
-
-
"Panggil saya Bella." ucapnya lagi dengan wajah memerah ketika tatapannya dibalas Delan dan detik kemudian pria muda itu mengalihkan pandangan dinginnya pada Jiana dan Bryan
" Emmm Bella, kenalkan dia keponakan kami." ucap Jiana pada Delan yang kini didepannya, Delan kembali melirik gadis dengan rambut keriting lucu itu
" Delan dia pengasuh sikembar mulai sekarang." Delan mengangguk
" Dimana mami?" Bella tak mengedip menatap pria didepan Jiana dengan jantung dag dig dug, dalam sekali pandang Bella jatuh cinta pada pria itu untuk pertama kali selama 17 tahun hidupnya
" Dimana ayahmu?" Bryan balik bertanya
" Masih dimobil." saut Delan
" Dengar Delan, kau sungguh ingin ke Harvard?"
" Aku rasa paman sudah tahu." sautnya membuat Bryan menghela nafas
" Mereka sedang dikamar." Bryan bergerak memberi jalan pada Delan. Pria itu segera berjalan melewati keduanya lalu melewati Bella yang terpaku menatapnya
Bryan menggelengkan kepala lalu kembali menggandeng Jiana. Seperti tujuan awal mereka pergi kekamar sikembar yang terletak di sebelah kamar Kya
" Ini kamar putri pertama kami." tunjuk Jiana pada pintu kamar Kya
" Iya .. " saut Bella
" Nah ini kamar sikembar." Jiana membukakan pintu untuk Bella
" Masuklah."
Bella mengangguk lalu masuk kedalam kamar dengan nuansa biru muda itu, sungguh meneduhkan pandangan
" Selama menjadi pengasuh, kau diwajibkan menjaga mereka disini. " Jiana dan Bryan duduk diranjang kecil
" Ini tempat tidurmu selama menjaga mereka." Bella tersenyum dengan pandangan mengedar, menatapi setiap kemewahan dikamar luas itu
" Kau bekerja disini kau harus selalu menuruti perintah istriku, mengerti?"
" Iya Pak."
" Pak?" Bryan mengernyit kesal
" Apa Om?" Bryan mendengus kesal membuat Jiana tertawa berbeda dengan Bella yang ketakutan, gadis itu menatap Jiana menncoba mencari pertolongan
" Panggil suamiku Tuan, dia tidak setua itu Bella .. " ucap Jiana
" I .. iya .. " sautnya menunduk takut dengan tatapan tajam Bryan
Lalu Jiana mengajak Bryan kembali kekamar mereka meninggalkan Bella dikamar sikembar. Keduanya masuk kedalam kamar dimana entah mengapa semua orang masih betah disana menggulung sikembar, padahal ketiga bayinya itu sedang tertidur belum membuka matanya sejak datang kerumah
Bryan dan Jiana mendudukan dirinya disofa disamping Delan, pria itu terus menampilkan tampang dinginnya membuat Bryan heran, hanya Delan lah yang paling berbeda diantara yang lainnya, semakin dewasa sikap dingin Delan semakin menjadi, sangat jarang sekali bercanda dengan semua orang
Tiba-tiba Bryan menggandeng bahu Delan." Waaahhhh ternyata calon dokter ini berotot juga." canda Bryan sedetiknya pria itu terkekeh lucu karena diabaikan Delan, pria muda berusia 21 tahun itu lebih memfokuskan dirinya pada ponsel dibanding mendengar ocehan semua orang
Bryan mengusap puncak kepala Delan." Paman punya sesuatu yang menarik." akhirnya Delan menoleh padanya
" Sebentar .. " bisiknya lalu menarik tangannya dari Jiana untuk mengambil ponselnya yang berada disaku celananya
Dengan bibir menyeringai nakal Bryan memainkan ponselnya
Tring
Delan menoleh pada Bryan saat mendapatkan pesan dari pamannya tersebut. Bryan melirik Jiana yang sibuk berbincang bersama yang laiinya sejenak lalu kembali pada Delan dan tersenyum lucu melihat wajah menegang pria muda itu
" Bagaimana?" Delan menghela nafas lalu menutup pesan dari Bryan
" Sama sekali tidak menarik."
" Ayolah jangan menjadi pria culun seperti ini, sesekali nikmatilah masa mudamu." Bryan kian mendekat menggandeng bahu Delan lagi
" Jangan-jangan dia tidak pernah dikeluarkan hah?" Delan semakin tak mengerti dengan ucapan pamannya
" Sper*amu, kau tidak pernah mengeluarkannya? apa kau tidak tersiksa?." Delan tak menjawab pria itu kembali pada ponselnya memberanikan diri membuka video yang dikirim Bryan untuknya. Bryan terkikik lucu memperhatikan Delan yang tampak fokus lalu ia mengikuti Delan, mencondongkan tubuhnya ikut menonton video yang sudah dua kali ia tonton sebelum mengirimkannya pada Delan
Aaahh
Aaahh
Aaahh
Aaahh Baby faster baby
Ouuhhh no
Aaahhh
Delan menjadi salah tingkah, pria itu menghidupkan ponselnya lagi lalu menjeda video yang Bryan kirim untuknya hingga suara itu hilang senyap berganti dengan suara jantungnya yang dag dig dug tak karuan
" Kau benar-benar bodoh." gerutu Bryan mengusap wajahnya lalu ia menoleh pada Jiana dan menyengir kuda
" Kalian berdua?" suara teriakan itu kian membuat keduanya terkejut, wajah-wajah itu menegang antara malu dan takut
Bulan segera mendekat menjulang tinggi didepan keduanya dengan wajah garang. Ia merampas ponsel ditangan Delan lalu menghidupkannya lagi. Kedua bola matanya semakin melotot hampir jatuh dari tempatnya ketika melihat pesan yang dikirimkan Bryan pada anaknya
" Ji suamimu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya mengajari Delan hal yang tidak benar."
" Ayolah kak, Delan sudah dewasa. Dia juga berhak mendapat pengetahuan lainnya, bukan hanya belajar saja."
" Kau .. dulu kau mengajari suamiku. Sekarang anakku .. " saut Bulan dengan kesal membuat Bryan tertawa bukannya malu, pria itu menoleh pada Delan yang menunduk takut sejenak lalu pada Dean
" Ayolah jangan biarkan putramu tidak tahu apapun tentang wanita, kasihan dia .. " Dean yang mendengar itu segera menghampiri sang istri, melerai perdebatan keduanya. Sebagai seorang pria Dean memaklumi anaknya yang sudah tumbuh dewasa, dan menganggap apa yang ditonton Bryan dan Delan wajar-wajar saja karena sampai detik ini iapun masih mencuri-curi waktu menonton bersama Bryan
Bryan terkikik dalam hati saat Dean tampak membelanya, pria itu pasti takut jika Bryan memberitahu Bulan bahwa suaminya pun sangat menyukai dan sering berbagi koleksi tersembunyi dalam ponsel Bryan
" Sudahlah mam, anak kita sudah besar." Bulan tampak tak setuju dengan perkataan suaminya, wanita itu merinta dari gandengan tangan Dean
" Delan mami akan menyita ponselmu sampai seminggu."
" Mam .. " protes Delan kesal dengan suara tinggi
" Tidak ada bantahan!" sautnya lalu melenggang meninggalkan semua orang
" Ini gara-gara paman." gerutunya lalu menyusul sang ibu yang juga diekori sang ayah
" Dasar keluarga culun." ucap Bryan dengan tawa
" Aaww Jia ampun .. " teriak Bryan saat Jiana menjewer telinganya dengan kencang
" Hapus sekarang atau-"
" Iya iya aku hapus, lepaskan dulu." gerutu Bryan membuat kedua orangtuanya tertawa, menantunya itu selalu membuat anaknya takluk dibandingkan mereka
Malam harinya Bryan baru saja selesai mandi. Pria itu keluar dari kamar mandi sudah dengan piyama tidur dan handuk putih melingkar dilehernya. Bryan mendekati ranjang dimana Jiana yang sudah berbaring dengan indahnya dikedua mata Bryan
Ia mendudukan dirinya disisi kasur disisi tubuh Jiana, mengulurkan jemarinya mengelus lembut pipi Jiana." Kamu sangat cantik Jia .. " pujinya membungkukan badan lalu mencium kening Jiana. Merasa belum puas, Bryan menuju kebawah pada bibir Jiana, ia luma* dengan lembut bibir itu
Ceklek
" Boy .." suara sang mami mengagetkan Bryan
" Mom, berhenti membuatku kaget." gerutunya lalu menjauhkan diri menjauhi Jiana, seperkian detiknya pria itu mengerutkan dahi tatkala melihat sang ayah membawa kasur lantai kekamarnya dan Jiana diikuti Pevita dibelakang mereka
" Ada apa ini?"
" Kami akan tidur disini." saut sang momy lalu membantu Ken membenahi kasur di dekat ranjang dan box sikembar
" Pev .. " Bryan menegur Pevita yang naik keatas ranjang dan tiba-tiba membaringkan tubuhnya disamping Jiana
" Mom tidak akan membiarkanmu hanya berdua dengan Jiana bahaaya .. "
" Bahaya .. aku bukan predator." gerutu Bryan dengan kesal tapi tak digubris semua orang
" Tidurlah disofa, biarkan Pevita disana."
" Mom besok aku harus bekerja!"
" Lalu?" Bryan mendengus kesal
" Setidaknya biarkan aku memeluk Jiana."
" Tidak sampai 40 hari."
" Appppaaaa?"
" Bagaimana bisa, 5 bulan aku tidak boleh bercinta dan 40 hari aku tidak boleh memeluknya. Aku bisa mati." gerutu Bryan lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar disofa panjang disisi jendela balkon
" Aku bisa gila, aku benar-benar tak akan membuat Jiana hamil lagi." Bryan terus menggerutu sampai pria itu tertidur pulas diatas sofa
-
-