Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Obat sakit perut



-


-


Jiana meletakan semangkuk sup ayam tepat didepan Bryan dengan kasar. Wajah Jiana jangan ditanya lagi garang seperti awal mereka menikah dulu. " Jangan pergi temani aku." ucap Bryan menarik jemari Jiana, menggenggam jemari itu dan hendak menciumnya jika saja tak ditepis Jiana


Tapi Bryan tak mengalah, ia segera menarik jemari itu lagi, menarik tubuh Jiana duduk dipangkuannya lalu mengurung wanita itu dengan kedua tangannya


Cup


Bibir Bryan tanpa permisi mendarat dibibir cemberut Jiana


" Aaah enak sekali." puji Bryan pada masakan Jiana yang baru saja ia cicipi didalam mulutnya setelah sekian lama ia tak merasakan masakan istrinya. Namun Jiana hanya terdiam dengan tatapan kesembarang arah


" Makanlah kamu terlihat kurus." perintah Bryan mendekatkan sendok kedekat bibir Jiana. Wanita itu menepisnya kasar hingga sendok yang dipegang Bryan terjatuh kelantai dan sesendok sup ayam itu jatuh mengotori baju Jiana


Bryan hanya menghela nafasnya lalu mengambil sendok yang baru. Ia makan dengan tenang sambil memperhatikan wajah cantik Jiana, sesekali juga ia memberi kecupan lembut pipi Jiana tanpa mengiraukan wajah garang itu. Rasa rindunya pada Jiana benar-benar terlampiaskan saat ini


Bryan segera meletakan sendok dan mangkuk itu menjauh darinya. Ia menatap Jiana dengan penuh pujaan lalu membelai pipinya yang kembali ditepis Jiana. Bryan tersenyum lucu." Kalau kau galak seperti ini kau membangkitkan gairahku lagi." ucap Bryan, kali ini Jiana terpancing ia menoleh pada Bryan dan langsung mendapat kecupan bibirnya


Jiana segera mengusap bibir itu seolah jijik terhadap Bryan membuat Bryan semakin tertantang dan kian mendekatkan wajahnya pada Jiana. Ia tekun tengkuk itu dan menjilat bibir Jiana, seketika itu juga tamparan keras mendarat dipipi Bryan


Bryan terbahak kencang lalu memangku Jiana ala bridal. Tentu saja wanita itu meronta sekuat tenaga." Lepaskan aku bajing*n." Tapi Bryan tak menghentikan tawanya, pria itu malah semakin menjadi


Bruk


Pria itu melempar kasar tubuh Jiana kekasur lalu membuka celananya lagi." Kau mau apa?" teriak Jiana menyilangkan kedua tangannya didada dan kedua kakinya


" Menidurimu lagi, aku belum puas!" saut Bryan merangkak naik mendekati Jiana mengurung wanita itu dengan kedua telapak tangan ditumpu kekasur, wajah Jiana sudah memerah karena marah


" Hentikan Bryan kau menjijikan, pergilah pada Queen. Aku yakin wanita itu akan sudi meladeni ***** bejadmu." ucap Jiana sangat kasar dan menusuk hati Bryan


" Kau yakin mau aku bersama Queen hmm?" tanya Bryan melipat kedua tangannya menghimpit Jiana


" Kau yakin Jia?" tanya Bryan membelai pipi Jiana dengan ujung jemarinya


" Pergilah dan jangan kembali lagi. Kau bisa sesekali menemui Kya jika kau rindu padanya. Tapi dengan satu syarat."


" Apa itu?" tanya Bryan dengan wajah tenang tak terkecoh ucapan Jiana yang sebenarnya sangat menyakiti hati Bryan


" Jangan pernah mempertemukan putriku dengan anakmu dari Queen, aku tak mau Kya terluka." saut Jiana dengan kedua mata berkaca, dalam hatinya sampai matipun sebenarnya Jiana sangat tidak rela jika Bryan bersama Queen


" Aku tak akan melakukan itu." saut Bryan lembut


Kedua mata itu semakin menggenang airmata, hati Jiana kembali sakit dan berpikir Bryan memang akan menjalani hidup bersama Queen. Meninggalkan Jiana dalam kesedihan dan kesengsaraan hausnya akan kasih sayang, Jiana tak punya pegangan bahkan saat hatinya hancur seperti ini ia tak punya tempat bersandar


Dan Bryan malah semakin membuat airmata Jiana terjatuh, bukannya menenangkan Jaina pria itu malah menciumnya dengan penuh tuntutan pula, merakus dan bisa Jiana rasakan adik Bryan menegang dan mengeras diperut bawahnya


" Tidak aku tidak mau." tolak Jiana meronta mendorong dada Bryan dengan kedua tangannya


" Tapi aku mau." saut Bryan dengan tangan yang tergesa-gesa menurunkan celana bahan Jiana lalu cd wanita itu, keduanya Bryan lempar kelantai


" Aku lelah lepaskan aku." teriak Jiana tak henti meronta


" Diamlah Jia, nikmati seperti tadi." bisik Bryan parau


Bryan kembali menaklukan tubuh itu dibawahnya, membuat Jiana menangis tapi disatu sisi menikmati hujamannya dibawah sana. Apalagi posisi duduk seperti ini membuat adik Bryan masuk sepenuhnya kedalam. Jiana merasa harga dirinya terus direndahkan Bryan, ia merutuki tubuhnya yang tak mampu menolak Bryan


Guncangan-guncangan yang hebat disertai ledakan sperm* Bryan dikewanitaannya sukses membuat tubuh Jiana menggelinja*g nikmat. Wanita itu merengkuh leher Bryan seerat mungkin dengan jemari menjambak rambut belakang Bryan hingga tubuh mereka yang tak tertutupi sehelai benangpun itu saling menempel sempurna


Saat sadar Jiana segera melepaskan rengkuhan itu begitupun Bryan sedikit mengangkat tubuhnya untuk menjangkau wajah Jiana, ia usapi keringat didahi dan dipelipis Jiana lalu mencium kening Jiana dengan cukup lama. Hati Jiana selalu bergetar dan Jiana goyah akan kelembutan itu tapi pikiran itu segera ditepis Jiana


" Perutku sakit." ucap Jiana


" Mana yang sakit?" tanya Bryan spontan menyentuh perut itu dengan wajah khawatir


" Biarkan aku pergi kekamar mandi, perutku sangat sakit." saut Jiana dengan wajah memelas


Bryan tersenyum lucu lalu bangkit dari tubuh Jiana, ia membiarkan istrinya pergi kekamar mandi dengan dirinya yang tak lepas memandang Jiana. Wanita itu menutup pintu kamar mandi rapat lalu berjalan menuju rak dingding kamar mandi dimana kebutuhan untuk mandi berrada disana


" Syukurlah aku masih menyimpannya." gumam Jiana mengusap dadanya lalu mengambil selembar pil kontrasepsi yang memang sering dikonsumsinya setelah atau sebelum berhubungan intim bersama Bryan


Jiana mengambil satu lalu keluar dari kamar mandi. Ia mendekati meja nakas disamping ranjang dimana ada segelas air putih disana. Ia langsung meminum obat itu dan hal itu tak luput dari perhatian Bryan


" Apa yang kamu minum?" tanya Bryan menyentuh pinggang Jiana yang polos


" Obat sakit perut." saut Jiana membuat Bryan beringus bangun dan menarik Jiana duduk dipangkuannya


" Apa kamu sering sakit perut seperti ini?" tanya Bryan sembari mengusap perut Jiana dengan jemarinya


" Tidak, mungkin karena tadi terlalu banyak makan pedas." saut Jiana berbohong


" Kenapa suka sekali makan pedas, itu sama sekali tak baik untuk kesehatanmu." Jiana membungkam ia hanya menatap Bryan


" Kurangi makan pedas dan mulai banyak makan sayuran." perintah Bryan


" Apa tujuanmu?" tanya Jiana dingin


" Sayang .. " panggil Bryan lembut menyelipkan rambut Jiana kebelakang telinganya


" Apa tujuanmu melakukan semua ini? mengkhawatirkanku seperti ini? apa tujuanmu?" tanya Jiana serak menahan tangis


" Karena aku mencintaimu, aku tidak-"


" Bulshit!" potong Jiana beringus turun dari pangkuan Bryan


" Itu karena kamu tidak pernah mempercayaiku."


" Tidak ada yang akan mempercayai seorang pembohong, penipu dan pengkhianat sepertimu!" saut Jiana memutari ranjang lalu merebahkan dirinya membelakangi Bryan. Jemarinya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dari Bryan yang terdiam menatap punggung Jiana sendu


" Aku benar-benar mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu." ucap Bryan membuat jantung Jiaan berdebar kencang tapi hatinya sakit mendengar pengakuan Bryan karena menurutnya itu sudah terlambat. Ia sudah tak percaya dan sudah terpengaruhi ucapan Queen waktu itu


" Kau mencintaiku karena kau belum melupakan Queen dan sekarang aku sadar kau memperkosaku malam itu juga karena Queen .. "


-


-