Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Merekrut sekertaris baru



Mumy Kya



-


-


" Lihat apa yang kamu lakukan." tunjuk Bryan dengan dagunya pada tebaran parfum, berbagai skincare serta perawatan lainnya dilantai


" Kamu harus menggantinya dengan yang baru." gerutu Jiana tanpa melihat, ia sibuk memasangkan dasi abu tua dileher suaminya


" Bukan masalah, selama aku senang aku bisa membeli apapun yang kamu rusak." Bryan terkikik sendiri mengingat bagaimana benda-benda itu berjatuhan kelantai


" Pagi ini kamu tidak mual?" Bryan menggelengkan kepala dengan senyum merekah


" Tidak, semenjak ada kamu yang terus merawatku, memasakan untukku, menemaniku tidur dan .. "


Jiana tersenyum lucu menampar pelan pipi kanan suaminya." Dan apa?" tanyanya


" Dan memanjakan aku diranjang hehe .. " Jiana terkikik geli dan menampar pipi Bryan lagi


" Kenapa suka sekali menamparku?" gerutu Bryan


" Karena kamu sangat menggemaskan unnnccch . " Jiana mencubit kedua pipi itu dengan kedua tangannya


" Sakit .. " lalu cubitan itu berubah jadi elusan lembut


" Disini juga sakit." sentuh Bryan pada pangkal pahanya


" Mau aku menamparnya agar benar-benar sakit hmm?"


" Aah tidak, nanti dia tidak mau bangun lagi " sautnya dengan tawa dan menyalur pada Jiana. Lalu keduanya berpelukan untuk beberapa saat sstelah Jiana selesai memasangkan dasi dileher Bryan


" Ikut yuk."


" Kemana?" Jiana melepaskan pelukannya begitupun Bryan yang mengurai pelukannya


" Kekantor sayang. "


Jiana menggelengkan kepalanya cepat


" Ayolah, aku akan merekrut sekertaris baru, bantu aku memilihnya."


" Apa sekertaris wanita?" tanya Jiana menyipitkan kedua matanya


" Memangnya kenapa kalau wanita?" pancing Bryan mengulum senyumnya


" Bukan masalah." saut Jiana melipat kedua tangan diatas perut buncitnya


" Yakin tidak akan cemburu?"


" Untuk apa cemburu, lagipula diakan tidak akan bangun dengan wanita lain." saut Jiana dengan senyum liciknya melirik pangkal paha Bryan


" Ya sudah ini kesempatanku untuk mendapatkan sekertaris cantik." Bryan melepaskan kedua tangannya dari pinggang Jiana lalu melenggang menuju keluar kamar


" Aku ikut!" teriak Jiana membuat tubuh itu berjingkat kaget


" Astaga wanita itu sedang hamil saja suaranya seperti auman singa." gerutu Bryan dengan suara sepelan mungkin. Bryan pura-pura tak mendengar Jiana ia berniat melangkah lagi


" Bryan aku ikut!' suara itu semakin kencang membuat Bryan kembali memutar tubuhnya dan tersenyum manis dengan Jiana yang lain dimulut lain dihati, Bryan tahu istrinya akan cemburu


" Mumy kenapa berteriak berisik sekali." Kya tiba-tiba datang dari arah pintu dengan gerutannya


" Kya .. Daddy akan mencari mama tiri untuk Kya. Memangnya Kya mau?"


" Tidak mau!" gadis kecil itu ikut meneriaki Bryan dan memukul bokong ayahnya dengan kedua tangan. Bryan menggelengkan kepala melihat keposesivan kedua wanita itu padanya dan dua-duanya juga selalu galak. Namun terlepas dari itu Bryan sangat senang, ia merasa disayangi oleh Jiana maupun Kya itu artinya keduanya tak mau kehilangan Bryan


" Daddy Kya tidak mau!"


"Iya iya memangnya siapa yang mau mencari mama tiri, Mumy saja masih ada belum habis." saut Bryan dengan tawa sambil memangku tubuh yang sudah siap dengan seragam sekolah dan ransel dipunggungnya itu. Bryan kembali meninggalkan Jiana membuat wanita itu berlari mengejarnya


" Jia .. Jia .. " tegur Bryan memelototkan kedua matanya pada Jiana yang menggelayuti lengannya. Wanita itu hanya menyengir dengan wajah tanpa dosanya


" Sudah kubilang jangan lari, ada apa denganmu? bagaimana jika kamu terjatuh dan membuat sikembar -" gerutu itu tak Bryan lanjutkan, bahkan untuk menyebutkan hal mengerikan itu rasanya Bryan tak akan sanggup


" Jadi hanya sikembar yang kamu pikirkan? jika aku yang mati bagaimana?"


" Tentu saja aku akan gila!" saut Bryan masih dengan wajah kesalnya dan Jiana malah tersenyum lebar dengan ucapan itu. Ia menempeli Bryan dengan manja meletakan kepalanya dipundak Bryan


Setelah mengantarkan Kya kesekolah, kini keduanya menuju kantor Bryan. Wajah Jiana tiba-tiba mendadak memucat membuat Bryan khawatir dan mengerem mobilnya tepat didepan lobi. Bryan membuka sabuk pengamannya lalu mendekati Jiana


" Ada apa? mana yang sakit?" tanya Bryan panik mengelus perut Jiana


" Aku takut, aku malu. Bagaimana bisa semua orang mengenaliku." saut Jiana


" Memangnya kenapa kalau semua orang mengenalimu? kamu malu punya suami yang brengsek sepertiku?" tanya Bryan dengan nada tak suka


" Bukan seperti itu boy, aku .. aku .. "


" Your fine! it's just the past ok!" Jiana menatap Bryan beberapa saat lalu menghela nafasnya panjang


" Ayo kita masuk." ajaknya


Bryan segera keluar memutari mobil membuka pintu untuk Jiana lalu melempar kunci pada satpam disana. Satpam itu tampak meneliti wanita dengan perut buncit disamping sang bos


" Dia istriku!" aku Bryan membuat satpam itu langsung memberi hormat pada Jiana dengan membungkukan badan


" Dia tidak mengenaliku." bisik Jiana ditelinga Bryan


Bryan terkekeh lucu." Dia tidak akan mengenalimu, dia baru dua tahun disini." saut Bryan dengan kekehan kecilnya. Jiana menepuk dada itu pelan dengan bibir mengerucut yang mana langsung di kecup Bryan tanpa malu didepan satpam itu


Lalu ia meraih jemari Jiana untuk ia genggam. Keduanya masuk kedalam dengan tangan yang saling bertaut. Seketika keadaan riuh kantor itu mendadak tenang dengan kehadiran Bryan dan Jiana. Semua orang dibuat terkejut melihat Bryan membawa seorang wanita hamil kekantornya, dalam benaknya mereka bertanya siapa wanita itu? mengapa keduanya terlihat sangat mersa. Bahkan Bryan tak berhenti menampilkan senyumannya pada wanita itu


Setelah Bryan dan Jiana memasuki lift, keadaan berbalik gaduh. Bisikan-bisikan semua orang kini memenuhi area lobi kantor tersebut." Ini yang paling kutakutkan .. hari ini benar-benar terjadi. Hari patah hati nasional .. " ucap Monica yang sejak beberapa tahun lalu mengangumi sang bos lalu ia menangis bersama wanita-wanita lainnya. Jika Bryan tahu ia ditangisi para bawahannya tentu ia akan semakin besar kepala


Keluar dari lift, Bryan membawa Jiana menuju ruangannya. Mereka disambut si Marissa yang wajahnya mendadak masam ketika melihat Jiana yang digandeng Bryan." Sayang dia Marissa, sekertaris keduaku." ucap Bryan membuat Marissa terkejut mendengar panggilan sayang Bryan pada wanita dengan tampilan anggun didepannya ini


Jiana melihat dari atas kebawah tampilan Marissa dengan pandangan tak suka. Jiana mendelik kesal lalu menggelayuti lengan Bryan menuju ruangannya." Bukankah itu terlalu seksi?"


" Apa hmm?" Bryan menggandeng tubuh itu menuju kursi kebesarannya lalu duduk sambil menarik Jiana duduk dipangkuannya


" Sekertarismu, aku tidak suka cara berpakaiannya."


"Aku tidak suka."


" Baiklah, baiklah aku akan membuat peraturan baru untuk besok. Semua kariawan diwajibkan memakai pakaian yang tertutup!"Jiana tersenyum, tanpa ia minta Bryan sudah mengerti kegelisahannya. Bryan mendekap tubuh itu menyandar padanya


" Kenapa? masih tidak percaya suamimu hmm?"


" Aku percaya hanya saja aku tidak suka melihat wanita dengan pakaian seksi seperti itu. Inikan kantor bukan klub malam." gerutu Jiana lalu mendapat kecupan lembut pada pipinya


Jiana membenarkan posisi duduknya melihat-lihat semua yang dimeja Bryan lalu ia membuka laptop didepannya." Sayang kamu tidak akan mengerti." Bryan kembali menempelkan tubuhnya, menumpu lagi dagunya dipundak Jiana


" Memangnya didalam sini ada apa?" tanya Jiana membuka beberapa file dalam laptop suaminya tapi Jiana tak menemukan hal yang menarik hanya angka dan hurup yang membuat Jiana pusing


Lalu jemarinya jahil mengetik tulisan dalam layar laptop itu dengan ukuran besar


I love you


Jiana melirik Bryan yang tersenyum manis memandangnya." Jawab!" perintah Jiana mencubit hidung mancung itu


" Kamu sudah tahu jawabannya, kenapa bertanya lagi." Jiana menangkup wajah itu dengan satu tangan dan memberi ciuman lembutnya


" Bekerjalah sayang .. " Jiana hendak bangun dari tubuh itu namun ditahan Bryan


" Aku tidak akan fokus bekerja."


" Kenapa, aku tidak akan mengganggu."


" Kiss me!" perintah Bryan. Jiana terkekeh menangkup wajah itu dengan satu tangannya lagi lalu mendaratkan bibirnya pada Bryan. Keduanya berciuman mesra, sangat mesra hingga mengeluarkan suara decapan. Bryan mengisi celah jemari diperut buncit itu dengan jemarinya lalu menuntun Jiana mengusap perut buncit itu


Mereka tak sadar, Marissa dan Monica masuk, keduanya tampak menegang melihat kemesraan itu. Sikut keduanya saling senggol benar-benar bingung dengan apa yang akan mereka lakukan." Kau lebih dulu." perintah Monica


" Kau saja, aku takut bos marah!"


" Kalau begitu keluar saja. Benar-benar menyebalkan." bisik Monica lalu memutar tubuh. Naasnya berkas yang ditangan itu tak sengaja ia jatuhkan hingga menimbulkan suara bising membuat pasangan suami istri yang sedang memadu kasih itu terlonjak kaget dan melepaskan satu sama lain


Eehhm


Bryan berdehem pelan menyembunyikan keterkejutannya sementara Jiana langsung menyembunyikan wajahnya di pundak Bryan." Ada apa?" tanya Bryan membuat keduanya gugup dan takut dianggap sebagai pengganggu


" Eeemmh bos .. emmmh."


" Bicara yang benar. Kau ini!" Jiana terkikik didada Bryan, pria itu masih tak mengubah temperamen terhadap bawahannya


" Meeting perekrutan sekertaris baru dimulai 10 menit lagi bos." jawab Marisaa


" Lalu kau Monica?"


" Eeeemmh ini laporan keuangan bulan ini." sautnya memberanikan diri melangkah dan meletakan diatas meja kerja Bryan


Bryan mengibaskan tangan mengusir keduanya sehingga keduanya berlari dan saling berebut pintu. Saat itu Jiana memukul dada Bryan membuat Bryan tergelak kencang." Ayolah kita pasangan resmi, untuk apa malu-malu."


" Aku tahu, tapi tidak dengan memperlihatkan pada mereka bukan?"


" Memangnya siapa yang duluan menciumku."


Plak


Tamparan pelan wanita galak itu mendarat dipipi Bryan membuat Bryan terkikik lucu lalu kembali memaksa mencium bibir itu lagi sebelum keduanya memutuskan keluar ruangan menuju ruang meeting


Diperhatikan semua orang Jiana merasa gugup sehingga menyembunyikan tubuhnya dibelakang Bryan. Membuat suaminya tak bisa menahan senyum lalu menarik pinggang Jiana agar bersejajar dengannya. Pria itu membawa Jiana duduk dikursi paling didepan ditengah beberapa bawahannya beserta 100 orang calon sekertaris baru


" Sayang menurutmu yang mana?" Bryan melirik kesamping dan panggilan sayang dengan suara lembut itu membuat beberapa wanita disana merasa muak mendengarnya, mereka iri dengan wanita disamping Bryan. Bahkan Bryan membebaskan istrinya untuk memilih pengganti Darwin yang mereka pikir mengundurkan diri secara mendadak. Jiana tak bersuara ia hanya menunjuk seorang wanita bertubuh gempal dan mempunyai wajah dibawah rata-rata


" Jia jangan yang seperti itu juga." bisik Bryan menggerutu


" Memangnya kenapa? kamu mau mencari sekertaris apa istri kedua?" Kedua mata membulat itu membuat Bryan menciut, ia memegangi dagunya sambil memperhatikan wanita yang Jiana tunjuk


" Siapa namamu?" tanya Bryan


" Nama saya Nina rahayu." sautnya. Lalu Marissa memberikan lamaran kerja wanita dengan nama Nina itu ke hadapan Bryan. Bryan membaca lamaran kerja itu dengan teliti karena diperhatikan Jiana. Besok saat Jiana tak ada Bryan benar-benar akan memarahi Marissa karena beraninya membuka lowongan kerja untuk semua pihak, padahal syarat yang Bryan tentukan saat itu harus memiliki penampilan yang menarik


Sementara Marissa dan Monika saling menyenggol siku sejak tadi. Keduanya terkikik lucu memperhatikan para kandidat sekertaris itu, benar-benar tidak ada yang menarik karena Marissa memang sengaja, ia tak mau tersaingi jika Bryan memilih seorang sekertaris wanita yang cantik seperti dirinya


" Marissa, aku merasa tidak asing melihat istri bos. Aku seperti pernah melihatnya tapi dimana?" bisik Monica


" Mungkin dia seorang artis atau model." balas Marissa


" Aku tidak tahu, tapi dia memang cantik. Mereka terlihat serasi ..." gumam Monica dengan wajah sedihnya menatap Bryan dan Jiana


" Sayang disini tertulis dia sudah menikah dan memiliki anak dua. Sayang tidakkah menurutmu kita mencari yang lain." bisik Bryan membuat Jiana mengalihkan pandangannya pada calon sekertaris-sekertaris baru yang duduk lima meter didepan mereka lalu Jiana menunjuk seorang pria dengan tubuh tinggi dan bertubuh kekar


" Siapa namamu?" tanya Bryan pada pria yang kini duduk dua meter didepannya dan Jiana


" Nama saya Dika prasetya saya biasa dipanggil Dik atau Ka .." Jiana tertawa kencang mendengar ucapan pria itu membuat Bryan tersenyum dan mengusap puncak kepalanya


" Pengalaman bekerja?"


" 3 tahun sebagai sekertaris di pt Zunzo, 5 tahun di pt Abadi star sebagai kepala divisi keuangan." Bryan hanya mengangguk, setidaknya pilihan Jiana kali ini lebih baik dari wanita bertubuh gempal itu


" Zunzo?"


" Ya perusahaan sepatu bola di Jerman."


" Berapa bahasa asing yang kau kuasai?" Jantung Jiana mendadak berdebar, suaminya terlihat berwibawa jika sedang serius seperti ini. Bukannya memperhatikan pria yang Bryan ajak bicara, Jiana malah menatap ketampanan suaminya


" Lima, Indonesia, Inggris, Spanyol, Mandarin dan Arab." Bryan menoleh pada Jiana, wanita itu tersenyum dan mengangguk. Bryan mana bisa menolak keinginan Jiana, tanpa melakukan interview bersama sisa kandidat lainnya. Bryan langsung menunjuk pria itu menjadi sekertaris pribadinya


" Selamat datang di A&D grup, mulai besok anda kariawan di sini. Selanjutnya Marissa akan memberi tahu apa saja pekerjaanmu sebagai seorang sekertaris pribadi." ucap Bryan beranjak berdiri, menggandeng Jiana meninggalkan semua orang


Tiba diruangan Bryan Jiana langsung memeluk manja suaminya itu dari belakang membuat Bryan tersenyum dan menyentuh puncak kepalanya. Rasanya Jiana mulai merasa beruntung memiliki Bryan dihidupnya." Kenapa kamu sesenang ini hmm?"


" I'm so happy."


" Jia dia tampan dimatamu?."


" Tidak, kamu yang paling tampan didunia ini. Aku senang karena memilikimu. Menjadi istrimu, menjadi ibu dari anak-anakmu. Aku bahagia, rasanya semua yang aku alami dulu kini Tuhan balas dengan kebahagiaan melalui kamu.." sautnya dan senyuman terbit dibibir Bryan, pria itu membalikan tubuhnya dan memeluk Jiana. Jiana memang galak tapi mengenai perasaaanya Jiana selalu polos dan jujur, tanpa malu menutupinya dari Bryan. Wanita itu selalu mengatakan yang sebenarnya yang ia rasakan, Bryan sangat senang kini bukan hanya dirinya yang menjadi budak cinta, sepertinya sang istri pun mulai tergila-gila padanya


" Aku mendapatkanmu!" gumamnya dalam hati


-


-