
...-Collab with Chokky-...
Arshaka
Aku membuka mataku. Tersadar dari sepenggal mimpi indah tentang Bianca.
Mimpi dimana Bianca mau kembali disisiku, mimpi itu yang membuat harapanku semakin melambung tinggi untuk bersamanya.
Aku beranjak sambil mengucek mata. Teringat kejadian terakhir dimana aku dan Bianca berbaring bersama di tempat tidur.
Aku mengitari seisi ruangan mencari sosoknya. Tak mendapati sosoknya di ruangan, lalu aku bergegas keluar mencarinya.
Kakiku melangkah cepat menuruni anak tangga, yang ada aku bertemu Reymond yang sedang duduk santai di ruang tengah.
"Bianca mana?" tanyaku dengan napas sedikit terengah.
Reymond mengintip kehadiranku dibalik koran. Lalu ia turunkan koran tersebut ke atas meja daan menatapku tajam.
"Bianca pergi," balasnya singkat.
"Kemana? Sudah daritadi dia pergi? Kenapa kamu nggak menghalanginya?"
"Karena dia berhak pergi, Arsha."
Aku mendengus sinis.
"Susah payah aku membawanya kesini dan kamu membiarkannya pergi?"
"Dan untuk apa kamu membawanya lagi kesini?"
"Kamu pikir tindakanmu akan membuatnya takut padamu?"
Sela Reynond membuatku bungkam.
"Bijaklah Arsha! Kamu sudah tidak bisa lagi bertindak sesuka hati. Kalau kamu memang sangat menyukai Bianca, lepaskan dia!"
"Aku nggak bisa." ucapku melayangkan senyuman pahit.
"Bisa. Buktinya kamu dan Bianca tak bertemu sudah beberapa tahun ini."
"Aku hanya membebaskannya."
"Dia bukan binatang yang kamu lepas dan kamu tangkan lalu kurung didalam kandang."
Seketika aku bungkam.
"Pikirkan baik-baik! Jangan sakiti anak orang lagi!
"Bianca akan bahagia bersamaku," cicitku membuat Reymond tertawa datar.
"Aku sudah menjelaskan keadaanmu pada Bianca. Biarkan Bianca memilih,"
Aku mengernyit menatap Reymond, "Apa?"
"Aku sudah menceritakan semuanya pada Bianca tentangmu. Kali ini biarkan Bianca yang menentukan pilihannya sendiri, entah ia ingin kembali atau pergi.."
"..saatnya kamu belajar berlapang dada Arshaka. Demi kebaikanmu dan juga Bianca."
Reymond berdiri, sebelum pergi ia mendekatiku lalu menepuk bahuku untuk memberiku semangat.
Tapi hal itu membuatku semakin tak berdaya.
...*****...
Aku memandangi diriku didepan cermin. Sembari jemariku mengaitkan kancing kemeja satu persatu.
Dengan lamat aku memandang diriku disana, dan tiba-tiba munculah sosok Arshaka kecil yang juga tengah memandangiku.
Aku mendengus sinis menatap diriku sendiri, antara percaya dan tidak percaya bahwa aku masih diberi kesempatan hidup di Dunia sampai saat ini.
Beberapa kali aku mendengar cerita banyak orang, wajah mereka begitu berbinar saat mengenang masa kecilnya. Bagi mereka kenangan itu adalah hal yang terindah bagi mereka yang merasakannya.
Dari pagi mereka siap berangkat ke sekolah dengan wajah berseri-seri, lalu bertemu dengan banyak teman, dan hanya malamlah yang dapat menghentikan kegiatan mereka.
Masa kecil yang terdengar menyenangkan.
Tak hanya itu, kehadiran orang tua yang selalu ada buat mereka menjadi suatu kebahagiaan tersendiri.
Tapi terkadang mereka suka mengeluh tentang masa lalu mereka.
Kecuali aku.
Mungkin hanya aku, atau aku salah satu diantara jutaan manusia dimuka Bumi ini yang tidak merasakan kenangan terindah dimasa lalu.
Mengenangnya saja membuat kepalaku berdenyut nyeri, rasanya mau pecah.
Aku adalah seorang anak yang tidak pernah diinginkan oleh kedua orang tuaku.
Aku lahir atas ketidaksengajaan, dan diasuh oleh seorang wanita yang kusebut seorang Ibu kandung.
Namun ia bukanlah sosok Ibu seperti Ibu kebanyakan.
Banyaknya sosok Ibu yang begitu menyayangi anaknya, justru Ibu yang kumiliki tidak memiliki rasa kasih dan cinta untukku.
Banyaknya sosok Ibu yang begitu menginginkan sosok malaikat kecil yang menjadi penghangat sebuah keluarga, justru Ibu yang kumiliki tidak menginginkan kehadiranku.
Setiap wanita itu melihatku, hanya ada kilatan benci disana. Bahkan ia jauh lebih nyaman jika ia tidak melihatku disisinya.
Wanita itu selalu bilang kalau aku sangat mirip dengan seorang pria yang ia sebut sebagai Ayah kandungku.
Karena itu aku sangat dibenci olehnya.
Tapi aku hanya bisa diam membiarkan wanita itu memperlakukanku sesuka hati.
Hingga dimana ia membawaku secara paksa menemui seorang pria yang kuduga adalah Ayah kandungku.
Ia menyerahkanku begitu saja kepada pria itu, namun kehadiranku pun juga tidak diinginkan pria itu.
Hingga akhirnya mereka berselisih didepanku dan kejadian yang tak kusangka terjadi.
Wanita itu membawa sebilah pisau dan menusukannya ke perut pria itu. Melihat pria itu sudah terkapar dilantai, tak lama wanita itu menusukan perutnya dengan pisau yang sama.
Begitu mudah mereka pergi meninggalkan aku yang menyaksikan mereka tengah menjemput ajal.
Mereka meninggal dunia dengan wajah yang sangat tenang, sedangkan aku disini ditinggal dengan luka yang mendalam.
Tersadar dari lamunanku, aku kembali memandangi diriku saat ini didepan cermin.
Masa lalu itu berhasil menjatuhkan aku kedalam jurang nan gelap.
Kupikir aku akan terus terjebak disana. Terus tenggelam dan tak akan bisa meraih secerca cahaya.
Tapi aku salah. Secerca cahaya datang tanpa kuduga. Cahaya itu datang tanpa aku minta. Cahaya itu datang disaat harapanku semakin tak terlihat jelas.
Cahaya itu Bianca. Gadis biasa yang mampu mengubah diriku.
Bianca membawaku untuk bangkit, Bianca berhasil menoreng prinsipku, dan Bianca-lah yang membuatku percaya lagi akan adanya harapan baru.
Namun harapan itu kembali sirna. Cahaya itu semakin mengecil, menjauhi jangkauanku agar aku tak bisa meraihnya.
Melihat diriku yang sudah rapih, aku melangkah lebar keluar dari kamar, lalu segera memasuki mobil yang sudah ada sang sopir yang akan membawaku ke Gedung A.P. Coal Corp.
Tibalah aku di Gedung. Aku keluar dari mobil dan melangkah menuju tempat keberadaan Bianca.
Semakin lama langkahku mulai mendekat ke ruangan Bianca, jantungku berdetak kencang, aku mulai gelisah jika Bianca akan menghindar dariku.
Tapi aku memakluminya.
Berniat untuk mengurungkan diri untuk bertemu, namun rupanya aku menemukannha di lorong koridor. Tampak Bianca sedang berjalan seorang diri sambil mengetik layar ponselnya.
Bianca belum sadar kehadiranku.
Langkah ku terhenti, aku mengamati Bianca yang masih sibuk dengan ponselnya. Dan langkahnya ikut terhenti ketika ia mendongak dan melihat kehadiranku.
Sejenak kami saling memandang satu sama lain, kegetiran melingkupi diri kami.
Perlahan aku melangkah mendekatinya. Mencoba mengikis jarak, menyisakan udara sebagai pembatas jarak kami.
"Hai,"
Mencoba serileks mungkin meski aku mulai terguncang akan perasaan sendiri.
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu."
Sebelum aku mengutarakan apa yang ingin aku katakan, ucapan Reymond kembali terlintas dipikiranku.
Biarkan Bianca memilih.
*Apapun keputusan Bianca, b*elajarlah berlapang dada.
Demi kebahagianmu dan juga Bianca.
Ucapan Reymond memang benar.
Tanpa perlu memintanya menentukan pilihan, aku tahu apa yang harus kulakukan.
"Aku kesini ingin menemuimu. Aku ingin meminta maaf atas semua tindakanku padamu kemarin. Maaf sudah membuatmu takut.."
"..maafkan aku atas semua perbuatan yang telah kulakukan padamu. Aku tahu kamu berat memaafkanku, tapi setidaknya aku ingin kamu tahu jika aku sangat menyesal dan bersungguh-sungguh meminta maaf padamu.."
"..sekali lagi maafkan aku."
Aku tersenyum lirih. Memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja didepannya.
Hatiku bergejolak, ingin sekali meminta Bianca untuk bertahan. Aku ingin sekali Bianca kembali bersamaku.
Tapi aku sadar diri.
Sampai kapanpun aku harus menerima kenyataan bahwa kebahagiaan tidak akan pernah berpihak padaku.
Orang sepertiku memang tak pantas mendapatkan kasih dan cinta.
Bahkan dari seorang gadis biasa seperti Bianca.
Bukankah begitu?
Aku memang bukan laki-laki yang baik buat Bianca.
"Kukira masalah kita sudah berakhir sampai disini. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi, tidak akan lagi mengusikmu.."
Kini aku menyerah.
Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik untuk kami berdua.
"..aku akan pergi, Bianca."
Asalkan Bianca bahagia. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.
"Berbahagialah Bianca."
...*****...