
-
-
Bryan tersenyum diujung tangga memperhatikan semua orang yang kini tampak sedang santai dan berbincang ringan. Lebih tepatnya Bryan memperhatikan sang istri yang sedang mengaming-ngaming Chelsea, seperti biasanya sibungsu Chelsea akan selalu merengek bila menjelang malam tiba. Mengganggu sang ayah dan ibunya dengan tidur dikamar mereka
Ehem
Dehemannya membuat perhatian semua orang teralihkan
" Boy apa masih sakit?" tanya sang Daddy tampak khawatir, sebagai sesama pria tentu Ken sangat mengkhawatirkan kondisi adik Bryan yang selalu nakal pada Jiana
Bryan menggelengkan kepala dengan senyum tak memudar." Tidak lagi, istriku tahu cara mengobatinya." sautnya dengan kekehan kecil
Semua orang tertawa tak memikirkan Jiana yang malu hingga wajahnya memerah karena Bryan, wanita itu mendelik sebal padanya
" Aah sangat menggemaskan." gumam Bryan dalam hati lalu menjatuhkan tubuhnya duduk disamping Jiana yang berhadapan dengan ayah dan ibunya, sementara Viona duduk disamping namun disofa yang berbeda
" Uuuh sayang Daddy kenapa lagi?" Bryan mencubit pelan pipi Chelsea yang sedang merengek dipangkuan Jiana. Bryan segera mengambil alih bayi mungil itu sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa, ia juga menelungkupkan tubuh Chelsea didadanya
" Memangnya Tuan Bryan sakit apa?" tanya Viona
" Viona, Bryan selalu konyol, apapun selalu dibesar-besarkan." gerutu Jiana dan sukses membuat semua orang tertawa lagi, ruang tamu itu dipenuhi tawa semua orang
" Oh ayolah Jia, tadi kamu juga terlihat panik. Kamu takutkan kalau adikku benar-benar patah." goda Bryan dengan kekehan kecilnya sambil sebelah pipinya ia tempelkan pada pipi bakpau Chelsea
" Shut up, mesum!" gerutu Jiana melipat kedua tangannya didada
" Meskipun sudah tidak merasa sakit, bagaimana kalau Viona memeriksanya? mungkin saja ada sedikit lebam?" saut Ken, sang Daddy
" Benar juga, bagaimana jika darahku membeku!"
" Periksa? maksudmu Viona melihatnya?" Jiana berucap dengan nada membentak
Bryan mengangguk pelan
" Tidak, beraninya kamu!"
" Jia, kamu cemburu?" tanya Bryan mengulum senyumnya
" Cemburu? ini sungguh tak masuk akal." gerutu Jiana kian kesal
" Ayolah sayang biarkan Viona memeriksaku!"
" Mom." Jiana memanggil ibu mertuanya meminta pertolongan
" Tapi benar juga apa kata Viona Ji."
" Kenapa Mom bicara seperti itu? bagaimana kalau punya Daddy juga dilihat wanita lain. Apa Mom rela?" gerutu Jiana, Jeny tersenyum lucu
" Tentu saja tidak boleh, enak saja!"
" Pokoknya tidak boleh, pria saja yang memeriksamu!"
" Astaga, istriku posesif sekali." Jiana mendelik sebal lalu mendekati Bryan
" Diam, atau jatah seminggu ini tak akan kuberikan sedetikpun. Aku bahkan tak akan memberikan bibirku." bisik Jiana mengancam ditelinga Bryan, pria itu menciut mendadak dan menyengir pada semua orang
" Aku baik-baik saja, tidak perlu diperiksa." ucap Bryan dengan wajah takut, bahkan tak berani menatap sang istri yang tersenyum puas melihatnya. Jiana menjauhkan tubuhnya lagi sambil bersandar pada kepala sofa
Tiba-tiba terdengar celotehan Chelsea yang tak dimengerti semua orang
" Emmmmuuuuumuuuuuu." Bryan dan yang lainnya tertawa
" Baru kemarin Chelsea dan kedua kakaknya lahir, aku menyaksikannya. Kenapa sekarang mereka sudah sebesar ini?" Viona tersenyum menatap lucunya Chelsea, lihatlah bayi mungil yang tadinya merengek itu kini berceloteh sembari mengemut kepalan jemari kecilnya
" Itu karena kamu tidak merawatnya!" saut Jiana ikut memperhatikan Chelsea, lucunya bayi itu mulai cekikikan karena sang ayah yang menggelitik, menciumi bawah dagu Chelsea yang berlemak hingga ciuman itu mengeluarkan suara
Brrrrmmmmmmmm
Brrrrrmmmmmmmm
Cekikan bayi mungil itu kini memenuhi ruang tamu membuat semua orang ikut tertawa. Bryan tertawa lalu menciumi lagi bawah dagu itu dengan begitu gemas hingg cekikan itu kian melengking dan ludah Chelsea melebar kemana-mana mengenai hidung mancung sang ayah
Cukup lama cekikan itu membuat semua orang senang, namun lama kelamaan Chelsea sepertinya mulai bosan hingga tawanya kini membaur dengan tangisan kecil." Kenapa anak Daddy Blayen cengeng sekali huh?"
" Menggemaskan sangat menggemaskan." Bryan mencium pipi bakpau Chelsea membuat tangisan Chelsea melengking, bayi mungil itu kini benar-benar menangis
" Hentikan!" gerutu Jiana lalu mengambil alih Chelsea dan langsung menyusui bayi mungil itu
Tapi bukan Bryan namanya jika tak konyol, pria itu mencubiti pipi Chelsea yang mengembung karena menyusu pada ibunya hingga Chelsea yang asyik menyusu itu menangis lagi
" Boy, hentikan!" kini sang ibu menegurnya tapi Bryan hanya tertawa membuat sang ayah tersenyum mengingatkannya pada zaman dulu, Bryan tidak tahu bahwa Ken dan Bulan dulu sering menjahilinya dan membuatnya menangis saat bayi
" Bryan memang seperti itu, dia sering sekali membuat bayi kami menangis." gerutu Jiana mengadu pada ibu mertuanya
" Itu karena mereka sangat lucu, pipinya memerah seperti tomat." saut Bryan dengan senyuman sambil memandangi Chelsea dan cubitan pelan itu berubah jadi elusan lembut
" Emmmm emmmmh." suara Chelsea yang terkulum didalam mulutnya membuat Bryan kembali tertawa
" Uuuuh benar-benar menggemaskan!" ucap Bryan dengan tangan yang kini malah mencubit pipi Jiana
" Chelsea, kamu menggemaskan sayang!" Cubitan gemas dipipi Jiana itu kian menjadi
" Boy hentikan sakit!" gerutu Jiana, Bryan terkekeh lalu melepaskan tangannya
Ketiga orang disana mulai jengah melihat kemesraan dan kelebayan Bryan pada Jiana. Mereka menghela nafas." Baiklah Tuan, jika memang tak sakit saya akan pulang." pamit Viona
" Kenapa terburu-buru Vi, kita makan malam bersama!" ajak Jiana
" Eeemmmh." Viona tampak menimbang-nimbang
" Makan malamlah disini." Akhirnya Bryan membuka suara membuat Viona merasa senang, sepertinya sedikit demi sedikit Bryan mulai memaafkan Viona atas kesalahannya dulu
Viona mengangguk pelan." Baiklah."
Kebetulan Bi Amy datang dari dapur dan memberitahu bahwa makan malam sudah siap. Semua orang bergegas, termasuk Jiana yang sedang menyusui Chelsea dipangkuannya. Bryan menarik kursi untuk Jiana lalu duduk disamping wanita itu. Jika biasanya Jiana yang mengambil nasi dan lauk untuknya namun kini berbalik dirinya yang mengambilkan untuk Jiana, rasanya aneh dimata semua orang. Bryan berubah baik bahkan sanga baik dimata sang ayah karena sangat menghargai istrinya yang sedang sibuk menyusui anaknya
" Aku bisa sendiri, makan saja punyamu!" Jiana menggelengkan kepala menolak suapan Bryan, wanita itu tampak malu pada orangtua Bryan
" Ayolah sayang, kita bisa berbagi. Aku akan memakan apapun yang kamu suka!" Jiana menoleh pada Ken dan Jeny, kedua orang itu tersenyum dan mengangguk membuat Jiana mau tak mau membuka mulutnya dan menerima suapan Bryan
" Bryan benar-benar manis, Jiana sangat beruntung. Emmmhh Ji, mungkin ini timbal balik dari penderitaanmu selama ini." Batin Viona memandangi Bryan dan Jiana yang selalu mesra sambil memakan makan malamnya
" Bagaimana keadaan Arnold?" Viona tampak tersentak dari lamunannya dengan pertanyaan Bryan
" Kenapa bertanya padaku?" tanya Viona tersipu malu
" Pria itu pura-pura sok sibuk, padahal aku tahu dia sedang mengejarmu kan?"
" Ahh tidak, siapa bilang. Kita semua kan teman." jawab Viona
" Tidak apa-apa Vi, selama niat Arnold baik. Lagipula kamu memang sudah pantas menikah." Viona hanya tersenyum menanggapi nasihat Jiana
" Tapi Arnold terlalu brengsek untuk Viona!" timpal sang Momy
" Bukan brengsek Mom, kami hanya menikmati masa muda kami."
" Jadi sekarang kamu mengaku sudah tua?" Jiana menyipitkan kedua matanya
" Hehe, tentu saja. Anakku sudah empat!" sautnya dengan wajah takut
" Awas saja, kalau berani macam-macam." Lihatlah dihadapan kedua orantuanya pun Jiana tetap galak padanya tapi anehnya kedua orangtua Bryan malah membela Jiana
" Potong saja Ji, jika macam-macam lagi dibelakangmu!"
" Enak saja. Memangnya aku pernah macam-macam!" gerutu Bryan menyumpali mulutnya dengan penuh makanan, itu membuat Viona tertawa kencang
" Awas saja!" ancam Jiana menaikan jari telunjuknya
" Emmmmhhhh huaaa!" Chelsea tiba-tiba bersuara, bayi mungil itu tampak protes dengan sang ibu yang menyudutkan ayahnya hingga mulut mungilnya melepaskan putting sang ibu dan bergerak duduk dengan kedua mata tertuju pada ayahnya
" Lihatlah lucu sekali dia." ucap Bryan mengusap airsusu disudut bibir Chelsea, jika bayi itu bisa bicara mungkin akan memarahi sang ibu yang menggalaki ayahnya
Bryan mengambil alih Chelsea kepangkuannya, ia membiarkan bayi itu duduk dipangkuannya menghadap meja. Hal itu tentu membuat kedua tangan Chelsea tak diam, bayi mungil itu tampak bersemangat meraup nasi dalam piring diatas meja dengan jemari kecilnya, jika saja Bryan tak mencegahnya, pria itu menjauhkan piring itu dengan meletakannya dihadapan Jiana, kini gantian wanita itu yang menyuapi Bryan
Makan malam itu dipenuhi suasana hangat berkat kelucuan Chelsea, semua orang dibuat tertawa dengan cetakan hasil goyangan paksa Bryan itu
" Emmmhh Ji, bagaimana dengan .."
" Kenapa Vi, maksudmu Queen?"
" Iya!" saut Viona tampak merasa kurang enak membahas wanita yang pernah menjadi duri dalam pernikahan Jiana
" Dia baik-baik saja, mama bilang sedikit demi sedikit kedua kakinya mulai bisa bergerak lagi. Ya meskipun akan memakan waktu yang cukup lama untuk kembali normal." saut Jiana tampak santai, wanita itu memang baik hati karena mau memaafkan sang adik dimata Viona
" Memangnya mereka sekarang dimana?" Jiana menoleh pada Bryan yang diam menunduk menumpu dagunya dipuncak kepala Chelsea dengan kedua tangan juga memegang kedua jemari kecil Chelsea. Jiana tersenyum manis pada Bryan, sebenarnya yang paling dirugikan adalah pria itu, Bryan difitnah semua orang, tak ada yang mempercayainya saat itu tapi hanya karena melihat Jiana yang terus menangisi ibunya, pria itu mau membantu pengobatan Queen hingga sembuh, Bryan juga membiayai biaya hidup keduanya sampai sekarang. Bukankah Bryan sangat baik?
" Mereka di LN, Queen melakukan pengobatan disana." sautnya dengan senyum tak pudar
" Bukankah kalian juga akan pergi berlibur?" timpal sang Momy. Bryan tertarik jika membahas liburan, pria itu mengangkat wajahnya
" Minggu depan Mom." sautnya lalu menoleh pada Jiana
" Aku sudah membicarakannya dengan Jia, karena dia suka hal yang romantis, dan aku suka suasana yang dingin jadi kami akan pergi ke Swiss, disana musim dingin sekarang."
" Apa tidak apa-apa untuk sikembar?"
"Mom jangan norak!" Momy Jeny mendengus kesal dengan perkataan putranya
" Kalian akan mengajak Bella?"
" Tidak, kami akan memberinya libur panjang!"
" Baiklah, jaga sikembar dan Kya. Hanya itu yang momy titipkan padamu!"
" Iya, iya tentu saja. Mereka kan anakku!" gerutu Bryan
" Kamu kan suka hilang akal jika bersama Jiana. Kamu sengaja memilih musim dingin karena berharap bisa terus berduaan dan bermesraan!"
" Family time mom, family time. Memangnya aku punya waktu untuk bercinta!" saut Bryan menggerutu lalu membuka mulutnya lebar menerima suapan Jiana
" Ya mom, aku sengaja memilih tempat dingin agar Jiana terus menempel padaku. Hmmmm aku jadi ingin cepat-cepat pergi, aku sudah tidak sabar. Jia ayo kita buat adik untuk Chelsea." gumam Bryan dalam hati terkikik lucu
-
-