
-
-
Jiana hanya pasrah saat Bryan mulai memaksakan kehendaknya. Yang bisa dilakukan Jiana hanyalah menangis dengan tubuh yang gemetar, ia merasa takut. Terlebih tatapan itu terus menajam padanya
" Bryan .. " lirih Jiana mencoba mendorong dada Bryan, pria itu bermain kasar digunung kembarnya hingga Jiana merasa sakit
Jiana menggigit bibir bawahnya tatkala benda kenyal itu naik keleher mengisap memberikan tanda kepemilikan disana, ia hanya bisa pasrah karena tubuhnya pun mengkhianati. Darahnya berdesir dengan sentuhan itu, ini kali pertamanya Bryan melakukan itu pada wanita, meskipun ia telah meniduri banyak wanita namun hanya Jianalah wanita yang ia beri tanda merah dileher. Sekali lagi Jiana mendorong dada Bryan mencoba menahan semuanya membuat pria itu kesal dan seketika mencekal kedua pergelangan tangan Jiana dengan kedua tangannya, menekannya ke kasur dan menautkan dengan jemarinya begitu erat
" Bryan .. " panggil Jiana masih saja berusaha menahan Bryan namun tak digubris bibirnya malah kian turun ke bawah kembali pada gunung kembar
" Euunnngg .. " lenguh Jiana pelan saat bibir itu mulai mengulum puncak buah dadanya. Jiana mulai tak tahan akan godaan didadanya, t!ubuh Jiana mulai meliuk, merasakan hangat dan geli pada puncak buah dadanya karena Bryan. Mendengar Jiana, Bryan semakin antusias, ia tak segan meraup puncak buah dada itu bergantian
Tok
Tok
Tok
Tok
" Ji, apa kau didalam?" suara Bulan memanggil
" Mum. " kini suara Kya
" Sayang, mungkin Mum sedang mandi."
Seketika suara tangisan Kya terdengar kencang
" Hey kita tunggu didepan ok." rayu Bulan
" Mumy huuuu. "
" Bryan hentikan, Kya menangis." ucap Jiana terengah membuat Bryan berhenti, mengangkat wajahnya dan tatapan itu masih menajam pada Jiana, kemarahan dan kecemburuan terlihat disana
Bruk
Bryan meninju dengan sekuat tenaga ranjang tepat di samping kepala Jiana lalu pria itu beringus bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Cepat-cepat Jiana terbangun dan berlari menuju walk in closet untuk memakai pakaian baru
Selesai Jiana berlari menuju pintu dan membukanya. Ia tersenyum melihat Bulan yang sedang memangku Kya yang tak henti menangis
" Kenapa menangis?" tanya Jiana mengambil alih Kya dari pangkuan Bulan, menimang Kya agar putri manjanya itu berhenti menangis
" Dia bangun tidur dan mencarimu." saut Bulan celingukan kedalam kamar, ia terkekeh lucu melihat pakaian dan bra Jiana tergeletak dilantai
" Apa Bryan sudah pulang?"
" Dia dikamar mandi." saut Jiana gugup membuat Bulan malah cekikikan
" Apa aku mengganggu kalian?" tanyanya semakin cekikikan melihat leher Jiana yang terdapat setitik kissmark kecil yang diyakini milik adiknya
" Ah tidak, kenapa harus mengganggu." saut Jiana keluar dari kamar berjalan mendahului Bulan
" Sudahlah jangan malu-malu aku ini kakak iparmu. Dalam pernikahan itu hal yang wajar, kau tadi sedang bermainkan bersama Boy?"
" Ada apa dengan kak Bulan, Bryan sedang mandi." saut Jiana dengan wajah memerah
" Dia mandi karena sudah bermain denganmu." kekeh Bulan, kini ia yang berjalan mendahului Jiana
Rumahnya kini ramai dengan keluarga besar Bryan bahkan sofa ruang tamu pun tak mampu menampung semuanya hingga mereka sebagian berpencar ada yang diruang keluarga dan ada yang berkumpul didekat kolam renang dihalaman belakang rumahnya
Kemudian Jiana duduk saat Jeny bergeser memberi tempat pada menantu perempuan satu-satunya itu
" Mum jahat Kya mencali Mum." teriak gadis kecil itu tak menghentikan tangisannya
" Mum kan harus pulang dan membuat makan malam untuk Daddy, Kya sendiri tidak mau pulang bersama Mum." saut Jiana sambil mengurai pelukannya dan mengusap airmata yang terus menderai di wajah Kya
" Ssshhhh.. berhenti menangis."
" Kya mencali Mum." sautnya
" Iya .. iya maafkan Mum hmm?"
" Apa dia selalu menangis seperti ini saat bangun dan tidak menemukanmu?"
" Biasanya Kya tidur sendiri." saut Jiana sambil menyentuh dahi Kya, sedikit hangat pantas saja gadis kecil itu rewel
" Sepertinya harus menghubungi Viona."
" Kenapa?" tanya Jeny
" Kya berhenti menangis berisik!" umpat Pevita semakin membuat tangisan Kya melengking
" Pevita!" tegur Bulan
" Aku hanya bercanda." sautnya menyengir pada sang ibu
" Hey .. hey ada apa ini?" teriak Bryan dari arah tangga mendekat dengan wajah yang terlihat fresh serta pakaian santainya, pria itu hanya mengenakan celana pendek warna beige dan kaos hitamnya
Bryan mendekat dan langsung mengambil alih Kya dari tangan Jiana, membawanya duduk di sofa single yang kebetulan kosong karena Pevita yang malah pindah duduk dipangkuan sang ayah
" Kenapa Kya menangis?" tanya Bryan lembut
" Mum meninggalkan Kya. Kya bangun Mum tidak ada." sautnya sesegukan
" Hey dimana anak Daddy yang pintar?"
" Bukankah Kya tidak pernah menangis. Kya sudah besar tidurnya pun sudah sendiri." ucap Bryan
" Mungkin Kya mau punya adik makanya rewel." celetuk Bulan terkikik
" Ji, kamu sedang hamil?" tanya Jeny
" Ah tidak Mom." saut Jiana malu sambil melirik Bryan, tatapan pria itu masih saja menyalang tajam padanya
" Kya cengeng seperti itu mau punya adik?." cibir Pevita membuat Kya menoleh dan tangisanya mereda lalu ia menoleh pada Bryan
" Kya mau punya adik." ucapnya lucu membuat semua orang tertawa apalagi Bryan tawanya yang paling kencang
" Ya ya nanti Dad membuat adik untuk Kya."
" Kya ikut."
" Oh tidak bisa nanti adiknya tidak terbentuk kalau ada Kya. " saut Bryan dan tawa kembali memenuhi ruang tamu itu membuat beberapa orang yang ditempat lain mendekat mendengar suara riuh diruang tamu
" Dasar gila." umpat Bulan ditengah cekikikannya
" Tapi Kya mau ikut, Kya mau melihat."
" Sayang, itu hanya bisa dilakukan bersama Mum." saut Bryan
" Kenapa hanya beldua belsama Mum." teriak Kya
" Emmmh karena .. " kali ini Bryan bingung, menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil menatapi semua orang yang tertawa melihat Bryan kebingungan. Kemudian Bryan melirik Jiana yang hanya tersenyum dan wanita itu menunduk saat Bryan menatap dengan tatapan tajamnya
" Daddy." panggil Kya meminta jawaban. Bryan kembali beralih padanya dan mencoba mengecoh Kya dengan menciumi pipi gadis kecil itu membuat Kya merasa geli dan cekikikan
" Pevita, kau pasti merindukan kecupanku kan?" tanya Bryan menatap Pevita sambil menciumi pipi putrinya
" Sama sekali tidak." saut Pevita melipat kedua tangannya didada, tapi tidak dengan wajahnya yang terlihat ingin dimanja Bryan seperti Kya
" Jangan pura-pura, Aku tahu kau merindukan kecupanku. Ayolah kemari." ajak Bryan menjentikan telunjuknya pada Pevita. Gadis yang baru tumbuh remaja itu dengan malu-malu perlahan mendekat dan membungkukan badan pada sang paman, mendekatkan pipi kirinya
Bryan tersenyum lucu, ia mendekatkan bibirnya pada pipi kiri Pevita namun tinggal beberapa centi lagi Bryan malah mencium pipi Kya bukan Pevita
" Tapi aku sudah punya Kya sekarang." saut Bryan cekikikan bersama Kya mengerjai Pevita
" Paman." teriak Pevita kesal lalu ia memaksa mencium pipi kanan Bryan
" Pevita ini Daddy Kya." teriak Kya melengking memeluk erat Bryan
Dean dan Bulan tertawa melihat putrinya yang sebentar akur dan sebentar bertengkar bersama Kya
" Kya juga suka bersama Daddyku, licik sekali." gerutu Pevita lalu ia berjingkat berjalan kembali ke pangkuan Dean yang tak berhenti tertawa. Meskipun lebih besar dari Kya namun Pevita masih seperti anak kecil dalam hal apapun
Bryan dan Kya hanya cekikikan melihat kekesalan Pevita. Tapi tiba-tiba suara cekikikan Bryan menghilang saat ia melihat Ken datang bersama pria yang kini ia benci, siapa lagi kalau bukan Darwin
" Boy, kau keterlaluan menyuruh Deden untuk menahan Darwin." ucap Ken
Bryan terdiam ia melirik Jiana yang menundukan pandangannya dari Darwin
" Memangnya mau apa datang kesini? inikan sudah bukan jam kerja." saut Bryan beralih pada Darwin, tatapan itu terlihat tak suka dimata siapapun. Bryan pikir tadi Darwin benar-benar pulang tapi pria itu malah bertemu dengan Daddynya
" Darwin akan ikut makan malam bersama kita." saut Ken lalu mengajak Darwin mencari tempat yang kosong untuk duduk diikuti tatapan Bryan yang menajam pada Darwin
-
-