
Banyak orang yang bilang bekerja di Bali itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh terlewatkan.
Terasa menyenangkan. Rasanya seperti liburan sepanjang waktu.
Orang-orang akan memilih Pantai sebagai destinasi yang paling pas membuang penat sehabis bekerja, menikmati Sunset cantik yang menghiasi langit menuju kelabu malam.
Bali adalah surga untuk setiap orang.
Awalnya kupikir demikian.
Menikmati hari-hariku Bali dengan suasana suka cita, seperti apa yang kubayangkan saat diperjalanan menuju kesini.
Namun yang ada aku ingin segera pergi dari sini setelah aku bertemu dengan seseorang.
Seseorang yang ku pikir tak akan pernah bertemu lagi.
Momen makan siang bersama nya di kantor A.P. Coal Corp daerah Badung adalah momen pertemuan kami kembali setelah empat tahun yang lalu.
Dia tampak berbeda saat mengenakan satu set jas lengkap dengan tatanan rambut ikal yang telah dipotong rapih.
Tak ada lagi sisi imut ketika ia masih duduk dibangku SMA, penampilannya begitu manly dan berwibawa saat ia duduk di sebuah kursi utama dan memperkenalkan dirinya sebagai Komisaris Utama A.P. Coal Corp.
Aku hanya terdiam memandangi kehadirannya. Apalagi mendengar ia menjabat sebagai Komisaris diusia muda.
Aku terkejut, namun mengetahui latar belakangnya tak ada yang tak mungkin jika ia menjabat diposisi tertinggi di sebuah perusahaan besar.
Ya, duniaku dengan dunianya berbanding terbalik. Kenapa aku baru sadar?
Sekarang beberapa pertanyaan lainnya berbayang dipikiranku mengenainya.
Namun melihatnya dalam keadaan baik-baik saja seperti saat ini, sepertinya hanya aku saja yang terpuruk sendirian, menangisi hal yang sama sekali tak ia sesali.
Sudahlah. Untuk apa aku memikirkan dia yang tak memikirkanku. Aku menyungging senyum tipis. Kembali aku mengingatkan diriku bahwa aku itu dianggap mainan baginya. Bukan sesuatu hal yang dianggap spesial.
Kalau spesial, mungkin dulu dia akan mengejarku dan memberikan penjelasan padaku.
Ahh... dadaku sedikit nyeri memikirkan ini semua. Aku membuang nafas untuk melupakan hal yang sudah berlalu.
Setelah makan siang berlangsung, dia kembali pergi dan menghilang dari pandanganku.
Seketika aku merasa lega.
Mengingat posisinya sebagai seorang Komisaris, sudah kupastikan jika intensitasku untuk bertemu dengannya lagi sangat kecil.
Iya, harusnya seperti itu.
Tapi setelah itu aku melupakan sesuatu hal.
Sudah kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut pada pagi hari, saat aku memasuki ruangan dan berjalan mendekati bilik kerjaku sudah bertengger buket Bunga Mawar putih menghiasi meja kerjaku.
Tanpa perlu aku mencari tahu, aku sudah menebak siapa yang mengirimkan Bunga padaku.
Aku lupa jika Arshaka bisa seperti hantu yang akan terus menggerayangi hariku.
Masih kutanggapi santai. Bunga tersebut hanya kuletakan dibawah laci meja lalu kututup. Kubiarkan Bunga itu layu didalam sana hingga dihari berikutnya buket Bunga baru datang lagi di mejaku.
Hanya memandang Bunga tersebut dengan tatapan kosong, aku masih tidak mengerti kenapa ia rela membuang waktu dan uangnya untuk membelikanku Bunga disetiap pagi.
Bunga yang dikemas begitu cantik, siapapun wanita yang dikirim Bunga secantik ini pasti akan berseri senang, lalu dengan semangat menghirup aroma Bunga tersebut dan akan disimpan sebagai pajangan.
Namun aku tidak. Seharusnya ia tak melakukan ini padaku. Seharusnya.
Hubungan kami sudah lama berakhir. Berakhir tidak baik-baik. Dan aku tak berniat untuk memperbaiki hubungan tersebut. Kalaupun ada kesempatan.
Seperdemikian detik aku masih memandangi Bunga itu, akhirnya tanganku bergerak untuk meraihnya dan membaca kartu ucapan yang tersemat dirangkaian Bunga.
Bukankah Bunga Mawar ini sangat cantik?
Merekah indah nan menawan tanpa ada cacat sedikitpun..
Saat aku memandangi Bunga ini, hatiku merekah, membuatku merasa tenang..
Begitupun saat aku memandangimu..
Good morning, Bianca Delvain..
For a long time, finally we meet again..
I miss you, so bad..
Aku menatap gamang setelah membaca surat tersebut.
Gejolak bercampur aduk membuat perutku melatup. Tiba-tiba aku merasa gelisah dengan penyataanku yang tak ada lagi memberi kesempatan.
Aku merasa goyah.
Segera aku meletakan Bunga tersebut kedalam laci bawah meja kerjaku sebelum rekan kerjaku yang lain datang dan melihat Bunga ini.
Saat sore menjelang baru aku akan membuangnya diam-diam ketika suasana kantor sudah sepi.
"Bunga dari siapa tuh?"
Aku mendongak, melihat kehadiran Muri yang sudah tiba ke dalam ruangan dan melihat aku menaru buket Bunga ke dalam laci.
Aku terkesiap menatapnya.
Setenang mungkin aku membenarkan posisiku lalu berpura-pura membuka file map diatas meja kerjaku.
"Nggak mungkin nyasar ke meja kamu kalau Bunga itu selalu ada di meja setiap pagi."
Gawat, rupanya Muri tahu kalau aku sering dikirimin Bunga.
"Akhir-akhir ini aku lihat kamu mulai nggak fokus kerja. Apa karena si pengirim Bunga itu? Siapa sih yang kirim Bunga itu?" tanyanya yang mulai kepo. Ia ambil kursi kosong lalu duduk disampingku, tatapannya terlihat tenang namun tersirat rasa penasaran.
Muri memang seperti itu, jika ada anak buahnya mengalami kendala hingga mempengaruhi jalannya pekerjaan ia akan selidik sampai tuntas.
Tidak bermaksud ikut campur jika masalah tersebut mengandung unsur pribadi. Muri hanya tidak ingin masalah pribadi tercampur ke suasana pekerjaan dan itu akan menghambat kinerja.
Begitulah dunia pekerjaan. Jangan kaget kalau kita akan disudutkan karena pekerjaan tak selesai disebabkan adanya masalah pribadi.
Aku belum menjawab pertanyaan Muri. Lebih kearah mencari jawaban yang pas, tepat dan sesuai tapi aku nggak mau Muri tahu kalau Bunga ini dari Arshaka.
"Oh iya, aku juga mau nanya sesuatu sama kamu."
Aku masih memandangi Muri yang ingin memberikan pertanyaan baru untukku.
Namun sebelum Muri berhasil melontarkan pertanyaannya, ponselnya berdering. Menampilkan nama Pak Tommy di layar ponselnya. Segera ia menjawab telepon tersebut, sambil menjawab telepon ia bangkit dan beranjak menuju meja kerjanya.
Aku mendesah lega. Dalam hati aku meneriakkan diri untuk menyemangati diriku sendiri. Jangan sampai aku harus lembur hanya karena adanya perasaan nggak karuan yang harusnya tak perlu aku nikmati.
Memaksakan diri aku membuka file diatas meja kerjaku lalu kembali fokus menatap layar Laptop dan mengetik isi file tersebut.
...******...
Ice Chocolate Macchiato menjadi teman nongkrongku di sore hari ini. Menikmati semilir angin dan cantiknya langit berwarna jingga berhasil mencuci mataku.
Kusesap minumanku dengan perlahan. Meresapi campuran coklat dengan macchiato-nya, ternyata biasa saja di lidahku. Aku sedikit menyesal kenapa aku tidak memesan es kopi coklat saja.
Aku duduk seorang diri di sebuah Kafe yang terlihat ramai pengunjung, tak jauh dari posisi Kantor. Sambil menikmati minumanku, kuamati orang-orang yang tengah sibuk berlalu lalang melewati Kafe.
Penat akan pekerjaan di Kantor memutuskan ku kesini. Ditambah gangguan Bunga Mawar dari Arshaka.
Me time sangat aku butuhkan saat ini.
Mataku lelah mengamati orang-orang, aku membuka tas jinjingku lalu mengeluarkan airpods dan kupasang ke kedua telingaku.
Lagu instrumen dari Riopy ku nyalakan melalui ponsel. Merdunya alunan piano membuat ku tak kuasa untuk menyenderkan punggung di senderan kursi dan memejamkan mata, membiarkan instrumen lagu mengendalikan pikiranku.
"Hai, Bianca,"
Ada seseorang memanggil namaku, suara yang familiar membuatku mengernyit dan langsung membuka mataku lebar.
Aku tersentak ketika aku tahu yang memanggil ku adalah Arshaka. Dia sudah duduk santai didepanku.
Dan dia tersenyum.
Seakan tidak ada terjadi apapun diantara kami. Arshaka tenang memandangiku lekat lalu ia menyesap minuman yang sudah berada diatas meja. Bahkan aku nggak tahu kapan ia memesan minuman itu.
"Apa kabar?" Tanyanya untuk memecahkan keheningan diantara kami beberapa saat.
Aku menghela nafas.
"Saya baik, Pak. Saya harap Bapak juga dalam keadaan baik."
"Pak?" Dia tersenyum sinis memandangiku karena mendengar ucapanku yang terdengar formal.
Memang harusnya begitu bukan? Sekarang aku adalah partner yang bekerja di Kantornya. Bukan seorang mantan kekasih yang tak sengaja bertemu disini hingga kami bernostalgia.
Mantan kekasih? Kayaknya panggilan tersebut tidak pantas untukku.
Lebih tepatnya bekas mainannya.
Aku tak ingin menanggapi Arshaka lebih lama lagi, aku segera bangkit dan bergumam pamit padanya.
Namun sebelum aku melangkah pergi, Arshaka lebih dulu menarik tanganku dengan kuat hingga aku hampir tersungkur ke belakang.
"Kamu mau kemana?"
"Saya mau pulang Pak. Sudah sore," balasku setenang mungkin.
"Bisakah kita bicara dulu?"
Aku menepis tangannya yang sedang mencengkram tanganku. "Bisakah bapak melanjutkan pembicaraan ini saat di Kantor besok? Sekarang jam kantorpun sudah berakhir,"
"Aku nggak lagi bahas pekerjaan," balasnya tak suka.
"Kalau begitu saya permisi pak. Sore,"
Hendak ingin melangkah, tanganku kembali ditarik.
"Sudah cukup."
Aku mengerutkan dahi dalam, memperhatikannya dengan raut wajah yang sudah berubah dari awal aku memandanginya.
Wajahnya menjadi kaku, dan tatapannya berubah berkilat gelap menatapku.
"Sudah cukup selama empat tahun aku membiarkanmu, dan sekarang tidak lagi kubiarkan kamu pergi begitu saja Bee."
...*****...