ARSHAKA

ARSHAKA
DUA PULUH TUJUH



...-By Chokky-...


Aku berjalan santai menuju kedai kopi di lantai bawah. Kopi panas sangat cocok untuk melepas penat.


Apalagi Muri membawa beberapa kotak kue sehabis meeting dengan klien diluar kantor, tentunya kopi juga sangat cocok untuk disandingkan dengan potongan kue itu.


Ide cemerlangku juga disambut senang oleh para rekanku, jadi aku akan membawakan beberapa cup kopi untuk mereka juga.


Sebelum langkahku berhasil menuju lift, aku mendapati sosok laki-laki yang sangat aku kenal.


Aku tahu dia sedang memandangiku, karena aku tahu saat ini hanya ada kami berdua saja di lorong kantor.


Bukannya aku melengos pergi, justru aku terpaku memandanginya. Ia berdiri disana dengan gagah memakai jas hitam. Kedua kaki itu bergerak dan melangkah, berjalan lurus tepat mengarah padaku.


Aku memperhatikannya, ingatanku teringat kembali ketika ia membawaku ke rumahnya. Aku kembali takut mengingat kejadian itu dan aku masih mengingatnya secara jelas.


Senyum sinisnya membuatku merinding sekujur tubuh, menarik tanganku kasar, dan mengurungku.


Tapi ia berubah. Layaknya anak kecil mencari perhatian.


Bahkan saat itu ia tak sungkan menangis dipelukanku.


Aku ingat, wajah senduhnya memohon padaku supaya aku tidak pergi, memintaku agar aku tetap bersamanya, memintaku agar aku kembali padanya.


"Hai,"


Kehadirannya menyadarkanku, sapanya membuatku tak bernapas seperdemikian detik.


Melihatku tak menanggapi saanya, ia mengulas senyum tipis.


Kami terdiam beberapa saat, saling mencuri pandang satu sama lain, dan kini ia memulai pembicaraan diantara kami.


"Aku mencarimu."


Arshaka. Laki-laki yang tengah menatapku dengan dalam. Sorot matanya bergerak getir, bisa kutebak jika ia ingin menyampaikan sesuatu yang kunilai itu akan mengacak perasaanku.


"Aku ingin menemuimu untuk meminta maaf. Maag atas semua tindakanku padamu kemarin. Maaf sudah membuatmu takut.."


Pandanganku tertunduk namun sesekali aku melirik kearah Arshaka. Aku menunggunya untuk melanjutkan pembicaraan.


Tapi sebenarnya melihat dia begini justru membuatku gemetar. Hatiku cemas dan gelisah.


Aku mulai takut.


"..kemarin aku ingin bicara baik-baik. Karena terbawa emosi, aku nggak bisa berpikir jernih. Jadi aku baru bisa mengatakan hal ini padamu sekarang. Dari lubuk hatiku paling dalam, aku sungguh meminta maaf padamu.."


Arshaka kembali tersenyum. Namun senyumannya membuat luka hatiku kembali terbuka.


"..aku nggak tahu apakah aku bisa menepati janjiku padamu. Tapi aku ingin kamu percaya padaku, jika aku tidak akan menyakitimu lagi.."


"..jadi, aku akan pergi darimu."


Aku mengerutkan dahiku.


"Lupakan semua ucapanku kemarin! Kamu nggak perlu memikirkannya. Aku tidak akan melakukan seenaknya lagi dan tidak akan menuntutmu untuk melakukan hal yang tak ingin kamu lakukan.."


"..jalani hidupmu seperti seharusnya Bianca. Tentu tanpa adanya aku.."


"..jadi berbahagialah Bianca!"


Sebelum ia pergi ia menyuraikan senyuman lagi padaku.


"Bye Bianca!"


Arshaka membalikan badan dan melangkah pelan meninggalkan aku yang masih berdiri diam membisu.


Badanku mendadak kaku, sulit bergerak. Bahkan aku ingin memanggil namanya saja bibirku rasanya kelu.


Manatap punggungnya yang semakin jauh yang ada hatiku berteriak nggak karuan.


Melihat dia pergi sama sekali tidak membuat hatiku merasa lega.


Melihat dia pergi sama sekali tidak membuatku merasa senang.


Melihat dia pergi justru membuatku takut.


Dan melihatnya pergi justru membuat sisi diriku ada yang hilang.


Lucu. Dia bilang dia tidak akan seenaknya lagi padaku.


Tapi ia tetaplah Arshaka. Sosok laki-laki yang suka seenaknya padaku tanpa dia tahu apa mauku yang sebenarnya.


Bahkan dia tidak menanyakan padaku apapun, dan tanpa berdosa ia pergi meninggalkan aku begitu saja seperti ini.


Aku bingung dengan jalannya hidupku. Kenapa garis takdirku bertemu dengan laki-laki bernama Arshaka? Dan lucunya aku suka mengeluh namun aku begitu menikmati disaat ia memperlakukan aku sesuka hati.


Dan sekarang keadaan menuntutku untuk memilih, memilih sesuatu hal yang tidak ingin aku pikirkan sementara waktu.


Jika keadaan mendesakku, sebenarnya aku tidak tahu apa yang harus aku pilih.


Entah keinginan logisku atau isi hatiku.


Sebab diantara dua hal itu bertolak belakang. Ada sisi kebaikan dan juga sisi keburukannya.


Dua hal itu tak ada yang aku suka.


Namun aku memiliki sebuah keinginan yang dimana Arshaka harus tahu apa yang aku rasakan selama ini padanya.


Jadi aku berlari dan kupercepat langkah kakiku saat sosok Arshaka kembali terlihat pandanganku. Spontan aku berteriak memanggilnya, tak menghiraukan pandangan orang lain yang terpancing menoleh kearah kami karena mendengar teriakanku memanggil nama Arshaka.


"Tunggu!"


Aku berhenti dab mengatur napasku. Aku terengah didepannya dan dia terkejut melihatku yang mengejarmya.


"Bianca.."


"Kamu memang seenaknya ya! Suka banget datang dan pergi sesuka hati kayak hantu! Bahkan kamu melebihi hantu itu!"


Aku memakinya dengan napas terengah. Arshaka terkesiap memandangiku. Melihatku sedikit sesak napas ia mendekat padaku, namun aku menepis tangannya ketika ia ingin meraihku.


"Kamu baik-baik saja?"


"Tentu saja aku tidak baik-baik saja. Suka baanget sih bikin orang menderita!"


Arshaka tampak terkejut mendengar ucapanku. Biarkan saja. Aku juga ingin meluapkan kekesalanku padanya.


"Kamu itu memang laki-laki yang nggak tahu diri. Suka seenaknya. Laki-laki yang terlalu berambisi, setelah kamu berhasil menggapai ambisimu kamu langsung melupakannya begitu saja. Kamu tuh sebenarnya nggak pantas menjadi seorang Komisaris Utama di perusahaan besar ini, karena kamu suka seenaknya.."


"..nggak hanya itu, kamu sendiri tidak mempedulikan orang lain. Kamu egois. Kamu hanya mau orang lain mendengarmu tapi kamu sendiri tidak memberi kesempatan orang lain untuk menyampaikan sesuatu padamu."


"Kamu itu pantas dibenci, dan aku akan menjadi orang pertama yang membencimu."


Aku terengah setelah aku meluapkan apa yang ingin aku katakan padanya. Aku merasa sedikit lega.


Mendengar semua ucapanku barusan, Arshaka mengulas senyum tipis, "Yes I know. Kamu pantas membenciku Bianca."


Pandangan Arshaka menunduk, wajahnha berubah senduh meski senyumannya masih ia tunjukan.


"Tapi aku akan lebih membenci diriku jika aku membiarkan kamu pergi.."


Seketika Arshaka mendongak menatapku.


"..aku tahu dari awal kamu berniat mempermainkan aku. Aku juga banyak mendengar dari orang lain jika kamu bukan laki-laki yang baik. Aku dengar kamu suka main perempuan, kamu suka semena-mena dengan orang lain, tapi aku sempat nggak percaya pada saat itu. Namun banyak hal yang tak terduga terkuak begitu saja, salah satunya disaat aku mempergoki percakapan kamu daan teman-temanmu pada saat itu, aku hanya bisa marah, menangis, dan aku hanya ingin pergi darimu.."


"..kupikir jika seperti itu itu akan berlalu begitu saja. Dan kupikir aku akan mendapatkan kebahagiaan baruku. Tapi kamu datang lagi, entah itu direncanakan atau ketidaksengajaan. Tapi anehnya tidak ada rasa kebencian disaat aku melihatmu lagi, yang ada aku akan gelisah jika tidak melihatmu. Bahkan sehari aja kamu nggak kirimin aku bunga, aku malah bertanya-tanya."


"Cuma aku meredam perasaan itu dan aku memaksakan diri untuk berpikir logis. Aku menuntut diriku untuk membayangkan dirimu hanyalah masa lalu. Aku menuntut diriku jika kamu tak berarti lagi untukku. Tapi lagi-lagi aku salah. Hal itu membuatku merasa terpuruk.."


"..tapi sepertinya aku akan terus salah lagi, karena kamu tetaplah kamu, tidak akan pernah berubah. Kamu tetaplah Arshaka yang tidak akan pernah memberikanku kesempatan untuk mengutarakan apa yang aku rasakan dan aku inginkan padamu."


"Bee,"


"Walau aku telat mengatakan ini, bolehkah aku tetap mengatakannya meski kamu tidak ingin mendengarku?"


Aku menarik napasku dalam-dalam, menguatkan diri untuk mengatakan perasaanku padanya.


"Aku masih tetap menjadi perempuan bodoh yang begitu mencintaimu, Arshaka."


Aku merasa terharu sekaligus miris, akhirnya aku berhasil mengatakan hal ini padanya.


"Aku nggak tahu apakah aku pantas mengatakan ini. Jika ucapanku barusan membebankanmu, jangan dipikirkan! Anggap saja ucapanku sekelebat angin lalu yang hanya mengganggumu sesaat. Maaf telah membuang waktu.."


"..tapi aku sangat berterima kasih."


Aku tidak kuat dan buru-buru membalikan badanku supaya Arshaka tidak melihat aku menangis.


Kini aku lega meski rasanya sangat sakit.


Aku harus buru-buru pergi sebelum rasa sesak ini menguasai diriku.


Namun aku terhuyung ke belakang ketika tanganku ditarik kuat oleh Arshaka.


"Aku tarik semua ucapanku!"


Aku terpaku melihat Arshaka dengan wajahnya yang sudah memerah, seakan menahan diri untuk tidak terisak didepanku.


"Jangan pergi! Jangan pernah pergi dari laki-laki buruk ini! Jangan pergi dari aku lagi!"


Akhirnya air mataku terjatuh dan dia memelukku erat. Arshaka membiarkan aku menangis dipelukannya.


Rasanya kami bisa saling merasakan perasaan ini satu sama lain. Sangat lega dan terasa damai.


...***** ...