ARSHAKA

ARSHAKA
EKSTRA CHAPTER 1



Dengan langkah gontai dan pandangan sedikit kabur sebab masih mengantuk, Bianca menuruni anak tangga secara perlahan menuju Dapur. Ia membuka lemari kaca dan mengambil sebuah gelas yang tersusun apik disana, kemudian Bianca membuka Lemari Es lalu menuangkan air dingin ke dalam gelas sampai penuh.


Bianca meneguknya hingga tandas, lalu ia merapihkan kembali dan hendak untuk kembali ke dalam kamar.


Mengingat tadi Bianca bermimpi indah, buru-buru ia bergegas agar mimpi itu bisa ia lanjutkan.


Namun Bianca sontak terkejut melihat Arshaka menghampirinya ke Dapur. Tampak Arshaka masih mengenakan kemeja kantornya.


"Kalau kamu haus kenapa kamu nggak minta aku buat ambilin minum?" Arshaka mengelus kepala Bianca dengan lembut, seekilas tersenyum karena gemas melihat wajah bantal Bianca.


Arshaka baru selesai bekerja di Ruang Kerjanya. Setelah ia pulang ke Rumah, Arshaka mesti harus melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Sehingga Arshaka meminta Bianca untuk tidur di Kamar. Ia tidak mau Bianca menemaninya hingga ketiduran di Ruang Kerja.


Hal itu sudah menjadi kebiasaan baru Bianca sejak mereka menikah selama enam bulan ini. Sejaka mereka menikah, Reymond memutuskan untuk pensiun dan ia memilih tinggal di Bali untuk menikmati masa tuanya. Sehingga Arshaka harus menangani semua perusahaan yang diberi mandat oleh Reymond.


"Nggak apa-apa. Kamu sudah selesai kerjanya?" tak lama Arshaka mengangguk.


"Kamu mau aku buatkan susu?" tanpa menunggu persetujuan Arshaka, Bianca menyiapkan susu kemasan untuk ia seduh.


Arshaka hanya terdiam sembari memperhatikan Bianca yang sedang menyeduh susu untuknya.


Asik dengan kegiatannya, Bianca kembali terkejut saat sang suami memeluknya dari belakang. Pelukannya begitu erat dan tak lupa Arshaka membenamkan wajahnya ditengkuk Bianca dan sesekali mengecupnya lembut.


Memeluknya dari belakang menjadi kebiasaan baru Arshaka terhadap Bianca saat mereka sedang berdua. Jika Arshaka senggang, ia bisa memeluk Bianca seharian. Tak peduli Bianca tengah sibuk melakukan pekerjaan Rumah.


"Segera diminum susunya! Aku siapkan air hangat agar kamu bisa berendam." Bianca mengaduk susu tersebut lalu menggesernya ke samping. Tapi Arshaka belum bergerak untuk melapaskan pelukannya.


Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa mereka akan berdiri semalaman.


"Ayo sayang diminum! Biar kita bisa tidur cepat. Besok kamu harus berangkat pagi," Bianca mencoba melepaskan lilitan tangan Arshaka, namun justru Arshaka mempererat pelukannya.


"Besok aku cuti, Bee."


Bianca tertegun sesaat, "Besok kamu cuti? Kenapa?"


"Aku ingin meliburkan diri. Besok aku nggak mau bekerja." ucapnya ditengkuk Bianca. Masih belum mau menguraikan pelukannya.


"Kenapa tiba-tiba cuti? Tumben,"


Bianca menoleh menatap heran pada Arshaka. Mendengar Arshaka ingin libur dan tidak ingin melakukan apapun adalah hal yang paling jarang terjadi. Sekalipun ia libur, pasti Arshaka tetap akan sibuk dengan menyibukan diri di Runag Kerja. Entah sibuk menelepon relasi atau membalas pesan penting, atau terpaku sendiri dengan iPad-nya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.


"Apa aku terlalu sering meninggalkanmu bekerja sampai-sampai kamu terkejut mendengar aku cuti Bee?" tanyanya sambil membalikan Bianca agar menatap Arshaka secara intens.


Seketika Arshaka merasa bersalah saat itu juga. Tanpa ia sadari karena terlalu sibuk bekerja, dengan kalimat Bianca seperti itu sudah pasti Bianca merasa kesepian.


Tapi di satu sisi Bianca memaklumi Arshaka. Sejak mereka menikah memang perusahaan Arshaka sedang berkembang pesat, khususnya di Jakarta. Apalagi Arshaka mengambil alih semua perusahaan sementara waktu sampai Arshaka berhasil menemukan sosok orang yang bertanggung jawab untuk membantunya mengambil alih perusahaan.


"Tidak kok." Bianca menggeleng menepis dugaan Arshaka.


"Kalau gitu kamu ambil cuti berapa hari? Mau aku masakin sesuatu untukmu besok?" tawar Bianca lembut.


"Tiga hari. Kamu nggak perlu masak. Kita delivery saja,"


Bianca mengangguk.


"Jadi apa rencana yang akan kamu lakukan di hari pertama cutimu besok?"


Arshaka terdiam, tampak menimbang sesuatu.


"Aku tidak ingin melakukan apapun dri Rumah selain berduaan denganmu,"


Bianca manggut-manggut namun ia mengerutkan dahi, ikut berpikir kegiatan apa yang akan mereka lakukan besok.


"Iya," Arshaka mengangguk. Namun Bianca mulai tampak bingung.


"Jadi kegiatan apa yang akan kita lalukan besok?"


Smirk nakal tercipta indah menghiasi wajah Arshaka. Lalu Arshaka mengecup bibir Bianca secara tiba-tiba namun lembut.


"Aku menginginkanmu Bianca."


Arshaka kembali mengecup bibir Bianca. Kali ingin lebih lembut dan berhasrat. Bianca hanya mengikuti ritme yang dimainkan Arshaka. Namun Bianca mulai kewalahan permainan Arshaka.


Pagutan Arshaka kian dalam hingga mampu membuat sekujur tubuh Bianca memanas.


Berkat pagutan itupula Bianca tak sadar jika ia sudah duduk di meja kitchen set, dan satu persatu kemeja tidur Bianca terbuka dan Arshaka sigap menelusuri Bianca dengan kedua tangannya.


"Mau coba disini?" Arshaka melepaskan pagutannya dan menatap Bianca dengan penuh hasrat. Bianca terdiam, tidak menolak ataupun tidak mengiyakan.


Namun suara serak Arshaka selalu berhasil menghipnotis Bianca. Dan Arshaka tahu Bianca tidak akan pernah bisa menolaknya.


Sesaat sekujur tubuh Bianca menggigil. Dinginnya malam juga sentuhan Arshaka yang mampu menyentakkannya seakan ada aliran listrik yang menyengatnya.


Bianca mengeluh pelan, kedua tangannya tak luput mencengkram kedua lengan Arshaka saat dirinya mendadak penuh dan sesak.


Ditambah surat lembut Arshaka bergema tepat di telinganya berhasil membuat Bianca terasa melayang.


"Bianca, tatap aku!"


Bianca dengar akan perintah Arshaka, namun ia hanya mengeluh pelan dan masih memejamkan mata.


"Tatap aku sayang!" Kembali Arshaka meminta Bianca dan terdengar sedikit menekan.


Jujur Bianca tidak sanggup jika ia menatap Arshaka saat sedang seperti ini.


Tapi Bianca membuka matanya secara perlahan, dan ia langsung menyesal saat tatapan hasratnya bertabrakan dengan tatapan hasrat Arshaka.


Rasanya ada sesuatu yang mengelitik Bianca. Ditambah ritme Arshaka yang kian memabukan.


Bianca menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak mengeluh disaat Arshaka sedang sibuk bertempur dibawah sana.


"Arsha.." Bianca mengeluh sembari menggigit bibir bawahnya lagi.


"Ya sayang.."


Arshaka berhenti mendadak dan seketika Bianca kecewa. Arshaka tidak ingin Bianca meledak dulu, untuk itu Arshaka menurunkan Bianca lalu menuntunnya untuk bersender di dinding lalu satu kaki Bianca ia angkat agar Arshaka bisa melesak masuk.


Bianca tersengal, begitu pula dengan Arshaka. Bianca tahu Arshaka akan sampai, namun pria itu memperlambat permainannya. Dan hal itu juga membuat Bianca frustasi.


"Arsha..please.." Bianca memohon dengan tangannya yang terus mencengkram lengan lalu naik menyusuri leher jenjang Arshaka.


"Datang padaku Bee!"


Bianca mengeluh lega setelah kenikmatan datang membuncahnya, tak lama Arshaka menyusul.


Kesadaran kembali terkumpul, Bianca hendak memungut pakaian dan melangkah ke kamar. Namun Arshaka menarik Bianca kedalam pelukannya.


"Aku masih ingin main. Kita coba di ruang tengah."


...***** ...