
-
-
Harusnya aku bukan yang menikmati semua itu, tubuhmu, kasih sayangmu .. Bryan kenapa kau tidak menungguku aku kembali untukmu. Rasanya aku ingin mati saja bila terus melihatmu dan kak Jiana ...
Queen mengusap kedua sudut matanya yang basah menatap nanar pasangan yang sedang memadu kasih didalam selimut. Kepingan hati itu kian hancur, Queen tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara hatinya masih mencintai Bryan, pria itu masih menjadi utama dan segalanya dihidup Queen
Sejak bangun dari tidurnya tubuh Queen terasa lemah, mungkin karena ia melewatkan beberapa kali jam makan. Lalu ia keluar melewati beberapa kamar, ia berniat mencari makanan untuk mengisi perutnya. Tapi ia berhenti disebuah kamar tatkala mendengar suara tawa dari kamar itu, ia mencoba melihat dari balik pintu. Diatas ranjang keluarga kecil itu tampak berbahagia, tertawa saling bercanda menikmati kebersamaan membuat Queen merasa cemburu setengah mati, bukan karena Kya dan Jiana tapi karena Bryan yang bersama mereka
Lama Queen disana sampai detik ini, ia melihat semuanya. Percintaan panas mantan kekasih dan kakak yang baru ia temui itu. Keduanya tampak bahagia dan menikmati pergumulan mereka membuat airmata Queen mengalir deras tanpa henti
" Aaahh Boy .. " begitulah suara yang terdengar ditelinga Queen begitu menyakitkan untuknya, kedua tangannya terkepal kuat tapi ia juga tak bisa memalingkan wajahnya dari pemandangan itu. Ia ingin tahu apa yang akan Bryan lakukan bila tahu ia mengintipnya dan Jiana
" Ah ah ah sial kau menjepitku sayang." umpat Bryan pelan membuat Jiana yang sedang terengah karena pelepasan kedua kalinya itu terkikik lucu, sekuat tenaga Jiana menarik kedua tangan Bryan hingga Bryan yang belum siap itupun jatuh menimpa Jiana
Bryan mengangkat wajahnya dari pundak Jiana, tubuh pria itu menggeliyat geli dan bibirnya sedikit menganga merasakan adiknya yang menghangat dan lengket oleh caira* Jiana didalam sana. Bryan kecup bibir Jiana dengan lembut, memberikan senyum manisnya dan membelai wajah Jiana dengan jemari besarnya
" Bolehkah aku berada diatas?" tanya Jiana mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan
" Dengan senang hati." saut Bryan mengulum senyumnya lalu berguling mengubah posisi mereka. Jiana menjauh dan bangkit duduk diatas paha Bryan. Tatapan Bryan penuh terkaman pada Jiana yang berada diatas tubuhnya, tubuh itu indah dengan kedua buah dada mengantung besar meski tak berukuran jumbo, serta area sensitif mungil yang ditumbuhi bulu-bulu halus diatasnya dan Bryan bisa melihat dengan jelas wajah Jiana yang bergairah dari bawah
Bryan seringkali melihat tubuh wanita yang meliuk-liuk diatas tubuhnya namun entah kenapa tak semenyenangkan melihat istrinya..Ya karena Jiana berbeda, dia istrinya. Pikir Bryan seraya mengulurkan kedua tangan untuk menyentuh kedua paha putih Jiana
" Aahh Jiana .. " erang Bryan tatkala gerakan Jiana yang amatiran itu sedikit berpacu dengan kedua tangan berpegangan pada perutnya
" Yeah yeah sayang benar seperti itu, aaahhh .. " racau Bryan membuat Jiana tersenyum, ia merasa puas melihat Bryan yang menikmati permainannya
" Emmmh Boy .. aaaahh .. aaaahhh .. "
" Eeemmmh Jia .. " balas Bryan
" Bryan .. "
" Jiana .. "
" Baby .. " Bryan membuka kedua matanya lebar mendengar panggilan Jiana yang tak biasanya itu, ia tersenyum lalu bangkit
" Aku tidak tahan, sayang kamu terlalu lambat." bisik Bryan nakal lalu membenamkan wajahnya dibuah dada Jiana
" Baby ahhh .. "
" Emmmhh yeah sayang .. aku suka." saut Bryan serak dan bergerak bersama Jiana, saling memacu hingga ranjang mereka bergoyang kencang namun suatu keberuntungan karena Kya yang tak terusik sedikitpun, gadis itu malah berbalik membelakangi keduanya
" Ya Bryan seperti ituuuuuuu .. " ucap Jiana menatap Bryan yang menyusu padanya, lahap dan rakus membuat Jiana tak tahan untuk tak menjerit dan menjambak rambut Bryan dengan kedua jemarinya
" Euuummmh kamu nakal baby .." saut Bryan mengangkat wajahnya lalu meraup bibir Jiana. Ia tekan tengkuk itu sambil bergerak kembali mengukung Jiana untuk berada dibawahnya
" Bersiap-siaplah." bisik Bryan nakal lalu bangun dari tubuh Jiana, ia membuka kedua kaki itu lebar dan berpacu, liar dan cepat hingga gunung kembar itu berguncang lincah
Ah
Ah
Ah
" Pelan-pelan .. " rengek Jiana
" No baby .. Arrrrgggghhh .. "
" Aku tidak tahan .. " saut Jiana menatap kebawah, adik Bryan itu begitu cepat masuk keluar miliknya. Hentakan-hentakan itu menyentuh kian dalam keujung, kewanitaannya terasa penuh oleh burung Bryan
Jiana menengadah dengan kedua jemari merema* sprei hingga menggulung kebawah dan sebuah guncangan hebat pada tubuhnya membuat Jiana menjerit kencang. " Bryaaaaaannnn .."
" JIAAANAA .. " erang Bryan terengah dan tumbang diatas tubuh Jiana, menggigit pelan pundak Jiana tatkala miliknya yang masih mengeluarkan lahar panas itu kembali terjepit dibawah sana
Tubuh Jiana tak henti menggelinj#ng nikmat, merasakan hangat, lengket, juga rahimnya terasa penuh dengan cairannya dan sperm* Bryan yang membaur jadi satu didalam sana
Cup
" Lagi?" tawar Bryan
Jiana tertawa pelan dan menepuk dadanya lalu menggelengkan kepala
" Oh ayolah, aku masih mau. Ini kan honeymoon" rengek Bryan menaikan kedua alisnya genit pada Jiana yang sekali lagi membuat Jiana tertawa dan mengulurkan jemarinya menyentuh pelipis Bryan yang berkeringat, tampan sudah pria itu dimatanya
" Kau tidak lelah?" tanya Jiana lembut dengan menatap penuh damba
" Tenagaku masih berkali lipat untuk 3 ronde kedepan."
" Astaga, kau ini seorang maniak ya." gerutu Jiana dengan senyum menggodanya
" Ya ya bisa dibilang seperti itu." saut Bryan tersenyum lucu. Mereka saling memandangi wajah berkeringat masing-masing, dan jemari dipelipis itu berpindah ke rambut. Merapihkan rambut Bryan yang acak-acakan bekas tangannya
Bryan tersenyum, ia menarik dagu Jiana untuk mengecup bibirnya. Meluma*nya lagi seolah tak pernah puas, sama halnya dengan Jiana yang menyambutnya penuh kelembutan, mengalungkan erat kedua tangannya dileher Bryan
Cup cup cup
Sentuhan bibir Bryan dipipi dan rahang itu begitu dalam sampai mengeluarkan suara. Jiana hanya memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya kencang menikmati sentuhan suaminya lagi, juga kedua kakinya ia lingkarkan dipinggang Bryan
" Emmmmhh ." lenguh Jiana mulai tak tahan bibir Bryan yang mengisap lehernya meninggalkan bekas kecupan merah disana kemudian Jiana membuka matanya dan ia tersentak, tubuhnya berjingkat membuat Bryan merasa heran dan henti
" Ada apa?" tanya Bryan. Jiana tak menggubris, sekuat tenaga ia mendorong tubuh Bryan hingga penyatuan mereka terlepas, bisa dilihat adik Bryan yang mulai menegang lagi
Jiana beringus bangun duduk dan menaikan selumut sampai dadanya." Boy, ada orang diluar pintu." bisik Jiana meneliti keluar kamar, gelap jadi Jiana tak melihat siapa yang berdiri dibalik pintu itu
" Biarkan saja." saut Bryan malas ikut bangun dengan bibir langsung mendarat nakal dipundak Jiana
" Hentikan." tegur Jiana menoleh dan menjauhkan bahunya hingga bibir Bryan mengapung diudara
" Biarkan saja, mungkin wanita itu tak ada tontonan yang menarik." saut Bryan acuh lalu kembali bibirnya nakal, kali ini dileher Jiana dan belakang telinga wanita itu mengecupnya bergantian
" Darimana kau tahu dia seorang wanita?" tanya Jiana mengerutkan dahinya
Seketika itu juga Bryan berhenti, ia menarik dagu Jiana dan mengecup gemas bibir itu sambil memikirkan alasan yang tepat pada Jiana. Sebenarnya ia sudah melihat Queen sejak lama makanya ia tak menjauhkan selimut sedikitpun dari tubuhnya dan Jiana saat bermain tadi
" Boy .. " panggil Jiana
" Lihat saja rambutnya panjang." saut Bryan asal lalu mendaratkan bibirnya lagi dileher Jiana, wanita itu menggeliyat geli karena hal itu
" Dia masih melihat kita." gerutu Jiana namun tak digubris Bryan, pria itu tengah asyik mencumbui leher dan telinganya
" Bryan .. " Jiana mulai tergoda
" Biarkan saja, ayo kita beri pertunjukan yang menarik." saut Bryan parau, tangannya mulai menyusup pada satu buah dada Jiana, mencengkramnya lembut
Saat Jiana lengah, Bryan kembali mendorongnya berbaring kekasur, mengukungnya lagi dengan kedua sikut bertumpu disisi tubuh Jiana
" Aku tidak mau, kunci dulu pintunya." gerutu Jiana membuat Bryan mendengus kesal dan menjauhkan tubuhnya dari Jiana. Ia bergeser mendekati sisi kasur lalu meraih celana pendeknya
" Awas saja jika menolak lagi setelah ini." gerutu Bryan kesal seraya memakai celananya didalam selimut diperhatikan Jiana yang tersenyum lucu melihat adik Bryan yang jumbo dan tegak berdiri itu dipaksa masuk kedalam celananya
" Apa tidak sakit?" tanya Jiana menunjuk pangkal paha Bryan
" Ini benar-benar sesak." sautnya lalu menuruni ranjang dan melangkah mendekati pintu. Tatapan manik hitam pekat itu mendadak tajam pada Queen yang berdiri diambang pintu dengan airmata menderai
" Tahulah batasanmu." bisik Bryan tajam lalu membanting pintu hingga tertutup
-
-