ARSHAKA

ARSHAKA
Pandu



"Kenapa bangun? kamu baru tidur satu jam".


" Laper, hehehe ".


Arshaka terkekeh" yaudah aku beliin makanan dulu, kamu tunggu sini aja".


"Gak usah aku mau ngemil makanan yang kita bawa aja, gak perlu beli makanan berat".


" Tapi sekarang juga udah masuk makan siang, Ra".


"Mas, jangan pergi".


Arshaka menghela napas pasrah, mengangguk dan membuka totebag yang berisi cemilan.


Hari pertama mereka di Jogja Zara enggan kemana-mana tiba-tiba saja hanya ingin bersantai di Hotel.


Ini hari keempat dirinya menstruasi tetapi belum juga menandakan akan selesai, jadi ia merasa kasihan pada Arshaka niatnya ingin bulan madu eh justru datang bulan.


" Sayang kamu beneran gak mau jalan-jalan? ".


Zara menggeleng matanya masi fokus menatap laptop yang tengah menampilkan sebuah film horor.


" Yaudah kalau gitu aku mau ngaji kitan sebentar, jangan diganggu ya".


Zara kembali mengangguk membuat Arshaka mengusap pucuk kepalanya menuju sofa mulai membuka kitabnya.


"Mas".ucap Zara setelah film yang ia tonton habis.


Arshaka tak menoleh Zara.


" Mas Caka, aku laper'.


Masih tak menoleh, Zara menyadari jika Arshaka bilang tak ingin diganggu Akhirnya wanita itu beranjak memakai khimar dan Cardigan.


Arshaka masih tak menyadari kepergian Zara karena ia sangat fokus dan tak memperhatikan sekitarnya.


Zara keluar menuju pedagang nasi goreng, sekitar 50 meter dari kawasan Hotel terdapat stand penjual Nasi goreng, Zara belum mengetahui kota ini terlebih dirinya hanya pendatang dan tak tau jika pergi sendirian dimalam hari akan sangat berbahaya, setelah menunggu nasi goreng nya, dompet milik Zara tiba-tiba saja direbut oleh seseorang yang tak dikenal, Zara terkejut, tetapi bertambah terkejut ketika adanya seorang pria yang menahan tubuh pencuri yang baru saja mengambil dompet Zara.


"Balikin dompetnya".ucap seorang pria itu.


Pria itu merebut dompet Zara mendorong tubuh pencopet hingga terjatuh dijalan, saat pria itu berbalik menghadap Zara ia terkejut menatap Zara.


" Pandu, tunggu ".


Pria itu berhenti, tak berani menatap Zara.


" Terimakasih, Ndu. Tapi boleh kuat ngobrol sebentar? ".


"Tapi--".


" Sebentar aja saya mau tanya sesuatu sama kamu".


"Zara".


Keduanya menoleh pada Arshaka yang baru datang dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Zara merasa bersalah dan Pandu bingung dengan kehadiran Arshaka.


" Mas, maaf aku keluar Hotel karena mau beli makanan, terus tadi dompet ku dicopet terus tiba-tiba Pandu dateng nolongin aku".


"Menolong? ".ulang Arshaka beralih menatap Pandu.


" Kamu mengikuti istri saya? ".tanya Arshaka pada Pandu, membuat Pandu terkejut.


"Istri? ".


" Maaf, saya hanya kebetulan tinggal didaerah sini, lalu melihat ada copet saya juga tidak tahu jika yang dicopet adalah Zara".jelas Pandu.


"Kelihatannya kamu anak baik, tetapi mengapa saat itu tega memfitnah istri saya? ".


" Maaf saya melakukan itu terpaksa ".


" Terpaksa? Maksudnya? Siapa yang memaksa kamu untuk memfitnah istri saya? ".


Pandu menundukkan kepalanya. ia benar-benar merasa bersalah akan perbuatannya.


" Mba Rita".jawab Pandu.


Arshaka dan Zara saling melempar tatapan, ia beralih menatap Pandu.


"Kita duduk sebentar ceritakan apa maksud kamu".ajak Arshaka seraya membawa Pandu duduk di taman Hotel.


Flashback


Pandu menghela napas pasrah ketika mendapatkan kabar jika sang kakak mengatakan jika ibunya masuk rumah sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk membayar rumah sakit.


Hendak kekamar mandi Pandu melihat Arshaka keluar ruangan nya, dan Pandu segera masuk kedalam yang tak terkunci, ia membuka laci demi laci untuk mencari amplop uang, sudah berbulan-bulan Pandu di pesantren dirinya tau jika Pesantren memiliki uang yang akan didonasikan pada panti asuhan dan jumlahnya lumayan banyak.


Hingga menemukan amplop tersebut Pandu membuka pintu hendak keluar namun justru wajah Mba Rita yang ada dihadapannya.


"Hey kamu! ngapain kamu disini? ".


Pandu menggeleng terlihat gugup menyembunyikan amplop nya dibelakang tubuhnya" sa-saya cari Gus Arshaka ".


"Tidak mungkin ada yang berani masuk kedalam ruangan saat Gus Arsha tidak ada ditempat".


Pandu menatap ujung lorong disana terlihat Arshaka yang tengah berjalan hendak kembali ke ruangan nya, mba Rita mengikuti arah pandang Pandu.


" Ikut saya".


Jujur Pandu begitu ketakutan ia segera mengekor Mba Rita, dan Mba Rita menarik panji ke sebuah ruangan yang kosong tak ada CCTV-nya.


"Kalau kamu mau jujur saya gak akan mengadukan kamu ke Gus Arsha, jujur aja sama saya".


" Mba, saya minta maaf saya melakukan ini terpaksa, Ibu saya sedang dirawat dirumah sakit dan membutuhkan biaya yang banyak, Sa--ya".


"Kamu mencuri? '.


" Maaf, Mba saya mohon jangan adukan saya pada Gus Arsha ".


Mba Rita mengangguk" oke, saya tidak akan adukan kamu ke Gus Arsha, asalkan kamu mau mengikuti perintah saya".


Mba Rita tersenyum miring"kamu pasti tau kan, Zara? ".


Pandu mengangguk" iya".


"Kamu jebak Zara, biasanya jam 1 atau 2 malam dia akan keluar kamar untuk ke kamar mandi, kamu bawa dia ke gudang seolah kalian sedang berzina ".


Pandu terkejut menggeleng tak percaya" gak mungkin, Mba. Zara teman saya, dia perempuan baik".


"Oh, jadi kamu ingin saya adukan ke Gus Arsha jika kamu mencuri".


Mba Rita mengambil amplop yang berada ditangan Pandu" saya akan menaruh amplop ini didalam lemari Zara ketika semua santri akan sholat Dzuhur lalu menghapus rekaman CCTV kita yang bertemu didepan pintu ruangan Gus Arsha, saya akan memberikan kamu uang untuk biayain rumah sakit ibu kamu".


Setelah itu Mba Rita pergi sedangkan Pandu masih mematung.


"Zara, maaf gue harus lakukan ini".


Flas On


" Zara, maaf ".lirih Pandu.


" Gus, saya minta maaf, saat itu saya sedang kalut, yang saya pikiran hanya ibu saya".


"Keadaan ibu kamu gimana? ".tanya Zara membuat Pandu terkejut, mengapa Zara tak marah padanya?.


" Ibu saya meninggal 2 hari setelah saya keluar dari Pesantren.


"Innalillahi wainnailaihi raji'un".


" Zara, lo gak marah sama gue? ".


Zara tersenyum kecil" untuk apa marah? semuanya udah berlalu, Ndu saya gak mau menjadi pendendam, betulkan Mas? ".


Arshaka terkekeh mengusap kepala Zara, " yaudah kita makan disini aja, Pandu ingin pesan apa? ".


" Tidak, Gus, saya pamit duluan terimakasih sebelumnya dan sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya ".


Pandu beranjak berdiri dari duduknya " semoga pernikahan kalian selalu bahagia dan terhindar dari segala masalah, saya pamit, assalamualaikum ".


" Walaikumsalam ".


Setelah kepergian Pandu Zara dan Arshaka. kembali menuju kamar nya membawa kantong plastik berisi nasi goreng.


" Kenapa gak bilang mau keluar kamar? ".


" Ih, aku udah bilang kamu nya aja gak respon, Ya daripada aku kelaperan yaudah aku cari makan sendiri, kebetulan didepan sini ada nasi goreng ".


Arshaka mengangguk" lain kali tunggu aku selesai".


...----------------...


Udah jelaskan bahwa semua itu rencana Mba Rita, itu semua dipicu dari obsesi nya terhadap Arshaka.


Staytune terus ya dukung Arshaka dan Zara. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻❤❤❤😊😊😊