
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa menatap ku begitu???" Lissa merasa agak salah tingkah saat Ares menatap nya dalam.
"Tidak "
"Lalu ?? Berhenti lah melihat ku seolah olah aku hewan langka!".
" Kau memang langka... Karena Perempuan seperti mu sangat jarang di temui. "
"Hemm... Ya sudah.. Ini makan siang mu. Aku pulang dulu, bukan kah aku hanya mengantarkan makan siang untuk mu??Jadi aku pamit. " Lissa meletakkan kotak bekal dan beranjak berdiri.
"Tunggu" Ares menahan.
"Makan lah bersama ku.. Kau pasti belum makan 'kan? Aku tau itu. " ajak Ares.
"Hhhh, tidak usah. aku bisa makan di rumah atau makan di kafe nanti. Lagi pula aku belum lapar. " tolak Lissa.
Kruuuuuyukkkk.... kryukkk....
Ares menatap usil pada Lissa. Lissa hanya bisa menahan wajah nya untuk tidak tertawa. Tapi pipi nya langsung semerah tomat. Ares merasa Lissa sangat lucu.
Langsung Ares menarik Lissa hingga jatuh tepat di atas pangkuan nya. Dan mengunci pergerakan Lissa dengan menahan pinggang nya.
"Heii!!! Kau ini ken—hmmftt... "
"Diam dan makan. Atau bibir mu akan menjadi setebal 5cm." ujar Ares datar.
"Baik " Lissa langsung kicep dan tidak banyak berbicara lagi.
"Aaaa... makanlah. Aku akan makan setelah kau. " Ares menyuap kan sesendok makanan.
"Aku punya tangan dan aku bisa makan sendiri.. " Lissa pura-pura menolak, walau sebenarnya dia sangat lapar.
"Ckk. Seperti nya kau mau di suapi seperti burung. " Ujar Ares.
Hah?? burung???. Memang nya aku ini Anak Bur— Oh my god!! maksudnya cara makan seperti itu??
"Baiklah... " Lissa pasrah. Dari pada dia harus di suapi seperti anak burung. Mulut ketemu mulut.
"Gadis pintar... Patuh lah. Kau semakin cantik jika seperti ini.. " Satu suapan mendarat di mulut Lissa. Barulah kemudian Ares menyuapi diri nya sendiri.
Astaga... sendok itu kan bekas mulut ku... batin Lissa. Pipi nya semakin merah saja melihat tingkah Ares yang romantis.
"Masakan mu enak sekali. Mungkin saat sudah menikah nanti aku akan bertambah gemuk. hahaahahah" Ares tergelak dengan candaan nya itu.
"Apa seenak itu?? " tanya Lissa.
"Ehmm bisa iya, bisa juga tidak. " Jawab Ares sekenanya.
"Apa maksud nya?"
"Aku suka masakan yang ini, hanya saja sedikit manis dan asin. Aku menyukai makanan pedas dan juga asam "
"Mmmm... jarang sekali ada laki-laki yang menyukai makanan pedas. Setau aku hanya perempuan saja, jika pun ada laki-laki yang suka. Tapi tidak banyak. " Balas Lissa.
"Wah... sudah habis. Ku rasa kau membawa terlalu sedikit. Apa masih lapar honey??"
"Ehm... Tidak juga. Setidak nya lapar nya sudah sedikit mereda. " Lissa salah tingkah.
"Bisa kah kau tinggal disini sampai aku selesai??"
"Kenapa memang nya. ??"
"Tidak.Aku hanya bosan saja. Dan kadang aku merasa agak mengantuk jika terus melihat tulisan dan angka. " jas Ares.
" Mungkin akan berbeda jika kau menemani ku. " lirik Ares.
"Hhh... Membual saja terus. Di mana kamar mandi mu?? " Lissa sudah mengemasi kotak bekal dan hendak berkumur karena tidak membawa sikat gigi.
Ares menunjukkan sebuah pintu berwarna abu-abu. Lissa memasuki nya, namun kaget saat melihat ruangan itu seperti sebuah kamar tidur. lengkap dengan kasur, bantal, selimut dan juga pernak pernik khas kamar tidur.
"Mungkin yang itu. " monolog Lissa saat melihat pintu berwarna putih.
Dan benar saja. Kamar mandi nya di sana. Lissa mencuci mulut nya. Dan berkumur dengan obat kumur yang biasa Ares pakai.
"ASTAGA!!! ".
Lissa hampir terpeleset karena kaget, melihat wajah area yang sangat dekat begitu dia berbalik.
" Berhati-hatilah honey, apa aku sangat tampan hingga kau terkejut begitu hmm? "
Aroma mint masih tercium dari mulut Ares, walau pun dia baru saja makan. Ya.... karena Ares hanya makan beberapa suap saja, dan dia lebih banyak menyuapi Lissa.
Ya ampun. Jantung ku.. kenapa ini berdetak sangat cepat. apa ini adalah salah satu tanda penyakit jantung??? . batin Lissa.
Bola mata Lissa bergerak dengan cepat seiring kecepatan jantung nya.
Cup.
Bola mata Lissa seperti hampir melompat dari tempat nya. Bahkan kaki nya mulai melemas. Pipi nya terasa hangat.
"Kenapa?? Kau mau lagi. ??" goda Ares.
Cup.. cup.. cup...
Tiga kecupan tambahan di kening dan dua pipi nya. Mungkin jika bisa dibayangkan. Telinga Lissa pasti mengeluarkan asap, saking panas nya wajah nya.
"K-kau... ap-apa yang kau lakukan??... "
"Hanya memberikan kecupan.. Apa masih kurang??. Oh atau mungkin kau ingin yang lebih honey??".
" Isshhh menjauh!! " ketus Lissa.
Dia mendorong dada Ares hingga Ares bergeser. Lissa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang seluruh nya merah merona. Dia terus menepuk pipi nya berulang kali.
"Honey apa kau marah, hhhmm??" tanya Ares.
Ares menggenggam tangan Lissa untuk menahan nya. Menarik hingga tubuh Lissa menabrak nya.
"Kau!!... " Lissa ingin protes.
"Sssuutttt...relax. Tenang saja honey... Kenapa kau nampak tegang. ??aku tidak akan menyakitimu. " Ares mengusap pucuk kepala Lissa.
Dan kemudian mengajak nya duduk di sofa.
"Apa kau sakit?wajah mu merah.. ??". Mengusap pipi Lissa.
" Ussshhhh... Lepas kan tangan mu. " itu membuatku berdebar sambung nya dalam hati.
"Apa kau tidak sibuk?? Dasar mentang-mentang bos seenaknya saja. " ujar Lissa dengan mata waspada.
Siaga satu!!! Lissa tegang. Ares duduk tepat di sebelah nya dengan menghadap ke arah dirinya. Bahkan mengikis jarak.
Perlahan ibu jari nya mengusap perlahan bibir pink itu. Tangan Lissa mulai mengeluarkan keringat. Wajah bak dewa itu semakin mendekati nya. Sorot mata tajam mengunci, seolah tidak ada harapan agar bisa lepas dari tatapan nya.
Untuk kedua kali nya, Lissa terhipnotis dengan jarak yang begitu dekat ini. Sungguh maha karya yang indah. Perlahan, bahkan hidung kedua nya sudah bertemu.
Dua pasang mata yang perlahan menutup, seakan-akan mendalami kejadian yang sebentar lagi akan terjadi.. Dan....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bonus foto ya guys.
Babang tamvan mundur dikit dong...
Ganteng nya kamu kelewatan.. aceppppiiiwwiittt....
Mbak cantik.
kalo ketawa mata nya pasti ilang.