Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Suami tampan



-


-


Bryan menarik Jiana kepelukannya untuk beberapa saat, ia menyayangi wanita itu, lihatlah jemarinya saja begitu lembut membelai rambut belakang Jiana. Bryan merasa heran, hanya Jianalah wanita yang ia perlakukan selembut ini. Dulu ia mencintai Queen tapi ia tak pernah merasa setakut ini, Bryan sangat takut kehilangan Jiana


Setelah lama memeluk Jiana, akhirnya mereka dengan Bryan yang sudah memakai kaos hitamnya keluar kamar menuju meja makan. Kebetulan sekali ini jam makan siang saat itu meja makan telah penuh dan tampak semua orang juga sedang menunggunya dan Jiana


" Pergilah honeymoon, ini liburan keluarga tapi kami seperti sedang mengantar kalian honeymoon." gerutu Bulan tapi wanita itu tersenyum. melihat Jiana yang hobi sekali memakai baju Bryan


" Ya aku akan pergi mengajak Jiana honeymoon saat tak sibuk nanti." saut Bryan dengan wajah tanpa dosa menarik kursi untuk duduk istrinya disebelah Queen lalu dirinya mengganggu Kya yang disebelah Jiana, ia pangku dan mendudukannya diatas paha


" Itu kulsi Kya." gerutu gadis kecil itu


" Iya Kya bersama Daddy disini." saut Bryan mengusap puncak kepala Kya begitupun Jiana yang mengikuti Bryan lalu wanita itu menoleh sejenak pada Queen yang terdiam menatap lurus kedepan


Merasa ditatap, Queen menoleh pada Jiana dan memberikan senyuman manisnya meski hatinya tak semanis saat ini, jelas hatinya hancur karena Bryan. Jiana membalas senyuman Queen untuk beberapa saat sambil dipandangi beberapa orang termasuk Bryan lalu wanita itu berdiri mengambil piring dan melayani suami dan anaknya, menuangkan nasi dan menambahkan lauk serta sayuran diatas meja untuk keduanya sebelum Jiana mengambil untuk dirinya sendiri


" Makanlah yang banyak Queen." ucap Jiana seraya memberikan goreng udang ke atas piringnya


Wanita itu hanya mengangguk dan memakan apa yang diberikan Jiana membuat sang kakak tersenyum dan menggenggam tangan Queen diatas meja untuk beberapa saat lalu kembali memakan makan siangnya begitupun semua orang makan dengan tenang. Semuanya tampak merasa bersalah menutupi sebuah kebenaran dari Jiana


Uhuk uhuk uhuk


" Queen ada apa?" tanya Jiana


" Emmhh sakit." teriak Queen memegangi tenggorokannya membuat Jiana semakin khawatir dan mendekat. Wanita itu berdiri disamping Queen sambil memberikan segelas air


" Kau bukannya alergi udang?" tanya Bryan


" Queen kau alergi-" Jiana tak melanjutkan ucapannya ia menutup mulutnya terkejut melihat Queen yang terkulai lemas dan tak sadarkan diri kelantai


Bryan beringus ingin menolong Queen, ia sudah berjongkok tapi sebelum itu ia menoleh pada Jiana yang tampak terkejut hingga menitikan airmatanya


" Tolong dia boy, tolong adikku." ucap Jiana menganggukan kepalanya membuat Bryan segera menggendong Queen menuju kamarnya


" Telpon dokter."


Bulan segera menelpon dokter kenalan mereka yang berada di Bandung lalu menoleh pada ibunya saat Bryan dan Jiana kekamar Queen." Bukankah Queen tahu dia alergi udang, lalu kenapa memakannya?" tanya Bulan pada ibunya, wanita itu hanya terdiam tampak memikirkan sesuatu


" Ssshh tenanglah, dia akan baik-baik saja." ucap Bryan mengusap bahu Jiana menenangkan istrinya yang dilanda rasa khawatir


" Ini salahku."


" Kamu hanya tidak tahu." saut Bryan lalu membawa Jiana duduk disofa kamar itu, Bryan memeluk Jiana, tubuh itu gemetar


" Tidak, tidak ada yang perlu ditakutkan." bisik Bryan


" Aku takut- "


" Jia, Jia dia hanya alergi. Kita tunggu dokter."


Tak lama seorang dokter wanita datang masuk kekamar itu bersama Bulan dan yang lainnya. Dokter itu langsung memeriksa seluruh tubuh Queen yang mulai dipenuhi bintik merah


" Queen maafkan kakak." gumam Jiana


" Dia akan baik-baik saja." bisik Bryan yang mendengar gumaman istrinya


" Obatnya diminum saat dia bangun nanti." ucap dokter itu memberikan obat ketangan Bulan lalu berpamitan pergi pada semua orang setelah kepentingannya selesai


Bulan memberikan obat itu ke tangan Jiana lalu keluar dari kamar Queen bersama yang lainnya hanya meninggalkan Jiana dan Bryan yang setia menemaninya. Jiana melangkah menuju ranjang dan duduk disisi Queen diikuti Bryan yang juga duduk dibelakangnya


Saat itu kelopak mata Queen bergerak membuat Jiana merasa senang." Queen " panggilnya bersemangat


Lalu kedua mata itu terbuka, Jiana segera meraih tangan Queen dan menggenggamnya." Maafkan kakak, kakak benar-benar tak tahu kau alergi udang." ucap Jiana tulus


" Aku tidak apa-apa." saut Queen serak


" Tunggu sebentar kakak akan mengambil minum." ucap Jiana beringus bangun


" Boy, aku titip Queen sebentar."


Bryan mengangguk pelan dan menatapi Jiana yang terburu-buru keluar dari kamar Queen, pria merasa sendu melihat hati istrinya yang begitu baik, bahkan Jiana tak punya rasa iri pada Queen yang selama ini merebut dan tinggal bersama ibunya sementara dirinya terlunta lantung hidup sendiri


Bruk


Tatapan Bryan menajam sempurna tatkala kedua tangan Queen memeluk tubuhnya. Bryan menoleh dan terkejut dengan bibir Queen yang mendarat dibibirnya. Bryan meronta dengan berdiri, mengusap bibirnya yang disentuh Queen


" Apa aku begitu menjijikan dimatamu? maaf Bryan aku benar-benar minta maaf tak mengucapkan sepatah katapun hari itu, maaf berilah aku kesempatan."


" Bukankah kau alergi udang? kenapa kau memakannya? berniat mati didepanku agar aku merasa kasihan?"


" Kenapa kata-katamu kejam sekali, aku hanya ingin perhatian darimu seperti dulu, kenapa sekarang Jiana yang mendapatkan semua itu?"


" Sadarlah, Jiana itu kakakmu, jangan gila dan berniat menghancurkan semuanya."


" Lalu aku harus bagaimana? aku sungguh masih mencintaimu, aku tidak rela kau bersama kakakku." bentak Queen dengan airmata mengalir deras, Bryan begitu jahat padanya, kata-katanya selalu menusuk hatinya dan lihatlah .. pria itu tak perduli meskipun airmata Queen berjatuhan saat ini


" Berilah aku kesempatan." ucap Queen terisak meraih tangan Bryan dan menggenggamnya


Bryan segera menarik tangannya saat mendengar suara langkah mendekat menuju kamar Queen." Queen, kenapa kau menangis? apa masih sakit?" tanya Jiana khawatir melihat wajah sembab Queen dan airmata yang berurai membasahi wajah itu


Jiana mendekat duduk disisi ranjang dengan segelas air minum ditangannya." Minumlah obat, ini akan mengurangi rasa sakitmu." ucap Jiana memberikan obat dan segelas air pada Queen


Wanita itu melirik Bryan membuat Bryan pergi meninggalkan Jiana dan dirinya. Bryan sungguh tidak tahan melihat Jiana yang begitu baik dan polos


" Minumlah." ucap Jiana lagi pada Queen menyadarkan wanita itu dari lamunannya terhadap Bryan


Sebenarnya Jiana merasa heran melihat Queen yang selalu memperhatikan suaminya tapi ia tak mau berpikiran buruk dan membuat orang berpikir ia cemburu pada sang adik hanya karena sang adik memperhatikan suami tampannya. Bryan memang tampan dan ketampanan itu membuat siapapun memujinya, pikir Jiana


-


-