Arshaka.


Selama diperjalanan, Arshaka menghubungi Adam--Ayah Bianca--jika ia sedang didalam perjalanan menuju Rumah. Setelah itu ia langsung menghubungi Bianca.


"Kamu sudah sampai di Kantor?" tanya Arshaka setelah sambungan teleponnya tersambung.


"Sudah. Aku mau meeting internal dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Tapi kamu tetap kabarin aku jika kamu sudah sampai di Rumah,"


"Iya,"


Arshaka mematikan telepon dan ia mulai menikmati pemandangan Ibukota Jakarta yang tak pernah berubah.


Macet karena padatnya kendaraan, namun kali ini terlihat semakin padat kendaraan dan cuaca begitu terik dan panas.


Butuh waktu dua jam diperjalanan akhirnya mobil Arshaka tiba di halaman Rumah Bianca.


Sebelum memasuki Rumah Arshaka mengamati pekarangan Rumah tersebut, tampak asri dipenuhi tanaman rambat dan tanaman hias yang telah dirawat rapih.


Segera Arshaka memencet bel disamping daun pintu, kemudian pintu terbuka dan Leo menampakan diri disana.


"Sudah lama--"


"Masuk!"


Arshaka mengerjap lalu tergelak sesaat mendapat sapaan dingin dari Leo.


Anak itu masih belum berubah.


Arshaka melangkah masuk mengikuti Leo ke runag tengah. Disana sudah ada Adam yang sedang duduk sembari membaca buku.


Berbeda dengan Leo, Adam melapaskan kacamata bacanya, lalu ia bangkit dan segera menyapa Arshaka dengan hangat.


"Apa kabar kamu, Nak?" sapa Adam saat Arshaka menyalami punggung tangan Adam.


"Very well. Sepertinya Ayah juga sangat sehat hari ini"


Adam mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo duduk! Nanti kita makan malam bareng ya? Leo sudah pesan makanan diluar. Sejak Bianca di Bali kami hanya pesan makan diluar saja, Arsha." Adam mengulurkan tangan kearah sofa krim yang terlihat empuk. Arshaka manut mengikuti arah tangan Adam.


"Tidak apa-apa. Justru aku jadi nggak enak karena ngerepotin Ayah dan Leo,"


Adam melambaikan tangan sebagai tanda jika Arshaka tidak merepotkannya.


Sedangkan Leo hanya memutar netra mata disamping Adam, lalu Leo segera memesan makanan untuk mereka makan nanti malam.


Sambil menanti makan malam, Adam dan Arshaka tampak asik menikmati obrolan mereka. Setelah membahas pekerjaan Arshaka saat ini, obrolan terdengar serius saat membicarakan hubungan Arshaka dengan Bianca.


"Aku sudah balikan dengan Bianca, Ayah." ucap Arshaka mantap menatap Adam dan Leo.


"Syukurlah jika hubungan kalian kembali membaik," ucap Adam sambil tersenyum.


"Ah--kamu gerak cepat rupanya," sela Leo sembari tersenyum miring, dan hal itu dapat dibaca Arshaka.


"Iya. Seseorang yang kau harapkan tidak segesit aku,"


Arshaka membalas senyum miring Leo, sedangkan Adam tampak bingung dengan sikap dua pria tersebut.


"Iya. Jika saja rencana terselubungmu tidak berhasil, mungkin kak Bian akan bersama Mas Muri."


Penjelasan Leo memancing Adam untuk bertanya.


"Maksud Leo apa?"


"Gini Yah, aku ada pernah hubungi Leo jika Aku ingin bertemu Bianca untuk meminta maaf, dan Leo langsung memberitahu aku jika Bianca akan bertandang ke Bali untuk projek baru. Rupanya Kantor Bianca sedang bekerja sama dengan Kantor aku jadi kami berhasil bertemu dan aku bisa langsung meminta maaf sama Bianca."


Adam manggut-manggut mendengar penjelasan Arshaka. Sedangkan Leo hanya menatap datar kearah Arshaka.


Penjelasan Arshaka tidak benar seratus persen. Leo sudah tahu jika projek pekerjaan Bianca ke Bali adalah ulah Arshaka.


Lalu Leo bertemu dengan Muri mengenai kepastian Muri, apakah Muri bersungguh-sungguh menyukai Bianca atau tidak--dan Leo berharap jika Bali akan menjadi momen terbaik untuk hubungan Muri dan Bianca.


Tapi ternyata justru menjadi momen terbaik Arshaka dan Bianca.


Leo tak bermaksud ingin jahat dengan Arshaka--memikirkan hal itu tidak terlintas di kepala Leo.


Namun rupanya Bianca jatuh lagi kepangkuan Arshaka.


Leo menyimpulkan jika Arshaka memanglah lihai meraih sesuatu hal yang memang Arshaka inginkan.


Atau mungkin memang Arshaka adalah jodohnya Bianca.


Atau takdir Tuhan yang mendukung rencana terselubung Arshaka.


"Oh iya, Ayah kabari Bianca dulu jika Arsha sudah sampai disini. Tadi Bianca minta Ayah kabari."


Adam segera meraih ponselnya yang berada diatas meja, lalu ia mengirimkan pesan ke Bianca.


"Arsha istirahat disini dulu aja ya! Ada kamar kosong bisa kamu gunakan untuk rebahan. Ayah mau mangkas tanaman Ayah didepan, kayaknya tadi ada daun yang sudah kering,"


"Santai Yah. Nanti aku akan ke kamar jika aku sudah sangat lelah,"


Adam bangkit menuju halaman depan Rumah.


Kini hanya ada Leo dan Arshaka di Ruang Tengah.


"Kayaknya lo masih tidak mau mendukung hubungan gue dengan Bianca,"


Leo menaikan alis mendengar pernyataan Arshaka.


"Gue masih meragukan lo," jelas Leo sembari memandangi Arshaka.


"Ragu kenapa?"


"Ya lo tahu lah apa maksud gue."


"Lo nggak percaya jika gue beneran sungguh-sungguh sama Bianca?"


"Memangnya apa jaminannya jika lo beneran sungguh-sungguh sama kakak gue?"


"Gue akan nikahin Bianca,"


"Itu nggak menjamin kebahagiaan kakak gue. Lo bisa melakukan apapun bahkan lo bisa berbuat semena-mena--dan gue nggak suka hal itu." Leo tersenyum sinis.


Sebelum membalas Leo, Arshaka meneguk air minum yang sudah tersedia diatas meja.


"Otak gue nggak akan kehabisan akal untuk membuat Bianca jadi milik gue," ucapnya sambil meletakan gelas ke atas meja.


"Jangan pernah lo berbuat macam--macam sama kakak gue, Arsha!" tatapan Leo berubah tajam menatap Arshaka.


Arshaka mendengus sinis.


"Itu tidak akan terjadi jika lo juga nggak berbuat macam-macam sama hubungan gue."


"Lo udah pernah sekali nyakitin kakak gue--"


"Dan gue juga cukup sakit disaat Bianca pergi dan gue nggak bisa melakukan apapun. Gue nggak mau ngerasain kesakitan itu lagi Leo--dan jangan sampai hanya karena lo nggak dukung hubungan gue otak gue malah nyuruh gue buat melakukan hal diluar nalar.."


Mereka berdua tampak memandang satu sama lain sebelum Arshaka melanjutkan ucapannya.


".. kalau mau gue jaminin nyawa gue. Kapanpun kalau gue kembali nyakitin Bianca, gue siap jika lo atau Ayah mau bunuh gue."


"Lo gila ya?!" Leo terkekeh sinis.


"Iya. Gue memang sudah gila selama empat tahun saat gue biarin Bianca pergi. Lo bisa pegang omongan gue Leo, dan gue nggak akan mengelak semua janji gue sama lo."


Mereka kembali saling menatap satu sama lain.


Leo mendadak merinding di sekujur tubuh melihat kilatan tajam yang ia tangkap dari netra Arshaka.


Ucapan Arshaka memang terdengar gila, tapi Leo tidak menyangka jika tatapan Arshaka memang terlihat menantang, terlihat serius dan membuat Leo mengalihkan pandangan kearah lain.


Leo menghela napasnya untuk menetralisir detak jantung yang mendadak bergemuruh.


Pria itu memang gila--tapi anehnya pria itu berhasil membuat Bianca secinta itu sama dia dan ia tidak gagal mengambil perhatian Adam.


"Terserah lo aja deh!"


Leo bangkit lalu menatap Arshaka sejenak.


"Lo bisa ke kamar Kak Bian di lantai 2 buat bersih-bersih dan istirahat. Bentar lagi makanan datang, jangan sampai lo lama karena Ayah sudah nggak bisa telat makan."


Leo melangkah menghampiri Dapur untuk menyiapkan makan malam mereka.


Melihat Leo melenggang pergi, Arshaka tersenyum simpul menatap punggung Leo.


"Ah--tiba-tiba aku merindukan gadisku.." gumam Arsha lalu ia bangkit ke kamar Bianca di lantai dua.


...*****...