
-
-
Siang ini Bryan kembali dirundung rasa kesal, bukan hal aneh setiap hari jika tak berhasil mendapatkan Jiana tadi malam ia selalu marah dan uring-uringan tak jelas membuat kedua sekertarisnya menjadi aneh terutama Marissa, sekertaris yang baru 1 tahun ini bekerja dengannya menggantikan Meldina yang menikah dan hamil
Bukan bekerja Bryan malah terus menjedug-jedugkan kepalanya pada meja kerjanya membuat kedua temannya yang baru saja datang kesana saling menatap aneh akan Bryan
" Kau sedang apa?" tanya David masuk keruangann Bryan bersama Arnold
" Ada apa?" tanya Bryan membentak dan mendelik kesal
" Kau ini seperti wanita sedang menstruasi saja." saut Arnold duduk di sofa bersama David
" Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama, kau sibuk sekali dengan pernikahanmu." saut David
Bryan bangun dari kursinya dan berjalan menuju David dan Arnold. Mendudukan dirinya di sofa single sambil terus memijat kepalanya yang terasa pusing dengan mata terpejam
" Masih belum juga mendapatkan Jiana?" tanya David usil sambil melirik Arnold
" Aku tidak tahu lagi, aku menyerah." saut Bryan, wajah itu terlihat masam di kedua manik temannya
" Sudahlah, lebih baik kita bersenang-senang seperti dulu, anggap saja kau masih lajang saat ini." ucap David
" Maksudmu aku menghianati Jiana?" tanya Bryan membuka matanya
" Hey bukan itu. Maksudku jangan memaksakan dirimu pada Jiana, kau cari saja pelampiasan apa susahnya? bukankah Clarissa selalu setia menunggumu?"
Bryan terdiam sejenak memikirkan ucapan David
" Kau benar juga, kenapa aku bodoh sekali." saut Bryan, kali ini ia tersenyum
" Ya agar adikmu tidak karatan." celetuk David membuat ketiganya terbahak
" Tapi apa alasanku pada Jiana?" tanya Bryan
" Bilang saja kau ada pekerjaan diluar kota." saut Arnold
" Kapan kita pergi?"
" Besok kita berangkat, bagaimana kalau ke Bali. Aku rindu pantainya."
" Oke Bali." saut Bryan tersenyum lebar
" Kau akan mengajak siapa?" tanya David
" Menurutmu Clarissa atau Clay?"
" Clay si seksi itu?" tanya David berteriak heboh
" Ya kau tahu bodynya wuuuuuuhh. " saut Bryan heboh, terobatilah sudah kegalauan pria itu
" Untukku saja kau bersama Clarissa saja."
" Baiklah aku akan berbaik hati padamu." saut Bryan membuat David senang
Seperti biasa ketiganya akan selalu berbincang mengenai selangkan*an dan tubuh wanita. Setidaknya sedikit menghibur pria yang sedang uring-uringan karena istrinya
Kedatangan Arnold dan David membuat Bryan terlambat pulang karena keasyikan berbincang dengan kedua sahabatnya. Pukul 07.33 pria itu baru pulang, ia melihat kesekitar, putrinya yang biasa menyambut sudah tak ada. Lalu ia berjalan menuju dapur, disana Jiana sedang memasak makan malam untuknya
Bryan mendekat dan langsung memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Bermanja menumpu dagunya dipundak Jiana. Dua bulan selalu mendapat gangguan membuat Jiana kini tak pernah lagi melawan, ia hanya membiarkan Bryan, sebenarnya ia juga tidak rugi karena nyatanya Bryan adalah suaminya
" Besok aku akan keluar kota selama dua hari." ucap Bryan, maniknya memperhatikan kedua tangan Jiana yang sedang memasak
" Keluar kota untuk apa?" tanya Jiana
" Bicaralah pada Kya, nanti dia mencarimu."
" Besok sebelum pergi aku akan bicara dengannya."
Jiana kembali mengangguk, sementara Bryan kini mulai memperhatikannya, menatap wajah itu dari samping tak lupa juga bibirnya mendarat berulang dipipi Jiana
" Menjauhlah." perintah Jiana
" Kenapa kau selalu menyuruhku menjauh."
" Aku sudah selesai, memangnya kau tidak lapar?" tanya Jiana menoleh pada Bryan yang langsung meraup bibirnya untuk beberapa saat
" Aku lapar dan ingin memakanmu." bisik Bryan
" Hentikan!" saut Jiana galak
Bryan menghela nafasnya lalu melepaskan Jiana. Ia berjalan lunglai menuju meja makan diikuti Jiana yang membawa dua mangkuk sup daging ditangannya. Ia letakan satu didepan Bryan kemudian menarik kursi disamping Bryan dan duduk disana sambil meletakan semangkuk sup untuknya
" Dimana putri kita? apa sudah tidur?" tanya Bryan
" Dia kelelahan seharian bermain dirumah Mom. "
" Dia belum makan malam?"
" Dia hanya meminum segelas susu." saut Jiana tanpa melihat Bryan
Bryan hanya diam, ia mulai menikmati sup buatan Jiana. Selama dua bulan ini masakan Jiana lah yang mengisi perutnya di pagi dan malam. Bryan tak pernah protes dengan apa yang istrinya masak karena rasanya tak jauh berbeda dengan masakan sang ibu. Dan hal itu membuat Jiana sedikit menyukai sifat Bryan yang tak pilih-pilih makanan
Setelah selesai menghabiskan makan malamnya, Bryan segera beranjak bangun dari meja makan. Ia berjalan menuju kamarnya, namun sebelum kekamar ia mampir sebentar kekamar Kya. Ia membuka pintu dan tersenyum melihat putrinya yang sudah tertidur pulas dengan posisi telingkup. Lalu Bryan menutup pintu itu kembali dengan rapat, ia berjalan menuju kamarnya dan langsung membuka seluruh pakaiannya, ia lempar kesembarang arah sambil berjalan menuju kamar mandi
Sementara Jiana harus membersihkan meja makan dan mencuci piring lebih dulu barulah wanita itu kekamarnya dan Bryan. Inilah kegiatan Jiana setelah makan malam yaitu memunguti pakaian Bryan yang berserakan dilantai
Jiana segera memasukannya kekeranjang pakaian. Lalu ia mengambil pakaian tidur Bryan diwalk ini closet, menyimpannya diatas kasur. Sedangkan dirinya kini membaringkan tubuh membelakangi kamar mandi karena setelah mandi Bryan akan keluar tanpa busana seolah menggoda Jiana
Ia segera menutup kedua matanya rapat saat pintu kamar mandi terbuka. Jiana bisa mendengar langkah dan siulan pria itu ditelinganya juga aroma sabun menguar dihidung pertanda Bryan kini berdiri dibelakangnya dan setiap hari itulah yang Jiana rasakan
Ranjang mulai bergerak karena Bryan yang mulai merangkak naik keatas. Membaringkan dirinya disamping Jiana, dan tumben sekali pria itu tak melakukan apapun. Biasanya Bryan akan memeluknya dari belakang dengan bibir yang nakal ke pipi dan leher Jiana
" Ji .. " panggil Bryan
" Kau sudah tidur?" tanya Bryan namun tetap saja tak ada jawaban
" Besok aku pergi, apa tak ada yang special untuk malam ini?"
" Setidaknya peluklah aku." gumam Bryan dan terdengar jelas ditelinga Jiana
" Sayang. " panggil Bryan menyentuh pundak Jiana, wajah Bryan sungguh memelas berharap pada Jiana
Malam ini sepertinya Jiana sedang berbaik hati, wanita itu berbalik dan memeluk Bryan. Pria itu merasa senang meski ini hanya sebuah pelukan, sebuah keanehan kembali terjadi untuk Bryan. Ia membalas pelukan itu dengan begitu erat
" Hanya sebuah pelukan." tegur Jiana
" Ya .. ya . Jadi berapa lama lagi aku harus menunggumu hmm? Kya sudah besar, apa kau tidak berniat memberinya seorang adik?" tanya Bryan sambil mengelus rambut sebahu itu dengan lembut, demi apapun Bryan tidak pernah bersikap selembut ini pada wanita tapi sekali lagi Bryan berpendapat Jiana sangat berbeda
Jiana tak menjawab, ia hanya membenamkan wajahnya didada Bryan sehingga ia dapat merasakan detak jantung Bryan yang kian meningkat. Jiana terpaku mendengarnya
" Sampai aku mempercayaimu." gumam Jiana dalam hati
-
-