Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Seperti wanita rendahan



-


-


Bryan segera membawa wanita itu dalam dekapan hangatnya menyusupkan wajahnya ke celah leher Jiana yang hanya terdiam membisu. Ia membiarkan Bryan berlaku seenaknya karena menolakpun percuma pria itu selalu nekad dan pantang menyerah


Bryan mengangkat tubuhnya untuk menjangkau wajah Jiana yang sudah memejamkan matanya." Kamu sudah tidur?" tanya Bryan menyelipkan rambut Jiana kebelakang telinga karena menghalangi pemandangan indah Bryan


Malam ini Jiana tak kedinginan seperti malam-malam lainya yang dingin dan terasa sunyi. Kini ada Bryan yang memeluknya dalam kehangatan membuat Jiana betah berlama-lama dan ingin menghentikan waktu saat ini juga


Kecupan kecil dipelipis membuat jantung Jiana dag dig dug tak karuan. Sentuhan Bryan, perlakuan manisnya terus membuat hatinya goyah tapi membayangkan Bryan yang tidur bersama Queen Jiana bertekad kembali untuk mengakhiri semuanya bersama Bryan


Kini tak hanya suara deburan ombak yang mengisi malam Jiana tapi dengkuran kecil pria yang tidur memeluk Jiana juga menemani malamnya. Kedua mata Jiana berkaca." Andai kau tak melakukan itu Bryan, mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia dimuka bumi ini." gumam Jiana serak menahan tangis


Tapi sekuat apapun menahannya pada akhirnya airmata Jiana jatuh lagi karena Bryan. Yaa hanya pria itu yang membuat Jiana merasa sakit dan rindu disaat yang sama. Jiana segera membalikan tubuhnya menghadap Bryan, ia begitu merindukan pria ini hingga mengulurkan jemarinya membelai wajah tampan Bryan


Tanpa Jiana tahu bahwa Bryan tak tidur, pria itu hanya berpura-pura tidur. Saat jemari lentik itu hinggap dibibirnya Bryan segera membuka mata membuat Jiana terkejut dan spontan menjauhkan jemarinya." Kau belum tidur?" tanya Jiana gugup namun Bryan tak menjawab hanya menatap lekat lalu menangkap jemari Jiana yang masih mengapung diudara. Ia kecup punggung jemari itu dengan lembut dan meletakan kembali dipipi kanannya


" Kenapa belum tidur ini sudah malam." suara lembut Bryan membuat Jiana terpaku, ia merindukan semuanya, saat ini saat-saat berdua bersama Bryan, perlakuan manis ucapan lembutnya Jiana sangat rindukan tapi meskipun begitu, sekarang Jiana bisa apa? hubungannya dan Bryan tak bisa seperti dulu lagi, ada penghalang diantara mereka yaitu bayi dalam kandungan adiknya yang tak mungkin Jiana abaikan. Hati Jiana pun sudah terlalu sakit dan tak akan mudah memaafkan Bryan. Awalnya Jiana masih mempercayai Bryan berpikir bahwa Queen berbohong dan mungkin saja berlaku curang untuk meretakan rumah tangganya tapi Queen hamil anak Bryan,


Hening


Hening


Keduanya hanya saling menatap dalam diam dengan pikiran masing-masing. Bryan mengulurkan tangannya menyentuh dagu Jiana, wanita itu tak meronta membuat Bryan kian berani. Perlahan ia menarik dagu Jiana sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Jiana


Untuk kedua kalinya Jiana tak menolak, ia membiarkan Bryan bahkan membalas ciuman lembut itu sembari merengkuh leher Bryan melepaskan rasa rindu itu malam ini. Keduanya kembali bergumul dalam selimut, membaur keringat menjadi satu. Bryan tak melepaskan dan menjauhkan tubuhnya sedikitpun, ia menguasai tubuh Jiana, bibir dan buah dada itu tak lepas dari jamahannya


" Aaahhh Bryan .. " suara jeritan itu begitu nyaring ditelinga Bryan yang menempelkan bibirnya dipipi Jiana dengan nafas yang masih memburu


Bryan mengangkat wajahnya menatap wajah Jiana yang memerah dengan nafas terengah menikmati sisa-sisa percintaannya bersama Bryan


Cup


Bryan mencium kening Jiana." Terima kasih." ucap Bryan lembut dengan senyum hangatnya


" Biarkan aku tidur." saut Jiana


Bryan mengangguk lalu berguling sembari merengkuh Jiana dalam pelukannya. " Tidurlah." ucapnya mengelus rambut Jiana dan menghujani puncak kepala itu dengan kecupan lembut


Pagi ini sangat berbeda dengan pagi-pagi Jiana lainnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan remuk, bayangkan saja entah berapa kali tadi malam Bryan menyetubuhinya yang pasti saat ini Jiana merasa seperti telah habis memanggul batu sampai ratusan meter. Jiana memukul-mukul kepalanya sendiri yang tadi malam malah meladeni Bryan menikmati semuanya sentuhan pria itu, ia bahkan membalas apa yang Bryan berikan padanya


" Aku sudah seperti wanita rendahan yang mau saja di bodohi Bryan." gumam Jiana


Meskipun seperti itu tapi Jiana tetap tak bisa hanya rebahan diranjang, ia punya Kya yang harus ia urus sarapan dan sekolahnya pagi ini. Malas-malas Jiana menuruni ranjang dan mengambil handuk lalu menuju kamar mandi


Sedangkan dikamar sebelah Bryan masih tertidur memeluk putrinya, entah sejak kapan pria itu pindah kesana yang pasti setelah membuat Jiana tak berdaya dan tertidur pulas


" Daddy .. " suara teriakan itu membuat kedua mata Bryan terbuka lebar


" Ini benal Daddy Kya." teriaknya lagi


" Ya, ini Daddy Kya yang tampan." saut Bryan dengan senyum hangat lalu mencium kening Kya


" Daddy .." panggilnya lucu berhambur memeluk Bryan, melingkarkan tangan dan kakinya didada dan perut Bryan


" Apa Daddy akan pelgi lagi?" tanya Kya menengadah


" Eeemm 5 hari, tunggulah Daddy selama 5 hari." saut Bryan seraya mengangkat lima jarinya pada Kya


" Kenapa lama sekali." begitulah gerutuan Kya yang terdengar jelas ditelinga Jiana yang hanya berdiri diambang pintu memperhatikan keduanya. Mata Jiana berkaca melihat tubuh kecil itu mengurung tubuh ayahnya yang besar


" Kenapa kau melakukan semua itu Bryan, kenapa kau mabuk dan tidur dengan Queen? kau menghancurkan semuanya, kebahagiaan putri kita." gumam Jiana sendu lalu melangkah pergi meninggalkan keduanya, Jiana takut goyah dengan keputusannya jika berlama-lama memperhatikan keduanya


Jiana berkutat didapur membuat sarapan untuk pagi ini. Sebenarnya ia hanya ingin membuat sarapan untuknya dan Kya tapi untuk kesekian kalinya Jiana bodoh masih memperhatikan perut dan kesehatan Bryan, ia masih perduli meskipun Bryan telah memberinya luka yang teramat dalam


Saat selesai ia segera membawa sarapan itu keruang tv, Kya dan Bryan sedang bercanda disana dengan tv menyala tak ditonton keduanya. Pemandangan indah sekaligus menyakitkan untuk Jiana karena nyatanya kebersamaan mereka akan berakhir dua bulan lagi dan yang membuat semua itu adalah Bryan, sekali lagi pria itulah penyebabnya


Jiana meletakan nampan dengan tiga mangkuk sup jamur serta tiga piring nasi diatas meja. Meskipun tinggal di Paris namun Jiana tetaplah berdarah Indonesia yang identik makan tidak akan lengkap bila tak pakai nasi. Selama ini Jiana juga selalu mengutamakan nasi bila memasak karena Bryan pun selalu menanyakan nasi. Sekali lagi Jiana merasa bodoh karena terus memperhatikan Bryan


" Sayang kenapa bukan ayam balado." ucap Bryan dan tak tahu malu dimata Jiana, masih untung ia mau memberinya makan. Gerutu Jiana dalam hati tak menjawab pertanyaan Bryan


Bryan tersenyum lucu melihat wajah ketus Jiana, ia turun dari sofa dengan Kya dalam pangkuannya duduk dilantai mengelilingi meja itu. Bryan mengambil mangkuk dirinya dan Kya lalu menyuapi Kya, raut wajah Kya tampak senang dengan kebersamaan mereka pagi ini


-


-