
Hai semua
apa kabar
semoga sehat selalu ya
yuk lanjut
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Berhenti!!!!! JANGAN SENTUH BARANG KU!!!! "
Zira yang baru sampai di lantai dasar terkejut karena suara teriakan Lissa yang begitu nyaring, membangun kan Naomi yang baru saja tertidur.Untung saja tidak sampai kedengaran ke luar mansion.
"Lepas kan tangan mu dari barang milikku!!! " Lissa berjalan mendekati maid yang memegang box milik nya.
"Maaf kan kami nona. Kami hanya menjalani kan tugas kami. " Jawab maid itu menunduk.
" Lissa!! kenapa kau berteriak?!! " ucap Naomi juga berteriak. Padahal jarak Naomi dan Lissa hanya beberapa langkah saja. Jadi nggak perlu teriak teriak juga keles....
"Mereka ingin membuang barang milik ku. Dan lihatlah mereka membongkar koper milikku. " adu Lissa pada Naomi.
"hei... biasa aja kali... Dan kenapa kau tidak mengizinkan mereka membuka kotak mulik mu itu??" tanya Naomi. Kali ini tidak berteriak.
"Zira bilang mereka akan membuang barang yang mencurigakan. " jawab Lissa dengan suara sedikit bergetar.
"Tapi... kotak mu itu gak berbahaya kan??" Naomi
"Ya nggak lah... " ketus Lissa
"Jadi biar kan saja mereka melihat nya.!! " tambah Naomi lagi.
"Baiklah.. Tapi awas kalau sampai kalian membuang nya.!!! " sorot mata Lissa seolah olah mengeluarkan api.
"Ba-baik nona. " maid itu pun mengambil box milik Lissa.
"Maaf nona tapi ini terkunci. Bisakah anda membuka nya.??! " hanya maid itu.
"Heehh baik lahh.. " Lissa menghela nafas.
kunci box pun terbuka. Lissa sengaja mengunci box itu, hanya berjaga-jaga jika ada orang asing yang akan mencuri barang yang ada didalam nya.
"Biar saya saja yang memeriksanya" Zira menawarkan diri.
"Ya silahkan !! " jawab Lissa.
Zira sedari tadi penasaran dengan wujud box itu, dan kenapa Lissa begitu menyayangkan orang lain menyentuh nya.
Perlahan ia membuka box itu. Terdapat sebuah cincin dengan bentuk mawar dan sepucuk surat. Jantung Zira berdetak dengan cepat. Perasaan aneh menggerayangi hati nya. Diambil nya cincin itu, semakin dilihat, semakin ia berdebar. Diusap nya ukiran mawar itu.
Pelupuk mata Zira, kini di banjiri oleh air yang sebenar lagi akan tumpah. Dia mengadah kan kepala nya ke atas,mencegah air mata jatuh. Lalu di buka nya lipatan surat yang berada di dasar box.
Air mata nya semakin banyak.
Perlahan setetes air mata jatuh dipipi nya yang mulai dipenuhi kerutan. beberapa kali ia mengadah kan kepala nya. Berusaha agar air mata nya tidak jatuh. Beberapa kali ia menghapus air mata nya dengan cepat. Namun, mata nya sudah tidak bisa lagi membendung air yang seharusnya sudah jatuh dari tadi.
Lissa, Naomi dan para maid yang ada disana menatap heran pada Zira, yang sedang duduk di lantai. Lissa merasa tidak enak hati, entah karena kata-kata nya yang terlalu kasar atau apa. Tapi yang pasti, dia ingin sekali memeluk dan menenangkan wanita tua itu. Perlahan Lissa mendekati Zira, dia mensejajarkan tubuh nya dengan Zira.
"Zi-Zira... maaf jika kata kata ku terlalu kas-ar... " suara Lissa menjadi tersendat-sendat. Di peluk nya wanita itu dengan erat.
Zira merasakan diri nya sedang dipeluk oleh seseorang, ikut memeluk tubuh orang itu dengan erat. Seolah-olah dia tidak mau kehilangan orang itu lagi. Dalam batin nya ia menangis bahagia.
Tuhan.. tolong jangan katakan kalau ini adalah mimpi... jika ini mimpi, tolong jangan...... jangan bangun kan aku. Aku ingin terus tertidur... jika ini nyata aku akan sangat bersyukur... jika ini benar dia... tolong... tolooonngg... jangan jauh kan kami lagii.... meninggal kan nya merupakan kesalahan terbesar ku.. sebuah penyesalan paling besar dalam hidup ku... Dia... dia adalah..... Terima kasih Tuhan.. Terima kasih.. engkau sudah mempertemukan kami kembali. Setelah waktu yang lama... akhirnya aku bisa melihat nya lagi.
Zira menangis dalam bahagia nya. Sedangkan Lissa dia juga menangis, dia mengira kalau zira menangis karena dirinya yang berbuat kasar. Mereka saling berpelukan, Lissa merasakan sebuah kehangatan saat dipeluk oleh Zira. Kehangatan yang belum pernah ia rasakan.
Tangisan mereka membuat beberapa maid ikut meneteskan air mata, mereka bingung kenapa mereka menangis. Naomi juga serupa, mata nya berkaca-kaca. Sesekali ia juga menarik ingus nya untuk masuk kedalam hidung nya lagi.
Lalu datang lah Ares, Miko, 2F dan Mike. Mereka yang baru selesai bercengkrama di halaman belakang mansion. Mereka kaget melihat dua wanita berbeda usia tengah menangis sambil berpelukan.
"Ada ap... " ucapan Ares terpotong saat Naomi memberi kan isyarat untuk diam. Dan Ares menurut.
Mereka yang baru datang dilanda krisis kebingungan hebat.
bersambung.........