
Hai semuaπππ...
apa kabar..... balik lagi ke novel favorit kalian nih.
jangan lupa tinggal kan jejak ya. πππ.
kuy lah.. lanjut!!!
β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘β‘
Ting....
Pintu lift pun terbuka. Ares melangkahkan kaki nya terlebih dahulu, kemudian Felix dan diikuti Lissa. Karena meja sekretaris ada di depan ruangan CEO, maka Lissa sampai terlebih dahulu. Lalu Ares masuk keruangan kerja nya diikuti Felix.
Tak lama waktu berselang, Miko datang, dan menyapa Lissa.
"Morning Lissa!! "
"Pagi juga Tian... " jawab Lissa sambil tersenyum.
"Apa tuan Ares sudah datang?? " Miko bertanya.
"Iya. Dia sudah datang 30 menit yang lalu. " kata Lissa.
"Baiklah aku akan menemui nya, sebentar. " Ucap Miko pada Lissa dan dibalas anggukan kepala.
tok.. tok..
Felix membukakan pintu, melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Apa aku boleh masuk?? " tanya Miko pada Felix.
"Iya. Silahkan. " Felix mempersilahkan Miko masuk.
"Permisi tuan. Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani. " ujar nya seraya meletakkan beberapa map berisi berkas-berkas.
Ares meraih map itu, lalu membuka dan membacanya. Kemudian menandatangani nya. Setelah itu dia memberikan nya pada Miko lagi.
"Bagaimana dengan perkembangan gadis aneh itu?? Apa dia berhasil?? " Tanya Ares sebelum Miko meninggalkan ruangan.
"Hmmmm... saya kurang pasti tuan. Dia tidak pernah lagi membahas masalah itu. " ujar Miko jujur.
"Baiklah. Panggil dia kesini!! " titah Ares.
"Lissa.Kamu dipanggil tuan Ares. Sebaik nya cepat, karena dia mungkin akan membahas tentang misi mu. " Kata Miko.
"Oke, Tian. Terimakasih. " Lissa beranjak dari meja kerja nya dan menuju ruang kerja Ares. Tak lupa sebelum nya dia sudah membawa flashdisk, yang berisi bukti.
Perasaan senang dan gugup bersatu, dia senang karena akan mendapatkan bonus, namun dia gugup karena takut informasi yang ia dapatkan salah dan, bonus nya akan melayang begitu saja.
tok... tok...
Felix membukakan pintu dan mempersilahkan Lissa masuk. Didalam Lissa disuruh Felix untuk duduk di sofa panjang berwarna cokelat.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan?? apa kau berhasil??? " tanya Ares to the point.
"Tuan mungkin ingin melihat nya sendiri" Ujar nya dan memberikan flashdisk ke Ares secara langsung.
"Kau, lakukan sendiri. Ini buka file nya cepat!! " ucap Ares dengan dingin, datar dan cuek nya.
Lissa mendengus pelan. Belum apa-apa saja dia sudah kesal. Namun demi bonus, ia rela. Lissa menghubungkan flashdisk ke laptop milik Ares. Dia sedikit menunduk, menyesuaikan tinggi dengan laptop. Posisi badan Lissa, berada di samping Ares, sangat dekat.
Wangi tubuh Lissa masuk tanpa izin, kedalam indra penciuman nya. Menghirup dalam-dalam aroma gadis itu, sejenak dia lupa kalau saat ini dia tengah bekerja. Terus mendekat kan wajah nya ke tubuh Lissa perlahan. Namun Lissa menyadari akan hal yang dilakukannya Ares.
"Em...... em... tu.. tuan Ares, apa ada sesuatu di baju saya?? " Lissa berusaha bersikap tenang. Jujur dia gugup karena Ares sangat dekat dengan nya.
"Ah.. tidak apa-apa. Ekhem... mana hasil kerja mu?? " Ares mengontrol mimik wajah nya. Supaya tidak terlihat Lissa. Jujur saja ya. wajahnya mungkin tidak merah, tapi telinga nya Ares itu yang merah, seperti tomat yang sudah masak.
Ares melihat video hasil rekaman Lissa. Wajahnya berubah, dia sudah menduga bahwa ada orang yang melakukan korupsi di kantor nya. Berkat kerja Lissa, pelaku nya berhasil ketahuan.
"Baik lah.. Hasil kerja mu sangat bagus.. Bonus apa yang kau inginkan?? " Ares memuji Lissa.
Wajah Lissa berubah sumringah, raut senang terpancar dari wajah nya. Namun, dia tertegun. Kenapa Ares tuan Ares menanyakan bonus apa yang aku mau,??? dia kan bos nya. Jadi kenapa aku yang harus menentukan bonus nya. batin Lissa.
"Terserah tuan saja. Anda kan bos nya..... jadi terserah tuan saja akan memberikan bonus apa. " ujar Lissa.
"Baiklah.Aku akan menyuruh Felix mentransfer uang ke rekening mu, sejumlah 30 juta. " Sahut Ares.
Mata Lissa membulat. Dia hanya menyelesaikan sebuah tugas. Dan bonus nya begitu besar. Tapi bagi Ares uang sebanyak itu tidak ada apa-apa nya.
"Terima kasih tuan. " Lissa menunduk dan keluar dari ruangan tersebut.
Bersambung........