ARSHAKA

ARSHAKA
TIGA PULUH DUA



...18+...


.......


.......


.......


Kedua mata ku mengerjap memandangi wajah keras Arshaka menatap ku dan Muri. Masih tidak percaya jika Arshaka berada disini, masih mengenakan kemeja Kantor berwarna hitam dengan lilitan dasi yang sudah longgar di leher.


"Ayo pulang sama aku,"


Tanpa persetujuanku Arshaka langsung menarik tanganku dan membawaku menjauhi Muri.


"Arsha, sakit!"


Keluhku tidak dihiraukannya. Begitu erat ia tarik tanganku menuju mobil yang sudah ditunggu oleh sang supir.


"Tunngu kita mau kemana?"


Pertanyaan ku kembali tidak dihiraukan. Setelah kami masuk kedalam mobil, supir langsung membawa kami ke suatu tempat.


Melihat beberapa spot yang kukenali, supir membawa kami ke Vila yang belum lama aku datangi bersama Arshaka.


Mobil berhenti di halaman Vila dan aku kembali ditarik Arshaka untuk masuk kedalam Vila.


"Masuk!"


Baru beberapa kakiku melangkah aku tersentak dan memekik kaget saat Arshaka menarik pinggangku lalu diangkat sampai aku didudukan ke atas meja makan.


"Kenapa kamu suka bikin aku marah?” Pertanyaan pertama telah dilayang membuat ku spontan meneguk salivaku gugup.


“Aku—“


“Dan kenapa Muri mengirimkan foto selfie kalian padaku? Kamu mau menguji kesabaranku?”


"Muri—itu—hanya—" ucapanku terhenti saat kecupan hangat Arshaka menggerayangi keningku, lalu turun ke hidung, bibirku kemudian kembali turun ke rahang hingga leherku.


Tubuhku seketika menegang ditempat.


"Jawab aku sayang, jangan diami aku!"


“Niatnya—niatnya Muri mau kirim foto ke Leo. Tapi salah kirim—tolong jangan seperti ini Arshaka!” Aku segera mendorong bahunya saat kedua tangan Arshaka mulai berjelajah ke dalam kaos katunku.


"Benarkah?” Arshaka berbisik membuat tubuhku merinding.


"Aku nggak bohong Arsha," balasku lagi.


“Tapi aku nggak percaya,”


Tiba-tiba Arshaka menarik kaosku dan merobeknya dengan sekali hentakan membuat aku reflek menyilakan kedua tanganku.


"Arsha!” teriakanku tidak membuatnya berhenti melucuti pakaianku.


"Kamu berhasil buat aku nggak percaya denganmu, aku benci dengan gaya pertemanan kalian, dan aku pastikan kamu tidak akan berdekatan lagi dengan Muri!”


Kemudian Arshaka ingin menggendongku lagi dan aku kembali mendorong Arshaka. Sekuat tenaga aku memberontak, hingga terpaksa aku mendorongnya menggunakan kedua kaki.


Tapi tenagaku tak sebanding dengan tenaga Arshaka.


Kini ia berhasil menggendongku dan membawaku ke tempat tidur.


Melihat Arshaka sudah berubah dingin menatapku, aku seperti kembali melihat saat Arshaka menyekapku di Rumahnya.


"Kamu harus kuhukum Bee,"


Tubuhku menegang ketakutan, sampai aku tak tahan lagi menahan air mataku.


"Bagaimana caraku supaya semua orang tahu jika aku begitu sangat mencintaimu?”


Arshaka mengecup bibirku lagi dan jemarinya sibuk menghapus jejak air mataku.


"Aku sungguh sangat membenci kedekatanmu dengan Muri. Rasanya aku ingin mencabik pria itu sampai habis,”


Arshaka terkekeh sesaat dan kembali mengecup bibirku, tapi kecupannya berubah menjadi ******* manis yang terasa hangat.


“Arshaka, tolong jangan katakan itu! Kami benar hanya berteman biasa,” cicitku yang terdengar senduh membuatnya kembali terkekeh.


“Kenapa kamu membelanya Bianca?” tanyanya dengan sorot dingin nan tajam, berhasil membuatku tercekat.


“Apa kamu tidak tahu jika sebenarnya dia menyukaimu? Apa kamu tidak tahu jika sebenarnya Muri ada perasaan khusus padamu?”


Aku menggeleng pelan.


Lebih tepatnya aku tidak tahu apakah ucapan Arshaka benar atau salah.


Karena memang selama aku bersama dengan Muri, aku memandangnya sebagai teman dan rekan kerja satu tim di Diamond Burke.


Pikiranku tidak terlintas apapun atau menduga-duga apa yang sebenarnya Muri rasakan saat ia mengenalku selama ini.


Lalu ia kembali ******* bibirku, ******* kecil yang berubah menjadi ******* panas. Perlahan gigitan lembut kurasakan menggerayangi bibir hingga lidah kami ikut bermain bebas didalam mulut.


Rasanya kepalaku mendadak pening, ditambah suara sesapan kami berhasil memancing hasratku.


Arshaka mulai menurunkan wajahnya kembali menjelajahi area leherku, kurasakan hembusan nafas hangat menerpa kulit dan aku kembali tersentak saat Arshaka mencecap dan menghisap.


Aku melenguh dan mengigit bibir bawahku kuat-kuat. Sesapannya seakan aku tersetrum listrik, namun efeknya membuat jantungku berdetak tak karuan.


"Arshaaa—"


Akhirnya aku mendesah setelah persekian detik kutahan sekuat yang kubisa. Rupanya desahanku memancingnya untuk melakukan sesuatu yang lain, lebih dari sesapan di leher.


Ciumannya beralih ke tungkai leherku, satu tangannya mulai menurunkan tali bra dan membuka satu penutup dadaku.


"Bolehku cium?"


Aku mengamati wajah merah merona Arshaka, tak hanya memerah aku menangkap kilatan nakal yang terpatri di kedua netranya.


Logikaku langsung memerintahkan aku untuk mencegahnya.


Tapi logikaku kalah dengan keinginan hasratku.


Tanpa menunggu lama aku mengangguk memberi persetujuan, dan ia perlahan mulai memainkan dadaku dengan lembut.


Kedua tanganku sibuk memeluk dan bermain rambut Arshaka, ditambah tubuhku juga bergerak tak menentu ketika lidah Arshaka bermain lincah di puncak dadaku. Dan satu dadaku lainnya juga sudah ia mainkan dengan satu tangannya. Ia pelintir ujung dadaku dan meremasnya lembut, membuat sekujur tubuh ku berdesir.


Akhirnya desahan dan gerakanku terhenti ketika Arshaka mendongak dan bergerak naik memandangi wajahku.


"Bisakah kamu berjanji padaku untuk tidak bermain api lagi?" suaranya terdengar serak namun aku bisa merasakan


jika Arshaka begitu serius dengan ucapannya.


Aku langsung mengangguk patuh.


"Jika kamu melanggarnya, aku akan menghukummu jauh lebih dari apa yang aku lakukan hari ini."


Aku kembali mengangguk.


"Sekarang kamu mandi. Habis itu aku antar kamu pulang,"


Arshaka segera menyingkirkan dirinya dariku,


namun aku belum beranjak ke kamar mandi. Aku seakan kecewa saja karena aku


belum merasa puas.


"Kok kamu diam? Kenapa?" Tanyanya melihatku tak kunjung bergerak ke kamar mandi.


Aku menggeleng pelan dengan wajah negitu polos, terlihat seperti baru bangun tidur.


"Mau aku bantu gendong ke kamar mandi?” tawarnya melihatku masih memandang kosong.


“Arsha..”


Panggilku membuat Arshaka terdiam mengamatiku.


“Bisakah kamu juga berjanji untuk tidak menakutiku lagi?”


Arshaka terdiam beberapa saat, tapi tak lama ia mengangguk dan aku tersenyum.


"Cepat ke kamar mandi. Bahaya,”


"Bahaya kenapa?" tanyaku lagi.


"Intinya bahaya kalau kamu berlama-lama disini," jawabnya lagi dan hendak untuk berdiri.


"Aku siapin baju dulu buat kamu. Habis itu aku antar kamu pulang ke Homestay,”


Beberapa saat aku mengerjap mata dan aku langsung nurut ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


...*****...


"Aku akan ke Jakarta menemui Ayah dan Leo,”


Tak sengaja aku menyemburkan makananku dari dalam mulut mengenai Arshaka setelah mendengar tuturan Arshaka.


“Maaf aku tidak sengaja, kamu mengagetkan aku.” mohonku sambil membantu Arshaka membersihkan lengannya yang kotor akibat ulahku.


“Kaget kenapa? Apa aku salah besar jika aku ingin menemui Ayah dan Leo?”


Aku menggeleng kepala.


“Apa menurutmu kehadiranku akan diterima—khususnya Leo? Sepertinya dia sungguh tidak menyukaiku.” Arshaka tersenyum pahit sambil memandang kosong kearah piring yang masih tersisa tusukan Sate Ayam.


“Aku tidak tahu—tapi coba saja. Jangan berspekulasi jika kamu tidak tahu karena kamu belum mencobanya.”


“Kamu benar. Makanya aku akan ke Jakarta besok,”


Sekali lagi aku menyembur minumanku dan tak sengaja mengenainya lagi.


“Kok kamu dadakan bilangnya? Bagaimana aku jelasin ke Ayah dan Leo kalau kamu mau datang ke Rumah besok?”


“Aku sudah menghubungi Ayah duluan kok—bahkan beliau menawarkan diri untuk menjemput tapi kutolak. Jadi besok pas aku sampai disana aku langsung ke Rumahmu.” Jelasnya santai sambil membersikan tangannya dengan tisu.


Aku membeku ditempat menatap Arshaka.


“Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini padaku?”


“Baru saja aku katakan padamu bukan,”


“Bukan sekarang, kemarin-kemarin saat kamu ada rencana ingin pergi ke Jakarta.”


Arshaka mengendikan bahu.


“Awalnya aku ragu apa aku jadi ke Jakarta atau tidak, makanya aku belum menceritakan hal ini padamu.” Terangnya.


“Tapi kenapa Ayah dan Leo tidak memberitahukan hal ini padaku?”


“Karena aku sudah bilang sama Ayah dan Leo kalau kamu sudah tahu,”


Aku kembali membeku menatap Arshaka.


Anak ini sungguh ajaib sampai aku kehabisan kata-kata.


“Besok siang aku berangkat—dan aku ingin kamu menemaniku ke Bandara.”


“Aku kan kerja,” jawabku.


“Aku sudah menghubungi atasanmu kalau besok kamu harus menemaniku ke Bandara.”


“Muri maksudmu?”


“Iya siapa lagi?” ketusnya lagi dan aku menghela napas.


“Kamu masih marah sama dia?”


“Benci Bee, bukan marah.”


“Kamu jangan—“


“Ayo pulang, sudah larut malam. Nanti atasanmu ngoceh,”


Aku menatap Arshaka yang sudah bangkit menuju kasir untuk membayar makanan kami.


Sekali lagi aku hanya menghela napas panjang, dengan langkah lunglai aku mengikutinya sambil membayangkan bagaimana nantinya Arshaka bertemu dengan Ayah dan Leo besok.


...*****...